Cinta Itu (Tidak) Buta

Cinta Itu (Tidak) Buta
Part 41 : Punya Hak Apa Kalian?


__ADS_3

[Sara]


“Tolong Mama, ya,” seru Widia seraya memohon pada Sara dengan mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dadanya.


“Mama hari ini ada acara pertemuan sama teman-teman Mama di rumah. Ini giliran Mama untuk mengundang mereka ke rumah. Tapi masalahnya kokinya hari ini nggak masuk. Mama panik, Sara.”


Seriously?


“Nggak ada yang bisa masak. Terus Mama ingat kamu. Tolong Mama ya, Sara.”


Tidak tahu bagaimana harus menanggapinya. Pagi-pagi Sara sudah ‘diculik’ oleh mertuanya. Dan sekarang harus dihadapkan pada situasi seperti ini.


Apa yang sebenarnya sedang dia rencanakan?


“Tema masakan kali ini adalah masakan rumahan. Mama bisa saja pesan di restoran. Tapi lidah mereka terlalu sensitif. Mereka bisa mengenalinya hanya dengan sekali incip. Mama benar-benar putus asa sekarang, Sara. Tolong Mama ya. Please ...”


Raut wajah Widia benar-benar menggambarkan keputusasaannya. Ya paling tidak, itu yang Sara lihat.


“Untuk 20 orang saja. Tolong Mama ya, Sara,” pinta Widia sekali lagi.


“Ijinkan Sara pamit dulu ke Mas Agam, Ma. Sara belum bilang apa-apa tadi waktu pergi. Sara juga nggak bawa HP, Ma.” Sara balik meminta.


“Aduh, Agam masalah gampang. Nanti Mama yang telepon Agam, kasih tahu dia kalau kamu di sini,” timpal Widia yang justru tidak juga meredakan rasa gusarnya.


Ada sesuatu yang aneh di sini. Tapi apa, ya?


Dengan berat hati, tanpa bisa memberikan penolakan yang bisa diterima oleh mertuanya, Sara akhirnya menganggukkan kepalanya. Dan Widia langsung kegirangan.


“Tapi Mama minta maaf, kamu terpaksa masak sendirian di dapur. Pelayan yang lain sedang sibuk siap-siap.”


Ini dia!


“Tapi kalau kamu butuh apa-apa, bilang saja sama kepala pelayan di sini. Nanti dia akan atur semuanya. Mama juga sudah bilang, kalau ada pelayan yang sudah selesai, Mama minta kepala pelayan atur untuk bantu kamu. Nggak apa-apa ya, Sara?”


Mau bilang apa lagi sekarang?


Dengan anggukkan lemah, Sara menyetujuinya.


Widia? Dia pergi bersiap. Ya, ke salon.

__ADS_1


......................


Dari jam 9 pagi hingga jam 1 siang. Sara hampir kewalahan mengurus semuanya. Untung tadi masih sempat sarapan sebelum ‘diculik’.


Untungnya lagi, tidak semuanya Sara kerjakan sendirian. Beberapa bahan makanan sudah dicuci bersih dan dipotong. Sara hanya tinggal menyiapkan beberapa bumbu masak lalu memasaknya.


Tapi tetap saja, butuh waktu panjang dan rasa lelah yang sangat saat melakukannya. Dan benar-benar tidak ada pelayan yang membantunya.


Tapi tidak sia-sia aku banyak membantu Ibu selama ini. Setidaknya aku banyak belajar dari Ibu.


“Nona Sara, Nyonya memanggil Nona di halaman belakang,” kata salah satu pelayan yang datang menyampaikan pesan beberapa saat setelah acara dimulai. Barulah pada saat itu, beberapa pelayan masuk menggantikan pekerjaan Sara.


Sara menghela napasnya. Kesal? Iya. Ingin rasanya dia berteriak. Tubuhnya saja sudah menjerit kesakitan.


“Itu dia sudah datang,” seru Widia yang bisa Sara dengar dari kejauhan.


Sara dapat melihat tamu-tamu yang hadir adalah para wanita dengan dandanan yang sesuai dengan jumlah saldo tabungan mereka. Sangat mahal.


Berbeda dengan dirinya saat ini.


Mau berharap apa? Dia baru selesai sarapan. Pekerjaannya hanya di rumah. Yang dia pakai ya hanya pakaian rumah biasa. Kaos dan celana panjang. Itu masih untung dia pakai celana panjang. Kadang dia pakai celana tiga perempat.


