Cinta Itu (Tidak) Buta

Cinta Itu (Tidak) Buta
Part 50-1 : Pertemuan Setelah Perpisahan


__ADS_3

[Sara]


“Tunggu aku di cafe lobby,” begitu kata Yuda setelah Sara mengkonfirmasi sebuah gambar yang dia yakini sebagai Agam.


Sungguh bukan perjalanan yang mudah. Butuh lebih dari seminggu, belasan tim pencarian, dan sebuah satelit milik perusahaan Yuda untuk bisa mengubek-ubek Jepang dari seluruh penjuru kota dan mendapatkan gambar itu.


Setiap hari Sara pasti akan datang ke kantor Yuda menanti perkembangan pencarian yang dilakukan Yuda. Awalnya datang sendiri, lalu menjadi kebiasaan Arya untuk datang menjemput dan mengantarnya ke sana.


Tepat pada hari kesepuluh, semua doa-doanya dalam setiap sholat yang dilakukannya akhirnya terjawab sudah. Yuda menghubunginya tadi pagi, dan berkata dalam teleponnya, “Mereka mendapatkan sesuatu. Tapi aku butuh kamu untuk konfirmasi. Bisa datang kesini?”


Tentu saja bisa. Kenapa tidak bisa?


Dan di sinilah Sara, di lantai bawah gedung perkantoran milik Yuda yang digunakan sebagai cafe.


“Mbak mau langsung berangkat dari hotel atau pulang ke rumah Ibu dulu?,” tanya Arya yang baru datang dari mengambil pesanan mereka di counter.


Benar, hotel. Untuk menghindari pertanyaan Ibu lebih dalam lagi tentang Agam, setelah 3 hari menginap di rumah, Sara memilih untuk tinggal di hotel. Dia beralasan pada Ibu untuk pulang, tapi sebenarnya tidak.


Sara punya alasan untuk tinggal di hotel. Dia belum sanggup untuk bisa pulang ke rumah Agam yang sekarang jadi miliknya itu. Sara tahu, dia pasti akan menangis setiap kali mengingat Agam, karena di setiap sudut rumah itu akan selalu mengingatkannya pada pria itu. Jadilah Sara memutuskan untuk tinggal di hotel sementara waktu.


Arya adalah orang pertama yang menolak Sara untuk tinggal di hotel. Tapi begitu dia tahu alasan Sara, Arya menyetujuinya. Dengan catatan, Sara harus tinggal di hotel yang ditunjuk oleh Arya dan harus Arya yang membayarnya.


Jangan tanya hotel apa. Yang jelas lebih mahal dari hotel yang ditinggali Sara sebelumnya. Dan mau tidak mau, Sara sepakat dengan Arya – karena ancaman Arya yang akan tinggal di hotel bersamanya, lebih tepatnya.


“Pulang ke rumah Ibu dulu. Aku mau pamit dulu sama Ibu,” jawab Sara setelah memikirkannya beberapa saat.


“Oke, nanti aku antarkan.”


“Kamu nggak kerja?,” tanya Sara yang cemas Arya mengabaikan pekerjaannya karena dirinya.


“Tenang saja, Mbak. Sudah ada yang ngatur.” Arya tersenyum bangga dengan ucapannya itu.


Yuda datang tak lama kemudian. Dia langsung mendudukkan dirinya di samping Arya dan meminum minuman yang ada di hadapannya.


Arya langsung menggoda Yuda begitu minuman miliknya direbut pria tinggi gagah itu. Dengan kerlingan matanya, Arya mendekat terus pada Yuda. Sedangkan Yuda sendiri mendorong Arya mundur dengan telapak tangannya yang menutupi wajahnya.


“Tempat itu bukan rumah sakit, seperti katamu. Lebih seperti rumah rehabilitasi sekaligus rumah belajar untuk mahasiswa kesehatan dan tempat penelitian,” jelas Yuda yang tidak menggubris Arya yang masih menggodanya.


“Milik seorang professor. Agam pernah bekerja sama dengannya juga. Aku sudah bertanya pada Raka. Mungkin mereka punya project kerja sama, karena itu Agam ada di sana.”


Yuda menyandarkan lengannya pada meja agar bisa memajukan tubuhnya dekat dengan Sara. “Sekarang aku tanya sekali lagi, kamu benar-benar yakin akan menyusul Agam? Kita tidak tahu kapan kamu akan kembali. Bisa jadi ta ....”


“Aku yakin!”


Sara memotong ucapan Yuda dengan penuh keyakinan. Sejak Agam pergi tanpa pamit, sejak Ibu memberinya restu, sejak Sara tahu apa saja yang sudah Agam lakukan untuknya, mungkin juga sejak Sara mulai mencintainya, mungkin sejak itu Sara tahu dia harus mendampingi Agam di saat apapun yang akan dihadapi suaminya itu.


Yuda terdiam menatap Sara. Cukup lama. Arya juga ikut terheran memandangi Yuda yang tanpa reaksi itu.


