Cinta Itu (Tidak) Buta

Cinta Itu (Tidak) Buta
Part 42-1 : Jangan Bawa Sara Tanpa Ijinku!


__ADS_3

[Sara]


“Dia istriku. Punya hak apa kalian membicarakan istriku? Aku tidak akan mentolerir siapapun yang berani menghina istriku!”


Mas Agam?


Agam ternyata datang bersama Raka yang saat ini sedang mendorong kursi rodanya.


Sara langsung mendatanginya dan melakukan kewajibannya menciumi punggung tangan suaminya itu.


“Maaf, aku terlambat datang,” kata Agam begitu Sara selesai.


“Nggak apa-apa, Mas. Kita pulang saja, ya,” kata Sara dalam isyaratnya.


Benar, pulang saja. Daripada berlama-lama di sini.


“Pakai ini,” kata Agam lagi seraya memberikan sesuatu untuk Sara.


Dipandanginya sebuah sweater lembut berwarna hitam yang hampir dia lupakan karena sudah lama tidak dia lihat, sejak kejadian dia melemparkannya ke Agam.


“T-terima kasih, Mas,” jawab Sara yang masih terkejut melihat sweater itu lagi. Dia tidak menyangka Agam selama ini menyimpannya.


“Agam, kamu mau pulang sekarang? Kenalan dulu sama teman-teman Mama, ya.” Widia yang sedari tadi hanya diam saja ketika teman-temannya memojokkan Sara, kini dia datang menghampiri Agam yang baru datang.


“Tidak perlu. Aku tidak butuh kenal dengan orang yang sudah menghina Sara,” jawab Agam ketus. “Sara baru sembuh sakit. Kenapa Mama membawanya tanpa sepengetahuanku?”


Widia hampir menjawabnya, tapi sebuah suara memotong perhatian mereka.


“Ternyata benar ya anak tiri kamu sedang sakit. Bagaimana bisa orang buta memimpin perusahaan?”


Seperti sebuah paduan suara, yang lain kompak tertawa mendukung pernyataan temannya itu.


Sara geram. Dia tidak terima. Kukira mereka orang yang berpendidikan, tapi ternyata tidak.


Sara baru akan melangkah, tapi tangannya yang masih memegangi tangan Agam tahu-tahu sudah berbalik. Agam yang kini menggenggam tangannya, menahan Sara untuk pergi.


Sara pun kini mencari sosok Widia yang terlihat tersenyum canggung karena becandaan teman-temannya yang tidak bisa dikatakan sebagai lelucon.


Keningnya berkerut melihat Widia. Sungguh tak habis pikir dia.


Perlukah merasa tidak enak karena seseorang menghina anakmu? Oh iya lupa, dia juga yang menyebabkan Mas Agam seperti ini.


“Aduh, maaf loh, Jeng. Kita cuma bicara fakta di sini. Anak dan suami kita saja sudah kewalahan ngurus satu perusahaan. Padahal mereka normal. Lah ini yang ...” Ucapannya terpotong karena sedang memperlihatkan cekikikannya meski disembunyikan di balik kipas tangannya. “... maaf. Apa nggak gimana gitu, ya?”


Tidak. Tidak bisa.


“Gimana nggak kewalahan ngurusnya? Mereka masih harus ngurus mulut kalian yang lebih mirip penghuni kebun binatang,” hardik Sara dengan lantangnya.


“Pfft ...”


Sara langsung menoleh ke belakang Agam. Ada Raka yang sedang menahan tawanya. Begitu melihat Sara yang masih melotot karena amarahnya, Raka langsung menghentikan tawanya.


“Maaf, Nyonya Sara.”


Agam menggenggam tangan Sara lebih erat lagi tapi tidak menyakitinya. Hanya sebatas menggenggam lalu menariknya perlahan. Maksudnya, dia hanya ingin mengatakan, “Sudah, Sara.”


Sara paham maksud Agam itu. Dia langsung meraih telapak tangan suaminya, dan berisyarat, “Mereka sudah keterlaluan, Mas.”


Mendengar ucapan Sara itu, jelas saja sebagian besar dari mereka tidak terima. Beberapa dari mereka sudah berdiri dan akan menghampiri Sara. Mungkin juga ingin menamparku ala-ala sinetron itu.


Tapi kemudian, sebuah suara menghentikan mereka semua.


“Adduuh ... Kalian semua berisik banget, deh. Kayak keluarga kalian normal aja.”


Seorang wanita cantik dengan dandanannya yang elegan. Wanita bertubuh langsing nan tinggi dengan kaki jenjangnya itu berjalan di hadapan mereka semua dengan menjinjing tas tangannya.

__ADS_1


Ci Linda?


