
[Sara]
Entah sudah jam berapa sekarang. Ruangan tempat Sara duduk saat ini tidak ada jam dinding yang menggantung. Tidak juga jendela yang bisa memberinya tanda apakah ini sudah siang atau malam, atau mungkin malah subuh.
Air matanya terus jatuh satu persatu. Jika sudah begitu, lengannya dengan cepat menghapusnya. Tapi seakan tidak pernah ada habisnya, air mata itu terus turun.
KLAK!
Pintu ruangan itu terbuka perlahan. Agam masuk dengan dibantu Raka yang mendorong kursi rodanya. Mbok Jami dengan bawaan di tangannya mengikuti di belakang mereka. Pandangan Sara sudah mulai mengabur lagi karena air matanya kembali penuh.
Mbok Jami begitu masuk langsung meletakkan bawaannya di atas meja, lalu menyerang Sara dengan pelukan hangat. Mbok Jami menangis, begitu juga dengan Sara.
“Ya Allah, Non ... Sing sabar, cobaan Gusti Allah (Yang sabar, cobaan Gusti Allah).”
Cobaan yang sangat berat rasanya. Mungkin lebih berat dibandingkan saat Ayah meninggal.
“Aku minta Mbok Jami buatkan makanan untuk kamu. Makan dulu, ya.” Agam akhirnya ikut berbicara.
Sara memandangi suaminya itu. Terlihat jelas wajah lelah Agam. Entah apa saja yang sudah dilakukannya hingga terlihat lelah seperti itu.
“Kita makan sama-sama ya, Mas.”
Agam mengangguk.
Sementara Mbok Jami dan Raka menunggu di luar, Agam dan Sara menghabiskan waktu mereka bersama di dalam ruangan itu. Hanya berdua.
“Bukan aku yang melakukannya, Mas. Aku nggak mungkin melakukan itu,” tangis Sara di sela obrolan mereka selepas makan.
Agam yang duduk di hadapannya memajukan tubuhnya ke depan hanya agar dia bisa memeluk Sara.
“Aku tahu. Aku percaya itu bukan kamu.”
Agam semakin erat memeluk Sara. “Semua salahku. Maafkan aku, Sara. Maafkan aku.”
“Kenapa jadi salah Mas?,” tanya Sara.
“Aku curiga Mama yang melakukan ini. Tapi aku belum punya buktinya.”
Sara ikut mengeratkan pelukannya. “Aku nggak menyalahkan Mas. Ini bukan salah Mas.”
Benar. Kalau memang harus ada yang disalahkan itu berarti pelakunya.
Agam kemudian melepaskan pelukannya. Tangannya perlahan naik menyentuh wajah Sara. “Aku akan temukan caranya agar kamu bisa pulang. Aku janji. Bersabarlah, ya.”
Air mata Sara kembali jatuh. Mungkin juga mengenai tangan Agam yang menyentuh wajahnya. Kemudian dia menganggukkan kepalanya dengan cepat.
Tepat di saat itu, pintu terbuka kembali. Kali ini sosok Yuda yang dilihat Sara. Agam kini melepaskan tangannya dari wajah Sara, dan berpindah menggenggam erat tangan Sara.
“Kamu nggak apa-apa, kan? Bersabarlah sebentar, ya. Kita pasti akan temukan caranya untuk bisa mengeluarkan kamu dari sini. Kamu nggak bersalah,” kata Yuda yang jelas terasa rasa cemasnya.
“Aku juga berulang kali bilang begitu. Tapi mereka nggak percaya,” ucap Sara lirih. Dia bisa merasakan tangan Agam semakin mengeratkan genggamannya. Ajaibnya, perasaan kalutnya berkurang sedikit.
__ADS_1
Sara tiba-tiba saja teringat sesuatu yang membuatnya tak bisa tenang. Sesuatu yang dikatakan petugas yang menginterogasinya tadi bahwa dia akan mencari tahu dari keluarga terdekat Sara. Dan itu seketika menjadi mimpi buruk bagi Sara.
