
[Sara]
“Bisa kita bicara sebentar, Mas?,” tanya Sara tergesa-gesa begitu dia melihat Agam di ruang tengah. Sara yang sudah tidak sabaran bahkan tidak menunggu Agam menjawab pertanyaannya dan langsung membawanya ke ruang kerja.
“Mas nggak pernah cerita kalau punya adik namanya Arya,” tuding Sara langsung begitu mereka sudah berada di ruang kerja.
“Aku sudah kasih tahu, kan? Aku punya 2 adik tiri,” jawab Agam dengan entengnya.
“Tapi Mas nggak pernah bilang nama mereka.”
“Oh ... Itu tugas Raka. Seharusnya Raka sudah memberitahumu,” jawab Agam yang lagi-lagi seakan tanpa rasa bersalah. “Lagipula, apa pentingnya nama? Yang penting kamu tahu aku punya adik tiri.”
Sara langsung menganga tak percaya. “Ya kalau Mas ngomong kan aku nggak semalu ini.”
“Malu? Apa yang kamu lakukan? Kenapa harus malu?”
Sara menundukkan kepalanya, dia berat menceritakan kisah pertemuannya dengan Arya, terutama jika dia mengingat yang baru saja dia lakukan beberapa menit yang lalu, membentak sang adik ipar.
“I-intinya ... Mas tetap s-salah,” putus Sara tanpa mau banyak bercerita.
“Kenapa j-jadi ... Oke, oke ... Aku yang salah. Aku minta maaf.” Bukan hal biasa, tapi tetap terucapkan juga oleh Agam. Dan Sara tidak banyak memikirkannya. Agam mengakui tanpa banyak perdebatan, itu bagus.
Tentu saja, dia yang salah.
“Tapi masih ada masalah lainnya,” sambung Agam lagi.
“M-masalah apa lagi?” Sara mulai merasakan sesuatu yang tidak nyaman di dadanya. Sesuatu yang sepertinya akan menjadi buruk.
“Arya tidak mau pulang ke rumah utama. Jadi, dia akan memutuskan untuk tidur di sini.”
Iya, memang buruk.
“K-kok gitu. T-terus kita g-gimana?” Kepanikan sudah hampir menguasai Sara.
“Kita terpaksa akan tidur sekamar.”
Tiddaaak!!!!
__ADS_1
“Tapi perjanjiannya kan nggak begitu,” protes Sara yang masih menahan suaranya.
Sara dapat melihat Agam menutup kedua matanya, lalu menghembuskan napasnya perlahan dari mulutnya.
Kenapa dia seperti sedang menahan marahnya?
“Perjanjiannya tidak ada hubungan seksual, bukan tidak tidur bersama.”
Iya sih. Tapi kan ....
“Dengar, Sara. Aku dan kamu hanya akan tidur di tempat tidur yang sama. Tidak akan terjadi apapun,” kata Agam meyakinkan Sara dengan gaya diplomatisnya.
“Darimana kamu tahu tidak akan terjadi apa-apa?”
Agam mendengus pelan, lalu berkata, “Aku cuma pria buta, Sara. Menurutmu siapa yang paling bahaya disini?”
“Jadi kamu menuduh aku yang akan menyerang kamu?,” timpal Sara yang sudah mulai kesal mendengar ucapan Agam.
“Kamu yang lebih dulu menuduhku, Sara.”
Hening. Kali ini semuanya diam. Tidak ada perdebatan. Semuanya tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Terutama Sara.
Hati Sara terasa tidak tenang. Dia seperti sedang membuka pintu untuk sesuatu yang akan terjadi selanjutnya. Tapi, apa yang mungkin terjadi selanjutnya kalau mereka berdua tidak menginginkannya terjadi? Benar, kan?
“T-tapi, dengan satu syarat.”
“Syarat?” Agam mengulangi sekali lagi ucapan Sara. “Kenapa harus syarat?”