Dia sudah dibawa pergi tanpa dikasih kesempatan untuk berganti pakaian apalagi berdandan. Ditambah dengan semua pekerjaan di dapur.


“Ini menantuku. Istrinya Agam. Hari ini dia yang masak semuanya. Gimana? Enak, kan?,” kata Widia penuh semangat memperkenalkan dirinya di depan teman-temannya.


Mama ternyata masih memperkenalkannya sebagai anggota keluarga juga.


Salah satu tamu berbadan agak moontook mulai berkomentar, “Cantik, ya? Pinter masak lagi. Dari keluarga mana, Jeng? Pejabat? Konglomerat?”


Sara menarik napasnya lalu menghembuskannya perlahan, mempersiapkan hatinya. Ternyata ini adalah pertunjukan utamanya.


Terdengar tawa canggung Widia. Dia terlihat tidak nyaman dengan omongan tamunya.


“Hanya keluarga biasa, kok. Ibunya buka usaha katering. Makanya dia pinter masak.”


Aku sudah nggak bisa membedakan mana wajah aslinya dan mana yang bukan.


Tanggapan tamu-tamu yang lainnya adalah ‘oh’ panjang yang keluar dari mulut mereka, dengan nada yang sedikit mencibir tentunya.

__ADS_1


“Sayang, ya. Padahal Tuan Wirasurya adalah keluarga terpandang, apalagi anak-anaknya. Semua orang pasti tahu siapa mereka. Orang hebat semua,” salah satu tamu yang lain yang berdandan cukup menor hari ini ikut berkomentar.


Tapi Sara tidak menundukkan kepalanya sedikit pun. Dia hanya menatap kosong pada meja yang jaraknya beberapa langkah darinya. Membiarkan mereka membicarakan dirinya, tanpa mengatakan apapun.


Selama mereka tidak membicarakan orang tuaku, aku rasa aku akan baik-baik saja.


“Jangan dimasukkan hati ya, Sara. Mereka memang begitu. Maklumi sebentar saja, ya,” bisik Widia yang terlihat tidak enak.


Sara memperlihatkan senyum palsunya . Dia tidak punya bukti apapun tentang keterlibatan Widia. Saat ini mertuanya itu mungkin terlihat merasa bersalah, tapi Sara masih yakin, ini rencananya.


“Perasaan dulu banyak yang minta Agam jadi menantu, deh. Kenapa nggak pilih salah satu sih, Jeng? Ya gini ini, kalau anak milih sendiri. Selalu nggak beres.” Tamu Widia yang lain kini ikut berkomentar.


Dan yang lain ...


“Benar, benar. Seingatku Sheyna, anaknya CEO RTY Group naksir berat loh sama Agam. Dia sampai ke sini kan ya setiap hari?”


Dan yang lain lagi ...


“Rachel, anaknya CEO FYG Group juga nggak kalah, loh. Anaknya pinter main biola. Cantik lagi. Sering mengisi acara kalau NFC punya acara.”


Dan lainnya lagi ...


“Lagian kenapa nggak bilang kita sih Jeng kalau butuh menantu? Kita carikan lah kenalan kita yang bibit bebet bobot yang jelas.”


Ternyata tema acara mereka hari ini adalah tentang aku.


Sara hampir menahan dirinya melirik ke arah Widia meski hanya sebentar saja. Dia tidak mau dianggap sedang mencari pertolongan mertuanya. Semuanya dia terima tanpa mengatakan apapun.


Merasa tidak perlu mendengar lebih banyak lagi, Sara memilih pergi.


“Masih banyak yang harus saya kerjakan. Permisi.”


Tapi satu suara menahan langkahnya.


“Loh, disini saja. Cerita dong sama kita-kita jurus menggoda pria seperti Agam tuh kayak gimana? Jual tubuh kah?”


Sontak seluruh tamu yang ada di sana tertawa menanggapi ucapan teman mereka.


Sara pun langsung berbalik. Matanya sudah melotot karena rasa marahnya. Bola matanya tidak berhenti bergerak mencari tahu siapa yang baru saja bicara seperti itu.

__ADS_1


Kalau ketemu ingin rasanya aku jambak rambutnya.


“Dia istriku. Punya hak apa kalian membicarakan istriku?”


__ADS_2