
[Sara]
Sudah setengah jam lebih Sara terbangun. Tapi dia memilih untuk tetap berbaring sembari memandangi pemandangan paling indah sedunia menurutnya saat ini. Wajah teduh suaminya yang sedang tertidur.
Semalam, setelah mereka puas bernangis-nangisan, cerita mereka di kamar itu tiba-tiba berubah genrenya.
#
“Aku antar Mas ke kamar, ya,” ajak Sara ketika melihat Agam sudah mulai tenang.
Tapi Agam malah memegangi lengannya. “Kamu ... tidur saja duluan. Nanti aku keluar kalau kamu sudah tidur.”
Sara masih menawarkan untuk mengantarkan Agam, tapi tetap saja ditolak. Pada akhirnya, Sara menuruti keinginan suaminya itu.
Entah berapa lama Sara tak bersuara mencoba untuk tidur, tapi terlalu sulit mengingat Agam yang sedang duduk memperhatikannya.
Meskipun Agam tidak bisa melihatnya, tapi posisi Agam yang sedang duduk menghadap dirinya, mau tidak mau dia selalu berpikiran Agam sedang memperhatikannya.
Itu yang membuat Sara semakin sulit tidur. Semakin gugup.
Tak lama kemudian, Agam sudah tiba-tiba saja berpindah ke sampingnya. Dia memindahkan tubuhnya ke tempat tidur, lalu berbaring.
“M-mas, kok ...”
“Aku disini saja. Nanti kalau demammu naik lagi kayak tadi gimana?,” kata Agam.
“T-tapi, Mas ...”
“Tapi apa?”
“Mas sendiri kan sakit. Mas juga butuh istirahat.”
“Ya itu kan bagus. Kita bisa saling menja ...”
Kata-kata Agam tiba-tiba saja terputus. Dia sepertinya enggan untuk melanjutkan. Tapi Sara mengerti maksudnya.
“P-pokoknya, aku disini saja. Kamu tidur saja.” Agam mengkoreksi kata-katanya sendiri.
Sara tersenyum. “Kirain Mas mau ngobrol kayak biasanya.”
Agam yang tadinya hanya berbaring menghadap langit-langit kamar itu seketika sudah berubah posisinya menghadap Sara.
“Kita mau ngobrol apa?,” tanya Agam yang terdengar sangat sumringah.
Sara benar-benar tidak dapat menahan tawanya. Sangat menggemaskan di matanya.
Alhasil, sepanjang malam itu, mereka mengobrol sampai tertidur – entah siapa yang lebih dulu.
#
Tiga hari ini, aku menangis karena dia. Tapi semalam, aku tertawa juga karena dia. Rasanya seperti mimpi saja ...
Semoga kamu tetap bisa tersenyum seperti itu, Mas ...
......................
“Sara ... Sara ...”
Panggilan yang cukup keras datang dari luar dapur tempat Sara berada. Sara mengenali suara itu. Panggilan itu berasal dari Yuda.
Masalahnya, seingat Sara, Yuda dan Agam sedang berada di ruang kerja sejak mereka selesai sarapan.
“Iya, Mas Yuda?”
__ADS_1
“Sini, sini ... Aku butuh bantuanmu,” kata Yuda.
Bantuan?
“Oke, kamu disini saja. Jadi penerjemah,” kata Yuda begitu mereka berada di ruang kerja Agam.
Di dalam sana ada juga Agam dan Arya.
“Penerjemah ... apa?”
“Kamu isyaratkan omonganku ke Agam. Oke?”
Sara bukan tidak mau. Tapi ... “Apa nggak apa-apa? Aku kan ...,” kata Sara ragu.
“Nggak masalah. Daripada dia nggak ngerti kita ngomong apaan,” jelas Yuda yang terdengar agak kesal. “Salah sendiri ngamuk-ngamuk. Semuanya dibanting. Sekarang baru nyesel, kan?”
“Aku mungkin tidak dengar kamu ngomong apa. Tapi aku tahu kamu lagi jelekkin aku, kan?,” tukas Agam.
Sara tersenyum canggung. Nggak salah juga, sih ...
Sara melirik ke Arya sebentar. Pria itu malah mengulum senyumnya.
“Alat untuk Tania belum selesai. Jadi masih belum bisa dipakai. Untuk sementara ini, dia butuh kamu sampai alat bantu dengarnya selesai diperbaiki,” jelas Yuda sekali lagi.
“Tapi ... bukannya Mas Yuda bisa bahasa isyarat, ya? Kalau sama Tania biasanya isyarat bagaimana?,” tanya Sara. Dia hanya merasa tidak enak jika di antara mereka ada pembicaraan penting yang tidak perlu melibatkan dirinya.
“Aku megang dia? Hii ...” Yuda bergidik geli.
“Yuda tipikal cowok yang lain di hati lain di mulut, Mbak. Dulu mereka mesra banget, kok,” canda Arya menggoda Yuda yang langsung disambut dengan lemparan bolpen milik Yuda.
“Sembarangan! Bisa jatuh pamorku nanti,” sergah Yuda yang dijawab Arya dengan gelak tawanya.
Dan tak ada lagi alasan bagi Sara untuk menolak.
Agam mengangguk.
Sara pun bernapas lega. Mas Agam sepertinya tidak keberatan. Ya sudah kalau begitu.
Pagi itu, pembicaraan mereka ternyata adalah tentang hasil penyelidikan Yuda mengenai masalah yang menimpa Agam. Tentang bagaimana Widia meletakkan obbat itu di makanan yang dikirim Ibu.
Ibu yang saat itu ada jadwal cuci darah diantar jemput oleh supir kantor yang ditugaskan seperti biasanya. Seperti biasa, setelah dari rumah sakit, supir mengantarkan Ibu ke rumah.
