
[Sara]
Sara memperhatikan gagang pintu itu tanpa tombol sandi di sekitarnya.
Kenapa tidak ada tombol sandinya disini?, teriak Sara dalam hatinya.
Tentu saja tidak ada. Yang butuh tombol sandinya kan untuk yang masuk ke dalam. Untuk Agam yang akan keluar, dia hanya perlu kursi rodanya.
Tidak, tidak ... Cari cincin dulu. Baru pikirkan jalan keluar.
Sara berbalik memandangi Agam dan seluruh sudut kamarnya. Dari mana dia harus mulai?
Kalau tadi aku berdiri di tengah situ, mungkin saja jatuhnya ke kolong nakas.
Sara mendekati nakas. Merendahkan tubuh dan kepalanya untuk melihat dasar nakas. Sayangnya terlalu gelap, meski lampu kamar Agam menyala. Dan sialnya lagi, dia meninggalkan ponselnya di ruang kerja. Karena panggilan Agam tadi, dia harus terburu-buru mendatangi Agam.
Seketika, ide mendatanginya.
Ya! Pindahkan nakasnya. Baru bisa kelihatan. Sepertinya nggak berat, begitu pikirnya.
Sara memastikan dulu apa yang sedang Agam lakukan saat ini. Takutnya sedang berpindah ke tempat lain di dekatnya. Dia berbalik dan mendapati Agam sedang melepas kancing kemejanya yang sudah di kancing ketiga.
Astaghfirullahaladziim, Sara! Tutup mata!
Dengan gerakan cepat, kedua tangannya sudah bergerak naik dan menutupi kedua matanya. Telinganya dicondongkan ke depan, entah apa yang mau dia dengar.
Dari sela jari kelingking dan jari manisnya, Sara mengintip dan ingin mengetahui sudah sampai mana Agam sekarang? Dan yang dilihat sungguh di luar dugaannya.
Agam berdiri!
Jantung Sara tidak berhenti mengeluarkan suara gemuruh. Semakin kencang, semakin cepat. Kedua tangan Sara kali ini berpindah ke mulutnya, menutupinya agar tidak bersuara. Lalu kemudian menyadarinya.
Dia tuli, Sara! Alat bantu dengarnya sudah dilepas!
Meski dengan jalan yang tidak normal, dan masih berpegang pada hand railing yang dipasang pada dinding, Sara dapat melihat dengan jelas, Agam sedang berdiri.
Dengan jalan yang tertatih, Agam memasuki kamar mandi yang ada di kamar itu. Agam hampir terjatuh sekali. Sara sudah refleks menggerakkan kaki dan tangannya untuk membantu. Tapi kemudian ditariknya kembali, karena melihat pria itu kembali bangkit dan berjalan kembali dengan berpegangan pada railing.
Dan akhirnya, Agam sudah di kamar mandi.
__ADS_1
Sara langsung bergerak. Memindahkan nakas ke samping tanpa menyeretnya. Khawatir cincin itu ikut tergeser juga.
Tidak ada!
Sara langsung melotot memandangi lantai kosong tanpa ada apapun di sana. Dia juga memandangi sekelilingnya dengan nakas yang masih di tangannya. Tapi tetap tidak ada.
Dimana cincin itu??
Nakas itu akhirnya dikembalikan ke tempatnya. Sara juga masih sempat memastikan sekali lagi nakas itu tidak bergeser dari posisi sebelumnya. Lalu kemudian, misi pencariannya dimulai lagi.
Sara mencari di bawah tempat tidur Agam. Memaksa kedua matanya untuk bekerja ektra keras melihat apa yang ada di sana. Dia juga menempelkan salah satu sisi wajahnya ke lantai, agar bisa melihat siluet yang menonjol saat dia melakukan itu. Tapi nyatanya, di tempat itu bersih sebersih-bersihnya.
Sara kemudian terduduk memunggungi tempat tidur. Keningnya sudah penuh dengan biji keringat meski AC di kamar Agam menyala sedari tadi. Dia sudah kelelahan. Lelah mencari dan juga lelah karena terlalu tegang.
“Jatuh dimana cincinnya?,” cicit Sara.
