Cinta Itu (Tidak) Buta

Cinta Itu (Tidak) Buta
Part 46-2 : Hilang dari Pandangan (POV Agam)


__ADS_3

[Agam]


“Disini ruangannya, Den,” kata supir yang mengantarkan Agam ke suatu ruangan yang katanya adalah tempat Widia, sang mama tiri dirawat.


“Bapak yakin?,” tanya Agam memastikan.


“Iya, Den. Kata susternya tadi ruang Cemara VIP 3.”


Agam mengangguk.


Tok, tok, tok ... “Permisi, Nyonya. Ada Den Agam.”


Meski tidak ada jawaban, Agam meminta supir untuk mendorongnya melewati pintu saja. Sisanya dia lakukan sendiri.


Sepi. Seperti tak ada orang di sana. Tapi supir sempat mengatakan tadi kalau sang mama tiri sedang tidur.


“Ini aku. Agam.”


Terdengar suara gemerisik sprei. Tak lama kemudian, Widia mulai bersuara. “Agam? Kamu datang nengok Mama?”


Tak lama kemudian, tubuh Agam sudah didekap dengan hangat oleh Widia. Ya, Agam yakin itu Mama tirinya yang sedang memeluknya. Wangi parfum yang khas yang selalu digunakan oleh Widia.


“Kamu sudah nggak apa-apa? Kalau kamu nggak datang ya nggak apa-apa, Agam. Kamu katanya kan masih sakit,” kata Widia memberi perhatiannya.


Masih dengan suara yang lembut yang sering Agam dengarkan dulu.


“Katakan. Apa yang sedang Mama lakukan? Apa yang Mama inginkan?” Agam memutuskan untuk mengakhiri semua drama yang sedang dimainkan oleh Widia. Lebih cepat selesai, lebih baik.


“Kamu ngomong apa sih, Gam? Maksud kamu itu apa?” Widia melepaskan pelukannya dari Agam lalu bergerak menjauhi Agam.


“Aku tahu semua ini hanya sebagian dari rencana Mama. Menyalahkan Sara atas semua kesalahan yang Mama sendiri tahu apa itu. Menyerahkan semuanya pada Nyonya Indira hanya untuk memojokkan Sara. Siapa yang sedang Mama ancam? Sara atau aku?”


“Kamu kenapa sih, Gam? Mama sudah seperti ini kamu masih menyalahkan Mama? Sebegitu bencinya kamu sama Mama? Mama salah apa, Gam?” Widia hampir berteriak meluapkan semua emosinya.


“Mama yang menyebabkan aku menjadi seperti ini. CT-312 ... Aku yakin Mama tahu apa itu. Hanya Mama yang tahu soal ini. Tapi kenapa Mama membuatnya seakan-akan Sara tahu segalanya? Sara tidak tahu apa-apa!” Agam juga hampir terpicu emosinya.


“Dan kecelakaan 5 tahun yang lalu ... Itu juga Mama, kan?”


“Diam, Agam! Diam!!! Itu semua karena kamu! Kenapa kamu mengajak Papamu waktu itu. Dia seharusnya tidak ikut mobilmu!”


Benar. Dia mengakuinya.


“Kalau seandainya waktu itu Papamu tidak ikut, cukup kamu yang celaka, Agam! Bukan Wira!”


Ini dia. Kebenaran bertahun-tahun yang selalu aku tunggu dia katakan.


Sakit rasanya. Tapi memang itu yang Agam nantikan.


“Kalau seandainya hanya kamu yang celaka, Wira pasti akan menunjuk Arya jadi penerusnya!”


Widia mencengkeram bahu Agam dengan keras. “Semua gara-gara kamu, Agam! Karena Wira meninggal dia tidak sempat merubah surat wasiatnya. Kamu tetap menjadi penerusnya!”


Dengan keras pula, Widia menghempaskan cengkeramannya dari Agam.


“Jadi sejak itu Mama membenciku? Atau mungkin ... sebelum itu?”


“Sejak aku tahu Wira masih mencintai ibumu. Sejak itu aku cemburu. Sejak Wira lebih memberimu segalanya dibandingkan Arya dan Ava. Sejak itu aku membencimu, Agam!”


Agam mengepalkan jari-jemarinya.


“Jadi karena itu Mama menggunakan Sara untuk mengancamku. Agar aku menyerahkan NFC, benar kan?”


Terdengar tawa Widia yang pelan. Terkesan sinis. Tawa yang sinis.


“Dari dulu kamu memang anak yang cerdas, Agam. Aku akui itu. Dengan keterbatasanmu, kamu masih punya kemampuan untuk mengurus 2 perusahaan. Aku akui kamu punya kemampuan. Tapi ini bukan soal kemampuan, Agam. Ini tentang siapa yang akan menang dan siapa yang tidak.”