“Tolong Mas. Tolong jangan sampai mereka menanyai Ibu. Dia bisa sakit kalau sampai tahu. Jangan khawatirkan aku disini. Tolong agar Ibu jangan sampai tahu,” pinta Sara berkali-kali dengan air mata yang terus bercucuran.
“Jangan khawatir soal Ibu,” kata Agam yang masih menggenggam erat tangan Sara. “Yuda sudah mengatur semuanya. Ibu akan baik-baik saja.”
Sara langsung memeluk Agam. “Terima kasih, Mas. Terima kasih.”
Benar. Ibu lebih penting. Jangan sampai Ibu tahu soal ini. Aku akan bertahan di sini.
......................
“Masuk!,” perintah seorang petugas pria yang mengantarkannya ke sebuah sel untuk menampung mereka yang berhasil ditangkap.
Setidaknya ada 5 orang yang ada di ruangan yang tidak terlalu luas itu. Dam saat ini, mereka sedang memandangi Sara dengan tatapannya yang tajam. Seperti seekor rubah yang siap menerkam domba kecil yang saat ini sedang melangkah memasuki kandang mereka.
Di sinilah Sara akan tidur malam ini. Di sebuah sel sementara yang ada di kantor polisi itu, bersama 5 orang wanita yang sudah jelas adalah penjaahhaat yang sesungguhnya.
Sara tidak berani membalas tatapan mereka. Yang dilakukannya hanyalah menelan salivanya lalu terus menundukkan kepalanya. Pelan-pelan dia berjalan ke sudut yang kosong tanpa siapapun di sana. Itu pilihannya yang dirasa aman saat ini.
Dia baru saja duduk, dan seorang wanita dengan wajah galaknya sudah datang menghampirinya. Wanita itu duduk berjongkok di hadapannya .
Sudah sedekat ini, Sara tetap tidak mengangkat wajahnya untuk menatap kedua mata wanita itu.
“He! Sopo jenengmu? (Siapa namamu?),” kata wanita itu dengan gaya bicaranya yang terkesan kasar.
“S-sa ... r-ra ...” Sara yang gemetar menyebabkan suaranya yang lirih semakin tidak terdengar.
“Sopo?? (Siapa??),” tanya wanita itu lagi hampir berteriak. Sara mengira dia sedang membentaknya.
“Klambine apik. Wong sogeh iki. (Bajunya bagus. Orang kaya ini).”
“Ayu sisan. Mesti skinkere larang. (Cantik lagi. Skincare nya pasti mahal).”
Dan wanita pertama yang berwajah galak kini bertanya lagi, “Mari ngelakuno opo? (Habis melakukan (kejahatan) apa?)”
Sara tidak tahu harus menjawab apa. Kejahatan apa yang baru saja dilakukannya? Dia bahkan tidak bersalah.
“Ngalih, ngalih (Minggir, minggir).” Kali ini satu suara datang dari orang yang berbeda. “Ojo diganggu. Iki kancaku. Ngalih kabeh (Jangan diganggu. Ini temanku. Minggir semua).”
Seperti sebuah komando yang harus dipatuhi. Mereka semua bubar tanpa banyak omongan lagi. Kecuali wanita yang terakhir yang tadi datang melindunginya kini duduk di sampingnya.
“Namaku Jana. Aku orang suruhannya Pak Yuda,” bisik wanita itu sangat pelan. Dia sepertinya tidak ingin ada yang dengar. “Disuruh jagain kamu.”
Sara terkejut. Mas Yuda?
“Jangan khawatir. Ada 3 orang yang dapat perintah dari Pak Yuda. Satu, aku. Yang dua, polisi juga. Kerjanya di kantor,” kata Jana menjelaskannya dengan singkat.
“Mas Yuda b-bisa melakukan itu?” Sara bahkan tidak pernah tahu apa pekerjaannya Yuda. Tiba-tiba dia dapat informasi seperti ini. Jelas kaget.
“Ya tentu bisa. Bapaknya kan AKBP, tapi tugasnya di kota lain. Ya, tapi meskipun di kota lain, pengaruh keluarga Pak Yuda sudah ada dari jaman kakeknya dulu. Orang masih segan lah kalau dengar namanya.”