Setelah mengatur napasnya, Sara kembali bangkit. Kali ini dia tidak lagi menghitung perkiraan jatuhnya cincin itu. Dia mulai mencari dimana saja yang bisa dilihatnya. Bahkan mencari kembali ke bawah kolong tempat tidur dan nakas, berharap mungkin tadi dia terlewat sesuatu.
KLAK!
Pintu kamar mandi terbuka. Dengan sigapnya, Sara langsung berdiri. Mulutnya menganga memandangi Agam yang keluar dari kamar dengan handuk di pinggangnya. Memperlihatkan dada bidang pria itu yang putih bersih tanpa noda.
Sara langsung merunduk bersembunyi di samping tempat tidur. Lalu, mengintip pelan-pelan.
Agam kini sudah duduk di kursi rodanya. Dengan beberapa kali tekan pada pegangan kursi rodanya, dia kini bergerak, dan berhenti tepat di depan lemari.
Dengan berpegangan pada pegangan kursi roda, lalu memegangi railing yang juga terpasang pada pintu lemari, Agam berdiri kembali.
Begitu melihat tangan Agam bergerak pada bagian perutnya, Sara langsung merunduk dengan cepat di balik tempat tidur.
Dug, dug, dug, dug ...
Jantung Sara tidak berhenti berdegup dengan cepat. Semakin lama, degupnya semakin terdengar hingga ke telinganya. Seperti suara bedug yang ditabuhkan berulang-ulang dan tanpa henti.
Ya Allah, tolong kuatkan jantungku.
Sara mendengar suara gerak kursi roda Agam. Dia mengintip lagi dan dilihatnya pria itu sedang menuju nakas dimana dia meletakkan alat bantu dengarnya. Tangannya meraba bagian atasnya hingga benda itu ditemukan.
Begitu selesai memasangkannya, tangan Agam mulai bergerak pada pegangan kursi rodanya. Dan ...
__ADS_1
KLAK!
Dibuka! Pintunya dibuka lagi!
Tapi ... Cincinnya ...
Dilema itu datang lagi. Antara cincin atau segera keluar dari sana.
Tapi ini mungkin adalah kesempatan terakhirnya.
Dengan berat hati, Sara akhirnya berdiri. Dia memilih untuk keluar dari sana.
Dengan cepat tapi tetap perlahan tanpa suara, Sara berjalan di belakang Agam yang sudah bergerak menuju pintu. Dia menelan salivanya dengan keras setiap kali pandangannya beralih dari punggung Agam ke pintu kamar. Ketegangan yang dirasakan karena akan segera keluar dari sana sungguh tidak dapat ditahannya.
Begitu dia melewati pintu, Sara langsung melompat keluar berlawanan dengan arah Agam yang hendak menuju tangga untuk turun. Dia langsung terduduk dengan bersandar pada dinding, dan mengambil napas dengan cepat hingga terengah-engah.
Kursi roda Agam tiba-tiba saja berhenti.
Sara langsung menutupi mulutnya. Dia tahu itu pasti karenanya. Dan benar saja, Agam mulai mencondongkan telinganya ke arah belakang.
“Mbok?”
Sara menutup kedua matanya dengan keras. Menahan napasnya dalam tangannya sambil terus berdoa dalam hati.
Pergi! Buruan pergi! Pergiii!
“Mungkin salah dengar,” ucap Agam lirih, lalu kursi rodanya kembali bergerak.
Sara masih membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangannya. Dia menunggu hingga Agam benar-benar sudah tidak tampak lagi di sana. Begitu Agam berbelok, dan memperkirakan sedang menuruni tangga, barulah Sara melepaskannya.
“Hhhaaahh ... ya Allah ...,” ucapnya lirih dengan napas yang hampir putus.
Semenit setelah Agam turun, napas Sara baru mulai teratur, dia teringat kembali.
Makan malam!
Sara kembali bangkit dan berlari ke bawah. Dia masih punya tugas satu lagi, yaitu menyiapkan makan malam untuk Agam.
Sepertinya, Sara baru bisa tenang saat Agam sudah tidur.
__ADS_1