
[Ava]
Ava masih memandang kesal sosok perempuan yang sudah menjadi istri kakak tertuanya. Lebih kesal lagi saat dia mengingat Sara adalah perempuan yang sama yang menjadi masa lalu Al, tunangannya.
Masa lalu Al yang sangat berat bersama perempuan itu sudah cukup jadi alasan bagi aku untuk membencinya.
“Minum!,” perintah Arya seraya menyodorkan semangkuk sup bening berisi begitu banyak taoge, sayuran yang tidak disukai Ava.
Ava langsung menatap isi mangkuk itu dengan tatapan jijik.
“Apa sih, Mas? Nggak mau!”
Arya meminum sedikit kuah sup itu langsung dari mangkuknya. Lalu menyodorkannya kembali pada Ava.
“Puas?”
Ava tahu, tindakan kakak nomer duanya ini mengacu pada ucapannya yang meragukan masakan buatan Sara itu.
“Apaan sih, Mas? Nggak mau ya nggak mau! Mas Arya kan tahu aku nggak suka taoge!,” hardiknya keras.
“Minum kuahnya saja!,” timpal Arya dengan cepat. “Aku butuh kamu tetap sadar agar kamu bisa mendengarkan baik-baik apa yang akan aku katakan setelah ini.”
Ava kini terdiam. Keningnya berkerut heran dengan ucapannya kakaknya itu.
Ini pasti serius.
Meski dia tidak menyukainya, Ava meminumnya sedikit demi sedikit. Rasanya enak sebenarnya, tapi begitu melihat bentuk taoge, Ava kembali jijik. Dia menutup kedua matanya rapat-rapat.
Hanya dua teguk saja. Cukup!
Ava langsung mengembalikan mangkuk itu ke Arya.
__ADS_1
Begitu Arya mengembalikan mangkuk itu ke tempatnya, dia langsung memindahkan bangku yang ada di dekat tempat tidur menjadi lebih dekat dengan Ava. Arya duduk di bangku itu tepat di hadapan Ava.
Ava yang masih belum memahami apa yang akan diceritakan kakaknya itu hanya bisa menunggu dengan gugup Arya mulai bercerita. Perasaannya tidak nyaman melihat sosok tinggi nan gagahnya terus menunjukkan wajah seriusnya. Sungguh bukan ciri khas Arya yang dia kenal selama ini.
“Dengarkan aku baik-baik, Ava. Mungkin ini berat kamu terima, tapi ini kenyataannya.”
Ava semakin gugup dibuatnya. Ada apa ini?
Saat Arya mulai bercerita dari hanya sekedar bibit hingga menjadi pohon yang menjulang tinggi, Ava terus mendengarkan dengan perasaan campur aduk.
Yang paling banyak dia rasakan adalah tidak percaya, tentu saja. Siapa yang bisa menerima cerita yang langsung membalikkan hidupnya 180 derajat? Nalar Ava dituntut bekerja keras berpikir mencari alasan untuk membantah semua cerita itu.
“I-ini bohong, kan? Kalian semua sengaja membohongiku, kan?” Ava masih berusaha tetap tegar menanggapi cerita Arya itu.
“Sudah kubilang tadi. Kamu mungkin sulit menerimanya, tapi itu kenyataannya,” timpal Arya.
Ava menyelidiki raut wajah Arya baik-baik. Takut-takut berubah seketika seperti biasanya saat Arya sedang mengerjainya. Tapi, itu tidak terjadi. Dia serius?
“Sekarang jelaskan padaku, di mana dia?”
DEG!
Aku tidak tahu ...
“Kamu bisa menghubunginya?”
T-tidak ...
Hanya gelengan lemah dari kepalanya yang bisa dia berikan untuk menjawab pertanyaan Arya.
Ini tidak mungkin. Mama ... Al ... semuanya ... Aku sudah tidak tahu lagi apa yang harus aku percayai sekarang. Mama ... orang yang aku percayai. Al ...
__ADS_1
Aku orang bodoh, kah?
Ini tidak mungkin!!!
“Aku kasih tahu kamu satu hal,” kata Arya lagi. “Mas Agam sedang bersiap memberikan NFC pada Vian.”
Apa?!
“Mama sekarang pulang ke rumah utama untuk mempersiapkan semuanya. Mereka akan bertemu dengan pengacara setelah ini.”
“Mama membiarkan Mas Agam melakukan itu?,” tanya Ava.
“Saham NFC Mas Agam sudah dipegang Mama. Itu artinya, Mama sendiri yang akan menyerahkan saham NFC pada Mas Agam untuk diserahkan pada Vian.”
Itu benar ...
“Nggak ada pilihan lain lagi. Keputusan Mas Agam sudah bulat,” kata Arya.
Nggak boleh ... “Nggak boleh! Kalau cerita tentang Al itu benar, berarti Mas Agam nggak boleh lakukan itu!”
Sulit dipercaya memang. Tapi kalau seandainya benar Ava lebih tidak setuju jika Agam melakukan seperti yang dikatakan Arya. Meskipun dia sendiri pernah menyarankan agar NFC diurus oleh Al.
“Katakan itu sendiri pada Mas Agam,” timpal Arya. “Bahkan Mbak Sara juga nggak bisa membujuk Mas Agam.”
Ava kali ini hanya bisa terdiam. Memikirkan kembali semua yang dikatakan Arya padanya. Sebagian besar hatinya bisa menerima itu semua, tapi sebagian lagi masih mencari penolakan yang bisa dia gunakan untuk membantahnya.
Tepat di saat itu, sebuah panggilan dari rumah utama seketika membangkitkan perasaan tak nyamannya. Dia gelisah.
“Halo?”
“Nona Ava, Nyonya besar terluka parah. Saat ini sedang perjalanan ke rumah sakit.”
__ADS_1
Apa maksudnya terluka parah?