__ADS_1


Sejak kapan dia berubah menjadi seperti ini? Atau memang sejak awal begini?


“NFC. Aku akan berikan.”


Widia terdiam. Ruangan itu menjadi hening saat ini.


“Itu kan yang Mama mau?”


“Kamu benar-benar akan berikan NFC?”


Agam mengangguk.


“Bebaskan Sara. Aku akan berikan seluruh sahamku pada Mama.”


“Demi istrimu kamu rela melakukan ini semua. Tapi ketika aku memintanya, kamu bahkan tidak mau mendengarkan.”


“Dia tidak bersalah. Jangan libatkan dia.” Suara Agam semakin lama semakin lirih.


“Taruhanku ternyata tidak salah. Kalau kamu lebih mencintai istrimu, kamu pasti akan melepaskan NFC. Kalau kamu lebih mencintai NFC, kamu pasti akan membiarkan istrimu di penjara. Mama yakin kamu pasti akan memilih istrimu.”


Agam punya alasannya. “Aku tahu Mama punya rencana lain kalau seandainya aku memilih NFC. Dengan Sara di penjara, Mama masih bisa menggunakannya untuk menyerangku. Tapi, aku tidak mau Sara lebih lama lagi di sana. Mari kita selesaikan semuanya sekarang. Bebaskan Sara. Aku akan berikan semua yang Mama mau.”


Widia tertawa kecil. Lama-kelamaan menjadi tawanya menjadi keras dan semakin keras.


“Aku nggak menyangka akan semudah ini, Agam. Kalau aku tahu seperti ini, aku akan menggunakan cara ini dari dulu,” kata Widia dalam tawanya.


“Bukan hanya NFC yang aku lepaskan saat ini,” kata Agam. “Tapi, juga hubungan yang dulu Mama sebut dengan hubungan ibu dan anak.”


Widia terdiam.


“Mulai saat ini kita hanyalah 2 orang yang kebetulan saling mengenal. Anda adalah Nyonya Widia Kirana, dan aku adalah Tirtagama Wirasurya. Setelah ini apapun yang akan Anda lakukan, aku akan tidak akan diam. Aku pastikan Nyonya mendapatkan balasannya.”


Agam berbalik. Tanpa sepatah kata lagi.


Saat kursi rodanya menabrak sesuatu, dia tahu kursi rodanya sudah membawanya ke ujung ruangan itu. Dirabanya pintu kamar untuk menggesernya agar terbuka.


Agam terus menggerakkan kursi rodanya menjauh dari kamar itu hingga akhirnya berhenti seketika. Agam menghentikannya, menarik napasnya dalam-dalam. Entah mengapa, rasanya begitu lapang. Seperti baru saja melepas sebuah batu besar yang selama ini dia bawa.


Maafkan Agam, Pa. Tapi Agam ikhlas melakukannya.


Saatnya pulang, Sara.


Agam berniat mengambil ponselnya untuk memanggil supirnya yang dia perintahkan untuk duduk tidak jauh dari kamar rawat Widia. Tapi sebuah suara menghentikannya.


“Mas Agam benar-benar akan melepaskannya?”


Itu Arya ...


“Kamu mendengarnya?”


“Semuanya. Dari awal.”


Agam menghela napasnya. “Aku tidak ingin kamu mendengarnya. Aku menyesal kalau ternyata sekarang sebaliknya.”


“Kenapa Mas lakukan ini? Aku dan Yuda masih mencari cara untuk membawa Mbak Sara keluar.”


“Semakin lama kalian paksakan, kalian sendiri yang akan terluka. Aku tidak bisa membiarkan kalian terluka lebih dalam lagi.” Mendengar kondisi Yuda saat ini, Agam lebih khawatir apa yang dilakukan Widia akan menghancurkan sahabatnya itu dan ayahnya.


“Dan Mas masih memaafkan Mama atas semua yang Mama lakukan hingga hari ini? Kenapa tidak semuanya Mas beberkan?”


“Mama pernah mendonorkan darahnya untukku ketika aku kecelakaan saat umur 6 tahun. Anggap saja ini semua balas budiku. Dan sekarang, kita impas,” jawab Agam.


Arya kini terdiam. Mungkin dia bisa menerimanya.


Bersama Arya, dia pergi menjemput Sara, dan mulai memikirkan rencana yang akan dia lakukan selanjutnya.