Yep, Ci Linda, istri bapak eits ow en kompleks rumah.


“Jeng Monika!,” tunjuk Linda dengan kipas tangannya. “Suaminya apa kabar? Sudah punya istri berapa sekarang? Dari Sabang sampai Merauke, semuanya ada. Lengkap ya, Jeng. Reuni tiap tahun ramai pasti itu.”


Yang disebut namanya langsung dongkol. Dia kembali duduk, meski kedua matanya masih terus melirik sebal pada Linda.


“Jeng Hanum!,” tunjuk Linda pada wanita yang lainnya lagi. Wanita itu langsung sontak terkejut ketika namanya disebut.


“Anak gadisnya apa kabar? Saya sudah lihat videonya, loh. Aduuh ... Anak jaman sekarang berani-berani, ya. Gituan sama pacarnya pakai acara direkam segala. Saya sama suami saya saja masih malu-malu. Lah ini direkam.”


Mungkin belum banyak yang tahu. Sebagian kecil tamu undangan mulai bergosip dan menatap wanita yang dipanggil Hanum itu.


Sara sendiri menutup rapat bibirnya yang hampir lepas tawanya. Dia bahkan menunduk karenanya. Sedikit rasa puas, karena wanita itu yang tadi bangga akan ‘bibit bebet bobot’nya.


“Jeng Clarisa!”


Sebelum melanjutkan kalimatnya, Linda sudah mendapatkan tatapan mematikan dari wanita yang baru saja disebut namanya. Seakan-akan sedang mengatakan, “Jangan macam-macam kamu!”


Tapi Linda sepertinya tidak peduli, “... aduh, makin kurus aja, ya. Gimana, Jeng? Kurus alami? Makan banyak nggak bisa gemuk? Nggak pakai obat ya, Jeng? Semoga cepat sembuh ya bulimia(*) nya.”


“Jeng ...”


Pandangan semua orang langsung berubah tajam menusuk ke arah Linda yang justru langsung ditanggapinya dengan tertawa.


“Gitu banget sih lihatnya,” ejek Linda dengan gaya bercandanya. Kipas di tangannya dia buka untuk menyembunyikan tawanya.


“Jangan terlalu banyak ngomongin kekurangan orang. Kalian sendiri juga nggak kurang-kurang kekurangannya. Mau saya sebutin satu persatu di sini? Bisa-bisa besok kita baru pulang,” lanjutnya lagi yang diakhiri dengan tawa kerasnya.


“Dah lah.” Linda langsung berbalik membawa tas tangannya. “Makasih lunch nya, Jeng Widia. Kapan-kapan jangan undang saya lagi. Saya nggak suka kumpul-kumpul seperti ini.”


Linda terus berjalan meninggalkan mereka yang masih berbisik membicarakannya. Dia tidak peduli dengan semua omongan mengenai dirinya. Gayanya yang elegan terlihat begitu berkelas ketika pergi menjauhi kerumunan orang-orang itu.


“Ci Linda ...,” panggil Sara lirih begitu Linda mulai mendekatinya.


Sara menyembunyikan tawanya dalam senyuman kala memandangi Linda yang terus berjalan menjauh melewati dirinya dan juga Agam.


“Pakai sweatermu, Sara. Kita pulang,” titah Agam yang sulit untuk dibantah Sara. Tentu saja.


Dengan senang hati, Sara langsung bergerak menyalimi mertuanya yang tanpa ekspresi – mungkin juga sedang menyembunyikan perasaan jengkelnya –, lalu mengikuti suaminya yang sudah dibantu oleh Raka mendorong kursi rodanya.


......................


“Pokoknya jangan bawa Sara tanpa seijinku,” bentak Agam dalam teleponnya.


Begitu mobil yang mereka tumpangi berangkat, Widia sudah menelpon Agam. Dan Agam langsung memarahinya.


Sara sampai terkejut mendengarnya. Dia belum pernah mendengar Agam memarahi Widia seperti itu.


“Kok jadi Mama yang dimarahi? Yang ngomong kan teman-teman Mama semua, bukan Mama,” kilah Widia tak mau disalahkan.


“Aku tidak peduli mereka atau Mama. Jangan salahkan aku kalau bertindak kasar yang akan bikin Mama tambah malu.” Kalimat terakhir dan panggilan itu diakhiri.


Sara hanya bisa diam terpaku. Pandangannya diarahkan lurus ke depan. Kepalanya masih mencari topik pembicaraan yang bisa meredakan amarah suaminya itu.


“Mama suruh kamu apa? Kamu sudah makan? Dokter bilang kamu jangan sampai terlambat makan, kan?”


Setidaknya dengan Sara, nada bicaranya masih terdengar lembut, tapi masih terasa kemarahannya meski tak sebesar saat berbicara dengan Widia.