“Okelah,” seru Yuda tiba-tiba seraya menarik tubuhnya kembali ke bersandar pada bangku cafe. Kemudian, dia meletakkan amplop coklat besar di atas meja.


“Ini paspor dan sekaligus visanya sudah semua diurus. Tiket pesawat untuk besok pagi. Jadi, kamu punya banyak waktu untuk bersiap. Sampai di sana nanti akan ada orangku yang akan antarkan kamu ke lokasi. Agak jauh dari pusat kota. Perjalanannya mungkin sekitar 2-3 jam.”


Dia sudah mempersiapkan semuanya dalam waktu sesingkat ini?


Paspor sudah diurus sejak hari pertama Sara bertemu dengan Yuda di kantornya. Setelah pertemuan mereka, Yuda tiba-tiba saja meminta semua dokumen Sara untuk keperluan itu.


#


“Kamu pasti mau nyusul Agam, kan? Jadi kamu perlu paspor. Aku butuh semua yang aku tulis di kertas itu. Bawa besok dan aku akan mengurusnya. Kamu tinggal tunggu hasilnya saja.”


Begitu yang dikatakannya hari itu.


#

__ADS_1


Tapi visa itu beda cerita. Entah bagaimana Yuda bisa mendapatkan visa semudah itu. Mungkinkah dia menggunakan pengaruh keluarganya?


Entahlah. Yang jelas kini semua dokumen sudah siap.


“Kalian nggak ke sana juga?,” tanya Sara.


“Pasti. Aku pasti akan ke sana. Dia nggak bisa melarang aku untuk datang. Tapi sekarang ini, kamu ke sana dulu. Pastikan dia tetap di sana sampai aku datang,” jawab Yuda yang juga diangguki oleh Arya.


Sara tertawa mendengarnya.


“Aku titip pesan saja untuk Mas Agam. NFC pasti aku akan rebut kembali,” jawab Arya.


“Aku akan sampaikan pesannya. Tapi, aku yakin Mas Agam lebih suka kamu datang mengunjunginya.”


Arya setuju dengan ucapan Sara itu.


Kemudian, Sara meletakkan selembar kertas kecil dan sebuah bolpoin di atas meja, lalu menggesernya ke hadapan Yuda.


Yuda langsung memberikan pandangan ‘apa ini?’.


“Apa boleh aku minta nomer rekeningnya? Aku akan ganti semuanya,” kata Sara.


Baik itu Yuda dan Arya terbengong di hadapan Sara. Keduanya tidak mengatakan apapun. Cukup lama, hingga akhirnya Arya tertawa terbahak-bahak. Sedangkan Yuda memijit glabellanya.


Kini, giliran Sara yang terbengong.


“Tenang saja, Mbak. Semua sudah diatur Yuda,” kekeh Arya. “Mbak mungkin belum terbiasa. Tapi kami bertiga sering begini. Siapa yang bisa atur ya dia yang urus semuanya.”


“Aku titip Agam. Bayar pakai itu saja.” Yuda kini ikut berkomentar.


“Nggak apa-apa, Mbak. Lama-kelamaan Mbak pasti terbiasa,” kata Arya lagi yang masih terkekeh.


Sara mengangguk perlahan seraya membulatkan bibirnya pertanda dia mulai memahami semuanya. Tapi kemudian dia tersenyum. Kehangatan seperti ini yang seharusnya Mas Agam rasakan sebagai ketulusan.


......................


Beberapa saat mereka hanya saling diam. Tapi tak lama kemudian, Yuda mulai berbicara.


“Aku nggak tahu apa yang dikatakan Arya sama kamu. Anak itu kadang memang suka menambah-nambah cerita yang nggak penting.”


Sara mendengarkan setiap kata yang disampaikan Yuda.


“Aku kenal Agam sejak kita mungkin baru tahu cara berjalan. Dia adalah satu-satunya teman yang aku punya selama itu. Karena itu, aku nggak pernah mau Agam begitu saja pergi seakan-akan dia hidup sendirian di dunia ini. Jadi, di mana pun dia berada, aku pasti akan temukan dia.”


“Aku tahu,” jawab Sara. Dia tersenyum dengan lembutnya. “Karena aku juga begitu.”


“Aku sudah mendengar semua cerita yang terjadi 2 tahun yang lalu. Aku hanya nggak ingin Mas Agam melalui semuanya sekali lagi seperti dulu. Mas Agam harus tahu dia nggak akan sendirian menjalani semuanya. Aku akan menemaninya. Kalian juga akan selalu mendukungnya.”


Yuda kini tersenyum. “Terima kasih. Aku bisa tenang sekarang. Aku bisa memenuhi janjiku pada almarhumah mamanya Agam sebelum dia meninggal.”


Sara tertegun.


Din, din ...


Klakson mobil Arya yang ternyata sudah berhenti di depan mereka mengagetkan Sara dan Yuda. Keduanya akhirnya berhenti bicara.


......................


