
[Sara]
“Mas ...”
Sara yang baru saja datang membawakan Arya sepiring nasi goreng langsung menyentuh lengan pria itu. Arya seketika berhenti.
Seraya tersenyum, dia menggelengkan kepalanya ketika Arya menatapnya. Dengan bibirnya, Sara berkata tanpa suara yang keluar dari mulutnya, “Jangan sekarang.”
Arya menatap Sara sebentar, lalu mengangguk lemah, seperti anak kecil yang baru dilarang bermain di taman. Imut sekali.
Setelah Sara mengambilkan sepiring lagi untuk Agam – seperti permintaannya, suasana tenang saat sarapan di ruang makan tiba-tiba saja sudah pecah karena suara seseorang.
“Morning, Onty!”
Sapaan yang keras datang dari seorang anak laki-laki berusia 7 tahun. Anak laki-laki itu masuk ke ruang makan begitu saja seakan-akan sudah terbiasa melakukannya.
“Morning, Evan,” balas Sara menyapanya.
Ya, anak laki-laki itu adalah Evan, anak Ci Linda, istri eits ow en (HON) kompleks perumahan.
Semenjak hari itu, hari dimana Ci Linda datang membawa kue ucapan selamat yang berujung Evan tiba-tiba masuk dan terpesona dengan robot buatan Agam, Evan jadi semakin sering berkunjung ke rumah.
Awalnya hanya sekedar menyapa dari pintu pagar. Hingga satu saat, Evan terjatuh dari sepedanya tepat di depan rumah Agam. Karena itulah, Sara terpaksa membawanya masuk untuk mengobati lututnya yang terluka.
Sejak itu, Evan semakin sering datang. Bahkan kadang pergi dari rumahnya tanpa memberitahu asisten rumah tangganya. Mau bagaimana lagi, Evan adalah anak paling bungsu dari 3 bersaudara. Dua kakak laki-lakinya sudah menikah dan kuliah. Jadi kadang dia merasa kesepian di rumahnya, terutama saat kedua orang tuanya sibuk bekerja.
Tapi, karena semakin sering Evan ke rumah, para ART nya sudah tidak bingung lagi sekarang. Mereka tahu harus ke mana mencari.
“Evan nggak sekolah?,” tanya Sara. Evan biasanya datang di saat siang atau sore, kecuali hari Sabtu atau Minggu, hari biasanya dia libur sekolah. Karena hari ini bukanlah kedua hari tersebut, jelas aneh bagi Sara melihatnya pagi-pagi sudah ada di rumah.
“Libur, Onty. Morning, Om. Om, hari ini tumben banyak senyumnya.”
“Morning,” jawab Agam datar tanpa menanggapi pernyataan Evan yang lain.
Sara menahan tawa gelinya. Agam memang tidak terlalu bersahabat dengan Evan semenjak pertemuan pertama mereka di ruang kerja Agam yang di atas.
Yep, ruang kerja. Saat itu Sara selesai mengobati lutut Evan, dan bermaksud mengambilkan kue untuknya. Tapi, selepas dari pengawasan Sara, anak itu sudah hilang entah ke mana. Padahal waktu itu Sara mengobatinya di teras depan.
Ya memang dasarnya Evan adalah anak yang agak susah diberitahu. Evan masuk begitu saja meskipun Sara sudah memintanya untuk menunggu di depan.
Dengan alasan mencari si robot, rasa ingin tahu Evan membawanya hingga ke atas dan sampailah ke ruang kerja Agam yang saat itu tidak terkunci.
Tidak tahu apa yang mereka bicarakan, saat Sara menemukan Evan di atas lalu membawanya turun bersama Agam, selama itu Agam sudah terlihat kesal. Tahu-tahu Agam sudah bertanya, “Apakah menurutmu aku seperti kakek tua? Apakah aku sering cemberut?”
Sejak itu, sedikit banyaknya, Sara jadi tahu apa yang mereka bicarakan, dan selalu tidak bisa menahan senyumnya setiap melihat interaksi mereka.
Meski demikian, Agam tidak pernah memberikan perintah melarang Evan untuk datang. Dia hanya berpesan agar menjaga Evan tetap di lantai bawah. Bukankah itu artinya Agam tidak keberatan dengan kedatangan Evan?
__ADS_1
“Evan mau sarapan?,” tanya Sara lagi mengalihkan perhatian bocah itu dari Agam. Sara tidak ingin Evan terus menerus mengganggunya terutama dengan pertanyaan-pertanyaan polosnya.
“Roti! Evan mau roti, Onty!,” serunya kegirangan.
Sara langsung menyiapkan roti dengan selai coklat kesukaannya.
Sementara Agam dan Arya masih menikmati sarapannya, kedua mata Evan mulai menjelajah seluruh sudut ruangan seperti biasanya. Dan pandangannya berhenti pada Arya yang sedang menikmati nasi goreng buatan Sara.
Wajah Evan langsung berubah menjadi takjub. Seperti sedang melihat sesuatu yang luar biasa. Tapi, yang dilihatnya adalah Arya. Apa yang luar biasa dari Arya?
Telunjuk Evan diangkatnya perlahan menunjuk Arya yang sekarang menatap Evan balik tapi juga keheranan. Sara yang ada di antara mereka hanya bisa melongo melihat mereka berdua.
“Evan?,” panggil Sara berniat menyadarkan Evan.
“O-onty ... i-itu ... L-lolt d-dimon ...”
