
[Sara]
“Selam ... Ya Allah, Non. Matanya sayup gitu. Tidur jam berapa semalam?,” sapa Mbok Jami pagi-pagi saat melihat Sara masuk ke ruang makan.
Sara bisa merasakan kedua matanya terasa berat. Terasa panas. Ingin rasanya menutup kedua matanya sebentar saja. Dan, itu yang dia ingin lakukan dari semalam, tapi selalu gagal. Hasilnya, ya sekarang ini. Dia yakin mata pandanya yang tadi mengejutkan Mbok Jami.
“Kamu sakit?,” tanya Agam yang sudah siap di tempatnya di meja makan.
Aku yang seharusnya nanya!
“Cuma kurang tidur,” jawab Sara singkat.
“Kenapa? Apa kamu kurang nyaman?,” tanya Agam lagi.
Gara-gara siapa kalau bukan kamu?!
“Bukan. Hanya nggak bisa tidur saja.”
Sara tidak berbohong. Dia memang tidak bisa tidur semalaman. Dan semua gara-gara Agam.
Ya, Agam. Semua yang dilakukan Agam kemarin benar-benar sudah membuatnya tidak habis pikir. Yang paling tidak bisa masuk dalam akal sehatnya adalah ucapan Agam semalam sebelum Sara keluar dari kamarnya.
“Aku ingin mencicipi ayam goreng serundeng yang Ibu bawa tadi.”
“Aku serius tentang kamar itu. Dan juga playground. Mereka akan mulai mengerjakannya besok.”
Jelas kan kalau Sara berpikir justru Agam lah yang sedang sakit?
Dia salah minum obat atau lupa minum obat? Kenapa tiba-tiba dia menjadi seperti itu? Nggak mungkin kan orang tiba-tiba berubah secepat itu kalau nggak sedang gila? Tunggu. Dia sudah gila?
“Sara.”
Panggilan Agam jelas membuyarkan pikirannya yang sedang bergelut dengan banyak pertanyaan.
“M-maaf. Jam berapa kita berangkat?” Dengan cepat, Sara mengalihkan pembicaraan sebelum Agam bertanya lagi hal yang serupa.
“Jam 10. Kalau kamu tidak enak badan, kamu tidak perlu ikut tidak apa-apa. Istirahat saja di rumah.”
Kenapa dia terdengar khawatir?
“A-aku nggak apa-apa. Memangnya kita mau ketemu siapa?” Sara balik bertanya.
“Ehem ...” Agam berdehem sekali, dan sedetik kemudian dia sudah kembali seperti biasanya. “Nanti kamu akan tahu.”
Mungkin cuma perasaanku saja.
......................
“Namanya Yuda. Dia klien NFC untuk project TD-512,” kata Agam memperkenalkan seorang pria tinggi gagah dalam setelan jasnya di kantor Agam di NFC.
“Auch ...” Pria yang bernama Yuda itu langsung memegangi dadanya. Wajahnya meringis kesakitan hingga tubuhnya terdorong ke belakang saat dia menekan bagian dadanya.
“Ah, sakit hatiku. Kau hanya memperkenalkan aku sebagai klien. Kau anggap apa hari-hari kita bersama dulu saat kau tidur dalam pelukanku?”
Sara hampir mempercayai akting kesakitannya itu.
Brak!
Agam baru saja melempari Yuda sebuah buku yang baru diambil dari atas nakas di sebelahnya.
__ADS_1
“Ah, sayang sekali nggak kena,” goda Yuda yang langsung menghindar dari buku yang dilempar Agam, membuat Raka yang dari tadi menahan tawanya di belakang Agam terpaksa memunguti buku itu dan mengembalikannya ke tempat semula.
“Jangan bicara omong kosong! Orang lain akan salah paham dengan omonganmu itu,” hardik Agam.
“Kamu takut orang lain atau Raka yang salah paham?,” goda Yuda seraya menatap menggoda Raka yang sekarang sudah berdiri di belakang Agam.
“Kau!!!”
Yuda berjalan mengabaikan ocehan Agam menuju Sara yang senyumnya tidak bisa lepas dari wajahnya melihat interaksi kedua pria di depannya itu.
“Yudha Putra Pratama. Panggil saja Yuda. Tamtam juga boleh. Panggilan sayang untuk kita saja,” kata Yuda seraya menjulurkan tangannya. Tapi kedua matanya terus berkedip. Alis matanya bergerak naik turun menggoda Sara.
Sara tersenyum gugup menjawab juluran tangan Yuda dan menjabatnya. “S-sara ...”
Begitu canggung rasanya, apalagi melihat Yuda yang menatapnya seperti itu.
“Mana buku itu? Berikan padaku! Biar aku hantam kepala si buaya itu. Tadi kan sudah kubilang tidak perlu dekat-dekat.” Tangan Agam kembali mencari di atas nakas. Begitu mendapatkannya, dia langsung mengangkatnya ke atas dan bersiap untuk melempar.
