Cinta Itu (Tidak) Buta

Cinta Itu (Tidak) Buta
Part 48 : Dia Adalah Suamimu


__ADS_3

[Sara]


Sara menatap kedua mata Ibu dalam-dalam. Dia tahu, Ibu pasti akan menjawab itu.


“Dia adalah suamimu. Imam rumah tanggamu. Kamu seharusnya ikut menemani dia.”


“Ibu bagaimana?,” tanya Sara hampir tak kuasa untuk berkata karena air matanya kembali turun.


“Ibu bagaimana apanya?,” tanya Ibu balik. “Ibu ya akan baik-baik saja. Khawatir apa?”


“Ibu akan sendirian di sini.”


“Siapa bilang? Ada Mina. Ada perawat. Ada tetangga sekitar rumah. Siapa bilang Ibu sendirian?”


Tangan Ibu kini meriah wajah Sara dan bersandar di pipinya. Dia berkata, “Sejak Ibu melahirkan kamu, Ibu sudah tahu suatu saat akan terjadi hal seperti ini. Ibu sudah belajar ikhlas melepaskan kamu untuk suamimu kelak sejak itu.”


“Tapi, Mas Agam nggak mau Sara ikut.”


Ibu malah tertawa. “Laki-laki memang begitu. Bilangnya ndak mau, tapi sebenarnya butuh. Ayahmu juga gitu dulu.”


Dengan lembut, jempol Ibu mengusap air mata Sara. “Bilang sama Agam, jangan khawatirkan Ibu. Ini juga buat kamu. Ibu di sini akan baik-baik saja. Sejak kamu menikah, kehidupanmu adalah rumah tanggamu. Jadi, pergilah. Temani Mas Agam mu.”


Sara langsung memeluk Ibu. Cukup erat sampai tak mau dilepaskannya. Hingga pada akhirnya, mereka berdua tertawa. Meski air mata masih masih membasahi pipi Sara.


Sara menghela napasnya sekali begitu hatinya terasa lebih ringan. Dia kembali menatap Ibu dengan lembut. Senyuman Ibu yang justru membuatnya semakin tenang.


“Sara pulang ingin menenangkan pikiran saja, Bu. Sara kesal karena Mas Agam sudah melakukan banyak hal untuk Sara, tapi Sara malah nggak diijinkan melakukan sesuatu yang Sara bisa untuk Mas Agam.”


Raut wajah Ibu seketika berubah. Seperti kaget tapi juga ada senangnya. “Jadi Agam sudah cerita, ya?”


Cerita apa?


“Eh, bukan itu maksud kamu, ya?” Kini, raut wajahnya berubah panik.


Tapi Ibu sudah terlanjur mengatakan sesuatu yang buat Sara penasaran. Mana bisa Ibu berhenti begitu saja?


Sara menatap curiga pada Ibu. “Ada apa Ibu sama Mas Agam?”


Ibu pun menjadi gugup. “B-bukan ... Itu ... Maksud Ibu ...”


Terakhir yang dilakukannya adalah menatap Sara dengan penuh rasa bersalah. Pada akhirnya, tidak tahan dengan desakan putri semata wayangnya, Ibu akhirnya bercerita.


Sara mendengarkan baik-baik setiap kata yang diceritakan Ibu tentang bagaimana Mas Agam membantu Ibu membawanya ke rumah sakit saat itu.

__ADS_1


Antara kaget, senang, dan rasa tidak percaya pada yang namanya kebetulan, Sara kini menjadi semakin yakin dengan keputusannya. Aku harus menemui Mas Agam.


Tapi itu baru awal.


Restu dari Ibu sudah. Selanjutnya adalah mencari di mana Mas Agam ...


Yang dilakukan Sara adalah kembali ke Arya. Cuma Arya yang bisa memberinya petunjuk, ke mana seharusnya dia mencari Agam.


Dan FTC adalah tempat di mana seharusnya Arya berada saat ini.


Setelah mengantar aku tadi seharusnya dia pergi ke kantor sekarang.


Sara baru saja berdiri di depan meja resepsionis. Dan petugas yang berjaga juga selesai bertanya tentang keperluan Sara. Di saat itulah, Sara melihat sosok wanita yang dia sangat kenali keluar dari lift yang jaraknya cukup jauh dari tempatnya berdiri, bersama dengan dua orang pria berjas dan berkaca mata hitam yang mengikuti langkahnya dari belakang dan dua orang lainnya yang memimpin jalannya.


Mama ... Apakah aku masih harus memanggilnya Mama?


Semua orang memandanginya, membungkuk ketika dia melewati mereka, tapi Widia tidak memandangi mereka sedikitpun. Dia terus berjalan menuju pintu keluar gedung perkantoran itu.


Anehnya, langkahnya berhenti tepat di depan Sara, meskipun jarak di antara mereka cukup jauh. Dia melewati semua orang dengan angkuhnya, tapi bisa berhenti tepat di depan Sara. Apakah aku harus bangga?


Perlahan, Widia menolehkan kepalanya menatap Sara. Tajam dan lurus.


Sementara Sara tetap berdiri di tempatnya berdiri tanpa rasa takut sedikitpun.


Aku pernah bermalam di ruangan gelap seorang diri. Aku pernah berada di sel penjara bersama dengan para krimminnal. Apa yang lebih menakutkan dari itu?


