
[Agam]
Semua bermula ketika Arya datang ke Jepang 6 bulan sebelum Agam kembali ke Indonesia. Tidak seperti kedatangan sebelumnya. Kedatangan Arya saat itu memberinya informasi yang mengejutkan.
“Ava akan tunangan minggu depan. Mama menyukainya, karena itu Mama setuju. Tapi aku tidak. Entah kenapa, aku sulit mempercayainya.” Begitu kata Arya saat membawa berita itu.
Dan ada alasan kenapa Arya tidak bisa mempercayainya.
“Dia bilang lulusan program master di Pace University. Tapi, waktu aku tanya apakah dia mengenal Mr. Samuel Davis, dia jawab dia kenal. Padahal tidak ada nama dosen itu di sana. Aku tahu, karena aku punya teman di sana.”
Yuda pun ikut menambahkan.
“Aku juga sudah menyelidiki semua lulusan Pace di tahun dia lulus. Tapi tidak ada namanya. Dia lulusan Pace yang mana?”
Entah bagaimana caranya, yang jelas dia bisa membuat Mama dan Ava menyukainya. Jika dia hanya lulusan Pace, jelas itu bukan satu-satunya alasan.
Dan setiap bulan selalu ada saja laporan tentang Vian, termasuk yang berkaitan dengan Sara.
“Aku baru menyadarinya semalam. Alvian, nama yang sama dengan kekasih Sara dulu. Saat aku buka berkasnya lagi, dan benar. Mereka orang yang sama,” begitu yang dilaporkan Yuda satu saat.
Perasaan Agam langsung campur aduk jadinya. Tidak nyaman sekaligus tidak aman. Kekasih yang dulu hanya sekedar dibicarakan kini mulai terlihat bentuknya. Kebetulan macam apa ini?
Di saat hatinya sedang berperang melawan rasa cemburunya, di saat itu juga dia harus memikirkan adiknya yang saat ini sedang jatuh cinta dengan pria yang tidak jelas asal usulnya. Terutama jika pria yang pernah diceritakan oleh Sara jauh berbeda dengan laporan yang dia terima dari Yuda dan Arya.
“Aku pernah bertemu dengan kedua orang tuanya. Kita ngobrol banyak hal. Semua tentang Vian mereka tahu semua,” kata Sara ketika Agam memberitahu tentang Vian yang dia ketahui. Panik, jelas. Tapi cemas yang paling banyak. Agam yakin itu.
Terutama saat Agam menunjukkan foto-foto pertunangan Ava yang dikirimkan Arya. Di sana juga ada foto kedua orang tua Vian. Reaksi Sara jelas tak percaya. Mereka bukan kedua orang tua Vian yang ditemui Sara dulu.
Siapa yang tidak cemas kalau sudah begitu? Siapa yang ditemui Sara waktu itu?
Jawaban termudah yang terpikirkan oleh Agam, Yuda, dan Arya adalah mereka orang-orang bayaran, baik itu saat bertemu dengan Sara maupun dengan Ava. Tapi, Yuda tidak bisa menemukan orang-orang itu. Entah di mana Vian menyembunyikannya.
Karena itu akhirnya Agam minta Yuda selidiki lebih lanjut. Latar belakang keluarganya.
Jika dia bisa membuat sebuah cerita bohong tentang kedua orang tuanya, itu berarti ada sesuatu dengan masa lalu keluarganya.
Sayangnya, Yuda belum menemukan satu petunjuk pun.
Dan jika belum bisa ditemukan, maka keputusan untuk mengalihkan kepemilikan saham jelas tidak bisa dibiarkan begitu saja.
Dan itulah yang sedang dilakukan Agam dan Arya, mengulur waktu.
Meskipun dia sudah tidak bisa ikut campur dalam urusan NFC atau pun FTC, tapi menyerahkan NFC pada orang asing, jelas adalah kesalahan besar.
“Business Analytics dan Financial Management, ya?,” tanya Agam pada Vian saat mereka sedang mengobrol di teras belakang.
Begitu Vian datang, Ava langsung mengajaknya menemui Agam yang sedang duduk di sana. Ava sengaja meninggalkan mereka di sana, mungkin ingin Agam dan Vian bisa mengobrol dengan santai.
__ADS_1
“Iya, Mas,” jawab Vian dengan yakin. Seakan dia memang menjalaninya.
“Pace University bagus. Jurusannya juga sangat mendukung.”
“Terima kasih, Mas.”
Meski tidak melihat wajahnya, Agam bisa merasakan kelegaan dari nada suara Vian. Kemampuan yang sudah lama dia miliki saat dia belum bisa melihat seperti saat ini – meski hanya dalam gambaran kabur dan tidak jelas.
Agam yang sedang memandangi padang rumput yang ada di hadapannya saat ini kembali berkata, “Ava sangat mempercayaimu.”
Vian yang berada di belakang Agam pun menjawab dengan tawa kecil. ”Terima kasih, Mas. Saya hanya melakukan yang terbaik untuk Ava.”
“Tapi aku tidak.”
Kali ini hening. Tidak ada tawa lagi yang seperti tadi dilakukan Vian.
“Aku tidak dapat mempercayai orang yang masih datang ke rumah orang tua mantan kekasihnya di saat dia sudah bertunangan dengan orang lain.”
“Dan di saat mantan kekasihnya sudah menikah dengan orang lain.”
Agam kali ini berbalik menghadap Vian.
“Entah karena orang itu tidak bisa mengikhlaskan masa lalunya atau karena orang itu punya tujuan lain.”