“Eit, eit ...” Yuda langsung bersembunyi di balik Sara. Memegangi pundak Sara dan mengarahkannya menghadap Agam yang sudah bersiap. “Kalau kena Sara, bukan salahku, ya. Kamu yang melempar. Lindungi aku, Sar.”
Agam menahan tangannya. Perlahan diturunkan buku itu di atas pangkuannya. Agam terdiam, dan semua menatapnya dengan penuh tanda tanya. Termasuk juga Sara.
Lalu kemudian, buku yang dipegang Agam tiba-tiba saja sudah meluncur di bawah dan melesat ke arah Sara. Ke arah Yuda yang sedang berdiri di samping Sara, lebih tepatnya.
“Aw ...”
“Sara??,” panggil Agam dengan suaranya yang keras. Dia terlihat sangat khawatir.
“Aw sakit, Mas. Aku sakit,” teriak Yuda dalam suara kecil dan melengking yang dibuat-buat, begitu juga dengan suara rintihan yang tadi dikira Agam dengan rintihan Sara.
Agam semakin kesal dibuatnya. Dia langsung memutar roda pada kursi rodanya mencari Yuda yang masih bersembunyi di belakang Sara. Sedangkan tawa Raka menjadi musik pengiring tingkah konyol dua orang pria dewasa yang sedang bertingkah seperti anak yang baru tumbuh remaja.
“Bbha ... Bbha ...”
Gadis kecil yang manis dengan rambut diikat dua, kanan dan kiri. Dan dengan gaun putih berenda serta sepatu putih mungil di kedua kakinya membuat gadis itu terlihat begitu cantik dan lucu.
Menggemaskan.
Tapi, gadis kecil itu buta. Kedua tangannya menggantung lurus di depannya, mencari sesuatu atau mungkin seseorang yang baru saja dipanggilnya. Mendengar suara anak itu, Sara yakin, gadis kecil itu juga tuli dan bisu.
Yuda langsung keluar dari balik Sara dan menghampirinya. Dituntunnya kedua tangan anak itu untuk memegangi masing-masing tangan Yuda. Lalu, Yuda mulai berbicara melalui kedua tangannya itu.
“Papa mau mengenalkan seseorang,” begitu kata Yuda dalam isyaratnya.
Lalu, Yuda menggandeng tangannya, dan menuntunnya mendekati Sara dan yang lainnya.
“Dia putriku satu-satunya. Namanya Tania. Usianya 5 tahun. Dia ... buta, tuli, dan bisu sejak lahir.”
Sara menatap gadis itu lekat-lekat. Hatinya hancur. Mengapa dia harus menjalani ketidakadilan semacam ini sejak dia dilahirkan?
“Boleh saya mendekati Tania?,” tanya Sara berhati-hati meminta ijinnya pada Yuda.
“Hmm. Tentu.” Anggukan yang begitu tegas menandakan Yuda sama sekali tidak keberatan dengan itu.
Sara lakukan hal yang sama dengan yang Yuda lakukan tadi, dan juga Agam saat mereka pertama kali bertemu di taman waktu itu.
“Halo, aku Sara. Senang bertemu denganmu, Tania,” kata Sara dalam isyaratnya.
Raut wajah gadis itu tiba-tiba berubah menjadi sumringah. Senyumnya melebar. Sara sampai tanpa sadar ikut melebarkan senyumnya.
__ADS_1
“Senang berkenalan dengan Tante Sara. Saya suka Tante,” kata Tania dalam isyaratnya, lalu memeluk Sara tiba-tiba. Sara sontak terkejut karenanya.
Ucapan Agam kemudian lebih mengejutkan Sara. “Sudah lama Tania ingin bertemu denganmu.”
“Ya?”
Agam kemudian menjelaskan Project TD-512 adalah project yang sedang mengembangkan alat untuk disabilitas buta-rungu atau buta-rungu-wicara. Dalam project inilah, isyarat buatan Ayah Sara dimasukkan. Dan Tania adalah penguji coba pertama untuk project ini.
“Aku mengenalkan semua jenis isyarat dari berbagai bentuk dan bahasa pada Tania, termasuk isyarat yang dibuat oleh Ayah Sara. Aku ingin Tania kelak tahu banyak dan mudah berinteraksi di mana pun dia berada. Aku juga ceritakan tentang kamu, dan dia jadi bersemangat sekali ingin bertemu denganmu,” cerita Yuda ketika mereka akhirnya duduk di ruang tamu dalam kantor Agam. Tania memilih duduk di samping Sara dan selalu memeluk lengan Sara.
Sara tersenyum melihat betapa menggemaskannya Tania yang terus melekat padanya. Beberapa kali gadis kecil itu memeluknya, lalu memberinya isyarat yang bercerita tentang apa saja yang dia sukai dan cerita-cerita lainnya. Lama-kelamaan, setiap kali Tania memeluknya, Sara membalasnya dengan pelukan erat karena rasa gemasnya itu.
Dia benar-benar anak yang menggemaskan.