__ADS_1
Sara seketika takjub. Sebegitu hebatnya.
“Dah kamu tidur saja. Saya yang jaga. Sudah langganan keluar masuk sini. Jadi mereka segan kalau sama saya,” kata Jana lagi menggeser duduknya agak ke depan membelakangi Sara. Seperti benar-benar sedang melindunginya dari tatapan curiga wanita-wanita lain yang ada di sana.
“T-terima kasih, Mbak ...,” ucap Sara lirih.
Sara membaringkan tubuhnya. Dia menekuk lengannya sebagai pengganti bantal untuk menyandarkan kepalanya. Semenit dua menit dia mulai merasa otot-otot di sekujur tubuhnya mulai meregang. Tapi perasaannya masih terasa begitu pilu.
Sara menangis.
Pelan-pelan Sara merasakan ada sesuatu yang lembut menutupi tubuhnya. Ternyata Jana sedang menyelimutinya. Entah dapat dari mana selimutnya itu.
“Jangan terlalu putus asa. Mereka pasti sedang mencari cara untuk mengeluarkan kamu dari sini. Anggap saja ini cuma hari sialmu saja.”
Benar. Ini mimpi buruk. Mungkin setelah ini aku bangun dan mimpi buruknya selesai.
Sara memejamkan matanya, membiarkan tubuhnya menjadi terlalu santai hingga membuatnya terlelap.
Entah sudah berapa lama dia tertidur. Tapi dia merasa belum cukup lama. Karena saat dia sedang bermimpi bertemu Ibu, seseorang membuyarkan mimpinya itu.
“Hei! Ayo bangun! Cepat!”
Sara masih mengumpulkan nyawanya yang masih kocar-kacir karena rasa kagetnya itu. Jana, teman barunya masih duduk di dekatnya sembari menghalangi petugas yang menarik lengan Sara.
“Mau dibawa kemana, Pak?,” tanya Jana dengan suaranya yang keras.
“Diam! Kembali tidur semua!”
Dan semua orang yang ada di sana tidak ada yang berani bersuara.
Lengan Sara mulai terasa sakit saat ditarik pergi. Mau tidak mau, dia turuti keinginan petugas itu.
Tapi Jana masih belum menyerah.
“Pak, kenapa Bapak yang bawa dia? Petugas wanitanya mana?”
PLAK!
Petugas itu baru saja menampar Jana. Sara langsung terkesiap.
“Saya bilang diam ya diam! Jangan ikut campur!”
Jana mau melawan, tapi Sara menggelengkan kepalanya. Lebih baik jangan daripada nanti dia yang akan terluka.
Jana melihatnya dan dia sudah mengurungkan niatnya. Meskipun raut wajahnya terlihat seperti sedang memerangi batinnya.
Sara dibawa ke suatu ruangan yang tidak dia kenali. Agak jauh di belakang dari tempatnya tadi diperiksa, kalau Sara tidak salah ingat. Di ruangan yang gelap tanpa cahaya, Sara dibiarkan sendirian di sana.
Tidak ada yang bisa Sara lihat. Ruangan itu tanpa jendela. Satu-satunya cahaya yang terlihat hanyalah berasal dari sela-sela pintu. Langkah kaki orang-orang yang riwa-riwi di depan ruangan itu setidaknya membantu Sara sedikit lebih tenang. Berarti aku masih di dalam kantor polisi, bukan di tempat lain.
Sara meraba dinding ruangan itu dan duduk dengan bersandar pada dinding. Kakinya dia tekuk dan peluk erat-erat, meredakan rasa dingin yang saat ini begitu menusuk. Entah karena rasa dingin di ruangan itu atau karena perasaan tegangnya sendiri.
__ADS_1
Ibu ... Mas Agam ...
Hanya itu yang bisa Sara lakukan saat ini. Membenamkan kepalanya di kedua kakinya, lalu memanggil 2 orang yang dia kasihi dalam tidurnya.