Cinta Itu (Tidak) Buta

Cinta Itu (Tidak) Buta
Extra Part 1


__ADS_3

[Sara]


Saat Sara terbangun, dia langsung melihat Ibu sedang duduk di sebelah tempat tidurnya. Ibu sedang membaca buku yang ada di tangannya. Dengan kacamata yang terpasang di wajahnya, Ibu membaca khusyuk sekali. Sara perhatikan lagi buku yang dibaca Ibu. Ternyata sebuah buku doa yang biasanya dibawa Ibu.


Pasti Mas Agam yang kasih tahu Ibu.


Masuk akal.


Setelah insiden Vian, Sara terbangun di rumah sakit. Sara menceritakan banyak hal yang terjadi saat dia dibawa oleh Vian.


Tidak banyak yang bisa dia ingat, karena Vian memberinya banyak obat tidur. Hanya beberapa hal kecil, seperti saat dia dibawa, atau saat dia sempat berbicara dengan Vian sebelum akhirnya ditidurkan lagi.


“Bu ...”


Untuk beberapa detik, Ibu tidak menjawab. Setelah Ibu meletakkan buku itu di tas lalu memindahkan tasnya dari pangkuannya ke atas sofa yang ada di dekatnya, barulah Ibu berkata, “Kamu mau minum?”


Sara menggeleng pelan. “Ibu kapan datang?,” tanya Sara.


“Dari tadi. Agam mau bangunin kamu, Ibu larang. Biar Ibu nunggu di sini saja,” jawab Ibu.


Sara mencoba membangunkan tubuhnya agar bisa duduk. Ternyata lebih baik daripada tadi kali pertama dia terbangun yang masih merasakan pening di kepalanya.


“Lho, ndak apa-apa ta? Wis enakan? (Sudah enakan?),” tanya Ibu sembari membantu Sara untuk duduk.


“Nggak apa-apa, Bu. Ini udah mendingan.”


Dilihatnya ruangan kamar rawatnya saat ini. Hanya ada dirinya dan Ibu.


“Agam pergi ke kamar mertuamu sebentar. Katanya nanti dia kembali lagi ke sini,” kata Ibu seakan tahu apa yang sedang dicari Sara.


Kasihan Mas Agam. Masih harus mengurus 2 orang sakit.


Untuk beberapa saat mereka mengobrol berdua. Dari hal kecil hingga pada satu pertanyaan yang sedari tadi sudah berputar di kepala Sara.


“Apa yang Vian lakukan di rumah, Bu?”


“Vian? Dia hanya datang sebentar. Terus pergi lagi.”


“Dia nggak bilang apa-apa?” Sara bertanya sepelan mungkin. Dia tidak memperlihatkan kecemasannya, meski dalam hati rasanya beda lagi.


“Ndak ada,” jawab Ibu singkat. “Kamu takut Vian ngomong apa?”


Sara terdiam. Dia seperti sedang berada di ujung jalan di mana di depannya sudah ada 2 jalur yang terbuka untuknya.


Tetap diam atau beritahu Ibu.


Tapi, yang keluar dari mulutnya malah ..., “Nggak ada, Bu. Cuma kaget kenapa Vian ke sana?”


Perlahan, dia menghela napasnya. Lega, tapi masih terasa mengganjal.


Obrolan pun berlanjut. Kali ini tentang yang lain. Meski demikian, Sara tetap merasa gelisah.


Kedua mata Sara terus menatap Ibu saat berbicara. Dia juga tidak terlambat menanggapi setiap hal yang mereka bicarakan. Fokus Sara hanya tertuju pada Ibu. Tapi, dia terus mengingat rasa takutnya saat mendengar suara Vian yang mengatakan, “Ikut mereka baik-baik, atau aku akan beri tahu Ibu tentang pernikahan kontrak kalian.”


Sejak awal pernikahan, aku selalu merasa berdosa pada Ibu. Aku telah membohongi Ibu tentang tujuan pernikahan ini. Meski pada akhirnya, aku dan Mas Agam saling mencintai, tapi tetap saja, aku tidak bisa menghilangkan rasa bersalah itu.