“Siapa?” Sara sampai mendekatkan dirinya karena suara Evan yang semakin tidak jelas.
Arya yang ditunjuk oleh Evan kini malah tersenyum sambil melambaikan tangannya. Agam? Dia malah santai saja menyantap sarapannya.
“D-di rumah i-ini ada l-lolt d-dimon ...”
“Hah? Evan!” Sara semakin tidak paham ucapan Evan. Karena itu, dia goyangkan sedikit bahu Evan. Dan reaksi bocah itu sungguh di luar dugaan Sara.
“AAAHH!! ADA LORD DEMON!!!
......................
“Mas mau sampai kapan senyam senyum terus?,” omel Sara yang kesal karena setiap kali dia melihat Agam, pria itu selalu sedang menyembunyikan senyumnya.
Sejak sarapan, sejak Evan yang ternyata sedang kegirangan bertemu dengan Arya, sejak itu Agam sepertinya suka sekali karena ketidaktahuan Sara hingga membuatnya kaget setengah mati karena kehisterisan Evan.
Evan ternyata adalah penggemar game battle arena (*), yang mana kebetulan juga Arya adalah pemain idolanya. Evan pernah melihat foto Arya di salah satu majalah lama milik salah satu kakaknya yang juga penggemar game.
Kebetulan macam apa ini?
“Mas! Udah, ih!”
Agam bahkan menunduk cukup dalam, tapi Sara masih bisa melihatnya. Pundak Agam bergetar karena menahan tawanya itu.
“Aku kan nggak tahu kalau ternyata Arya pernah jadi pemain game,” gerutu Sara membela dirinya.
Ternyata, Arya sering ikut kompetisi game seperti itu sebelum dia ke Amerika dulu. Dia sempat bercerita sedikit, meski malu-malu, sebelum naik ke atas bersama Evan.
“Wajar kalau kamu tidak tahu. Kamu kan tidak pernah main game seperti itu,” kata Agam akhirnya, setelah sedari tadi dia hanya tertawa.
“Terus yang Mas ketawain apa?”
__ADS_1
“Arya cerita ... waktu Evan teriak, kamu ... kaget sampai piringnya dibanting. Evan kira kamu marah ...,” cerita Agam di sela-sela tawanya yang pelan.
Pantasan, Arya langsung bawa dia main ke kamarnya.
Tapi, melihat Agam yang masih menertawai kejadian tadi rasa kesal seperti berangsur menghilang. Tawa Agam seperti sedang mendinginkan hatinya. Sejuk ...
Rasanya sejak tadi malam, Mas Agam jadi terlihat berbeda dari biasanya. Dia jadi semakin sering tersenyum dan tertawa. Seperti bukan Mas Agam yang aku kenal sejak kami menikah.
Bukan hal yang buruk. Tapi, semoga ini tidak berlangsung sebentar saja. Semoga Mas bisa terus tersenyum seperti ini.
“Ah, nggak tahu, ah!,” seru Sara berpura-pura marah. Senyumnya masih menghiasi wajahnya meski dia usahakan mengerut agar senyumnya itu tidak terlalu lebar. Lalu pergi meninggalkan Agam yang masih tertawa di ruang kerjanya.
......................
“Arya!,” panggil Sara seraya melambaikan tangannya agar Arya mendekatinya.
Arya yang sedang bermain dengan Milo langsung meletakkannya kembali ke dalam kandang, lalu mendatangi Sara. Begitu mendekat, Sara langsung menarik lengan pria itu ke ruang tengah.
“Setiap sore, Mas Agam selalu duduk di sana,” kata Sara seraya menunjuk Agam yang sudah berada di teras belakang. “Tolong temenin Mas mu, ya. Kalian bisa ngobrol di sana. Nanti kalau sudah gelap, ajak Mas Agam ke dalam.”
Wajah Arya langsung berbinar cerah sekali. Senyumnya mengembang sempurna. Bahkan tidak hilang kala Arya menganggukkan kepalanya berulang-ulang.
Sara turut tersenyum lebar sekali saat melihat Arya berjalan penuh semangat menghampiri kakaknya itu.
Semangat sekali ...
Dia masih berdiri di tempatnya memandangi keduanya yang kini sudah saling mengobrol. Agam di kursi rodanya, Arya duduk di kursi teras, bersama-sama memandangi halaman belakang yang berpadang rumput.
Hangat sekali rasanya melihat mereka berdua.
“Ah! Astaga ... harus nganterin Evan pulang,” serunya di tengah-tengah keasyikannya memandangi kedua kakak beradik itu.
Tapi langkahnya terhenti saat ponselnya berdering. Satu nama yang dikenalnya. Mama Mertua.
“H-halo, Ma ...”
“Besok datang ke rumah utama. Mama mau ngomong sama kamu. Penting.”
Panggilan itu berakhir begitu saja tanpa menunggu Sara menjawabnya. Kening Sara seketika berkerut.
Nada bicara Mama tidak seramah biasanya. Ada apa ini?
......................
Author’s Note :
(*) Game Battle Arena adalah sebuah sub-genre dari video game strategi yang bermula sebagai sub-genre strategi waktu nyata. Dalam permainan ini seorang pemain mengendalikan satu karakter dalam sebuah tim yang bertarung melawan tim pemain lainnya. Tujuannya adalah menghancurkan struktur utama tim lawan dengan bantuan unit-unit yang dikendalikan oleh bot komputer. (Wikipedia)
__ADS_1