
[Sara]
“Nisa? Nino?”
Sara kaget bukan main. Begitu dia melewati pagar rumah. Kedua bocah cilik itu tiba-tiba saja keluar dari dalam rumah. Mereka berlarian menyambut Sara yang tidak tahu-menahu kalau mereka akan datang hari ini.
“Mereka dari tadi nunggu kamu.”
Sara lebih terkejut lagi melihat Agam yang keluar dengan kursi roda miliknya. Kedatangannya seperti sedang disambut oleh suaminya sendiri.
Perasaan apa ini?
“Mas ... kok nggak telepon aku kalau mereka datang?,” tanya Sara setengah berbisik ketika dia mendekati Agam, menciumi punggung tangan suaminya seperti biasanya ketika dia baru datang dari luar. “Takutnya ngerepotin Mas.”
“Arya yang repot dari tadi. Dia yang mau bikin BBQ di halaman belakang.”
“H-hah? K-kok mendadak?”
Agam tersenyum. Dia terlihat tidak keberatan sama sekali.
“Ibu dan Mbak Mina sedang ngobrol di dalam sama Mbok Jami. Kamu tidak mau temui mereka dulu?”
“I-iya, Mas.”
Sampai lupa sama Ibu.
Teriakan Widia yang sejak dia keluar dari rumah utama terus terngiang di kepalanya seakan hilang begitu saja ketika Sara bertemu dengan Ibu. Memeluk Ibu seperti sedang mengusir suara-suara jahat di dalam kepalanya. Rasanya menenangkan.
“Ibu kok nggak bilang-bilang kalau mau kesini?,” tanya Sara sedikit merengut. Senang sih, tapi lebih banyak kagetnya. Jelas lah merengut.
“Loh, Mas mu ndak ngomong ta? (Loh, Mas mu tidak bilang?)”
Eh?
“Mas mu itu telepon Ibu tadi pagi , minta Ibu ke sini. Suruh ajak anak-anak juga. Jam 10 mau supire tekani jemput. (Jam 10 supirnya datang jemput)”
"Mas Agam?"
Ibu mengangguk.
Mas Agam ... yang suruh? Tapi Mas Agam nggak bilang apa-apa.
Siang itu, tidak banyak kata yang bisa Sara utarakan. Meski dia terkejut, dia menahan semuanya di dalam hati. Senang? Tentu saja. Tapi tentu saja terkejut.
Ingin bertanya pada Agam, tapi kesempatan itu tidak pernah datang. Semua orang seperti sedang sibuk menyiapkan acara yang katanya digagas oleh Arya. Sara tidak bisa pergi begitu saja tanpa membantu mereka.
Agam sendiri terlihat membaur bersama semuanya. Dia tertawa. Sungguh. Tawanya tulus, tidak dibuat-buat apalagi dipaksakan.
Aku lebih yakin kalau dia juga menikmati acara ini.
Anak-anak terlihat senang bermain. Arya melepaskan Milo di halaman belakang, membiarkan anak-anak bermain bersama anak kucing itu. Playground buatan Agam beberapa waktu lalu juga tidak luput mereka datangi.
Dari dua akhirnya menjadi tiga dengan kedatangan Evan yang katanya diajak oleh Arya. Dan lagi, Agam sepertinya tidak kaget ataupun keberatan.
Nikmati saja hari ini, Sara. Mungkin hari ini dia ingin menikmati semuanya.
Ya, mungkin saja begitu.
“Kau terlambat, playboy gila!”
Teriakan Arya mengagetkan semuanya, tidak hanya Sara. Semua mata – kecuali Agam – tertuju pada sosok pria yang baru saja melangkahkan kakinya di rumput halaman belakang.
Sosok pria itu adalah Yuda yang sedang menggandeng Tania bersamanya.
Dengan semua kejutan hari ini, Sara sudah tidak kaget lagi dengan kejutan yang ini.
Pasti Mas Agam atau Arya yang mengundang mereka.
Sara langsung menjemput Tania, mengajaknya berkumpul dengan anak-anak, membuat mereka saling berkenalan.
“Hai, aku Nino,” katanya berisyarat.
“Aku Nisa.” Nisa juga tidak mau kalah memamerkan kemampuannya berisyarat.
Hanya Evan yang diam tidak tahu harus apa.
“Kenalan, yuk,” ajak Sara.
Begitu Evan menganggukkan kepalanya, Sara langsung mengajarkannya sedikit pada bocah itu. Dia memang cerdas. Hanya butuh dua kali saja, dia sudah bisa menghafalnya.
“Aku Evan.”
__ADS_1
Sara tersenyum melihat tingkah mereka. Tania juga sangat senang dengan teman barunya.
“Kamu juga yang ajarkan mereka?,” tanya Yuda tiba-tiba seraya menunjuk Nisa dan Nino yang Yuda maksud dengan ‘mereka’.