Insiden Vian adalah buktinya. Hanya dengan ancaman seperti itu, aku sudah ketakutan.


Vian mungkin akan menghabiskan waktunya di penjara. Tapi Ibu bisa saja tahu dengan cara yang lain. Mungkin ini teguran dari Allah. Mungkin ini cara Allah memberi tahuku. Bahwa Dia punya 1000 cara untuk membuat Ibu tahu.


“Sara?”


Panggilan Ibu menyadarkan Sara dari lamunannya. Lebih terkejut lagi saat dia merasakan sentuhan Ibu yang sedang memegangi tangannya yang sedang bersandar di lengan Ibu.


Astaghfirullahaladzim ...


Sara tanpa sadar memegangi lengan Ibu.


“Ada apa, Nak?,” tanya Ibu. Suara lembut Ibu langsung melumerkan hati Sara yang sedang gundah.


Sara langsung memeluk Ibu.


“Sara? Kenapa, Nak?,” tanya Ibu untuk kesekian kalinya. Tangannya tidak berhenti membelai kepala Sara dengan lembut.


Sara menenangkan hatinya dulu dengan masih memeluk Ibu. Dia tidak menjawab pertanyaan Ibu, dan Ibu juga membiarkan Sara tetap begitu tanpa bertanya lagi.


“Bu ...,” panggil Sara lirih. Dia melepaskan pelukannya dan kembali duduk. Dengan sekali menarik napas lalu menghembuskannya perlahan, Sara siap berkata, “Sara boleh cerita?”

__ADS_1


Sara bercerita lancar sekali. Apalagi Ibu mendengarkan tanpa menyela sedikit pun. Tersenyum malah. Tidak ada kemarahan.


Yang terakhir, Ibu malah tertawa.


“Haha ...”


“Bu?” Sara mulai keheranan dengan reaksi Ibu itu.


“Ibu sudah tahu.”


Kedua mata Sara langsung terbuka lebar. Rasanya tak percaya dengan apa yang baru dia dengar.


“Tapi yang penting kan sekarang bukan itu.” Ibu mendekatkan Sara padanya, membiarkan Sara bersandar pada bahunya, dan mengusap perlahan punggung Sara.


“Ibu bisa lihat bagaimana suamimu itu sangat mencintai kamu. Coba lihat bagaimana Agam merawat Ibu, bagaimana dia sangat menjaga kamu padahal kalian baru mengenal. Waktu Ibu pertama kali datang ke rumah kalian, Ibu sudah lihat semua. Kamu menikah dengan orang baik, Sara.”


Sara mengangguk dengan cepat dalam pelukan Ibu. Kedua tangannya kini merangkul tubuh Ibu.


“Jangan merasa bersalah pada Ibu. Kalau Ibu, selama kamu bahagia, Ibu juga ikut bahagia,” kata Ibu lagi. “Minta maaf lah hanya pada Allah. Bukan Ibu yang sudah kalian bohongi, tapi Allah.”


Sara memahami maksud Ibu.


Ibu kemudian melepaskan pelukannya hanya agar bisa melihat Sara lebih dekat. Dihapusnya air mata Sara yang sempat turun, lalu berkata lagi, “Jalani pernikahan ini dengan baik. Itu cara kamu memohon ampun padaNya.”


Sara mengangguk lagi, lalu kembali memeluk Ibu. Kali ini, cukup lama dari yang tadi.


...****************...


[Agam]


Saat Sara terbangun setelah mendapatkan penanganan dari dokter, dia menangis ketika mengingat ancaman Vian. Agam yang mendengarnya, langsung memahami apa yang sebenarnya terjadi pada Sara hingga Vian membawanya.


Tapi, masalah Vian sudah diatasi. Orangnya sudah diurus oleh Yuda. Yang tersisa sekarang adalah Sara dan rasa bersalahnya.


Agam sudah mengetahuinya sejak lama kalau Sara selalu menyimpan rasa bersalahnya sejak dulu - sejak Agam mendengar igauan Sara dalam tidurnya.


Dan sekarang Vian semakin memperparahnya hingga membuatnya takut kalau-kalau Ibu tahu suatu saat nanti tahu dari orang lain. Sara tidak ingin itu terjadi.