“A-aku baru menemukan anak kucing. Aku kasihan melihatnya karena dia terlahir ... cacat. Mungkin juga karena itu dia ditinggalkan induknya. Umurnya baru 3 minggu, jadi aku nggak tega ninggalin dia di luar sana,” kata Sara yang semakin lama dia bercerita, semakin lirih suara yang keluar. “J-jadi, ijinkan aku merawat anak kucing itu sampai dia cukup kuat nanti aku lepas sendiri.”
Agam terdiam untuk beberapa saat. Tapi kemudian, dia mengeluarkan sesuatu dari sakunya.
Ponsel?
“Sambungkan Raka.”
“PANGGILAN DIHUBUNGKAN. RAKA.”
__ADS_1
“Selamat siang, Tuan,” begitu suara yang terdengar dari ponsel yang dipegang Agam.
“Kamu belikan semua perlengkapan untuk anak kucing. Bawa juga dokter hewan kemari. Aku mau nanti malam semua sudah siap. Akhiri panggilan.”
“PANGGILAN DIAKHIRI.”
“Raka akan mengatur semuanya. Kalau kamu ingin sesuatu yang lain, beri tahu Raka. Kucing itu milikmu. Jadi, kamu bisa memeliharanya sampai kapan pun.”
Sara hanya bisa melongo melihat semua itu hanya dalam hitungan detik. Semua di luar perkiraannya tiba-tiba saja sudah terjadi dan semua berubah begitu saja. Keningnya bahkan masih menggantung dengan kedua matanya yang melebar.
“Sara!”
“I-iya ...,” jawab Sara yang terkejut mendengar panggilan Agam.
“Kamu dengar aku, kan?”
“I-itu ... A-aku berencana melepasnya setelah satu atau dua bulan ...”
“Kamu yakin bisa melepasnya? Kamu tega melakukannya?” Agam menanyakan pertanyaan yang sulit dijawab oleh Sara. “Kamu bahkan tidak tega melihatnya sendirian, lalu kamu bawa pulang. Jadi, kenapa masih repot meyakinkan aku lagi?”
Sara menelan salivanya dengan keras. Dia merasa seperti sedang diadili.
“Sulit dipercaya! Kamu mengajukan syarat seperti ini hanya untuk seekor anak kucing,” kata Agam yang terdengar cukup kesal. “Apakah menurutmu aku ini orang yang tidak punya perasaan? Orang yang seenaknya saja mengambil keputusan? Apakah bagimu aku ini tidak bisa diajak bicara?”
Rasa bersalah seketika menyelimuti seluruh perasaan Sara hingga membuatnya tertunduk sangat dalam. Dia malu pada dirinya sendiri.
“Maafkan aku, Mas ...”
“Sudahlah! Kalau kamu merasa keberatan, aku akan mencari alasan lain. Kamu lakukan saja ...”
Sara langsung memotong ucapan Agam. “Aku mau!,” serunya dengan lantang.
Dia menyadari suaranya yang keras, kemudian mengulanginya lagi dengan suara yang lebih lembut. “Aku akan tidur di kamar Mas nanti malam.”
......................
Sepakat dengan Agam itu mudah. Meyakinkan Arya tentang hubungan pernikahan mereka itu juga tidak sulit. Yang tidak sesederhana seperti yang dibayangkan adalah menjalaninya.
__ADS_1
Begitu Sara memasuki kamar Agam, seluruh otot di dadanya sudah menabuhkan genderang dengan kerasnya berulang-ulang. Di kepalanya terus berputar gambar-gambar Agam yang dilihatnya beberapa waktu lalu saat dia terjebak di dalam kamar itu. Agam tanpa pakaian atasnya. Agam yang hanya mengenakan sehelai handuk untuk menutupi bagian bawahnya.
Ya Allah, Sara. Kenapa kamu harus ingat itu di saat-saat seperti ini?!?, batin Sara terus berteriak.