Cinta Itu (Tidak) Buta

Cinta Itu (Tidak) Buta
Part 44-2 : Tidak Bersalah (POV Agam & Arya)


__ADS_3

[Agam]


“Gini saja, Mas ke kantor polisi dampingi Mbak Sara. Aku akan ke rumah sakit melihat Mama. Apapun informasinya, aku akan hubungi Mas.”


Itu keputusan akhir yang mereka sepakati bersama setelah para polisi itu membawa Sara.


Di satu sisi, Agam mengkhawatirkan Mama nya, tapi di sisi lain, dia juga tidak bisa meninggalkan Sara dalam keadaannya yang seperti itu. Hatinya juga tidak tenang.


Sara begitu terkejut tadi. Dia sampai tidak kuat berdiri.


BRAK!


Agam baru saja memukuli pegangan kursi rodanya dengan tangannya yang terkepal sangat kuat.


Seandainya aku normal. Seandainya aku tidak cacat.


Agam sedang menunggui Sara yang saat ini sedang diperiksa di dalam. Dia tidak diperbolehkan masuk. Alhasil dia hanya bisa menunggu dengan cemas di ruang tunggu.


Raka kemudian datang menghampirinya yang kemudian memegangi tangannya.


Agam sudah berpesan dengannya, katakan saja dengan isyarat buatan Ayah Sara. Dia tidak ingin ada yang mendengar pembicaraan mereka.


“Tuan Arya bilang, Nyonya Widia saat ini sedang terbaring lemah dan belum sadarkan diri. Kata dokter, ada kandungan obat dalam darah Nyonya. Obat berbahaayaa yang dilarang pengeeddarannya. Namanya CT-312.”


Tangan Agam yang lain mengepal erat mengumpulkan semua kemarahannya.


Itu obat yang menyebabkan aku begini.


Raka melanjutkan lagi. “Dari Tuan Yuda mengatakan, semua bukti memberatkan Nyonya Sara. Ada video CCTV yang memperlihatkan Nyonya sedang memasukkan sesuatu di dalam panci makanan. Dan juga apron yang dikenakan Nyonya ditemukan ada residu bubuk obat yang tadi saya katakan.”


BRAK!

__ADS_1


Lagi, Agam memukuli pegangan kursi rodanya.


Bukan Sara! Itu bukan Sara! Aku yakin bukan.


“Tuan Yuda bilang saat ini Nyonya Sara sangat sulit untuk bisa pulang, karena itu dia akan minta bantuan serigala tua untuk membantu melindungi Sara.”


Agam mengerti maksud Yuda. ‘Serigala tua’ yang dimaksud adalah ayahnya Yuda sendiri. Hubungan keduanya sudah lama tidak baik. Tapi demi dirinya dan Sara, Yuda akan menemui ayahnya dan sudah jelas memohon padanya agar mau membantu.


Setidaknya, dengan pengaruh kuat Tuan Pratama, Sara bisa sedikit lebih aman.


Meski demikian, Agam tidak mau Sara tetap di sana. Sara harus pulang.


[Arya]


Arya masih memegangi tangan Widia, sang Mama yang saat ini masih belum sadarkan diri. Dokter yang memeriksa mamanya itu sudah keluar dari tadi setelah selesai melakukan tugasnya.


CT-312 ... Itu nama obat yang pernah aku baca dalam laporan. Obat yang sama yang dibeli Mama secara ileeggal. Ini nggak mungkin. Nggak mungkin Mbak Sara yang melakukannya.


Arya refleks bangun dari tempatnya duduk dan mendekati Widia.


“Ma ... ini Arya ...”


“Arya ...,” panggil Widia lirih.


Pelan-pelan, Widia membuka matanya, dan mencari sosok Arya yang masih belum berubah posisinya.


“Arya ... ini kamu?” tangan Widia menyentuh wajah Arya, lalu menangis.


Dengan lembut, Arya menghapus bulir air mata yang jatuh membasahi telinga dan rambut mamanya itu.


“Mama takut Mama nggak bisa ketemu kamu lagi. Syukurlah, Tuhan masih sayang Mama,” ucapnya lirih yang masih terdengar lemah.

__ADS_1


Saat Widia mencoba untuk duduk, Arya membantunya untuk berdiri dan duduk.


“Kamu kenal Ibu Indira? Yang suaminya pejabat polisi di Surabaya sini. Dia yang pertama kali sakit. Terus diperiksa, baru ketahuan ada kandungan obat terlarang katanya. Jadinya rumah utama diperiksa. Banyak polisi datang periksa rumah. Mama sampai takut.”


Arya masih terus mendengarkan.


“Waktu Mama dikasih lihat rekaman CCTV itu Mama sampai nggak percaya Sara bisa melakukan itu. Mama nggak bisa bela Sara, karena bukti-bukti sudah kuat.”


Rekaman CCTV?


Widia kemudian mengeluarkan ponselnya. Dia memperlihatkan sebuah video dalam ponselnya itu.


Arya langsung terperanjat tak percaya.


“Nggak mungkin!,” ucapnya lirih. “Nggak mungkin itu Mbak Sara.”


“Jadi kamu mau bilang Mama bohong? Mama sudah seperti ini, Arya. Kamu menuduh Mama berbohong?” Widia mungkin terlihat lemah, tapi suaranya cukup kencang untuk orang yang baru sadar.


Arya menyadari itu, tapi dia menahannya.


Sabar, Arya. Saat ini belum ada bukti Mbak Sara tidak bersalah.


“Bukan itu maksud Arya,” kilahnya. “Arya juga tidak menyangka.”


“Jeng Indira bilang, obat yang ada dalam makanan itu adalah obat yang terllaarang. Saat ini kasus Sara sedang ditangani oleh tim yang biasanya menangani obbaat-obbaatan terllaarang. Dia bilang, Sara akan dihukum, karena semua bukti sudah kuat.”


Tiba-tiba Widia menangis dengan kencang. Dengan kedua tangannya, dia menutupi wajahnya.


“Mama dijauhi teman-teman Mama karena masalah ini. Mereka bilang ini semua gara-gara Mama. Padahal semuanya Sara yang masak.”


Arya menghela napasnya. Dia memeluk Widia sembari mengusap lengannya dengan lembut.

__ADS_1


Permainan apa lagi ini?


__ADS_2