
[Agam]
Hari itu, Agam menjadi gelisah selama berjam-jam. Dia bingung dan tidak tahu harus bagaimana. Semua dimulai saat Sara memintanya melakukan sesuatu yang tidak biasa untuk pertama kalinya. Semua bermula pada pagi ini.
#
“Nanti tolong Mas yang jemput Gia di sekolah, ya?”
Hah? Jemput Gia?
Bukan kebiasaannya yang menjemput Gia. Yang biasanya adalah Sara yang menjemput putri semata wayangnya itu. Tapi kenapa ini tiba-tiba Sara memintanya untuk menjemput Gia?
“Terapi Mama hari ini mungkin agak lama. Jadi sepertinya nanti agak lambat menjemput Gia. Kasihan kalau Gia sampai menunggu lama, Mas.”
Tapi ...
“Mas kan hari ini kerja dari rumah. Jadi bisa kan ya jemput sebentar saja,” pinta Sara lagi.
Masalahnya bukan itu ...
“A-apa tidak bisa supir saja yang menjemput?,” tanya Agam.
“Jangan, Mas. Biasanya setelah pulang sekolah, aku ajak Gia makan. Kadang es krim, kadang juga cake, suka-suka dia biasanya. Tolong ya, Mas ...” Sara kini memelas padanya.
Bukannya tidak mau ...
“Sara ... itu, apa ... bisa minta tolong Lala saja?,” tanya Agam.
Sara menghela napasnya perlahan. Dia berhenti membereskan tempat tidur yang sedari tadi dia kerjakan. Lalu merangkul pinggang sang suami yang jelas terlihat sedang gelisah.
“Ada apa?,” tanya Sara setengah berbisik.
Kepala Sara terus menengadah ke atas menatap Agam, menunggu jawabannya. Dalam gambaran yang ditangkap kedua matanya yang tidak jelas itu, dia masih bisa melihat senyum Sara, seperti sebuah matahari yang menghiasi ruang gelapnya.
Tangan Agam perlahan menyentuh wajah Sara. Dia mengusap dengan ibu jarinya. “Aku takut Gia nanti malu di depan teman-temannya karena punya Ayah sepertiku.”
“Kenapa Gia harus malu?” Sara sama sekali tidak tertawa saat mengatakannya. Padahal Agam sudah siap jika seandainya Sara tertawa.
“Kamu tahu bagaimana aku, Sara? Kakiku tidak bisa normal. Jalanku masih pincang,” jelas Agam. “Gia baru masuk sekolah. Bagaimana kalau nanti dia ditertawakan? Dia tidak bisa punya teman. Semua mengucilkannya. Seperti, seperti ...”
“Maksud Mas, aku?”
“Maaf,” jawab Agam kemudian dengan penuh penyesalan. “Yuda pernah mengirimi aku cerita tentang masa lalumu. Tentang bagaimana kamu di sekolah dulu. Tentang masa kecil kamu. Aku baru tahu sejak itu.”
Tangan Sara kini mengajak dirinya untuk duduk di atas tempat tidur. Dia memegangi tangan Agam dengan lembut, dan berkata, “Mas tahu kan, kalau Gia itu sangat sayang sama ayahnya?”
Tawa kecil Agam keluar begitu saja dari bibirnya. Dia tahu benar bagaimana putri kecilnya itu. Arya bahkan tidak bisa mengubah pendapat Gia jika sedang membandingkan mereka.
“Itu beda, Sara.”
__ADS_1
“Sama dong, Mas,” kata Sara membela dirinya. “Kemana pun Gia pergi yang dia banggakan cuma Ayahnya. Waktu kemarin di pesta ulang tahun anaknya kolega Mas, dia dengan bangganya cerita kalau Ayahnya bisa bikin robot sama teman-teman sebayanya di sana. Di rumah sakit juga gitu kalau pas lagi nemenin Mama. Duh, celotehnya ayah, ayah, ayyaaahh mulu. Bunda nya cuma dapat hikmahnya aja.”
Agam malah tertawa lepas.
“Kalau kita jalan-jalan ke mall, di kantor, di mana aja deh, Gia maunya cuma digandeng atau kalau nggak digendong sama Mas. Mana ada Gia malu sama ayahnya?”
Sara benar. Gia sama sekali tidak pernah mempedulikan soal itu.
“Soal masa kecilku dulu, gimana ya?” Sara sempat tertawa meski hanya tawa kecil. “Nggak semua orang bisa menerima kekurangan orang lain. Dulu ... aku dikelilingi oleh orang-orang semacam itu.”
Sara menggenggam tangan Agam dengan erat. Meski demikian, kelembutannya tetap terasa.
“Tapi disini, percaya sama aku, Mas. Tidak akan ada yang menertawakannya,” kata Sara.
