
[Agam]
5 tahun lalu, saat Agam terbangun dan mendapati dirinya lumpuh, dia tidak marah sedikitpun. Rasa sedihnya sebagian besar lebih karena dia harus kehilangan sosok ayah yang sangat dia hormati. Selain itu, tidak ada.
Kaki lumpuh? Bukan masalah. Dia bisa bergerak dengan kursi roda. Dia bisa menciptakan kursi roda dengan fitur-fitur lengkap untuk membantunya. Remote untuk bergerak, tombol naik turun agar mudah pindah, atau balap kursi roda? Dia bisa melakukannya.
Selama kepalanya masih bisa berpikir, mata bisa melihat, telinga bisa mendengar, dan tangan yang masih aktif bergerak, dia tahu dia akan baik-baik saja.
Tapi kemudian, dia disiksa selama berhari-hari. Seperti berada di dalam tungku yang dipanaskan di atas bara api. Agam merasakan dirinya seperti sedang berada di neraka - meski dia sendiri belum pernah ke sana -, seperti itu orang-orang mendeskripsikan rasa panas yang dirasakan terlalu berlebihan.
Dia hampir tidak sadarkan diri. Dia sudah mengira hidupnya sudah berakhir kala itu.
Tapi, ketika dia terbangun, semuanya mendadak menjadi gelap. Hitam. Tidak ada apapun.
Dia panggil satu-persatu orang yang dia ingat selalu berada di samping tempat tidurnya selama berhari-hari penyiksaan itu, tapi tidak ada satupun yang menjawab panggilannya.
Sekali, dua kali, tetap tidak ada yang menjawab. Terakhir yang dilakukannya adalah berteriak. Teriak dengan sangat kencang. Baru setelah itu, dia merasakan seseorang sedang menyentuhnya dengan lembut.
"Mama?"
Itu adalah kata pertamanya yang keluar dari mulutnya saat kesadarannya mulai kembali.
Agam memanggilnya terus menerus. Menanyakan banyak hal. Tapi, tidak ada satupun yang terjawab. Sunyi. Tidak ada suara apapun.
Saat itulah, dia menyadari sesuatu. Dia kini berada dalam dunia yang berbeda. Dunia yang gelap dan sepi. Dunia yang tidak bisa dia lihat atau dengar.
Pada titik itu, Agam tidak bisa lagi berpikir. Dia mulai marah.
Agam punya rencana untuk membuat sebuah satelit untuk NFC. Lalu, bagaimana dia bisa membaca informasi dari layar komputernya? Bagaimana dia melakukan simulasi dan mencari kesalahan pada buatannya jika dia tidak bisa melihatnya sendiri? Bagaimana dia bisa mendengar suara error yang dikeluarkan oleh mesin-mesinnya jika suara itu tidak sampai ke telinganya? Bagaimana?!
Hingga pada satu titik, dimana dia merasa masih punya impian yang harus diwujudkannya, di saat itu keinginannya untuk bangkit perlahan-lahan menaik.
Dia mulai mencari cara agar ketidakmampuannya ini tidak menghalanginya atau menghambatnya. Dia mulai menggunakan kepalanya untuk berpikir hal-hal yang akan membantunya saat ini. Dan itu yang dilakukannya selama 2 tahun terakhir ini. Waktunya habis untuk itu.
Dan sekarang, orang-orang serakah ini terus menuntut darinya. Terus meminta lebih darinya. Padahal dia masih memberikan project baru yang juga terbilang sukses. Apakah mereka juga berpikir apa yang sudah dilewatinya selama 2 tahun terakhir ini?
__ADS_1
"Dasar orang-orang gila! Nggak cuma otaknya yang mati, perasaannya juga!"
Sara?
"Apa yang salah dari alat untuk disabilitas? Mereka harus sekali-kali ngerasain jadi buta, jadi tuli, jadi bisu sekalian!"
Agam mendengus pelan menahan tawanya agar tidak lepas dari bibirnya.
Apa yang sedang dilakukan gadis itu di luar sana? Ah, iya ... dia pasti sudah selesai dengan ET dan RT.
Agam menaikkan tangannya setinggi kepalanya, memanggil Raka yang pasti sedang berada di dekatnya.
"Antarkan Sara ke kantorku. Dia ada di luar," bisik Agam pada Raka yang sudah mendekatkan diri padanya.
"Baik, Tuan," jawab Raka.
Dan semenit kemudian, suara Sara sudah semakin menjauh. Dan di telinganya kini hanya terisi oleh ocehan orang-orang yang masih terus mencecarnya dengan cemooh dan sindiran mereka.
"Yang bisa saya katakan adalah NFC adalah perusahaan yang dibangun dengan susah payah oleh kedua orang tua saya. Kecintaan mereka pada teknologi adalah satu-satunya tujuan mereka tetap bertahan bersama NFC. Maka, atas dasar itu juga, saya akan tetap bersama NFC."
"Jika yang kalian takutkan adalah kedua mataku ini, lalu ... bagaimana aku bisa menyelesaikan Selene 4.2 yang sudah hampir 50%? Progress report nya bisa kalian lihat sendiri di depan kalian."
Telinga Agam kini dipenuhi gemuruh bisikan orang-orang yang sedikit demi sedikit mulai merubah pandangan mereka.
"Selene 4.2? 50%? Ini ... sulit dipercaya."
"Bagaimana bisa? Dengan kondisinya ..."
"2 bulan. Beri saya waktu hingga 2 bulan. 80% progress report akan saya berikan pada meeting 2 bulan lagi."
Mereka kembali hening. Lalu kemudian, "Setuju."
......................
Perjalanan menuju rumah terasa sangat sepi. Sedari tadi Sara hanya diam saja semenjak dia masuk ke dalam mobil. Padahal gadis itu terdengar berisik sekali tadi di luar meeting room. Kenapa dia mendadak menjadi sunyi?
__ADS_1
"Bagaimana tadi? Apakah ada masalah?"
Hanya itu pertanyaan yang terpikirkan olehnya.
"Tidak ada. Semuanya lancar," jawab Sara santai.
Mendengar caranya berbicara, sepertinya memang tidak ada masalah.
"Aku dengar ... Mama hari ini datang ke rumah." Begitu yang Raka laporkan tadi siang. "Kudengar kalian terlihat akrab."
"Entahlah. Aku hanya melakukan tugasku sebagai seorang menantu kepada ibu mertuanya yang baru ditemui."
Dia tidak mengelaknya. Tapi juga tidak mengiyakan.
Kemudian, semuanya kembali hening.
"Jadi, apa pendapatmu?" Agam bertanya lagi.
"Tentang?"
"Ibu mertuamu."
Sara terdiam. Mungkin sedang memikirkan sesuatu. Apakah dia sekarang sedang berpikir berpihak pada wanita itu?
"Baik. Ramah. Cantik. Sangat cantik malah."
Sejauh yang Agam ingat, dia memang cantik.
"Kuharap setelah kamu melihatnya, kamu tidak lupa dengan tugasmu."
Diam lagi. Dia tidak langsung menjawab.
"Tidak. Aku tidak lupa."
Baguslah kalau kamu ingat. Jangan sampai kamu lupakan itu, Sara. Pikirkan ibumu.
__ADS_1