Cinta Itu (Tidak) Buta

Cinta Itu (Tidak) Buta
Part 66-2 : Karma itu Juga Cobaan (POV Agam)


__ADS_3

[Agam]


Agam memperhatikan video yang diperlihatkan Yuda dengan seksama. Meski kondisi matanya yang tidak bisa melihat dengan jelas, tapi tetap dia paksakan menontonnya. Setidaknya dia masih bisa melihat gerak yang terlihat dan dibantu dengan suara yang masih bisa dia dengar.


Arya yang duduk di sebelahnya ikut menonton. Sama seperti Agam, Arya juga memiliki kemarahan yang sama.


“Kembalikan rumahku! Rumah ini milik anak-anakku!,” teriak Widia yang terdengar dalam laptop Yuda.


Suara berikutnya adalah pukulan yang dengan disertai teriakan kesakitan dari Widia. Mulai dari suara keras melengking hingga akhirnya melemah.


Ruang kerja Papa memang diberi peredam suara untuk menghindari orang menguping dari luar. Pantas saja jika suara teriakan Mama tidak terdengar sampai keluar.


“Barang bukti ada buku dan papan nama meja yang dipakai Vian untuk memukuli Widia. Semua sudah diamankan. Orang kepercayaanku sudah memastikan polisi membawanya,” jelas Yuda memberikan laporannya.


Buku-buku milik Papa yang ada di ruang kerja adalah buku-buku berat yang cukup tua dengan cover keras dan tebal. Ditambah lagi papan nama meja milik Papa terbuat dari granit, pemberian rekan kerjanya dulu. Pantas saja luka Mama sangat parah.


“Dari CCTV yang di luar, Vian sudah menunggu Widia cukup lama. Dia sedang berbicara dengan supir truk yang sudah menunggu sekitar 500 meter dari rumah utama. Truk yang sama yang menabrak Widia.”


Berarti memang sudah direncanakan.


Dari rekaman CCTV di dalam ruang kerja memberikan kesimpulan bahwa Widia dan Vian memang janjian untuk bertemu. Mereka membahas tentang rumah utama yang dijual oleh Vian tanpa sepengetahuan Widia.


Widia marah hingga memicu kemarahan Vian lebih besar lagi. Akhirnya terjadilah pertengkaran itu.


“Tapi, apa ini tidak terasa aneh?,” tanya Yuda tiba-tiba.

__ADS_1


“Aneh bagaimana?,” tanya Arya balik.


“Bertahun-tahun dia mendekati Ava. Setahun dia kembali ke Indonesia, dia juga masih harus menunggu Agam kembali. Kenapa sekarang tiba-tiba dia menyerang Widia? Kenapa sekarang? Kenapa begitu terburu-buru?”


Terburu-buru?


“Mama sudah tahu siapa Vian. Mungkin dia sudah terdesak dan harus segera menyelesaikan semuanya.” Arya memberikan pendapatnya.


“Tapi dia masih punya Ava,” sanggah Yuda. “Ava masih mempercayainya. Dia bisa saja membawa Ava pergi. Dia masih bisa menggunakan Ava untuk mengancam kalian.”


“Jadi maksudnya kamu ingin Ava dibawa pergi bajjinngan itu?,” sahut Arya yang sudah hampir emosi membayangkan kemungkinan itu.


“Tidak. Yuda benar,” kata Agam tiba-tiba. “Vian punya kesempatan. Tapi dia malah membiarkan kita membawa pulang Ava. Padahal dia sudah mengancam Mama untuk memberikan NFC. Lalu ini ...” Agam menunjuk laptop yang menunjukkan video rekaman CCTV itu.


Benar. Mengapa terburu-buru? Apa rencananya?


Meski pada akhirnya Yuda berhasil mendesak polisi untuk mengejar Vian yang sekarang entah di mana, perasaan Agam tetap tidak tenang.


“Sara ke mana?,” tanya Agam di satu pagi saat dia tidak menemukan Sara di kamar rawat Widia.


Dia dan Arya baru saja dari ruangan dokter untuk berkonsultasi mengenai kondisi mamanya. Tapi begitu kembali hanya ada Ava di ruangan itu yang masih duduk di samping tempat tidur sang Mama.


“Turun ke bawah ambil makanan dari Mbok Jami,” jawab Ava.


“Kenapa bukan Mbok Jami saja yang naik ke atas?,” tanya Agam lagi.

__ADS_1


“Ya ampun, Mas. Cuma ke bawah doang. Takut apa, sih? Dia bilang kasihan Mbok Jami nanti bawa barang banyak-banyak,” gerutu Ava.


Arya langsung mendesis mengisyaratkan Ava untuk diam. “Sst ... Mas Agam itu nggak bisa jauh dari Mbak Sara. Takut hilang,” goda adik laki-lakinya bersekutu dengan Ava.


Agam hanya menanggapinya dengan senyumnya yang getir. Perasaannya semakin tak menentu.


Bermenit-menit Agam menunggu, Sara tidak juga kembali. Kalau cuma ambil makanan kenapa selama ini?


Dan ternyata Arya juga merasakan hal yang sama. “Mbak Sara kok lama, ya?”


“Lho iya, kok belum balik?” Ava ikut bertanya.


Agam tidak mau menunggu lagi. Dia mulai menelpon Sara.


“Mas ...” Sara langsung menjawab panggilan Agam.


Lega? Belum.


“Sara, kamu di mana? Kok belum balik?,” tanya Agam tanpa jeda sama sekali.


“Mas, aku ...”


Panggilan terputus.


Kenapa dimatikan?

__ADS_1


Agam menghubungi Sara lagi. Kali ini tidak aktif. Perasaan tak nyaman Agam kini berubah menjadi khawatir. Dia langsung teringat kata-kata Yuda semalam.


Bukan. Bukan Sara. Tidak mungkin dia ingin membawa Sara.


__ADS_2