
[Sara]
“Bangun, bangun. Kamu boleh pulang sekarang.”
Sara mengangkat wajahnya yang tertunduk melekat pada kedua kakinya. Dilihatnya cahaya yang cukup terang menyipitkan matanya. Siluet seorang pria sedang berdiri membelakangi cahaya itu.
Pulang? Apa benar dia pulang? Apa aku masih bermimpi?
Entah berapa jam Sara tertidur dengan posisi duduk seperti itu. Yang jelas dia kesulitan untuk berdiri sekarang. Rasa nyeri pada lututnya ketika akan berdiri menandakan dia telah berada di ruang itu berjam-jam.
Begitu pintu ditutup oleh pria bertubuh gagah dengan kemeja biru mudanya, Sara diantarkan ke sebuah ruangan. Yang dilakukannya hanyalah duduk dan diam saja.
Ada yang datang memberinya segelas air. Dia sempat menolaknya. Tapi petugas pria itu meletakkannya di atas telapak tangan Sara seraya berkata, “Tenang saja. Urusannya sudah selesai. Bentar lagi kamu sudah bisa pulang.”
Pulang ... Ternyata bukan mimpi ...
Diusapnya air mata yang baru saja turun. Sara meneguk sampai habis air dalam gelas minuman yang dia terima. Lalu dipegangnya terus meski air di dalamnya sudah tak bersisa seakan sedang memegangi harta yang berharga.
Tidak terlalu lama memang. Setelah itu, Sara sudah diijinkan pulang. Seorang petugas pria yang sama yang tadi memberinya air mengantarkannya hingga keluar.
Ternyata hari masih gelap. Dilihatnya jam yang tergantung di dinding dekat pos. Masih pukul setengah lima. Subuh ternyata.
“Tuh, suaminya sudah jemput.”
Benar. Itu yang Sara lihat. Agam bersama Arya sedang menunggunya di lobby depan kantor polisi itu. Hatinya trenyuh.
Dilihatnya Arya sedang membisikkan sesuatu dekat Agam. Yang terjadi setelah itu adalah Agam tersenyum sangat lebar lalu merentangkan kedua tangannya seakan sedang menyambut Sara.
Melihat itu, Sara langsung berlari menuju pelukan Agam. Tangisannya tumpah membasahi pakaian Agam.
“Kita pulang. Kita pulang.”
Ya, kita pulang. Ke rumah kita.
......................
Sara baru selesai mandi. Begitu keluar, dilihatnya Agam sudah duduk di atas tempat tidurnya. Tangannya melambai di udara memanggil Sara untuk mendekat. Meski tak lurus tertuju padanya, tapi dia tahu untuk siapa panggilan itu.
Begitu Sara berbaring, tangan Agam mulai bergerak mencari puncak kepala Sara. Lalu, membelainya lembut.
“Jangan takut lagi. Semua sudah selesai.”
Yang Agam lakukan selanjutnya adalah menciumi kening Sara.
Tepat di saat itu, seperti baru saja terbangun dari sebuah mimpi buruk, Sara langsung menangis sejadi-jadinya. Dia meraung dalam tangisnya itu.
Seperti tahu apa yang harus dilakukannya, Agam kini memasukkan tangannya di sela leher Sara untuk bisa meraihnya dalam pelukannya. Sara dibiarkan menangis sementara tangan Agam terus membelai rambutnya dan mengusap punggungnya untuk menenangkannya.
Semakin lama semakin berat kedua mata Sara. Pada akhirnya, Sara tertidur dalam pelukan Agam, dengan wajah yang masih basah karena air matanya sendiri.
Pada saat itu, Sara akhirnya dapat tidur dengan tenang setelah apa yang sudah terjadi pada malam sebelumnya.
--
“Kita jalan-jalan hari ini, mau?”
Jalan-jalan?
Satu pertanyaan yang tidak pernah terlintas di kepala Sara selama ini. Dan sekarang secara tiba-tiba Agam menanyakannya.
Tiga hari setelah Agam meminta Sara untuk beristirahat – baik mental maupun fisiknya –, tiba-tiba saja, Agam menanyakan pertanyaan itu. Tumben ...
“Kamu ingin jalan-jalan ke mana?,” tanya Agam lagi yang masih menunggu jawaban Sara.
“Mas memangnya mau ke mana?”
“Lho kok kamu malah balik nanya?” Agam kini tertawa. “Selama ini kan kita selalu di rumah. Aku pikir sekali-kali kita pergi jalan-jalan tidak apa-apa, kan? Kita pergi ke tempat yang paling kamu ingin pergi, gimana?”
Sara tertegun mendengar ucapan. Mengingat kembali semua yang sudah dilakukan Agam tiga hari terakhir ini. Semuanya adalah tentang menyenangkan Sara.
Menghabiskan waktu berdua saja di rumah, mengobrol ngalor ngidul tidak jelas, tertawa bersama, entah itu di teras belakang ataupun di taman depan rumah, Sara dapat merasakan niat baik Agam untuknya terutama setelah apa yang mereka lalui beberapa hari yang lalu.
