Cinta Itu (Tidak) Buta

Cinta Itu (Tidak) Buta
Part 35 : Mimpi Terburuk


__ADS_3

[Sara]


Sara hanya ingin masuk ke kamar Agam, duduk di sampingnya sembari menungguinya. Meski dia tahu dia bukan istri Agam yang sesungguhnya, tapi tak bisakah aku menemaninya?


“Ada apa ini?”


Arya baru pulang dari kantor. Memang sudah saatnya. Sayangnya dia harus melihat semua itu.


“Apa maksudnya ini? Kenapa Mbak Sara nggak boleh mendekati Agam? Dia istri Mas Agam. Kamu nggak lupa, kan?” Arya bertanya sekali lagi dengan nada tingginya.


“Maafkan saya, Nyonya. Tapi ini adalah permintaan Tuan Agam. Saya ... hanya menjalankan ... perintahnya,” ucap Raka yang terdengar semakin lirih saja.


Kapan Mas Agam memberi perintah seperti itu? Kenapa Mas Agam memberi perintah seperti itu?


“Aku mohon. Apa tidak bisa aku masuk dan melihatnya dari pintu? Aku mengkhawatirkannya,” pinta Sara memelas. Dia sangat ingin berada di samping Agam saat ini.


Bahkan jika aku harus memohon, aku akan melakukannya. Asal ijinkan aku bersamanya.


Tapi Raka sama sekali tidak memberinya ijin. “Maaf ...”


“Apa maksudmu bilang maaf?” Arya tidak dapat menahan emosinya. Dia menarik kerah baju Raka, lalu mendorongnya hingga menghantam pintu kamar Agam hingga menimbulkan bunyi yang keras. Hanya dengan sekali lihat dan dengar saja, Raka pasti kesakitan dengan hantaman itu.


“Arya, sudah, Arya ...” Sara masih menatapnya lembut saat melepaskan tangan Arya dari Raka. Dia terus memohon agar Arya mau melepaskan Raka.


Setidaknya Arya masih mau mendengarkannya.


Sara terus menarik Arya menjauh dari Raka. Setelah cukup jauh, Sara memintanya untuk ke kamarnya beristirahat. Tapi, Arya menolaknya.


“Ada apa sebenarnya, Mbak?,” tanya Arya mendesak Sara untuk memberitahunya.


“Mas Agam sakit. Tadi sore waktu diperiksa suhunya, 40 derajat. Karena itu Raka datang bersama dokter,” jelas Sara.


“Tapi, kenapa Mbak malah nggak boleh masuk? Apa maksudnya?”


“Mbak juga nggak tahu. Tapi kalau memang nggak boleh ya sudah. Jangan buat keributan, ya. Mas Agam sedang sakit. Kamu istirahat saja. Kamu kan baru pulang kantor.” Sara masih menenangkan Arya.


“Terus Mbak mau ke mana sekarang?”


“Nggak kemana-mana. Mbak mau nungguin Mas Agam. Biar Mbak tunggu di sana saja.” Sara menunjuk satu tempat di depan kamar Agam yang bisa dia tempati.


“Apa? Mana bisa be ...”


“Sudah, Arya. Sudah, ya. Mbak mohon. Mbak nggak apa-apa. Ya?”


Arya masih mengerang melawan amarahnya, tapi Sara yang terus memohon berhasil menurunkan amarahnya itu.

__ADS_1


Meski berat, Arya menyetujuinya. Dan tanpa menunggu lama lagi, Sara meninggalkan Arya yang masih berdiri menahan semuanya. Sara duduk tidak terlalu jauh, tapi tepat di depan pintu kamar Agam. Raka yang sedang berdiri di depan pintu kamar hanya bisa memberikan tatapan tak berdayanya pada Sara.


Mungkin memang benar Mas Agam yang minta seperti ini. Entah apa rencananya.


Sepanjang malam itu, Sara duduk menunggu di depan sana. Kadang tertidur dalam keadaan duduk. Ketika punggungnya sudah mulai lelah, dia mulai bersandar pada dinding yang ada di belakangnya. Seinci pun Sara tidak bergeser dari sana.


Saat hati mulai tidak tenang melihat dokter dan Raka yang terus bergantian keluar dan masuk, Sara mulai membaca doa dalam hatinya. Doa-doa yang selalu diajarkan Ibu dan Ayah dulu. Doa yang dia sebut hanya untuk Agam.


Sementara Arya, dia tetap di sana menemani Sara. Hanya duduk di sana sembari terus membujuk Sara untuk istirahat di kamarnya. Tapi Sara masih keras kepala untuk tetap di sana. Sara tidak ingin pergi.


“Seenggaknya makan sedikit saja ya, Mbak,” bujuk Arya dengan sepiring nasi komplit dengan lauknya.


Tapi Sara masih tidak tertarik untuk memakannya. “Makasih, Arya. Mbak nggak lapar. Kamu saja yang makan duluan, ya.”


Bagaimana bisa makan? Membayangkan Mas Agam di dalam sana, nafsu makanku sudah hilang.


Keesokkan paginya pun, Agam masih belum menunjukkan tanda-tanda kesembuhannya. Meski demikian, Sara hanya bisa melihat Raka sedang berbicara dengan dokter dalam nada suara yang sangat rendah. Bahkan Sara tidak dapat mendengarnya.