Semua berjalan lancar. Berangkat dari rumah Ibu, ke bandara diantar Arya, perjalanan 14 jam ke Sapporo, lalu bertemu dengan orang suruhan Yuda di bandara Okadama. Semuanya lancar.


Sara tetap tenang. Dia hanya memikirkan pertemuannya dengan Agam. Excited jelas.


Baru ketika perjalanan darat yang harus dia lakukan ke desa tempat Agam berada, Desa Beie, baru Sara mulai merasa gugup. Dua jam perjalanan seperti yang dikatakan orang suruhan Yuda terasa seperti sedang menjalani ujian nasional di tingkat akhirat.

__ADS_1


Pikiran Sara sudah mulai kacau. Hal-hal yang seharusnya dia pikirkan sebelum mengambil keputusan ke Jepang, sekarang baru terlintas di kepalanya.


Bagaimana kalau dia nggak suka aku datang?


Bagaimana kalau aku diusir?


Kenapa aku bisa sepercaya diri itu kalau dia akan menerima aku?


Sara semakin panik dengan semua pemikirannya sendiri. Semangatnya langsung turun seketika.


Hari sudah sangat malam ketika Sara sudah tiba di tempat itu, entah jam berapa sekarang. Bangunan satu lantai yang memanjang ke samping sudah menyambut kedatangannya. Tapi Sara masih sibuk dengan semua pemikiran buruk yang ada di kepalanya.


Tapi mundur sekarang sudah sangat terlambat. Jalan satu-satunya yang dia miliki sekarang adalah maju terus. Dan itu yang sedang Sara lakukan saat ini.


Memasuki ruangan pertama bangunan itu tanpa siapa pun yang menyambutnya. Sara mulai bingung harus apa.


Dia letakkan koper miliknya di salah satu sudut ruangan yang paling aman, lalu berjalan melihat sekeliling ruangan untuk mencari orang yang bisa dia ajak bicara.


“Permisi ...”


Tunggu! Ini Jepang. Aku nggak bisa Bahasa Jepang!!!!


Sara panik lagi. Tapi, kembali tenang seketika.


Tenang, Sara. Kamu punya ponsel yang lebih pintar dari kamu, batinnya bangga.


Setidaknya untuk itu, dia bisa bernapas lega.


Setelah memasukkan ponsel yang sudah dia pastikan aplikasi penerjemahnya siap ke dalam saku jaket hoodie nya yang dia kenakan, Sara kembali berjalan memasuki lebih dalam lagi bangunan yang ternyata lebih luas dari yang terlihat di luar.


Tetap tidak ada orang.


Apakah karena sudah malam?


Entahlah. Yang jelas, misi menjelajah Sara belum selesai. Karena sekarang dia melihat anak tangga yang akan menuntunnya ke lantai atas. Dan Sara, tanpa berpikir panjang, dia naiki tangga itu.


Di lantai atas, ternyata ruangannya lebih nyaman lagi. Sangat luas. Ada banyak sofa yang tersusun rapi, seperti sebuah ruang santai. Tapi, tidak ada orang.


Dia menoleh ke kanan. Tidak ada orang.


Dia menoleh ke kiri. Barulah saat itu dia melihat sosok pria yang selama beberapa hari terakhir ini dia rindukan.


Mas Agam ...


Dia terlihat lebih kurus yang terakhir aku lihat. Apa cuma perasaanku saja?


Sara baru melangkahkan kakinya sekali. Langkah keduanya langsung terhenti. Pikiran buruk yang tadi di kepalanya kini kembali muncul. Dia ragu untuk melangkah.


Pandangannya kini menjadi nanar. Agam yang dia cintai ada di hadapannya, tapi rasa takutnya justru malah membuatnya tidak berani untuk mendekat. Lalu sekarang dia harus apa?


Saat Sara masih sibuk berperang dalam hatinya, saat itulah sebuah panggilan mengejutkannya. “Sara?”


Sara langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Bagaimana bisa Agam tahu dia ada di sana? Agam masih belum bisa melihatnya. Pandangan matanya ke arah lain itu buktinya.


Sara panik. Dia memundurkan kakinya. Selangkah, dua langkah, tiga langkah, dia lupa, dia sedang berdiri di depan anak tangga yang tadi dia naiki.


BUG!


Dia melihat segala sesuatunya berputar. Tidak hanya itu, tubuhnya juga berputar.


Pusing. Tentu saja, kepalanya berkali-kali menghantam sesuatu. Ditambah dengan semua yang serba berputar di matanya, Sara semakin berat membuka matanya. Perlahan-lahan dia menutupnya.


Rasanya lebih baik. Tubuhnya tidak lagi berputar. Tapi sakit di kepalanya masih terasa, dan terus bertambah sakit.

__ADS_1


Semakin sakit, hingga menarik seluruh energinya untuk menahan rasa sakitnya itu. Lama-kelamaan, Sara menjadi tidak sadarkan diri. Dia tidak tahu lagi apa yang terjadi pada dirinya.


__ADS_2