Dan sekarang jalan-jalan? Bibir Sara langsung menyunggingkan senyum begitu menyadarinya.
Mas Agam mungkin ingin menghabiskan banyak waktu bersama.
“Mas Agam memangnya nggak punya tempat yang ingin Mas kunjungi?” Sara malah balik bertanya.
“Aku ingin pergi ke tempat yang kamu ingin kunjungi.”
Dan, ini tidak akan ada habisnya ...
__ADS_1
“Ya selama kamu tidak malu jalan sama aku yang seperti ini.”
Sara tertawa. Tapi dia memikirkannya.
“Hmm ... Kita ke pantai. Gimana?
......................
Semilir angin pantai yang menyejukkan siang ini langsung menyambut kedatangan Sara dan Agam. Dibantu supir, Agam diturunkan perlahan dan selanjutnya Sara mendorong kursi rodanya mengelilingi area daratan pantai yang berpaving.
Yang dilakukan Sara hanyalah berkeliling area itu. Begitu lelah dia memilih duduk di salah satu bangku dan menikmati angin di pantai siang itu. Agam ditempatkan di sebelahnya.
“Aku pernah bermimpi pergi ke pantai sama Mas, loh,” kata Sara membuka pembicaraan mereka.
“Karena itu kamu minta ke pantai?”
“Iya, Mas.” Sara tertawa terkekeh. “Setidaknya aku punya satu mimpi yang jadi kenyataan.”
“Kamu punya mimpi yang belum terwujud?”
“Rasanya tidak akan bisa terwujud.” Sara terdiam sejenak, lalu kembali menjawab, “Aku pernah bermimpi Ayah menjadi wali nikahku.”
Kini, keduanya terdiam.
Tapi Agam menggerakkan tangannya untuk mencari tangan Sara lalu menggenggamnya lembut.
Berdua, mereka menikmati udara sejuk di pantai saat itu.
......................
“Kita makan malam di luar, ya. Aku sudah pesan tempat,” begitu kata Agam ketika mobil mereka sudah melaju meninggalkan tempat tujuan mereka yang pertama.
Apa cuma perasaanku saja, tapi Mas Agam terlihat berbeda hari ini?
“Kapan Mas mempersiapkan itu semua?,” tanya Sara sedikit menggoda, menyembunyikan rasa curiganya.
Tapi yang ditanya hanya tersenyum penuh arti. Sara pun lebih memilih diam dan mengusir semua perasaannya mulai terasa aneh dan janggal.
Sebuah makan malam romantis. Mungkin itu yang sedang dipersiapkan Agam untuk Sara. Restoran mewah, gaun yang menawan – mereka sempat berhenti sejenak di butik yang sudah menunggu kedatangan Agam –, lilin di atas meja, buket bunga yang cantik, dan musik indah yang mengiringi acara makan malam mereka.
“Kita menikah terlalu cepat. Sekalipun kita tidak pernah pergi kencan berdua sebelum menikah ataupun setelah kita menikah. Aku ingin setidaknya sekali saja kita pergi kencan berdua saja.”
Ucapan Agam seakan seperti sedang menegaskan sesuatu dalam hatinya yang bimbang. Perasaan aneh yang sedari tadi menggelayutinya kini sedikit demi sedikit seperti sedang membuka tabirnya.
“Mas ... nggak apa-apa, kan?”
“Aku? Aku kenapa?”
Tangan Agam meraba atas meja mencari sesuatu. Sara mendekatkan tangannya pada suaminya itu. Dan Agam menggenggamnya dengan lembut.
“Aku tidak apa-apa, Sara. Kamu mungkin masih ketakutan karena kejadian kemarin,” kata Agam.
Iya, mungkin.
“Nikmati saja makan malam kita, ya.”
Satu kalimat dari Agam belum juga meluruhkan perasaan tak nyamannya. Tapi Agam benar, ini makan malam mereka berdua. Sara tidak ingin merusaknya hanya karena perasaannya yang belum jelas itu.
“I-iya, Mas ...”
......................
“AGAM!”
Sambutan yang luar biasa datang dari Arya dan Yuda yang berdiri di depan kursi teras mereka masing-masing. Arya hanya menatap sendu, sedangkan Yuda terlihat begitu marah yang jelas juga terdengar pada panggilannya tadi.
Tatapan mereka yang hanya tertuju hanya pada Agam yang baru turun dari mobil dibantu Sara dan supir. Tatapan yang justru menciptakan kebingungan yang lain dalam benak Sara.
Ada apa ini?
“Kalian tunggu aku di ruang kerja. Kita bicara di sana saja,” kata Agam memberi perintah seakan tahu apa yang sedang kedua pria itu pikirkan. Dan keduanya hanya mengerang menahan amarah mereka tapi tetap melakukan apa yang diminta Agam.
“Sara ...”
“I-iya, Mas.”
Terlalu intens memperhatikan interaksi ketiga pria yang ada di hadapannya, Sara terkejut ketika Agam memanggilnya.
“Aku ingin sekali makan brownies buatanmu yang pernah kamu buat untukku sebelumnya. Apa boleh minta tolong dibuatkan? Maaf merepotkan padahal kita baru datang,” kata Agam.
