Cinta Itu (Tidak) Buta

Cinta Itu (Tidak) Buta
Part 33-2 : Ketika Mereka Bersatu (POV Agam)


__ADS_3

[Agam]


Panggilan mendadak dari direksi hanya untuk rapat omong kosong macam ini??


“Penurunan minat pasar terhadap Selene sudah sangat mengkhawatirkan. Kalau ini tidak segera ditangani, khawatirnya Selene tidak akan diminati lagi. Sulit untuk mendongkraknya naik.”


“Betul! Lebih baik kita mulai fokus pada Selene. Lepaskan yang lain! Selene masih punya nama, semua orang mengenalnya. Masih bisa kita pertahankan.”


“Saya setuju. Saya juga khawatir, saat project Selene 4.2 selesai, kita sudah terlambat menangani semuanya.”


Dan suara gemuruh orang-orang yang setuju mulai terdengar.


Agam sendiri hanya diam di tempatnya, membiarkan mereka mengoceh tidak jelas dengan semua keinginan mereka sendiri.


Ya, keinginan belaka. Mereka hanya ingin keuntungan besar. Tapi lupa NFC dulu juga bisa bertahan tanpa project-project besar.


Entah dari mana mereka mendapatkan laporan tentang hasil survey itu. Aku bahkan tidak pernah menandatangani proposal apapun untuk mengadakan survey.


Aku yakin, tidak ada survey. Tiga jam lebih mendengarkan survey bualan mereka. Bahkan pertanyaannya pun tidak masuk akal.


Semua seperti sudah direncanakan.


BRAK!


“Apa ini?”


Suara Arya yang menggelegar langsung mengubah dengung suara mereka menjadi keheningan. Mereka mendadak menjadi diam semua.


“Apa kalian sedang sibuk berjualan?,” sindir Arya dengan nada tingginya. “Apa kalian sedang mengambil alih tugas FTC?”


Tidak ada yang berani menjawab.


“Sejak kapan NFC khawatir produknya tidak laku di pasaran?”


Kali ini, satu suara sepertinya sudah mengumpulkan keberaniannya untuk bertanya.


“S-siapa Anda? Kenapa ada di sini?”


Arya tertawa sinis. “Aku adalah Atharya Wirasurya yang mulai hari ini akan memimpin FTC.”


Ruang meeting itu kembali bergemuruh dengan suara-suara para direksi yang terdengar terkejut dan panik. Mereka tahu siapa Arya hanya dengan mendengar namanya. Tapi mereka tidak tahu kalau Arya telah kembali.


“Mulai hari ini juga, NFC sebaiknya fokus pada project pesanan FTC. Sisanya biar FTC yang urus.”


“Project pesanan?” Semua orang menanyakan hal yang sama.

__ADS_1


“Bawa masuk semuanya! Tunjukkan pada mereka!,” titah Arya yang entah untuk siapa.


Yang jelas setelah itu, Agam bisa mendengar langkah kaki 2 orang yang berkeliling di dalam ruang meeting mempersiapkan presentasi.


“Kalian bisa lihat sendiri di layar. Itu adalah proposal yang FTC ajukan pada NFC untuk segera dikerjakan.”


Dan masih berlanjut ...


“MGM Group dari Canada memesan Project H-321 sebanyak 500 unit. Kalian masih ingat kan? Robot perawat buatan NFC.”


“WHO dari United Nation (PBB) juga butuh Selene 4.2 secepatnya untuk penelitian vaksin terbaru.”


“RTY Corp dari Jerman juga sedang menunggu 1000 unit Project TD-512 dengan beberapa fitur baru yang disesuaikan. Project ini adalah project yang menangani penerjemah untuk disabilitas bisu-tuli.”


Ruang meeting itu serasa sudah penuh dengan suara ocehan mereka yang semakin lama semakin bergemuruh. Terutama ketika Arya menyebutkan project untuk disabilitas. Mereka tidak percaya, project yang bahkan belum selesai sudah mendapatkan peminatnya.


“Kalian minta itu semua dihentikan? Siapa yang akan membayar ganti ruginya? Kalian?”


Suara Arya semakin lama semakin menggelegar. Ruang meeting itu kembali dibuat hening oleh Arya.


Kali ini, para direksi tidak dapat membantah lagi semua ucapan Arya.


......................


Agam membiarkan Arya tertawa terbahak-bahak di ruang kantornya. Semenjak mereka keluar dari ruang meeting itu, Arya sudah senang sekali karena dapat membungkam para direksi.


“Baru beberapa jam kamu ke kantor, kamu sudah bisa mendapatkan segitu banyaknya permintaan?,” tanya Agam yang juga tidak percaya dengan penjelasan Arya tadi.


“Tentu, dong. Arya bisa mengatasi semuanya. Hahaha ...” Dia tertawa sangat keras penuh kesombongan.


Agam hanya tersenyum mendengar tingkah adiknya itu.


“Oh iya, pihak FBN Group melaporkan ada masalah dengan Project R-652. Bug nya sering muncul dan cukup mengganggu.”


Agam langsung memerintahkan Raka untuk meneruskannya ke tim penelitian.


“Jangan lupa juga untuk percepat pengiriman suku cadang yang kita butuhkan.” Agam juga turut menginformasikan permintaannya pada Arya. Karena memang itu adalah tugas lain FTC, menyiapkan kebutuhan NFC.


“Siap, komandan!”


Tapi ...


“Kenapa kamu tiba-tiba kemari? Bukankah seharusnya kamu di FTC?”


Aneh memang. Itu yang dirasakan Agam. Karena memang mereka tidak janjian sebelumnya.

__ADS_1


“Oh ini. Mbak Sara tadi bawain aku bekal makan siang. Jadi aku bawa kemari, bagi-bagi sama Mas.”


Agam mengerutkan keningnya.


“Bekal makan siang? Untuk kamu?,” tanya Agam untuk menyakinkan dirinya sendiri jika dia tidak salah dengar.


“Iya, untuk aku.”


“Dia tidak menitipkan untuk aku?”


“Nggak, Mas.”


Agam mulai geram. Kenapa Sara pilih kasih? Kenapa hanya Arya?


Ponselnya langsung dia gunakan untuk menghubungi Sara.


“Halo, Mas?,” tanya Sara dari balik teleponnya.


“K-kenapa hanya Arya yang kamu bawakan bekal?” Agam langsung bertanya tanpa basa-basi lagi.


“Loh?”


“K-kamu sengaja, ya?”


Agam sudah sekesal itu. Dia merasa istrinya hanya memikirkan Arya. Padahal aku kan suaminya.


“Tapi, Mas ... Aku tadi nitip bekal makan siang untuk Mas ke Arya.”


Tepat di saat itu, suara tawa keras Arya mulai terdengar. Raka menyusul kemudian.


“Hahaha!!!”


Agam menjadi lebih kesal lagi. Dia menutup teleponnya. Lalu melemparkan map laporan yang tadi diletakkannya di atas meja.


Brak!


Arya langsung terdiam.


Raka masih tertawa dengan keras meskipun Arya sudah tak lagi tertawa. Tapi perlahan-lahan tawa Raka berangsur pelan dan hilang.


“Maaf, Tuan. Jangan pindahkan saya.”


Meski demikian, sesekali dia masih dapat mendengar suara tawa yang ditahan oleh Arya dan Raka.


Agam pasrah sudah menahan rasa malunya.

__ADS_1


__ADS_2