Dokter itu terus menunjukkan pada Raka selembar kertas yang ada di tangannya. Sesekali mereka melihat ke arah Sara, lalu kembali pada kertas itu.


Ada apa? Mengapa melihat aku? Apa isi kertas itu?


“Apakah itu hasil tesnya?,” tanya Sara ketika dokter sudah masuk ke dalam kamar Agam.


Raka mengangguk. “Iya, Nyonya,” jawab Raka dengan suara lirihnya.


Kali ini Raka tidak menjawabnya. Tatapannya masih mengisyaratkan penyesalan. Tapi Sara tidak mau memaksanya. Mungkin Agam juga menyuruhnya.


Dia kembali duduk, lalu membenamkan wajahnya di antara kedua kakinya. Dia mulai menangis.


Apa yang sebenarnya terjadi? Kamu sakit apa, Mas?


Tapi itu baru awal. Agam masih tetap belum sadarkan diri hingga 3 hari 3 malam berlalu.


Dan selama itu juga, Sara seperti berada dalam ruangan gelap tanpa lampu, tanpa udara. Dia tidak bisa melihat ujung ruangan itu. Dadanya serasa sesak kehabisan oksigen memikirkan kondisi Agam yang tetap tidak dia ketahui kejelasannya. Tidak ada satu orang pun yang keluar masuk kamar Agam yang mau memberitahunya tentang kondisi suaminya. Sara hampir putus asa.


Selama 3 hari 3 malam itu Sara berada dalam mimpi terburuknya.


“Makan sedikit saja ya, Mbak. Sudah 3 hari ini Mbak belum makan apapun,” bujuk Arya untuk kesekian kalinya.


Sara menggeleng lemah. Kepalanya sudah mulai pusing. Jelas saja, 3 hari tidak makan apapun, tubuhnya sudah mulai merasa lemas.


Bagaimana aku bisa makan? Mas Agam di dalam sana juga nggak makan 3 hari ini.


“Kamu nggak kerja? Mbak nggak apa-apa. Kamu pergi kerja saja. Nanti Mbak kabari kalau Mas Agam sudah sadar,” kata Sara mengalihkan pembicaraan Arya, menghentikan usaha adik iparnya itu untuk membujuknya.

__ADS_1


“Gimana aku bisa ke kantor kalau seperti ini, Mbak? Mas masih di dalam. Mbak juga nggak mau makan. Setidaknya makan sedikit saja, ya.” Arya ternyata masih belum menyerah.


Sara memperhatikan sepiring nasi dengan sepotong daging dan sayuran di atasnya. Memang seperti itu Arya setiap kali akan membujuknya makan, selalu dengan sesuatu di tangannya. Meski ditolak terus pada akhirnya, tapi Arya selalu kembali dengan sesuatu di tangannya untuk ditawarkan pada Sara.


“Tapi, kamu ke kantor setelah itu, ya.” Sara mulai melakukan negosiasinya.


Arya dengan tegas menganggukkan kepalanya. “Aku berangkat setelah Mbak makan.”


Demi menyenangkan adik iparnya, Sara akhirnya mau melahap sesuatu yang dibawa oleh Arya untuknya. Meski tidak sampai habis, tapi Arya masih tersenyum puas. Dia benar-benar menepati janjinya setelah itu.


Hari keempat, suasana di depan kamar Agam mulai berubah. Dokter dan perawat terlihat panik keluar masuk. Raka juga demikian.


Tapi Sara tetap tidak bisa masuk ke dalamnya. Mereka mengunci pintu kamar Agam.


Meski Raka pada akhirnya keluar untuk menelpon seseorang, tapi saat Sara bertanya tetap saja tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya.


Satu jam setelah kepanikan itu, terdengar sesuatu dari kamar Agam.


“ARRGGHH!!!!”


PRANG!


BRAK!


Mas Agam sudah sadar!


Itu suara teriakan Agam yang disertai dengan suara pecahan dan benturan barang-barang yang sepertinya dibanting dengan keras. Agam mengamuk.


Raka dan dokter hanya menunggu di luar pintu kamar. Sementara Sara tetap tidak diijinkan masuk.


“Biarkan aku masuk ke dalam. Aku mohon, Raka. Biarkan aku saja yang temani dia. Dia bisa melukai dirinya sendiri kalau seperti itu,” pinta Sara terus menerus. Suara teriakan Agam yang terdengar cukup menyayat di hatinya, menyebabkan Sara semakin cemas dan takut, mendorong air matanya terus keluar.


“Maaf, Nyonya. Tidak boleh. Ini hanya akan membahayakan Nyonya.” Raka terus menahan Sara yang tidak berhenti mendorongnya untuk bisa masuk ke dalam. Teriakan Agam yang semakin keras tidak sedikitpun menyurutkan niat Sara untuk mundur.


“Aku nggak apa-apa. Biarkan aku masuk, Raka. Aku bisa menghadapinya.”


“Maaf, Nyonya. Maaf.”


“Arrgghhh!!!!”


PRANG!!!


BRAK!!!


Air mata Sara turun semakin deras seiring teriakan Agam yang juga tidak surut. Rasa sakit di hatinya mendengar teriakan Agam semakin lama semakin menusuk ketika dia menyadari tidak ada yang bisa dia lakukan selain menunggu di luar tanpa melakukan apapun.

__ADS_1


Mas Agam ...


__ADS_2