
[Sara]
Bulan ke-6 Sara berada di Jepang. Bukan waktu yang sebentar, tapi terasa begitu cepat berlalu, terutama ketika melihat kembali ke belakang masa-masa yang sudah dilalui hingga saat ini.
Metode pengobatan yang tidak mudah. Setiap hari akan ada yang namanya sesi terapi untuk melangkah, meski hanya lima ataupun sepuluh menit.
Lalu ada sesi pengobatan yang disebut detoksifikasi, bertujuan untuk membersihkan raaccun-raaccun yang sudah terlanjur masuk ke dalam tubuh Agam setiap tiga hari sekali. Jika sudah demikian, Agam pasti akan pasti sulit tidur, ditambah lagi rasa mual setiap kali akan makan. Dia jadi lebih mudah marah.
#
BRAK!
“Untuk apa aku makan? Rasanya bikin aku mual!,” hardiknya sekali waktu selesai melakukan sesi detoks. Sara biasanya mengajak ke tempat terbuka untuk duduk dan makan bersama di salah satu bangku taman.
“Ya sudah kalau nggak mau makan,” kata Sara sembari menutup kembali kotak bento yang sudah dia buat sejak pagi.
“Buah aja, ya? Apel, mau?,” tawar Sara sambil menyodorkan sekotak apel.
Agam juga tidak mau melihatnya. Tak lama kemudian, Agam sudah mengacak rambutnya dengan kedua tangannya, dan mengerang kesal. Tanda dia sudah mulai stress.
Sara mulai mendekatkan dirinya pada Agam lalu memeluk suaminya itu, dan membiarkannya bersandar pada bahunya. Tangannya lalu mengusap lembut punggung lebar Agam.
Beberapa menit seperti itu cukup berhasil membuat Agam tenang. Biasanya Agam baru bisa makan saat malam, itu pun harus dibujuk lagi.
#
Semua yang dijalani di 6 bulan pertama itu juga bukan hal yang mudah bagi Sara. Ada kalanya dia lelah, rindu dengan Ibu dan ingin sekali pulang ke Indonesia. Tapi kembali menjadi kuat saat dia berikan dirinya waktu untuk sendiri saat ada kesempatan.
Aozora memang tempat terbaik untuk memulihkan diri. Tidak hanya fisik, tapi juga batin. Pasien bukan hanya yang sakit, tapi juga orang yang menemani. Banyak tempat di Aozora yang bisa Sara jadikan tempat untuk memulihkan batinnya saat dia membutuhkan. Duduk di dekat danau, misalnya.
__ADS_1
Tapi yang terbaik dari itu semua adalah saat terlelap dalam pelukan Agam. Ada kalanya Agam memahami kelelahan yang Sara rasakan dan membuatnya tenang, melakukan hal yang sama seperti yang Sara lakukan padanya ketika mengalami hal yang serupa.
......................
“Detoksnya berhasil. Raacun semakin berkurang,” kata Prof. Yamamoto ketika sedang mempelajari perkembangan pengobatan Agam. “Dalam waktu dekat, kita akan jadwalkan operasi untuk memperbaiki kerusakan pada otot saraf di area kaki.”
Sara menggenggam tangan Agam saking senangnya dia mendengar ucapan Prof. Yamamoto. Itu artinya, terapi melangkah yang dijalani Agam akan bisa menunjukkan hasilnya.
Tidak hanya Sara, Agam pun demikian. Sara bisa merasakan genggaman tangan Agam pada tangannya.
......................
Agam dan Sara sedang duduk santai di rumah menikmati sore hari di engawa (*), ketika Sara tiba-tiba mendapatkan telepon dari dokter di Indonesia.
“Selamat, Nyonya! Donor untuk Ibu Fira sudah siap. Ibu Fira akan menjalani operasi pencaanngkokan ginjal. Jadwalnya akan saya kirimkan sebentar lagi,” Begitu berita yang dia dengar.
Bukan main senangnya Sara mendapatkan berita ini. Dia segera memeluk Agam yang sedang duduk di sampingnya.
Hanya terima kasih. Sara tidak tahu harus mengatakan apa selain itu. Karena Agam, Ibu akhirnya bisa memiliki kesempatan untuk melakukan operasi pencaangkokan itu.
Tapi, masalah yang sebenarnya baru saja dimulai. Jadwal operasi Agam dan juga Ibu dilaksanakan pada hari yang sama. Sara mulai dilema.
“Jangan khawatirkan Ibu. Kamu temani Agam saja. Ibu bisa ditemani Mina,” begitu kata Ibu saat Sara memberi kabar itu beserta masalah yang menjadi pemikirannya.
“Maafkan Sara, Bu,” ucap Sara dalam isak tangisnya. “Bukan Sara nggak mau temani Ibu.”
“Sshh ... Sudah, sudah. Ibu ngerti, Sara. Suami kamu juga butuh kamu. Ibu baik-baik saja. Kamu jangan khawatir,” kata Ibu lagi.
“Aku akan minta dokter kasih kabar perkembangan operasi Ibu. Dokter juga nggak keberatan kok, Bu.”
__ADS_1
“Iya ... Sudah, sudah ... Jangan khawatir. Masalahnya sudah selesai. Ibu juga berdoa untuk kamu dan suamimu. Semoga Agam bisa menjalani operasinya dengan baik. Ibu juga begitu. Amin.”
“Amin, Bu. Amin ...”
Agam dan Ibu seharusnya jangan pernah dijadikan pilihan. Karena ketika Sara sedang memutuskan salah satunya, dia seperti sedang membuang pilihan yang lainnya. Padahal tidak demikian.
Tapi keadaan seakan memaksanya untuk memilih. Dan yang dirasakannya saat ini, dia seperti membuang Ibu karena memilih Agam. Itu yang membuatnya tidak dapat menghentikan tangisnya saat meminta maaf pada Ibu.
“Maafkan Sara, Bu. Maafkan Sara ...,” ucapnya lirih seraya terisak ketika panggilan dengan Ibu berakhir.
......................
Sara sedang membawa Agam berjalan-jalan di sekitar rumah, ketika langkahnya terhenti tiba-tiba. Dilihatnya sosok pria yang dia kenali sedang berdiri tepat di depan kursi roda Agam.
“Raka?”
Perasaan Sara mulai tidak enak.
......................
Author's Note :
(*) Pada rumah tradisional Jepang, biasanya juga memiliki koridor yang berada di luar rumah menyerupai teras.
Dalam arsitektur Jepang, engawa adalah strip tepi lantai berbahan dasar kayu atau bambu.
Elemen khas satu ini untuk menghubungkan kamar dan menjadi ruang transisi antara ruangan di dalam rumah dan bagian luar.
Selain itu, engawa berfungsi sebagai tempat masuknya udara dan cahaya.
__ADS_1