
[Sara]
“Apa yang kamu lakukan di sini?”
Entah karena rasa takutnya atau karena tubuhnya yang sejak tadi sore terasa lemas dan lemah, yang jelas, begitu Vian melemparkannya ke dinding, Sara langsung gemetar. Kakinya mulai terasa lemah. Tapi dia paksakan untuk berdiri.
Jangan terlihat lemah di depannya, Sara.
Tidak hanya Vian, di ruangan itu ada pria lain. Pria yang sempat Sara ajak bicara karena mengira dia adalah pegawai hotel benaran. Tapi nyatanya, bukan.
“A-apa yang kamu rencanakan? Jangan lukai Mama!”
Sekuat apapun Sara menekan rasa takutnya, sekuat apapun dia menyembunyikannya, tapi gemetar pada suaranya tetap tidak bisa disembunyikan.
“Nggak perlu ikut campur, Sar!”
“Kenapa nggak perlu? Kamu mau melukai mertuaku. Iya, kan?” Sara meraih kedua lengan Vian. Terlalu gemetar hingga hanya kain pada kemejanya saja yang dia cengkeram.
Vian menarik tangannya untuk melepaskan dirinya dari Sara. Kini berbalik, Vian lah yang mencengkeram kedua sisi lengan Sara.
“Dengar, Sar. Aku tahu yang Widia lakukan sama kamu dulu. Aku akan membalasnya untuk kamu. Jadi kamu cukup lihat saja apa yang akan terjadi pada wanita itu.”
Balas dendam? Dia tahu seberapa banyak?
“Aku nggak pernah meminta kamu melakukannya. Dan aku nggak butuh belas kasihan kamu hanya untuk membalaskan dendam. Aku nggak sepicik itu,” hardik Sara.
Vian malah tersenyum sinis. Dengan tetap memegangi kedua lengan Sara, Vian menatap pria yang satunya lagi, lalu menyuruhnya pergi dengan gerakan kepalanya.
Sara memahami maksud Vian itu. Pria itu tetap akan menjalankan rencananya.
Sara berontak. Dengan sekuat tenaganya, dia mencoba melepaskan dirinya dari cengkeraman Vian. Sayangnya, Vian jauh lebih kuat.
“Lepas! Lepas!”
“Jangan lakukan itu! Aku tahu kamu bukan orang jahat. Jangan biarkan dia melukai Mama,” pinta Sara berusaha memelas untuk menarik simpati Vian.
“Tenanglah, Sar. Dia tidak akan mati. Aku hanya butuh dia terluka, lalu mau tidak mau Ava yang akan menggantikannya di NFC. Dan otomatis aku yang akan ditunjuk membantu Ava,” jawab Vian santai.
Dua bola mata coklat yang saat ini Sara pandangi masih adalah bola mata yang sama yang sangat dia kenali 4 tahun yang lalu. Mata yang sama yang pernah Sara kagumi di masa lalunya. Tapi kini semua terlihat berbeda. Sangat berbeda. Sara tidak mengenali siapa yang ada di hadapannya saat ini.
Sara panik. Dia mencoba lagi.
Setiap dia berontak, Vian memeganginya, lalu mendorongnya ke belakang.
Sudah kedua kalinya pegangan Vian terlepas, dan Sara sudah hampir berhasil mencapai pintu. Dia sudah berencana akan berteriak begitu dia keluar.
Tapi, lagi-lagi, Vian lebih cepat dan lebih kuat darinya. Sara ditarik kembali masuk ke dalam, lalu menutup pintunya.
BRAK!
Kali ini tubuh Sara menghantam troli peralatan bersih-bersih. Vian kembali meraih bahunya.
“Cukup, Sar! Aku nggak mau melukaimu. Jadi jangan paksa aku melakukannya.”
“Jangan sok akrab denganku! Aku tidak mengenalmu! Kamu bukan Mas Vian yang aku kenal dulu!,” hardik Sara. Dia memelototi Vian.
Vian semakin keras mencengkeram bahunya.
“Tahu apa kamu tentang hidupku?! Apa kamu tahu yang terjadi pada masa laluku? Kamu nggak tahu apa-apa, Sar. Kamu memang tidak mengenalku.”
Vian membalas memelototi Sara hingga membuat Sara tertegun memandangi Vian.
“Widia adalah orang yang mencelakai ayahku. Hidup ayahku dihabiskan di penjara karena dia! Dan kau tahu apa? Ayahku meninggal tak lama setelah dia dipenjara. Dia meninggal karena rasa bersalahnya hingga menyerang jantungnya. Karena rasa bersalah, Sar!”