Tapi, Agam merasa tanggung jawab itu seharusnya menjadi miliknya. Dia yang seharusnya mengatakan ini pada Ibu, bukan Sara.


Sudah cukup Sara dibebani rasa bersalahnya selama ini. Kalau urusan bicara dengan Ibu saja masih harus Sara juga yang melakukannya, aku yang seharusnya malu. Aku yang seharusnya Ibu salahkan, bukan Sara.


Baru setelah Ibu datang ke rumah sakit, sebelum menemui Sara, Agam mengajaknya ke satu tempat di mana mereka bisa bicara, dan menceritakan semuanya.


“Kejadian ini membuat Sara semakin tidak tenang. Saya tahu pada satu titik dia akan segera mengatakannya pada Ibu. Saya perlu memberi tahu Ibu lebih dulu sebelum Sara mengatakannya, agar Ibu bisa memarahi saya dan memaafkan Sara.”


Agam terus menunduk saat mengatakannya, terus berharap Ibu bisa memahami maksudnya. Selama Ibu tidak mengatakan apa pun, dia tidak berani mengangkat kepalanya.


Entah berapa lama sudah. Ibu hanya diam, dan Agam terus menunduk. Agam bisa mendengar bisikan orang-orang yang sedang memperhatikan dirinya dan Ibu.


“Saya tahu saya telah melakukan kesalahan. Tapi kesalahan ini yang membuat saya bertemu dengan Sara. Karena itu, biarkan saya yang menanggung kesalahan Sara. Ibu boleh memarahi saya, tapi tolong jangan Sara,” kata Agam lagi setelah cukup lama dia menanti Ibu yang tidak mengatakan apapun.


“Jadi, maksudmu ... kamu tidak menyesal karena bisa bertemu dengan Sara?” Ibu yang akhirnya bersuara ternyata malah bertanya seperti itu.


Agam semakin gugup. “B-bukan begitu, Bu.” Dia mengangkat wajahnya.


“S-saya ...” Agam tidak tahu harus berkata apa. Dia memang tidak menyesalinya. Jika itu tentang Sara, apa yang mau disesali?


Tapi, dia tidak boleh bilang begitu pada Ibu Sara. Ini masalah hidup dan mati. Nyawa Sara taruhannya. Itu yang selalu dicamkan Agam dalam otak jeniusnya itu.


“Saya pernah bilang pada Nak Agam, Sara itu anak saya satu-satunya. Kesayangan almarhum ayahnya,” kata Ibu lagi.


“Saya tahu ...” Agam menjawabnya lirih. Dia juga kesayanganku.


Kepala Agam kembali tertunduk.


“Tolong antarkan saya ke kamar Sara. Kita akan bicarakan ini nanti setelah saya bicara dengan Sara,” putus Ibu pada akhirnya.


“Bu ...” Agam masih berusaha membujuk Ibu agar tidak memarahi Sara. Tapi rasa-rasanya masih terlihat sulit.


“Nak Agam ... tolong, antarkan saya ...”


Agam tidak berani lagi membantahnya. Dia melakukan permintaan Ibu tanpa banyak bicara lagi. Meski hatinya masih terasa berat karena rasa khawatirnya itu.


“Kalau kamu mau ke kamar Ibu Widia, ndak apa-apa tinggal saja. Biar Sara sama saya,” kata Ibu setelah beberapa saat suasana hening di kamar rawat Sara.


Ibu melarang Agam membangunkan Sara yang tertidur. Akhirnya malah mereka saling diam di kamar itu. Tahu-tahu Ibu sudah berkata seperti itu.

__ADS_1


Tapi Agam paham maksud Ibu.


Ibu ingin bicara berdua dengan Sara.


Lagi-lagi Agam pergi dengan berat hati. Dia bahkan masih sempat menatap Sara yang terbaring lama sekali sebelum dia keluar dari kamar itu.


Tapi, Agam tidak tenang. Sama sekali tidak tenang. Meski kedua adiknya terus memanggil namanya, Agam tidak mendengarnya.