“Kalau pun ada,” lanjut Sara lagi. “Gia lebih galak dari mereka.”
Agam tertawa mendengarnya. Dia teringat saat Gia bertengkar di playground mall. Ketika Agam mengajaknya bicara, gadis kecil itu bercerita dia marah karena diejek jelek. Gia memperingatinya dua kali. Tepat ketiga kalinya, Gia menjambak rambutnya. Sara syok bukan main saat itu terjadi.
Bagaimana tidak syok? Itu adalah pertama kalinya Gia bertindak seimpulsif itu.
“Iya, mirip bundanya.”
“Enak aja. Ajaran Ava itu.”
Memang benar Ava yang mengajarinya.
Kalau kata Ava, “Biar nggak ada yang berani gangguin Gia.”
"Terima kasih," ucapnya lirih. "Terima kasih sudah melahirkan Gia."
Agam menciumi puncak kepala Sara lagi. Kali ini dia menyandarkan kepalanya di sana. "Terima kasih sudah mendidik Gia menjadi selembut itu."
Sara ikut membalas pelukan Agam. Dia berkata, "Semua karena Mas juga. Terima kasih sudah menjadi Ayah yang hebat bagi Gia."
Agam tersenyum. Aku menjadi hebat di mata Gia karena dirimu.
#
Dan di sinilah Agam, di ruang tunggu pre-school tempat Gia bersekolah, di mana sudah banyak orang tua murid yang menunggu di sana.
Perasaannya sudah campur aduk. Untuk saat ini belum ada yang mengenalnya. Jelas saja, ini pertama kalinya dia menjemput Gia setelah sebulan dia masuk sekolah. Tapi nanti begitu semuanya keluar, begitu juga dengan Gia, putrinya itu pasti akan berlari menghampirinya, dan pada saat itulah semua orang akan mengenalinya.
Saat-saat itulah yang ditakuti Agam.
Tapi sebelum itu terjadi, Agam harus melewati yang ini dulu.
“Papanya Gia, ya?,” tanya salah satu ibu-ibu yang juga menunggu di ruang tunggu.
Dengan gugupnya, Agam mengangguk. Dalam hatinya dia sudah menjerit, kok tahu?
__ADS_1
“Iya lho, mirip, ya?”
“Mirip banget sama Gia. Papanya ganteng, anaknya cantik.”
“Mamanya juga cantik, kok.”
“Duh, senangnya. Akhirnya bisa lihat papanya Gia langsung. Biasanya cuma bisa lihat dari hape.”
Dari satu ibu ke ibu lainnya. Semuanya mulai mengerumuni Agam yang tadinya gugup kini menjadi kaget dengan semua yang dilakukan ibu-ibu itu.
Beruntungnya, bel pulang berbunyi setelah itu. Gia keluar dan langsung bingung mencari seseorang yang biasanya menjemputnya.
Agam yang masih dikerumuni oleh para ibu, menaikkan lengan tangannya tinggi-tinggi, lalu berseru, “Gia! Gia!”
Gia yang begitu melihat ayahnya langsung berubah sumringah. Senyumnya lebar sekali. “Ayyaah!!”
Ibu-ibu yang mengerumuni Agam langsung memisahkan dirinya, memberi jalan pada Gia yang sedang berlari ke arah Agam.
Agam langsung menggendong dan menciuminya.
“Duh, manis banget.” Begitu para ibu berkomentar. Tapi setelah itu, mereka membubarkan diri, membiarkan Agam dan putrinya.
“Bunda nggak bohong. Katanya nanti pulang sekolah Ayah pasti jemput,” celoteh Gia.
“Bunda?”
Gia langsung menutupi mulutnya dengan kedua tangan mungilnya. “Ups!”
Agam langsung memahami apa yang sedang terjadi di sini.
Ini rencana mereka berdua ternyata. Tunggu, ya. Lihat saja nanti malam, Sara.
“Hari ini Gia mau makan apa?,” tanya Agam.
“Es krim!,” sorak Gia kegirangan.
Setidaknya, kebohongan kecil mereka membuat Agam mengetahui satu hal, bahwa kekhawatirannya adalah salah besar.
...----------------...
[Sara]
“Bunda, kok Ayah nggak pernah anter jemput Gia ke sekolah, sih? Temen-temen Gia ada yang dianter-jemput ayahnya, Gia nggak,” kata Gia yang sudah terlihat cemberut di pagi hari.
“Pulang sekolah nanti, Gia mau dijemput Ayah?,” tanya Sara yang sedang berusaha menghibur putrinya.
Gia langsung menganggukkan kepalanya berulang-ulang.
“Tapi, jangan bilang-bilang ini ide Bunda, ya.”
__ADS_1
Dan yang terjadi selanjutnya adalah kedua jari kelingking mereka sudah saling berpaut dan dengan senyum seringai mereka yang lebar.