Sara terkesiap. Kedua matanya terbelalak lebar.
__ADS_1
“Ayahku meninggal tanpa tahu ibuku jadi gila karena tidak terima suaminya dipenjara dan akhirnya meninggal. Untuk menghidupi aku dan ibuku, kakakku bekerja tanpa henti hingga kelelahan. Dia kecelakaan saat akan berangkat kerja dan meninggal begitu saja. Aku ditinggalkan sendirian bersama ibuku. Itu hidupku, Sar!”
Aku ... aku tidak tahu cerita ini. Aku tidak tahu.
“Menghancurkan keluarga ini adalah tujuanku sejak dulu, Sar! Itu impianku, melihatnya hancur seperti yang terjadi pada keluargaku.”
Perlahan-lahan, suara Vian menurun kekuatannya, menjadi semakin pelan dan lirih.
“Lalu, aku bertemu denganmu.” Vian menatapnya lembut.
Aku mengenali tatapan itu.
“Aku nggak bohong saat aku bilang aku mencintaimu, Sar,” ucap Vian lirih. “Karena itu, aku nggak bisa menolaknya setiap kali kamu bilang ingin bertemu orangtuaku. Tapi kamu nggak tahu apa yang terjadi pada keluargaku.”
“S-siapa yang dulu ...”
“Waktu Ava bilang kalau kamu sekarang menikah dengan kakaknya, kamu tahu bagaimana perasaanku? Aku marah, Sar. Marah sekali. Seharusnya aku nggak pergi waktu itu.”
Dia mengabaikan pertanyaanku.
Vian menggoyangkan tubuh Sara dengan mencengkeram kedua bahunya. “Kenapa kamu menikah dengannya? Kenapa kamu malah ada dalam keluarga ini? Kenapa kamu nggak bisa menunggu aku sampai aku kembali? Aku berencana menemuimu saat semuanya selesai!”
Sakit ...
Bahu Sara dicengkeram dengan sangat keras. Sangat keras hingga terasa menusuk meski dilapisi kain gaunnya.
“Kalau kamu butuh uang, kenapa nggak menghubungi aku? Aku masih menyimpan uangmu, Sar. Aku berharap kamu menghubungiku. Kalau kamu butuh uang kenapa nggak mencari aku? Aku bisa membantumu!”
“Kamu yang pertama kali bilang putus. Kenapa sekarang seakan-akan aku yang salah? Aku menikah atau tidak itu sudah bukan urusanmu lagi.” Sembari menahan rasa sakitnya, Sara menatap marah pada Vian.
Semakin keras teras cengkeraman Vian. Emosi Vian kian menaik seperti yang dilihat Sara dari raut wajah Vian yang semakin mengerikan.
“Ava yang memaksaku, Sar! Aku nggak mau putus! Aku masih berharap kita bisa bersama lagi. Aku masih mencintaimu, Sara!”
Darah Sara langsung mendidih sekaligus. Meluap hingga ke ubun-ubunnya. Air matanya bahkan hampir terdorong keluar saking marahnya dia mendengar ucapan Vian.
Dengan kuatnya, Sara melepaskan dirinya dari cengkeram Vian. Rasa marahnya seakan sedang memberinya kekuatan lebih untuk melawan Vian. Dan dengan sekali gerakan, telapak tangannya terbuka lebar dan mendarat dengan sangat keras di sisi wajah Vian.
PLAK!
Sara menamparnya. Tatapan kemarahannya tidak pudar sedikit pun memandangi Vian yang memegangi pipinya yang baru saja ditampar.
Tapi, Vian semakin menjadi. Kembali dia memegangi lengan Sara. Kali ini tidak sekeras tadi.
“Aku nggak bisa menyakiti kamu, Sar. Kamu pergi saja, ya. Pergi dari keluarga ini.”
Sara menatapnya seakan tak percaya.
“Ceraikan Agam. Pergi ke mana saja kamu suka. Pergilah bersama Ibu. Aku akan carikan tempat untuk kalian.”
Vian kini menyandarkan tangannya pada sisi kepala Sara, mengusap wajahnya dengan ibu jarinya.
“Ya? Nurut, ya?”
Lagi, dengan kasar Sara menghempaskan tangan Vian agar lepas darinya. Tangan kanannya yang sedari tadi berusaha meraih barang apa saja yang ada di dekatnya, kini dinaikkan tinggi-tinggi dan dengan keras dipukulkan ke Vian berkali-kali.
Vian, tentu saja, melindungi tubuhnya dengan kedua lengannya. Dan Sara melihat itu sebagai kesempatan.