Vian akhirnya mengeluarkan tawa kecilnya kembali. “Tidak ada tujuan lain. Dulu aku dan Ibu berhubungan sangat baik. Begitu aku kembali ke Indonesia, aku hanya ingin mengunjunginya. Kuharap Mas tidak salah paham.”
Tidak ada jawaban. Tapi, Agam sudah yakin dengan jawaban yang dia pikirkan sendiri.
“Apa pun rencanamu itu, jika kamu sampai menyakiti Ava, aku pastikan kamu akan menyesalinya.”
Agam hendak masuk ke dalam, Vian kemudian berkata, “Kamu takut Sara jatuh cinta padaku lagi? Aku tahu dia menikahimu bukan karena dia mencintaimu.”
Dia sudah melepaskan topengnya di depanku. Secepat itu.
Ya, dari ‘Mas’ menjadi ‘kamu’. Perubahan yang cukup cepat.
Hati Agam bukannya tidak meradang mendengar Vian mengatakan itu. Tapi menghajar pria ini sekarang juga dan di tempat itu tidak akan membawa hasil yang baik.
Agam menahannya dengan sangat baik.
“Aku tidak perlu orang lain untuk mengatakannya padaku siapa yang dicintai Sara. Kamu telah melepasnya 4 tahun yang lalu. Dan selama itu, kamu tidak tahu apa-apa tentang hidupnya saat bersamaku.”
Agam pergi setelah itu. Tidak perlu ada kelanjutannya lagi. Dia sudah cukup jelas mengetahui bagaimana Vian yang sebenarnya. Dan apa yang harus dilakukannya untuk melindungi Ava.
Tapi, Ava malah menganggapnya sebagai kakak yang jahat.
“Mas Agam melakukan ini bukan karena Sara yang suruh, kan? Aku tahu dia mengatakan sesuatu dengan jari-jarinya saat dia memegangi tangan Mas,” oceh Ava yang mengikuti Agam ke ruang kerjanya begitu pertemuan mereka berakhir.
__ADS_1
“Dia minta ijin agar tidak berada di sana. Tapi aku yang memaksa dia di sana. Dia istriku, Ava. Itu artinya dia juga berhak berada di sana. Dan keputusan itu aku putuskan setelah berbicara dengan Arya. Sara tidak tahu apa-apa,” kata Agam.
“Mas, setidaknya beri Al kesempatan untuk membuktikan dirinya,” kata Ava mencoba sekali lagi meyakinkan Agam.
“Dan FTC adalah kesempatannya. Jika dia ingin membuktikan dirinya, lakukan itu di FTC.” Agam juga tidak mau kalah.
Ava kemudian mendudukkan dirinya dengan kasar di atas kursi yang ada di depan meja kerja Agam. Dia terdengar sudah lelah untuk berdebat dengan kakaknya itu.
“Kenapa Mas bisa sangat mempercayai Sara, tapi tidak bisa mempercayai Al? Mama benar. Mas sudah dibutakan sama dia.”
Agam hampir mendengus saking kesalnya dia dengan apa yang baru dia dengar. Entah apa saja yang sudah dikatakan oleh ibu tirinya itu pada adik kecilnya yang tidak tahu apa-apa. Tapi justru karena ketidaktahuan Ava inilah yang membuat Agam harus menahan rasa marahnya.
“Kamu sendiri bagaimana? Kenapa kamu sangat mempercayai Al, tapi tidak bisa mempercayai Sara?,” tanya balik Agam.
“Mas! Sara itu sudah menipu banyak orang. Dan Mas salah satunya,” kata Ava dengan suara meningginya. Dia terdengar begitu yakin dengan apa yang dia percayai.
“Dan biar kutebak dari siapa kamu mendengarnya? Mama? Al?”
“Mas! Setidaknya percaya sama kami.”
Agam memijat keningnya yang sudah mulai terasa pening. Denging di telinganya bahkan kembali muncul begitu mendengar suara tinggi Ava. Mungkin juga bukan hanya Ava. Terlalu banyak suara melengking yang dia dengar hari ini.
“Cukup, Ava!,” kata Agam seraya membuka telapak tangan kanannya di hadapan Ava. Cukup itu saja dan dia tidak perlu berteriak.
“Kamu percaya dengan apa yang kamu percaya. Aku juga sama. Tapi satu hal yang harus kamu ketahui, Ava. Tidak semua yang kamu dengar itu benar. Cari tahu kebenaranmu dulu sebelum kamu mempercayainya.”
“Mas!”
“Ava ...” Panggilan Sara yang pada akhirnya menghentikan Ava.
“W-waktunya Mas Agam minum obat dan istirahat. Mungkin kamu bisa kembali besok dan bicara lagi.”
Sembari memegangi keningnya, Agam tersenyum di balik tangannya saat dia mendengar alasan Sara itu.
Dia sedang menyelamatkan aku. Karena itu dia terdengar gugup.
Tapi setidaknya cara itu berhasil. Ava pergi kemudian tanpa banyak kata. Hanya rasa kesal yang masih menumpuk.
Agam tidak mempedulikannya. Dia masih terus memijat keningnya yang masih berdenyut.
Tapi kemudian, sebuah sentuhan lembut sudah menggantikan tangannya. Sara ternyata sedang memijatnya.
“Setelah ini naik ke atas istirahat saja, ya,” pinta Sara memelas.
Agam hanya mengangguk, lalu mengambil tangan Sara yang masih memegangi keningnya. Agam kemudian bersandar pada Sara yang sedang berdiri di sampingnya. Dia merasa jauh lebih tenang sekarang.
Hari ini bukan hari yang mudah. Tapi dia berharap, ada jalan mudah untuk menyelesaikan semua permasalahan yang rumit ini.
__ADS_1