__ADS_1


Menjelaskan kepada Arya itu mudah, tapi Yuda itu beda cerita. Karakter Yuda yang keras jelas tidak menyetujui keputusannya ini. Agam terus dimarahi saat pria itu datang ke rumahnya. Bahkan dari suaranya jelas terdengar kalau Yuda benar-benar marah.


“Aku akan cari caranya! Kenapa kau putuskan sendiri?,” bentak Yuda di ruang kerja Agam.


“Kalian sudah terpojok, Yuda. Bahkan ayahmu juga tidak bisa mengatasinya. Jabatan ayahmu dan mimpi-mimpimu taruhannya. Aku tidak mau bertaruh dengan itu,” jawab Agam tanpa emosi sedikitpun, bahkan rasa takut.


Mimpi Yuda adalah membangun perusahaannya sendiri tanpa bergantung pada nama besar ayahnya. Dia sudah mewujudkannya dengan susah payah, dan sekarang akan hancur begitu saja untuk melindunginya? Jelas Agam tidak bisa meneruskannya.


“Lalu bagaimana dengan mimpi-mimpimu? NFC mimpimu, Agam!”


“Apa yang akan kamu lakukan jika perusahaanmu tetap berdiri, tapi kamu harus melihat Tania terluka?”


“Kau!” Yuda mengerang kesal.


Benar. Kamu juga tidak akan sanggup melihatnya.


“Sekarang apa rencanamu?” Akhirnya, Yuda bisa tenang.


“Pergi.”


“Pergi??? Pergi lagi? Kemana kau akan pergi?” Emosi Yuda sudah kembali naik lagi, padahal belum lama dia tenang.


“Aku akan pergi memulihkan diriku sendiri. Mungkin memang seharusnya begini agar aku benar-benar bisa pulih.”


“Mbak Sara gimana? Ikut juga, kan?” Arya kini ikut bicara setelah sedari tadi terdiam menyaksikan perdebatan Agam dan Yuda.


“Jangan beritahu Sara. Aku akan pergi tanpa dia.”


“Kau akan meninggalkannya?,” tanya Yuda.


“Aku mungkin akan menceraikannya.”


“Mas ... Bicarakan dulu dengan Mbak Sara. Dia pasti mau menemani Mas memulihkan diri.” Agam yakin, Arya pasti tidak setuju dengan keputusannya.


“Aku yang tidak mau,” timpal Agam. “Dua tahun aku pergi, aku bahkan belum bisa pulih sepenuhnya. Dan sekarang aku berencana akan kembali jika sudah benar-benar pulih. Sara masih muda. Hidupnya sangat panjang dan sayang sekali jika dihabiskan hanya untuk menemani pria seperti aku.”


“Kau jelas mencintainya, Gam. Kau tahu kau sedang melukai dirimu sendiri?”


“Dan juga Mbak Sara.” Arya ikut mendukung pernyataan Yuda.


“Kita akan baik-baik saja setelah beberapa waktu berpisah.”


“Kau yakin?,” sindir Yuda.


Agam hanya diam. Dia juga tidak tahu.


Dia tidak tahu apa yang akan terjadi besok, tahun depan, beberapa tahun lagi, atau selama apapun itu. Dia tidak tahu.


Yang dia tahu saat ini adalah rasa berat yang harus dia hadapi dulu sebelum berpisah dengan Sara. Bagaimana bisa, jika ketika tidur pun, Sara bahkan tidak mau melepaskan pelukannya.


Sara memang sangat peka, Agam tahu itu. Jelas sekali kalau Sara bisa merasakan sesuatu yang aneh darinya. Pelukan ini contohnya. Sara seakan tahu kalau Agam akan pergi hari itu.


Tidak hanya di hati, bahkan untuk mengangkat tangan Sara agar melepaskan pelukannya juga terasa berat bagi Agam.


Setelah beberapa saat, Agam akhirnya benar-benar pergi. Tidak berani dia berikan ciuman selamat tinggal pada Sara karena takut membangunkannya dan malah akan membatalkan niatnya.


Yang dia lakukan hanyalah berkata lirih ketika akan meninggalkan kamarnya, “Aku mencintaimu, Sara.”


Lalu menutupi wajahnya yang basah karena air mata, ketika pintu kamar ditutup kembali saat dia sudah berada di depan kamar.


“Tuan ...”


Panggilan Raka terdengar lirih membuatnya menghapus air matanya, dan berkata, “Ingat pesanku. Kerjakan semuanya begitu aku pergi.”


“Tapi, Tuan ... Nyonya Sara pasti ...”

__ADS_1


“Lakukan saja pekerjaanmu.”


Agam pergi setelah itu. Raka mengantarnya tanpa banyak kata.


__ADS_2