
[Linda]
“Terima kasih ya, Ci,” kata Sara saat mereka ada di depan mobil mereka masing-masing dan bersiap akan pergi meninggalkan rumah mewah tempat mertuanya Sara tinggal.
“Aduh, makasih apa, sih? Saya juga udah kepanasan dari tadi. Saya kira diajak kesini mau ngapain, ternyata acaranya kayak gini. Saya juga nggak nyangka ketemu kamu di sini,” jelas Linda panjang dan lebar seraya mengibaskan dirinya dengan kipas tangan yang sedang digenggamnya.
Memang benar, Linda hanya diajak oleh temannya untuk datang ke acara makan siang yang katanya diadakan oleh keluarga Wirasurya. Bagi Linda, ini berarti kesempatan. Dapat kenalan dari kalangan atas tentu akan membawa keuntungan baginya dan keluarganya.
Jadi tetangganya Tuan Tirtagama dan Nyonya Sara saja sudah merupakan kesempatan emas. Ini sudah langkah awal agar bisa lebih dekat dengan keluarga Wirasurya.
Cuma tinggal sebut saja nama mereka saat ngobrol dengan Nyonya Widia, maka urusan belakang pasti lancar jaya.
Selanjutnya, siapa tahu nanti dikenalkan sama saudaranya, kenalannya, atau bisa jadi rekan bisnisnya. Kan bisa jadi hubungan yang menguntungkan.
Selain itu juga kan kalau bisa dekat sama keluarga mereka, kita juga dipandang berbeda oleh orang-orang. Mereka bakal jadi segan setiap kali kita lewat.
Orang-orang pasti akan bilang, "Eh, itu lho Nyonya Linda, dia teman baiknya keluarga Wirasurya. Rumahnya saja bertetanggaan dengan rumah Tuan Tirtagama. Ajak grup kita saja, biar kita juga dikenalin sama mereka."
__ADS_1
Pamor naik, cuan pun juga ikut naik.
Tapi, siapa yang akan menyangka dia akan melihat satu adegan yang tidak ingin dia lihat tapi dipaksa untuk jadi penontonnya.
Kalau bukan karena Sara adalah tetangga baiknya, dan juga rasa hutang budinya karena setiap kali Evan yang diperlakukan dengan sangat baik setiap kali bocah itu ke rumah mereka mungkin ceritanya akan sedikit berbeda. Ah tidak, pasti sangat berbeda.
“Udah ayo pulang. Katanya Evan ke rumah kamu. Kayaknya bikin repot lagi tuh anak,” gerutu Linda saat sedang mencari kunci mobil di dalam tasnya.
Sara hanya tertawa menanggapinya. Lalu, dia berkata, “Nggak apa-apa, Ci. Biasanya dia main sama Arya, adiknya Mas Agam. Atau kalau nggak ya main sama Milo, kucing kami.”
“Makin betah aja Evan di rumah kamu. Lama-lama saya pindahin baju-bajunya ke rumah kamu, biar nginap di sana sekalian,” timpalnya lagi.
Begitu mereka berpisah, Linda terus memperhatikan mobil yang membawa Sara terus melaju menjauh dari tempatnya berada. Yang dilihat adalah sebuah mobil. Tapi dipikirkannya adalah nasib Sara selanjutnya.
Kasihan benar, padahal dia orang baik. Kenapa dia harus dapat mertua seperti itu?
#
__ADS_1
“Terserah kalian mau bilang apa. Saya nanti hanya akan diam saja. Bebas lah, atur saja sendiri.” Begitu yang dikatakan Widia sebelum wanita itu memanggil menantunya keluar.
#
Entah apa yang sedang dilakukan Sara di dalam sana. Sudah pasti jelas, itu adalah rencananya. Acara makan siang itu hanyalah alasan.
Tapi, yang menjadi perhatian Linda adalah saat Widia berbicara dengan salah satu temannya.
#
“Jadi kan, Jeng?,” tanya salah seorang teman Widia.
“Oh, jadi dong. Kamu sudah siap, kan?,” jawab Widia.
“Siap. Aku sudah atur dokternya.”
“Jangan sampai ketahuan, ya.”
__ADS_1
#
Apapun itu, jelas aku nggak bisa ikut campur urusan keluarga mereka terlalu dalam. Tapi aku berharap dia bisa mengatasinya.