Mau dengar apa? Di kepalanya sudah memainkan banyak skenario. Ada saat kepalanya memainkan drama Sara sedang memohon pada ibunya. Ada lagi, Ibu sedang memarahi Sara habis-habisan, lalu Sara menangis.


Tepat di saat itu, saat dia membayangkan Sara sedang menangis itulah, Agam langsung berdiri dari duduknya.


“Mas?” Kedua adiknya memanggil Agam keheranan dengan sikap kakaknya yang tiba-tiba itu.


Untuk beberapa saat, Agam hanya kaku berdiri memandang kosong kejauhan.


Setelah beberapa saat, dia berkata, “A-aku pergi nengok Sara dulu. Kalian hubungi aku kalau ada apa-apa.”


Dia hampir berlari menuju kamar rawat Sara. Padahal jaraknya tidak jauh. Hanya sekali belok, dan sampai. Tapi Agam sudah tidak tenang.


Belum juga membuka pintu, Agam sudah mendengar tawa keduanya. Tangannya urung membuka pintu. Dia berdiri di depannya seraya menghela napas kelegaan.


Syukurlah ...


......................


“Aku antar Ibu ke kamar Mama, setelah itu ke lobby. Baru nanti aku kembali lagi ke sini, ya,” kata Agam setelah dia mengecup kening istrinya.


Sejak Agam masuk ke kamar Sara hingga akan pergi sejenak mengantarkan sang mertua, Sara sudah menunjukkan tanda-tanda kebahagiaannya. Dia juga terlihat lebih tenang. Agam bisa bernapas lega akhirnya.


Itu artinya dia tidak salah melakukan hal ini.


Syukurlah ...


Tapi ketegangan antara dirinya dan sang mertua masih saja terasa. Dari kamar Sara, lalu ke kamar Widia, mereka tidak banyak bicara. Bahkan di dalam lift saat Agam mengantarkannya ke lobby, mereka tetap tidak saling bicara.


Meski demikian, Agam tetap ingin mengatakan sesuatu.


“Terima kasih, Bu ...,” kata Agam. “Terima kasih Ibu mau mengabulkan permintaan saya.”


Ibu tidak langsung menjawab. Dia diam untuk beberapa saat.


“Tapi ...,” kata Ibu pada akhirnya. “Saya mau sesuatu.”


Agam menelan salivanya dengan keras.


“Apa yang Ibu inginkan? Saya akan melakukannya,” kata Agam dengan tegas. “Apa saja asalkan bukan ... bercerai.”


TRING!


Pintu lift terbuka, tanda mereka telah tiba di lantai terbawah. Ibu tetap diam saat keluar dari lift. Agam hampir berlari mengejar mertuanya.


Saat Ibu berhenti mendadak, Agam langsung menjadi tegang. Dia menunggu Ibu mengatakan sesuatu.


Saat Ibu berbalik, langsung dikatakan olehnya, “Cucu.”


“Saya ak ...”


Agam tercekat sekaligus. Dia tidak fokus tadi. Dia asal menyetujui karena bukan kata ‘cerai’ yang dia dengar. Selama bukan 5 huruf itu, dia sudah siap mengatakan oke.


“Laki-laki, perempuan, sama saja. Yang penting sehat semua.”


Agam tertawa, menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan rasa malunya.


“Nak Agam masih ingat pembicaraan kita saat saya ke rumah pertama kalinya?”


Agam menganggukkan kepalanya.


“Tolong jaga Sara baik-baik. Hanya itu yang saya minta dari Nak Agam,” kata Ibu. “Dan saya sudah sangat berterima kasih.”


Agam kembali menganggukkan kepalanya. Dia lalu maju mendekati Ibu dan mencium punggung tangan mertuanya itu.


“Saya akan selalu menjaga Sara, Bu.”


“Saya tahu Nak Agam akan melakukannya,” kata Ibu yang terdengar sedang menahan tangisnya seraya memeluk Agam dengan penuh kehangatan.


“Tapi, cucu juga boleh,” goda Ibu. “Lima.” Ibu menunjukkan kelima jarinya di hadapan Agam.

__ADS_1


Agam akhirnya bisa tertawa bersama Ibu. Sungguh melegakan.


__ADS_2