“Iya,” jawab Sara. “Kadang ada yang ingin lebih dekat dengan mereka yang spesial, tapi tidak tahu caranya berkomunikasi. Aku mengajarkan mereka selain karena mereka ingin tahu, aku juga berharap kelak mereka bisa langsung menyapa tanpa takut karena tidak paham.”
Yuda tersenyum menatap Sara lekat-lekat. Sara hampir salah tingkah karena tatapan Yuda yang tak juga beralih darinya.
Kenapa dia terus menatapku seperti itu?
“Woi, playboy gila!,” seru Arya yang baru datang dari dalam rumah membawakan sekaleng soft drink untuk Yuda. Kaleng itu dilemparkan begitu saja ke arah Yuda. Dengan cekatan, Yuda langsung menangkapnya.
“Istri kakakku kau godain juga?!”
“Tolong pegangin sebentar,” kata Yuda seraya menyerahkan kaleng minuman itu ke tangan Sara.
Yuda langsung mendekati Arya, memiting kepala adik Agam itu.
“Aaww ... sakit! Sakit!”
“Sudah berapa kali dibilang, panggil Mas atau Kakak! Gam, adikmu ini perlu kelas tata krama kayaknya. Di US kebanyakan makan keju sih ya.”
Yuda terus memiting kepala Arya tanpa mempedulikan teriakan kesakitannya. Tangan Yuda yang lain memainkan tengkuk leher Arya yang sepertinya membuat Arya kegelian.
Agam sendiri hanya tertawa di bangku teras yang mejanya sudah siap dengan segala peralatan makan. Ibu dan Mbak Mina ikut duduk bersamanya dan menertawakan tingkah dua bocah gede yang sedang bergelut.
Di saat anak-anak menertawakan dua pria itu, Sara membawa Tania menjauh agar duduk bersama yang lain. Ibu langsung menyapanya dengan berisyarat begitu gadis cilik itu ada di dekatnya.
“Mas, mau minum apa? Aku ambilkan, ya,” tanya Sara menawarkan sesuatu ketika dia melihat tidak ada gelas minum di depannya.
Sara juga masih menunggu Agam menjawabnya, tapi kemudian tangan Agam meraih lengannya.
Deg!
Lonjakan kaget di dadanya terasa sekali tepat di saat Agam menyentuhnya. Mata Sara terus memandangi tangan Agam seakan tak percaya dengan apa yang dia lihat dan dia rasakan saat ini.
“Tidak perlu. Duduklah.”
Entahlah. Apa yang baru saja terjadi? Hanya karena Agam menyentuhnya. Tapi rasanya seperti sedang melayang di udara. Jantung dibuat berdebar tak menentu. Ini gila ...
Tiba-tiba saja suasana yang tadinya riuh dengan tawa kini semua terasa sunyi. Mereka terdiam.
Yuda bahkan melepaskan Arya dari cengkeramannya. Dan Arya langsung berdehem dan merapikan pakaiannya.
Mama ...
Sara langsung berlari menghampiri mertuanya itu. Dari dekat, Sara dapat melihat suasana hati Widia yang buruk. Dia terlihat tidak ramah sama sekali.
“Ma ...”
Widia hanya melirik sedikit ke arah Sara dengan tatapannya yang meremehkan, lalu pergi melewati Sara tanpa mau menatapnya lagi.
Sara menelan salivanya perlahan. Dia juga menutup kedua matanya. Sepertinya Mama membenciku.
Widia ternyata datang untuk menemui Arya. Karena itu yang dia lakukan saat ini, mendekati Arya.
“Mama mau bicara.”
Arya mungkin tidak ingin banyak keributan lagi. Karena sekarang Arya langsung berjalan ke arah rumah dengan diikuti Widia tanpa banyak babibu lagi.
“Mbak, duluan saja. Nanti aku menyusul,” begitu katanya sebelum masuk ke dalam rumah.
Dan lagi, ketika melewatinya, Widia sama sekali tidak mau menatap ke arah Sara.
Sara berbalik menatap semua yang masih terdiam dengan raut wajah penuh tanda tanya. Cemas, iya. Apalagi anak-anak. Mungkin karena melihat raut wajah Widia yang tidak ramah itu.
Terutama Ibu. Tatapannya terus ke arah Sara dengan penuh kegelisahan dan kekhawatiran. Sara hanya tersenyum membalas tatapan Ibu itu. Berharap Ibu berhenti khawatir.
“Yo! Mari kita mulai saja,” seru Yuda mencairkan suasana yang sudah terlanjut tegang.
Dan Sara segera ikut bergabung bersama mereka, membantu Yuda yang sudah berusaha agar mereka kembali ceria seperti tadi.
Entah apa yang mereka bicarakan di dalam sana. Setelah lebih dari 30 menit, Arya kembali. Tapi tanpa Widia.
Jelas, pasti sudah pulang.