Jelas, Sara tidak bisa menolaknya. Hatinya melarangnya untuk berkata tidak.
__ADS_1
“N-nggak apa-apa, Mas. Aku bikinkan.”
Sara hanya mengantarkan Agam sampai di depan tangga khusus untuk kursi roda Agam, selanjutnya Agam menggerakkannya secara otomatis.
Dan yang dilakukan Sara adalah mengerjakan apa yang diminta suaminya, meski dalam hatinya masih terganjal perasaan tak nyamannya itu.
......................
Saat brownies sudah siap disajikan di atas piring, saat itulah Agam datang ke ruang makan. Padahal Sara sudah akan mengantarkannya ke ruang kerja Agam jika memang dia masih di sana. Dia bahkan menyiapkan lebih untuk Arya dan Yuda.
Tapi ternyata, Agam mengatakan Arya dan Yuda sudah pulang.
“Arya harus pulang ke rumah utama saat ini. Mama baru pulih, jadi dia harus bersama Mama,” jelas Agam.
“Sejak aku pulang, aku belum pernah menengok Mama sekalipun. Kalau Mas pergi ke rumah utama, apa aku boleh ikut?”
Agam hanya tersenyum lalu mengangguk.
Sesuap dua suap, Agam menikmati brownies yang dibuat Sara untuknya. Padahal dia baru saja makan di luar, tapi brownies itu tetap disantap dengan lahap.
“Sejak aku memakannya, aku langsung suka dengan brownies buatanmu. Rasanya beda dengan brownies yang biasanya aku makan,” kata Agam setelah beberapa saat dia dia saja menikmati browniesnya.
“Aku akan buatkan setiap hari kalau Mas mau,” timpal Sara menanggapi ucapan Agam itu.
Agam hanya tersenyum. Lalu tangannya bergerak menaik mencari Sara.
Sara yang mengerti langsung menyambut tangan Agam, lalu mengarahkannya pada sisi wajahnya. Di sanalah tangan Agam bersandar saat ini.
“Aku akan selalu mendoakan kebahagiaan kamu, Sara.”
Tanpa dikomando lagi, Sara langsung menyerbu Agam dengan pelukannya seakan-akan khawatir suaminya itu akan pergi.
Tapi memang itu yang dirasakan Sara saat ini. Semua yang dilakukan Agam hari ini terasa begitu aneh. Begitu jauh. Seakan-akan besok dia akan menghilang dari pandangannya.
“Mas kenapa? Mas jangan bohong. Ada apa, Mas?”
Sara terus menanyakan banyak pertanyaan yang menggambarkan kekhawatirannya.
“Tenanglah, Sara,” kata Agam dengan suaranya yang dalam dan lembut. Tangannya tidak berhenti membelai rambut Sara. “Aku benar-benar tidak apa-apa.”
Sara melepaskan pelukannya. Dia menatap Agam dengan jaraknya yang terlalu dekat. Tangan Agam kini menyentuh wajah Sara mengusap bulir air mata yang baru saja turun.
“Tapi kenapa hari ini sikap Mas aneh sekali?,” tuntut Sara dalam sebuah pertanyaan yang jelas maknanya.
“Aku tidak apa-apa, Sara. Kamu mungkin terlalu banyak pikiran. Terlalu capek hari ini.”
Benarkah? Tapi perasaanku masih terasa nggak nyaman.
“Kita istirahat setelah ini, ya.”
Sara masih menatapnya curiga. Tapi anggukan kepalanya tidak luput dia lakukan.
Malam itu, bahkan hendak menutup matanya, perasaannya yang tak nyaman itu terus menghantuinya. Tapi dalam pelukan Agam, Sara bisa menutup kedua matanya. Dia tertidur pulas.
Baru ketika dia bangun keesokan harinya, Sara tahu sesuatu yang aneh itu masih menghantuinya.
“Mas Agam?”
Sara pandangi sisi tempat tidur yang lain yang saat ini sedang kosong tanpa sosok Agam di sana. Tidak seperti biasanya.
Perasaan yang semalam dia tekan, kini kembali mencuat.
Sara bangkit dari tempat tidurnya hanya untuk melongok ke dalam kamar mandi. Tidak terkunci, dan tidak ada siapapun di sana.
“Mas ...,” panggil Sara berulang setiap dia melangkah meninggalkan satu ruangan ke ruangan yang lain.
Ketika dia menuruni tangga, dia juga melakukan hal yang sama, “Mas ...”
Tepat itulah, dia melihat Raka sedang berdiri di ruang tengah menatapnya dengan tatapan penuh penyesalan.
Tidak. Jangan tatapan itu.
“M-mau ketemu Mas Agam, ya?,” tanya Sara dengan pertanyaan biasa seakan tidak mempedulikan tatapan Raka yang sudah berbeda dari tatapannya yang biasa.
“Maaf, Nyonya.”
Tidak. Jangan minta maaf.
“Tuan Agam sudah berangkat tadi subuh. Tuan menitipkan beberapa hal untuk diberikan pada Nyonya, termasuk ... surat cerai ini."
Tidak!
__ADS_1