“S-sudah, Mas ...,” jawabnya sedikit berbohong. Dia hanya mengincip sedikit-sedikit dari yang dimasaknya tadi. Daripada makin marah.


Diliriknya sedikit Agam yang ada di sampingnya. Lalu, tiba-tiba teringat sesuatu.


“Lho? Alat bantu dengarnya sudah bisa, ya?”

__ADS_1


Setelah diingat lagi, dari tadi Agam bisa menjawab pertanyaan orang lain tanpa menggunakan isyarat. Sara saja yang terlalu marah hingga tidak menyadarinya, malah terus berisyarat dengan Agam.


“Itu alat yang baru, Nyonya. Saya tadi yang mengantarkan ke rumah. Lalu ketemu Pak Pardi, jadi saya yang laporkan ke Tuan Agam.” Raka yang duduk di depan tiba-tiba menoleh ke belakang.


Oh ...


Sara kini semakin berani memandangi Agam. Tidak lagi melirik seperti tadi. Memikirkan kembali bagaimana Agam datang untuk membawanya pulang. Padahal dia baru saja melewati masa tidak mengenakkan karena ibu tirinya itu. Mungkin juga itu adalah kali pertamanya pulang ke rumah utama setelah dia kembali.


Pasti berat rasanya kembali ke sana. Tapi tetap dia lakukan.


“Terima kasih Mas sudah datang,” tutur Sara dengan lembutnya.


Dan Raka tiba-tiba muncul dari balik tempat duduknya. “Tadi Tuan Agam ...”


“Diam! Jangan berisik!,” bentak Agam.


Bibir Raka langsung tertutup rapat. Pelan-pelan beringsut memutar tubuhnya ke depan.


“Lain kali jangan ke rumah utama kalau tidak bersamaku. Terserah apa kata Mama,” lanjut Agam memberi Sara wejangan.


Mauku sih juga begitu, Mas. Tapi tadi kan ceritanya beda, begitu batinnya berbicara.


Tapi tentu saja dia tidak bisa mengatakannya. Agam saat ini sedang marah.


“Kamu paham kan, Sara?”


“Iya, Mas.”


Selanjutnya hanya diam yang bisa dia lakukan. Sepanjang perjalanan itu.


Tapi ketika mereka tiba, Sara punya ide lain yang tidak ada salahnya jika dicoba.


Sara berbisik di depan Agam, “Mas, di depan rumah ada taman dekat danau. Mau duduk di sana sebentar sebelum masuk? Udaranya enak bu ...”


“Mau.”


Tanpa menunggu Sara menyelesaikan kalimatnya, Agam langsung menjawabnya. Sara hampir terkejut karenanya. Siapa yang menyangka kalau akan secepat itu akan mendapatkan balasannya.


Sembari tersenyum senang, Sara mendorong Agam ke taman depan rumah.


Taman itu adalah taman umum. Berada di pinggiran danau yang dipasangi terali pembatas, dan diberi paving di sepanjang taman yang mengitari danau itu. Pepohonan yang rindang dan juga bunga-bunga turut menambah keasrian taman itu. Masih terasa menyegarkan meski udara di siang itu cukup panas.


Sara memposisikan kursi roda Agam menghadap ke arah danau. Lalu, dia sendiri duduk di bangku yang ada di sampingnya. Terakhir, Sara tersenyum memandangi Agam. Entah bagaimana ceritanya, tapi Sara yakin Agam menikmatinya.


“Sejuk ya rasanya, Mas?,” tanya Sara.


Agam mengangguk. “Hmm ...”


Lalu, Agam tersenyum. Ya, tersenyum.


Syukurlah ...


Yang mereka lakukan selanjutnya hanyalah diam. Tidak ada yang memulai pembicaraan selama itu. Masing-masing dari mereka hanya menikmati ketenangan di taman itu.


“Apa rencanamu setelah 2 tahun ini?”


Pertanyaan biasa seharusnya. Tapi rasanya kenapa bikin sesak di dada. Apa Mas Agam sedang menunggu waktu 2 tahun itu berakhir?


......................


Author’s Note :


(*) Bulimia adalah suatu gangguan makan yang serius ditandai dengan makan berlebihan, diikuti dengan metode untuk menghindari kenaikan berat badan.


Bulimia adalah gangguan makan yang berpotensi mengancam nyawa.

__ADS_1


Orang dengan kondisi ini makan tak terkendali. Mereka kemudian mengambil langkah-langkah untuk menghindari kenaikan berat badan. Paling umum, ini berarti muntah (membuang isi perut). Tetapi juga bisa berarti berolahraga atau puasa berlebihan.


__ADS_2