
[Sara]
Sara terus pandangi Vian dalam diamnya. Tatapan matanya jelas memperlihatkan ketidaksukaannya pada pada pria yang pernah menjadi pujaannya di masa lalu.
“Bagaimana keadaanmu sekarang? Mereka bilang ...”
Sara langsung memotongnya. “Langsung saja. Kamu mau apa ke sini?”
Vian tertawa kecil. Kedua tangannya masih tersimpan di saku celananya seakan tidak peduli sama sekali apa yang sudah dia lakukan pada Sara kemarin malam.
“Apa aku juga tidak boleh menengokmu?,” tanya Vian.
Sara memilih diam dan tidak menjawabnya.
“Jadi sekarang kamu membenciku?," tanya Vian lagi.
"Apa kurang jelas terlihat?”
Vian menghela napas panjangnya. Kemudian membuat dirinya menghadap ke pemandangan langit bebas di taman ruang terbuka itu.
“Kalau seandainya dulu aku nggak pergi, mungkin kita sudah menikah sekarang,” ucap Vian lirih berandai-andai.
“Jangan remehkan aku dan Mas Agam! Kalau Allah berkehendak mempertemukan kami, semua tetap terjadi meski kamu tidak menghendakinya,” hardik Sara dengan lantang.
Beberapa orang terlihat mengintip ke arah mereka, tapi kemudian pergi tanpa mau ikut campur.
__ADS_1
“Kamu percaya Allah yang mempertemukan kalian?,” tanya Vian sinis.
Vian kemudian berjalan menghampiri Sara. dia pegangi pegang kursi roda Sara dan mengguncangkannya.
"Aku, Sar!,” teriaknya. “Aku yang membuat kalian bertemu. Kalau aku nggak putuskan hubungan kita, kamu pasti masih tetap menungguku. Kamu tidak akan menikah dengannya meski dia menggodamu dengan uang. Iya, kan?”
Sara marah sekali. Tangannya mencengkeram dengan keras pegangan pada kursi rodanya. Kedua matanya terus mendelik menatap Vian yang sedang berdiri sangat dekat di hadapannya.
“Dia buta, dia pincang, dia tuli, tapi kamu masih mau menikah dengannya. Apa namanya kalau bukan karena uang?” Vian masih melanjutkan ucapannya yang sangat menyakitkan di hati Sara.
Tangan Sara spontan mengepal dan langsung meluncur ke arah Vian. Tapi Vian lebih cepat. Dia sudah lebih dulu mundur sebelum tangan Sara mengenainya. Kemarahannya yang sudah berada di puncaknya tidak kuasa menahan air mata yang keluar.
Vian kembali memandang ke arah lain, suaranya kini menjadi lirih. “Kalau seandainya dulu aku lebih memilihmu, kita pasti sudah hidup bahagia bersama dengan anak-anak kita. Kalau sudah begitu ...”
Vian menatap Sara saat ini. Tatapannya kini sendu. “... apa kamu yakin akan tetap berlari ke pelukannya?”
Mungkin benar begitu. Tapi ...
“Allah memberimu pilihan saat itu. Tapi kamu tetap memilih dendammu. Kamu sudah memilih pilihanmu sendiri.”
“Dendammu itu sudah menjadi racun bagi hatimu. Selama bertahun-tahun lamanya, kebencianmu sudah menjadi luka dalam dagingmu. Kamu merahasiakannya banyak hal dariku. Suatu hari, saat luka itu kembali menganga, kamu akan tetap berbohong padaku. Kamu akan semakin bebas melakukan apapun yang kamu lakukan tanpa sepengetahuanku. Aku bersyukur kamu pergi waktu itu. Setidaknya, aku sekarang tahu bagaimana kamu yang sebenarnya,” lanjut Sara lagi.
“Jangan bandingkan dirimu dengan Mas Agam. Kamu nggak ada seujung kuku pun darinya.”
“Kamu dulu juga memanggilku Mas. Kenapa kamu sekarang nggak pernah memanggilku begitu? Aku kangen kamu panggil Mas Vian, Sar,” ucap Vian memelas.
__ADS_1
Tapi Sara tidak memberikan tanggapan apa-apa. Dia hanya menghapus air matanya dengan kasar karena kemarahannya itu.
“Kamu tahu? Waktu Ava bilang kamu jatuh, aku panik bukan main. Tapi, Widia terus mengoceh bilang kamu pendarahan. Aneh. Dia terus berkata semoga kamu dan janinmu baik-baik saja.”
Vian kini kembali pada Sara. Dia mendekati Sara dan memegangi pegangan kursi roda Sara.
“Tapi, apa kamu tahu? Selama perjalanan ke rumah sakit ...”
Vian mendekatkan dirinya lebih dekat lagi dengan Sara. Sangat dekat hingga bisikannya pun terdengar di telinga Sara.
“... aku terus berdoa agar anak itu ... mati!”
“AAAHHH!!!”
Sara terus meneriakkan kemarahannya. Tangannya tidak berhenti memukuli Vian yang masih belum jauh darinya. Wajahnya kini kian memerah. Air matanya terus turun setiap kali dia menarik napasnya yang mulai berat. Sara menjadi sangat marah.
Vian kemudian menangkap tangan Sara dan menahannya dengan kuat agar tidak lagi bergerak. Dia lalu berkata, “Tunggu aku, Sar. Aku akan menyelesaikan semuanya dengan cepat. Lalu aku akan membawamu pergi dari sini.”
Sara kembali berteriak. Dia juga memukuli Vian berulang-ulang begitu kedua tangannya dilepas oleh Vian. Tapi kali ini, Vian mundur perlahan menjauh dari Sara.
Sara tidak peduli lagi dengan peringatan perawat yang tadi melarangnya untuk berdiri dan berjalan. Dia mencoba beranjak dari kursi roda.
“Non ... Jangan, Non ...” Mbok Jami datang menghalanginya. Dia langsung memeluk Sara.
Sara kemudian hanya bisa menangis meraung-raung dalam pelukan Mbok Jami.
__ADS_1
“Apa yang kamu lakukan pada Sara?!”
BUG!