Cinta Itu (Tidak) Buta

Cinta Itu (Tidak) Buta
Part 25-2 : Perdebatan Suami Istri (POV Agam)


__ADS_3

KLAK!


Begitu Agam mendengar suara pintu kamarnya ditutup, dia tahu Sara sudah berada di kamarnya. Seketika itu juga Agam dapat mendengar jantungnya berdetak dua kali ... tidak, tidak, ... lima kali lebih cepat dari biasanya. Iya, lima kali.


Dug, dug, dug ...


Rasanya seperti sedang berada di dalam bedug yang sedang dipukul dari luar. Keras sekali.


Sedang apa dia? Kenapa tidak ada suaranya?


Agam yang sudah terduduk di atas tempat tidurnya sedari tadi menjadi begitu gelisah karena tidak dapat mengetahui apa yang sedang Sara lakukan saat ini. Ingin rasanya dia memanggil nama gadis itu, tapi dia juga takut disangka sedang menunggunya, membuatnya terlihat seperti orang mesum yang sedang menantikan saat-saat seperti ini.


Jadi apa yang harus aku lakukan sekarang?


“M-mas ...”


Akhirnya, Sara yang mulai bicara duluan.


“Ada apa?,” jawabnya setenang mungkin. Jangan sampai dia tahu aku juga gugup.


“A-aku tidur di lantai saja, ya.”


“Apa?!”


“N-nggak apa-apa, Mas. Di rumah juga aku biasanya begitu sama Nisa dan Nino. N-nanti aku pakai alas selimut,” ucap Sara yang jelas sekali terdengar gugup.

__ADS_1


Agam memijat pelipisnya, meredakan rasa kesalnya yang sebentar lagi berubah menjadi amarah.


Dan dimulai lagi ...


“Dengar, Sara. Aku jelas tidak mungkin bisa membiarkan kamu tidur di lantai. Tapi, kalau kamu tetap ngotot, biar aku yang di bawah, kamu tidur di sini,” kata Agam sembari mulai mengangkat kakinya untuk diturunkan ke bawah.


“J-jangan, Mas! Jangan! K-kenapa jadi Mas yang di bawah? Kan ini kamar Mas. Lagian nggak mungkin juga aku biarin Mas tidur di bawah.” Sara terdengar semakin gugup.


“See? Kita sama-sama tidak bisa melihat salah satu dari kita tidur di lantai. Jadi, kenapa kamu tidak diam saja, dan tidur? Tidak perlu bersuara, tidak perlu menoleh kanan kiri, dan anggap tidak terjadi apa-apa. Okay?”


Aku di sini juga gugup, tapi aku masih harus menenangkan orang lain. Cobaan apa ini, Tuhan?


“O-oke ...,” jawab Sara lirih.


Pelan-pelan, Agam merasakan tekanan pada sisi tempat tidurnya yang lain. Sara sepertinya mulai menurut. Syukurlah.


Tapi, ternyata tidak ...


“B-bantal-bantal ini adalah pembatas,” kata Sara seperti sedang merapikan sesuatu di atas tempat tidurnya, di tengah-tengah mereka. Bantal-bantal itu yang mungkin sedang dia letakkan di sana. “M-mas dilarang melewati pembatas ini.”


Ya Allah, apa lagi ini?


“T-tapi, aku tidur nggak makan banyak tempat, kok. Jadi biar jatah tempatku segini saja, ya,” kata Sara lagi seraya memindahkan bantal-bantal itu lebih dekat dengannya, memberikan tempat yang lebih luas untuk Agam, sedangkan untuk dirinya sendiri, dia hanya menyisakan sedikit saja.


Agam mulai gemas. Ingin rasanya dia melempar bantal-bantal itu, tapi urung dilakukannya.

__ADS_1


Agam meraba tempat tidurnya, mencari bantal-bantal itu di atasnya lalu memindahkannya agak ke tengah. Setelah itu, dengan nada rendah tapi tegas, dia berkata, “Sara, tidur!”


"T-tapi, Mas ..."


"Sara!"


“I-iya ...”


Sara bergerak sekali, mungkin sedang membalikkan tubuhnya, entah sedang menghadap atau membelakangi dirinya.


“Mas ...”


“Apa lagi, Sara?,” tanya Agam gemas.


“S-selamat tidur ...”


Suara Sara yang lembut seketika melunakkan rasa kesalnya. Seluruh otot di tubuhnya tiba-tiba saja menjadi tidak setegang tadi. Ucapan Sara itu seperti sedang menyihirnya hingga membuatnya luluh.


“Selamat tidur, Sara ...,” ucapnya lirih, selirih mungkin.


......................


Tidak banyak makan tempat, ya?


Agam kaget bukan main hingga membangunkannya ketika sebuah tangan tiba-tiba saja mendarat dengan keras tepat di kepalanya. Belum lepas kagetnya, tangan Sara yang lain ikut mendarat di tubuh Agam. Kini, Sara seperti sedang memeluk Agam.

__ADS_1


Ya Allah ... Kau tidak sedang ingin membunuhku, kan?


__ADS_2