Siang itu, Tania akan mencoba alat buatan NFC yang hampir jadi. Untuk mengetahui apakah suatu produk berkembang ke arah yang benar, penguji coba diperlukan untuk memberitahu apakah penggunaannya sesuai dengan yang mereka rencanakan dalam cetak biru mereka atau tidak. Jika sesuai, maka tidak akan ada masalah, tapi jika tidak, itu artinya produk mereka harus di revisi ulang.
Melihat Tania sendirian di dalam ruang uji coba sementara yang lainnya berada di ruang pengamat, Sara hanya bisa mengagumi gadis kecil itu karena sama sekali tidak ada rengekan ataupun tangisan selama uji coba. Padahal usianya baru 5 tahun.
Dia benar-benar anak yang pemberani.
“Aku selalu mengajarkan Tania untuk tidak pernah takut dalam hal apapun selain pada Tuhan. Aku tidak ingin kekurangannya membuat dia jadi terkurung dalam dunianya sendiri. Dia harus berani agar bisa mengalahkan dunia,” kata Yuda yang sedang mengamati putrinya bersama Sara, Agam, dan juga Raka dari ruang pengamat.
Luar biasa.
“Hidupku mungkin hanya tersisa sekejapan mata. Tapi Tania ... hidupnya masih panjang. Bahkan jika nanti aku sudah tidak ada di dunia ini, Tania harus tetap kuat meski harus sendirian,” lanjutnya lagi.
Yuda benar. Gadis kecil dengan kondisi seperti Tania hidupnya tidak akan mudah jika hanya mengasihaninya saja. Tania perlu menjadi kuat untuk bisa hidup normal dengan kondisinya yang tidak normal. Terutama di tengah orang-orang yang pasti hanya akan memandangnya dengan sebelah mata, atau bahkan malah tidak dianggap sama sekali.
Yuda pasti sangat menyayanginya. Tidak mudah menjadi orang tua seorang anak yang luar biasa seperti Tania.
Tapi ... “Oh iya, mamanya Tania tidak kelihatan. Apa tidak ikut ya hari ini?,” tanya Sara setelah dia menyadari dia baru bertemu Tania dan Yuda saja.
Tatapan Yuda ke arah Tania berubah terasa begitu dalam. Seakan-akan bukan Tania yang sedang dilihatnya, tapi sesuatu yang tidak ada di dalam sana.
“Mamanya Tania meninggal saat melahirkan Tania.”
Jawaban Yuda jelas membuat Sara merasa bersalah. Dia benar-benar tidak tahu tentang itu hingga berani menanyakannya. Penyesalannya adalah dia seharusnya tetap diam begitu menyadarinya.
“Maafkan saya. Saya tidak tahu kalau ...”
“Ah, tidak perlu merasa bersalah.” Yuda memotong ucapan Sara dengan cepat. Tawanya saat menggoda Agam tadi sudah terlihat di wajahnya. “Lagipula itu sudah lama. Kamu sendiri bagaimana?”
“Ya? Saya?” Sara mengernyit. Kenapa sekarang jadi aku?
Yuda mendekatkan dirinya pada Sara, lalu berbisik di depan Sara, “Kalau kamu bosan dengan Agam, hub ... ugh ... bhunngii hakkhuu ...”
Sara melihat Agam yang berada di samping Yuda baru saja memukuli Yuda dengan kepalan tangannya. Pukulan Agam yang begitu keras mengenai bagian bawah perut Yuda hingga membuat pria itu merintih kesakitan.
Tapi, Sara yakin Agam mengincar bagian lain, karena tempatnya yang hampir berdekatan. Melihat Yuda yang merintih kesakitan, Sara ikut meringis melihatnya.
Beberapa menit sebelum Tania keluar dari ruang uji coba, Sara dan Yuda sudah keluar dari ruang pengamat dan menunggu di luar ruang uji coba. Sedangkan Agam dan Raka saat ini kembali ke ruang uji coba untuk membahas beberapa hal tentang perkembangan uji coba hari ini.
Hanya butuh satu jam, dan semua tugas Tania selesai. Begitu keluar dari ruang uji coba, Yuda langsung mendatangi putrinya yang sudah mencari papanya. Dan begitu tangan Tania menyentuh Yuda, gadis kecil itu langsung menarik papanya dan memeluknya. Lalu bercerita dengan gerak tangannya betapa dia sangat antusias di dalam tadi. Yuda pun tidak berhenti memuji putrinya itu yang malah memacu semangat putri kecilnya itu.
Tanpa disadarinya, senyum manis mengembang di wajah Sara saat melihat interaksi mereka. Sungguh sangat manis.
......................
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tiga saat mereka akan keluar dari kantor NFC. Tania masih terus menggandeng Sara dan belum menunjukkan tanda-tanda akan melepaskannya bahkan di saat mereka sudah berada di lobby depan gedung NFC. Sementara Yuda dan Agam masih mengobrol di sisi lain, Sara akhirnya menemani Tania mengobrol dengan duduk di salah satu sofa yang ada di lobby.
__ADS_1
Saat Yuda datang, untuk mengajak Tania pulang, gadis kecil itu menggerakkan tangannya untuk mengatakan sesuatu.
“Papa, mau ikut pulang sama Tante Sara."