Sebagai serangan terakhir, Sara memukulkan sebotol pembersih yang terisi penuh dengan keras mengenai Vian. Lalu, mendorong tubuh Vian yang masih kesakitan ke samping hingga menabrak rak.
Sara berhasil melewati pintu dan lolos dari Vian.
“Sara!”
Sara tidak mempedulikan panggilan keras dari Vian. Tentu saja. Dia terus berlari kembali ke ballroom tempat acara berlangsung.
__ADS_1
Mama pasti menuju ke sana.
Sara tidak tahu apa yang akan direncanakan Vian. Yang jelas, menemukan Widia lebih dulu, itu lebih penting.
“Dimana Al?”
Tapi, Sara harus melewati yang satu ini dulu.
KLAK! KLAK!
Ava menjentikkan jarinya berkali-kali di depan Sara untuk mengembalikan kesadaran Sara yang sedang terdiam di depannya.
“Dimana Al? Kenapa kamu pergi setelah Al pergi? Kamu menggodanya lagi, kan?”
Kening Sara berkerut. Kedua matanya terbelalak lebar. Dia marah mendapat tuduhan seperti itu.
Tapi, bukan saatnya untuk marah sekarang. Sara tahu itu.
“Dimana Mama? Apa sudah datang?,” tanya Sara mengabaikan pertanyaan Ava.
“He! Jawab pertanyaanku!” Ava meraih lengan Sara untuk menghentikan Sara pergi.
Sara menarik tangannya dengan kuat. Dia pergi kemudian menjauhi Ava.
“Hei! Mau kemana kamu?”
Lagi, Ava merebut lengan Sara. Dan sekali lagi, Sara merebut tangannya kembali dengan keras.
Tepat di saat itu, dia melihat sosok wanita cantik sedang menaiki tangga. Widia ternyata baru datang.
Dari samping, Sara melihat seorang pria yang tidak asing baginya sedang mendorong troli barang yang penuh dengan koper yang entah apa isinya. Yang jelas, pria itu sedang mendorongnya ke arah datangnya Widia yang sebentar lagi akan tiba di lantai atas.
Sara langsung berlari menuju Widia. Tanpa mempedulikan panggilan Ava yang semakin keras. Dan mendorong orang-orang yang berkerumun menghalangi jalannya menuju Widia. Sara berusaha keras agar dia bisa tiba tepat waktu sebelum pria itu mengenai Widia.
“Awas, Ma!”
Sara menarik lengan Widia ke arahnya, lalu mendorongnya ke samping, menjauhi tangga. Tapi dia tidak sempat menghindari tabrakannya dengan troli barang itu.
Sara kehilangan keseimbangannya hingga membuatnya terdorong menghantam pegangan tangga. Semakin tidak terkendali, tubuh Sara tidak dapat berhenti berputar menuruni tangga.
Beruntung, seseorang berhasil menahan Sara jatuh lebih jauh lagi. Seorang pria yang ternyata adalah petugas keamanan hotel segera membantu Sara untuk berdiri.
Orang-orang di sekitar mulai riuh memperhatikan Sara. Petugas keamanan terus bertanya keadaan Sara yang dijawab dengan gelengan dan senyuman oleh Sara.
Tapi yang mengejutkan adalah saat Widia datang menghampirinya dan bertanya, “Sara kamu nggak apa-apa?”
Kembali, Sara menggeleng. Dia masih kaget. Tapi, dia merasa baik-baik saja. Tidak seperti saat dulu dia jatuh di Jepang. Sara merasa dia sangat baik hingga tidak merasakan sakit sedikit pun.
“Sara? Kamu hamil?!”
Sara pandangi wajah panik sang mertua yang ada di hadapannya saat ini. Wajah ketakutan Widia ketika memandangi bagian bawah Sara.
Hamil?
Sara penasaran. Dia menundukkan tubuhnya agar bisa melihat apa yang sedang dilihat Widia. Dan saat itulah dia melihat kucuran darah segar mengalir menuruni kakinya, dari balik gaunnya hingga membasahi kakinya.
Sara langsung memandangi Widia dengan tatapan penuh ketakutan. Dengan lirih, dia memanggil, “Ma ...”
Seketika itu juga, kepalanya terasa pening. Sedikit demi sedikit, pandangannya mulai menggelap. Dan ...
BRUK!
Dia merasakan tubuhnya terjun ke bawah dan menghantam sesuatu.
Dalam kegelapan yang hanya bisa dia lihat, Sara mendengar suara Agam memanggil namanya, “Sara!!!”
__ADS_1