Tapi Arya tidak menunjukkan apapun dari wajahnya selain senyum lebar. Seperti tidak terjadi apa-apa di antara dia dan ibunya. Seakan Widia tidak pernah datang sebelumnya.
Dan acara siang itu terus berjalan sampai malam. Tanpa ada lagi gangguan seperti tadi. Semua menikmatinya, semua menyukainya.
Hanya ada satu hal yang Sara pikirkan hari itu. Melihat semua orang tertawa menikmati kebersamaan siang itu, ini bisa jadi adalah hari terindah dalam hidup Sara. Sangat indah ...
__ADS_1
......................
Sara sedang merapikan beberapa bantal di tengah-tengah tempat tidur. Kebiasaan baru Sara sebelum dia akan tidur semenjak dia mulai tidur di kamar Agam.
Meskipun dia selalu terbangun dengan posisi yang pasti melewati pembatasnya sendiri, pada malam harinya, Sara pasti akan selalu membuat pembatas itu lagi. Kalau dipikir lagi, pekerjaan yang sia-sia sebenarnya.
Nggak, nggak akan sia-sia. Malam ini aku pasti akan tidur dengan benar. Ingat baik-baik, Sara! Kata orang kalau saat bangun diingat-ingat terus, saat mimpi pasti akan terbawa. Ingat itu, Sara!
Setidaknya, Sara merasa beruntung Agam tidak pernah terbangun saat Sara melakukan itu.
Agam sudah sedari tadi berbaring di tempatnya, memunggunginya seperti biasanya. Selama berhari-hari tidur dengan kebiasaan ini, Sara juga ikut terbiasa memandangi punggung Agam sesaat sebelum tidur.
“Sara ... sudah tidur?”
Suara Agam tiba-tiba saja sudah terdengar.
Dia belum tidur ternyata.
“Belum, Mas. Ada apa? Mas butuh sesuatu?”
“Tidak. Aku hanya ingin tahu apa yang Mama bicarakan dengan kamu.”
Ah, tentang aku yang ke rumah utama.
“Intinya masih sama. Mama khawatir sama Mas dan juga kangen sama Arya.”
“Apa yang kamu katakan pada Mama?,” tanya Agam lagi.
Sara menceritakan semuanya pada Agam. Tapi melewatkan bagian di mana Widia berteriak padanya sebelum Sara pergi.
“Kamu ... tidak apa-apa?”
Sara tertawa mendengar sebuah pertanyaan yang aneh datang dari seorang Agam. Dulu Agam tidak pernah bertanya seperti ini saat harus menghadapi Widia. Perintahnya jelas, Sara harus melawan Widia.
“Memangnya aku kenapa, Mas? Kan tugasku memang begitu,” jawab Sara dengan tawa kecil di sepanjang kalimatnya.
Kali ini Agam tidak lagi bertanya. Hanya diam.
“Tapi, aku minta ijin sama Mas untuk bisa ngobrol sama Arya soal permintaan Mama. Hanya ngobrol.”
“Hmm ...,” Agam mendengungkan suara hidungnya sebentar untuk menjawab pertanyaan Sara.
Lalu, hening kembali.
“Apa Mama melakukan sesuatu sampai membuat Ibu cemas?” Akhirnya, Agam bertanya kembali.
“M-mas tahu?”
“Sedikit.”
Apa Yuda atau Arya yang kasih tahu?
Sara teringat Ibu sempat bertanya pada Sara saat di halaman belakang tadi.
#
“Apakah kamu ada masalah dengan mertuamu?,” tanya Ibu ketika Sara menjawab pertanyaan Ibu yang penasaran tentang siapa wanita asing yang baru dilihatnya.
Sara yang duduk di sebelahnya, langsung kesempatan itu diambil Ibu untuk bertanya.
“N-nggak ada, Bu. Ada masalah apa to?” Sara malah balik bertanya.
“Tapi kok ngeliatnya begitu? (Tapi kok melihatnya begitu?)”
“Ah, mungkin cuma perasan Ibu saja. Nggak ada apa-apa kok, Bu.” Sara terpaksa berbohong lagi untuk menyembunyikan kebenarannya.
#
“Ibu cuma kaget. Mungkin karena Mama tiba-tiba muncul,” kata Sara lagi beralasan.
Percayai saja please, Mas
Setidaknya, Agam jadi berhenti bertanya.
“Terima kasih Mas sudah mengajak Ibu dan yang lainnya datang kemari.”
Tak ada jawaban.
Mungkin sudah tidur.
Tapi, tiba-tiba saja Agam bergerak, membalikkan tubuhnya agar menghadap Sara. Jelas saja, kedua mata Sara terbelalak lebar.
__ADS_1
Lagi, posisi mereka menyebabkan Sara dapat melihat dengan jelas wajah Agam tepat di hadapannya, di depan kedua matanya.
Kenapa tiba-tiba dia berbalik?