
[Sara]
“Aura macam apa ini?,” sapa Yuda begitu dia memasuki ruang tengah dan mendapati Sara yang sedang mendorong kursi roda Agam ke ruang makan.
Sara yang begitu melihat raut wajah bergidik Yuda saat menatap dirinya dan Agam malah mengeluarkan tawa kecilnya. Sara tahu maksud Yuda.
Begitu memasuki ruang tengah, Yuda pasti tak sengaja melihat Agam yang tersenyum tanpa henti sejak mereka turun dari atas. Agam yang jarang tersenyum tentu akan membawa kesan aneh bagi seorang Yuda.
“Apa ini? Bunga di mana-mana. Baunya menyengat,” kata Yuda lagi seraya mengipasi udara di sekitarnya seakan sedang mengusir bau tak sedap – yang padahal tidak ada –, lalu menutup hidungnya.
“Berisik kau, Yuda. Ini masih pagi,” timpal Agam yang sudah terlihat kesal sejak pertanyaan Yuda yang pertama.
Oh, Tuhan. Ini nggak akan selesai seharian.
“Ookeee ... Bubar! Kita sarapan saja. Okay, boys?,” kata Sara seperti sedang bicara dengan anak-anak laki-lakinya. Dia mendorong kursi roda Agam langsung menuju ruang makan dengan diikuti oleh Yuda tanpa bantahan sedikitpun dari mereka berdua.
Tapi, baru saja melangkah, Sara sudah melihat Arya turun dengan terburu-buru. Sepertinya mau pergi.
“Arya nggak sarapan?,” sapa Sara bertanya pada Arya yang terlihat khawatir. Terlihat jelas dari raut wajahnya.
Apakah terjadi sesuatu?
“Nggak, Mbak. Aku mau ke rumah sakit sekarang. Mama sakit.”
“Mama sakit?” Agam kini menyusul Arya menjadi cemas dan khawatir mendengar berita itu.
Benar juga. Mau semarah seperti apapun, Agam tetaplah Agam. Dia tidak bisa untuk tidak khawatir pada ibu tirinya itu.
“Iya, Mas. Aku baru dapat telepon. Tapi aku nggak tahu sakit apa. Sepertinya sulit dijelaskan. Aku langsung ke sana, ya,” jawab Arya.
“Iya, kamu kabari di mana rumah sakitnya, ya. Aku menyusul setelah ini.”
“Aku ikut ya, Mas?” Sara juga tidak mau diam begitu saja. Selama dia masih menikahi Agam, Widia tetaplah ibu mertuanya.
Aku harus pergi meskipun aku tidak menyukainya. Setidaknya, sebagai manusia juga harus peduli pada orang lain, kan?
Sara sudah akan memutar kursi roda Agam kembali ke kamarnya untuk bersiap. Tapi kemudian, Pak Pardi masuk memberitahu sesuatu.
“D-den ... a-ada tamu. P-polisi.”
Sara langsung berbalik. Tiga orang pria berbadan tegap dengan seragam coklatnya lengkap dengan atributnya. Jelas bukan penampilan tiruan yang menandakan mereka adalah polisi asli.
__ADS_1
“Selamat pagi. Kami dari Polda Jawa Timur dengan membawa surat perintah untuk bisa membawa Nyonya Ashara Revalina bersama kami,” kata salah satu dari ketiga pria berseragam itu.
Kedua mata Sara langsung terbelalak lebar. Salivanya begitu sulit melalui saluran tenggorokannya. Jantungnya sudah merasakan sebuah dentuman yang begitu keras ketika mereka mengatakan akan membawanya. Ada apa ini?
Yuda yang berdiri di samping ketiga orang itu langsung meminta surat perintah itu untuk dilihatnya.
Sedangkan Arya yang tidak jadi pergi, kini malah mengerutkan keningnya kala menatap ketiga pria itu.
Sementara Agam ... suaminya itu langsung memutar sendiri kursi rodanya sementara Sara masih terpaku gelisah memandangi ketiga pria itu.
“Kenapa membawa istri saya?,” tanya Agam dengan nada tegasnya.
“Nyonya Ashara saat ini menjadi satu-satunya tersangka dalam kasus keraaccunan makanan di kediaman Nyonya Widia Kirana kemarin.”
Keraaccunan ... makanan ...?
Salah seorang pria yang lainnya maju ke depan dan ikut bertanya, “Apakah benar Nyonya kemarin memasak seluruh hidangan dalam acara tersebut?”
Sara tidak bisa mengelaknya. Memang hanya dia satu-satunya yang memasak kemarin. Hatinya langsung terasa berat. Dia menganggukkan kepalanya.
“Ada sekitar 15 orang korban saat ini sedang dirawat di rumah sakit dan semuanya melaporkan Anda.”