Sara tidak tahu alasan Widia berhenti dan memandanginya seperti itu. Tapi yang jelas, di hatinya saat ini yang ada hanya kemarahan besar. Amarah yang dia tahan dengan mengepalkan kedua tangannya sangat erat. Kuku jemarinya bahkan hampir melukai telapak tangannya. Rasanya kini mulai perih.


Entah berapa lama mereka terus seperti itu. Orang-orang di sekitar mereka memandangi mereka dengan penasaran. Tapi Sara tidak peduli. Dia terus menatap Widia yang jelas menggambarkan kemarahannya, seakan-akan mereka sedang bertanding siapa yang terkuat.


Widia yang akhirnya menyadari bahwa dia sedang menjadi pusat perhatian para karyawan di FTC. Begitu dia sadar, Widia akhirnya melanjutkan langkahnya lagi.


Tapi, Sara menghentikan langkahnya.


“Saya berharap semoga Nyonya puas dengan pilihan Nyonya saat ini,” ucap Sara dengan lantangnya. Suaranya menggema di area lobby FTC hingga membuat suasananya menjadi hening.


Sara menatap punggung Widia yang berhenti setelah beberapa melangkah. Terlihat enggan untuk berbalik, Widia terus menghadap ke arah pintu gedung.


“Saya doakan semoga Nyonya tidak akan pernah merasakan apa yang dirasakan putra Anda saat ini. Semoga Nyonya selalu bahagia dengan pilihan Nyonya.” Sara masih saja belum puas meluapkan kemarahannya.


Widia tidak menjawab satu kata pun untuk menyanggah ucapan Sara. Yang dilakukannya saat ini adalah berbisik dengan salah seorang pengawalnya. Setelah selesai, dia kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti, sementara dua orang pengawal, bergerak mendekati Sara.


“Lepas! Le-pas!,” bentak Sara ketika dua orang pengawal itu mencengkeram lengan Sara dengan keras untuk menyeretnya. Mereka terpaksa melakukannya, karena Sara terus memberontak saat mereka menyentuhnya.

__ADS_1


“Atas perintah siapa kalian berani menyentuhnya?”


Bentakan yang cukup keras dan lantang datang dari tempat di mana asal Widia tadi datang. Suaranya yang jelas terdengar membuat Widia langsung mencari si empunya suara.


“Arya ...,” panggil Widia lirih, tapi masih terdengar oleh Sara.


Selangkah demi selangkah, Arya mendekati Sara yang masih dipegangi oleh kedua pengawal berjas. Kedua matanya melotot tajam ke arah mereka.


“Lepaskan dia atau kalian kupecat?,” ancam Arya mendelik ke kedua pria itu. Tangannya mencengkeram pergelangan tangan salah satu pengawal yang sedang memegangi Sara.


Pengawal itu kesakitan. Cengkeraman kuat yang memegang lengan Sara kini melonggar. Pengawal yang lain ikut melakukan hal yang sama. Mungkin juga khawatir merasakan hal yang sama seperti rekannya, atau bisa juga karena ancaman Arya.


“Mbak nggak apa-apa, kan?,” tanya Arya dengan nada suara yang lebih lembut daripada tadi.


Sara mengangguk. “Hmm ...”


Arya kemudian menghampiri Widia yang masih berdiri di tempatnya. Kedua pria berjas mengikuti Arya dari belakang.


Dengan berbisik di telinga Widia, Arya mengatakan sesuatu yang tidak bisa didengar Sara. Tapi yang jelas, Widia langsung melotot marah. Dia mendengus kasar, lalu pergi bersama pengawal-pengawalnya.


“Lagi menonton apa? Lanjutkan pekerjaan kalian!”


Dan kerumunan penonton yang tadi betah menyaksikan pertunjukan drama kini pun bubar. Mereka berpencar bergerak ke tempat tujuan mereka yang sebenarnya.


“Mbak beneran nggak apa-apa? Nggak ada yang luka?,” tanya Arya sekali lagi. “Kalau luka bilang saja, Mbak. Biar aku urus mereka.”


Sara tersenyum.


Kalau begini, beda rasanya dari Arya yang biasanya aku lihat di rumah.


Dengan gerakan cepat, Sara menggelengkan kepalanya, memaksa pikirannya kembali fokus pada tujuannya.


“Ayo, Mbak. Kita ke kantorku saja,” ajak Arya yang langsung diiyakan oleh Sara.


Dengan diiringi oleh pandangan mata semua karyawan yang masih berada di lobby, Sara mengikuti langkah Arya memasuki gedung FTC lebih dalam lagi.


......................


“Jadi Mbak mau menyusul Mas Agam? Tapi, kita nggak tahu ke mana Mas Agam sekarang,” kata Arya ketika mereka berada di ruang kerja Arya.


“Apa ada cara untuk cari tahu di mana Mas Agam?” Sara bertanya balik. Mungkin ada cara untuk mengetahuinya. Setidaknya berikan ide.


“Sama seperti waktu itu, Mas Agam juga pergi tanpa memberitahu siapapun kemana dia akan pergi. Raka pun tidak diberitahu. Mungkin karena sekarang Mas Agam belum membutuhkan Raka,” jelas Arya mencoba memahami rencana Agam saat ini.

__ADS_1


“Belum ... membutuhkan ...?”


Apa maksudnya ‘belum membutuhkan’?


__ADS_2