Karena Sara tidak dapat datang mengunjungi Ibu di rumah sakit saat itu, maka Ibu menitipkan makanan untuk Agam melalui supir.
Ternyata supir tidak langsung menuju rumah Agam. Dalam catatan GPS nya, mobil yang dibawa supir masih sempat mampir ke sebuah tempat yang masih dalam rute yang biasanya diambil supir kalau ke rumah Agam.
“Mungkin janjian ketemu di jalan,” kata Yuda di sela-sela penjelasannya.
“Atau bisa jadi, dicegat di tengah jalan,” sela Arya.
Yang jelas, rekaman video CCTV di mobil menjelaskan supir itu bertemu dengan seseorang yang juga adalah salah satu pengawal Widia. Dan pada saat itulah, obbat itu dimasukkan.
“Tapi tidak menjelaskan apakah supir itu terlibat atau tidak,” kata Arya kemudian.
“Ya itu tugas kamu, Ar. Interogasi saja dia,” timpal Yuda setengah menggerutu.
Sara tertegun cukup lama memikirkan semua penjelasan Yuda. Rencana yang disusun cukup matang hanya untuk melukai seseorang.
Mama mungkin melihat ada celah dari makanan yang dikirimkan Ibu. Selama ini, Mas Agam selalu meminta aku menjauhkan Mama darinya. Apalagi, terakhir kalinya, aku minta Mama untuk berhenti membawa makanan atau barang-barang lainnya kemari. Cuma Ibu satu-satunya pintu masuk agar bisa mendekati Mas Agam.
“Ada apa? Kenapa diam? Kamu capek? Kalau capek istirahat saja,” tanya Agam dalam isyaratnya ke telapak tangan Sara.
“Aku nggak apa-apa, Mas,” jawab Sara berkilah.
__ADS_1
Sara memandangi wajah Agam yang masih bisa terlihat beberapa goresan luka di atasnya. Mungkin juga cakaran karena kemarahannya, atau tergores pecahan benda-benda yang berserakan.
Pantas saja dia selalu merasa ketakutan.
“Sara!”
Panggilan dari Agam mengagetkan dirinya, membuyarkan lamunannya.
“I-iya. Maaf ... Maaf ...,” kata Sara berulang-ulang mengucapkan kata maaf.
“Kamu yakin kamu tidak apa-apa?,” tanya Agam sekali lagi.
“I-iya, Mas. Tadi melamun. Maaf ...”
Pada akhirnya, Agam memilih untuk mengakhiri pertemuan itu. Yuda pun pulang setelah itu.
Tapi, sebelum keluar dari ruang kerja Agam, Arya mengatakan sesuatu.
“Tolong sampaikan pada Mas Agam, Mbak. Kalau Mas mau meneruskan ini ke jalur hukum, aku tidak akan menyalahkan Mas. Aku ikhlas. Memang sudah seharusnya. Soal Ava, nanti aku yang ngomongin dia.”
Tangan Sara tidak bergerak. Hanya terpaku di udara, di atas telapak tangan Agam. Masih tercengang dengan kata-kata Arya.
Arya juga pasti merasa sakit karena kebenaran ini. Tapi dia sangat menghormati Agam. Pasti dia juga sulit mengatakannya seperti itu.
“Ada apa? Kamu mau bilang apa?,” tanya Agam.
Sara pun mengatakan semuanya apa adanya di telapak tangan Agam.
“Hmm ...” Cuma itu reaksi Agam.
Sara bertanya kemudian, “Mas nggak ingin memprosesnya, kan?”
“Kenapa begitu?” Agam malah balik bertanya.
“Nggak mungkin seseorang menuduh orang terdekatnya jika tanpa bukti. Kalau Mas sudah punya bukti sejak lama, Mas seharusnya sudah memproses ini, apalagi sekarang. Mas hanya nggak ingin saja. Benar, kan?”
Agam tersenyum. Tapi kemudian, dia mengangkat tangannya setinggi kepala, lalu pelan-pelan mencari dan mendekati puncak kepala Sara. Dia membelainya.
Hanya itu. Agam tidak mengatakan apapun.
Tapi sentuhan lembutnya menyusuri rambutnya berulang-ulang justru membuat Sara tersipu. Kupu-kupu di perut dan dadanya seakan sedang berputar di dalam sana. Sara tertunduk malu, tapi senyumnya tak kuasa dia tahan untuk mengembang.
......................
Sara baru saja keluar dari kamar Agam selepas mengantarkannya untuk beristirahat setelah makan siang. Dari lantai atas, dia sudah mendengar suara familiar yang sudah lama tak didengarnya.
“Saya dengar katanya Agam sakit? Sekarang bagaimana?”
“Den Agam sudah mendingan, Nyonya. Tadi sudah mulai kerja.”
Sara mengenali suara itu. Bergegas dia turun untuk menyambutnya.
Dilihatnya Pak Pardi yang masuk melewati pintu ruang depan memasuki ruang tengah bersama seorang wanita anggun bernama Widia.
Tatapan mata mereka akhirnya bertemu. Tapi tidak seperti biasanya, Widia memasang wajah dingin ketika melihat Sara.
Berbeda dengan Sara yang masih tersenyum saat melihat Widia. Sara menyapa ibu mertuanya itu dengan menciumi punggung tangannya.
“Mama dengar, Agam sakit, ya? Sakit apa? Sekarang gimana?” Widia menanyakan banyak pertanyaan sekaligus pada Sara. Entah dari mana dia mendengar berita sakitnya Agam.
Tapi, bukan itu permasalahannya. Yang dipikirkan Sara adalah perubahan sikap Widia.
Apa ini? Apakah Mama sedang berperan sebagai mertua baik sekarang?
__ADS_1