Tangan Agam kemudian bergerak mencari Sara. Melihat itu, Sara mendorong tangannya mendekati tangan Agam.
Agam langsung membuka telapak tangan Sara, dan berisyarat, “Jangan takut. Aku akan mengirimkan pengacara untuk mendampingi kamu.”
Sara mengangguk lemah. Dia masih terkejut dengan semua yang terjadi di pagi itu.
Dia kemudian membalas isyarat Agam, “Tolong jangan beri tahu Ibu, Mas.”
Agam mengangguk. Kedua tangan Sara akhirnya dilepaskan, meski Sara sendiri merasa Agam juga berat melepasnya.
Yuda kemudian datang mendekatinya dan berbisik, “Jangan katakan apapun sebelum pengacara datang. Kamu pasti akan keluar dari sana.”
Sara mengangguk lagi.
Kali ini Arya yang datang mendekat. “Mbak jangan khawatir, aku akan bantu Mas Agam pikirkan jalan keluarnya.”
Untuk ketiga kalinya, Sara mengangguk lagi.
Sara masih sempat berbalik menatap trio anak laki-lakinya yang saat ini sedang menatap cemas dirinya. Entah apa tujuannya, dia juga tidak paham, tapi Sara paksakan senyumnya, lalu mengangguk sekali sebelum dia benar-benar pergi mengikuti polisi-polisi itu.
__ADS_1
Begitu Sara menaiki mobil yang akan membawanya pergi dari rumah, hati Sara mulai berdenyut sakit.
Semoga aku akan baik-baik saja ...
......................
Sudah hampir 2 jam ini Sara berada di sebuah ruangan kecil yang hanya ada sebuah meja dan beberapa kursi di sekelilingnya. Pengacara yang dikatakan Agam datang beberapa menit setelah dia tiba di kantor polisi. Dan Sara sudah langsung menjalani pemeriksaan dengan ditanyai banyak pertanyaan yang membuatnya sudah merasa seperti seorang penjahat.
Kedua tangan Sara saling menggenggam untuk menghentikan gemetar yang sedari tadi melandanya. Dia ketakutan.
#
“Jadi Nyonya sendirian yang memasak? Tidak dibantu siapapun?,” tanya seorang pria tinggi berkemeja putih. Tatapannya begitu tajam hingga terasa menusuk, memandangi Sara seakan-akan sudah yakin benar bahwa Sara adalah pelakunya.
“Iya saya sendiri,” jawab Sara gemetar.
“Kenapa tidak mau dibantu? Yang dikerjakan itu banyak. Nggak kewalahan? Atau memang sudah direncanakan?” Sudah kesekian kalinya, pria itu menanyakan pertanyaan yang sepertinya dia sendiri sudah yakin jawabannya.
“Cukup! Ini sudah berapa kalinya Anda seperti ini pada klien saya? Kan sudah dijelaskan, mertuanya yang minta dia untuk di dapur sendirian karena yang lain sedang sibuk.” Dan sudah kesekian kalinya juga pengacara yang duduk di sebelahnya memarahi pria itu.
Pria itu mendengus sinis, lalu menyeringai. “Anda bisa mengelak terus. Tapi video ini tidak akan bisa bikin Anda lari dari dosa Anda.”
Diputarnya laptop menghadap ke arah Sara. Dengan menekan sekali tombol enter, video itu akhirnya terputar.
Sebuah video rekaman CCTV yang terpasang di dapur. Seorang perempuan yang menurut penglihatan Sara itu seperti dirinya. Tapi gerak-geriknya membuat Sara yakin, perempuan itu bukan dia.
Pada satu detik tertentu, terlihat perempuan itu menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu mengambil sesuatu dari saku apronnya. Begitu dikeluarkan, gerakannya seperti membuka sesuatu yang mirip sebuah botol kecil, lalu dituangkan ke dalam panci masakan.
Selanjutnya, perempuan itu menutup botol kecil itu, lalu memasukkannya kembali ke dalam saku apronnya. Dia kembali memasak, mengaduk-aduk panci masakan yang baru saja dimasuki sesuatu.
Sara menutupi mulutnya yang menganga kaget menyaksikan video itu.
“Itu bukan saya! Saya yakin itu bukan saya!,” teriak Sara penuh ketakutan.
“Kita akan lihat nanti. Begitu hasil pemeriksaan laboratorium yang memeriksa apron yang Anda pakai kemarin sudah keluar, saya yakin Anda tidak akan bisa berakting lagi.”
Sara langsung lemas. Tangannya mulai gemetar. Pandangan matanya mulai nanar menatap layar laptop yang ada di hadapannya sedang menampilkan sosok perempuan mirip dirinya.
#
Aku tidak bersalah, ya Allah. Aku tidak bersalah ...
__ADS_1