
[Sara]
Sementara kedua kakaknya masih berdiri di sudut yang berbeda untuk menenangkan diri mereka masing-masing, Sara terus memeluk Ava yang masih menangis dalam pelukannya. Menenangkannya tidak akan mudah jika melihat Ava sendiri sudah sangat ketakutan dengan kesalahannya dan sang Mama.
Setelah beberapa menit, Agam yang pertama kalinya menghampiri Ava, lalu memindahkannya dalam pelukannya.
“Kita akan pikirkan jalan keluarnya nanti. Sekarang kita fokus dulu ke Mama,” ucap Agam dengan bijaksananya menenangkan sang adik.
Ava menganggukkan kepalanya berulang-ulang. Dia membalas pelukan sang kakak dengan eratnya, seraya masih terus menangis di sana. Sementara Arya, dari tempatnya berdiri, dia hanya memandangi kakak dan adiknya itu dengan tatapannya yang sendu.
Dari tempatnya duduk, Sara juga tidak bedanya dengan Arya, memandangi dua kakak beradik itu. Hari yang panjang ini sepertinya belum akan berakhir.
Penantian berikutnya adalah menunggu saat-saat Widia keluar dari ruang PACU. Jam demi jam berlalu rasanya sudah seperti hal yang biasa dilakukan. Lebih dari sepuluh jam lamanya sejak Widia berada di ruang operasi, mereka masih setia menunggu di sana tanpa ada yang mau beranjak.
Hanya Sara yang berinisiatif pergi mencari minum atau sesuatu yang bisa mengganjal perut mereka. Sejak siang mereka berada di sana, dan saat ini matahari sudah bebas tugas tergantikan oleh bulan. Sudah jelas ketiga kakak beradik itu, termasuk juga Sara butuh sesuatu untuk dimakan.
Begitu kembali, saat akan melewati belokan terakhir sebelum mencapai ruang tunggu tempat semuanya berada, Sara mendapati Agam sedang berdiri di sana. Dia sedang berbicara di telepon dengan seseorang.
“Hmm ... aku minta tolong ya, Yud. Tolong urus semuanya. Aku sudah menghubungi pengacara untuk mendampingi. Sisanya biar dia yang urus,” kata Agam setengah berbisik di telepon. Mungkin juga takut Arya dan Ava mendengar.
Begitu panggilan itu berakhir, Sara berikan sebotol air untuk Agam sebelum akhirnya dia bertanya, “Apa terjadi sesuatu, Mas?”
“Yuda sudah menganalisa rekaman CCTV nya. Benar Vian yang melakukannya,” kata Agam setelah menenggak isi botol yang diberikan Sara.
Dia benar-benar ... melakukannya ...
Seharusnya sudah tidak heran lagi. Dan, buktinya sudah ada. Tapi rasanya tetap mengejutkan.
“Aku minta tolong Yuda untuk urus laporan ke polisi. Yuda juga sudah memerintahkan orangnya untuk mencari Vian,” lanjut Agam lagi.
Vian ternyata menghilang setelah kejadian itu. Mungkin juga kabur. Yang jelas, orang-orang Yuda sudah memastikan Vian tidak keluar dari kota ini, apalagi dari negeri ini.
“Sara ...,” panggil Agam pelan saat Sara akan pergi mengantarkan air dan makanan untuk kedua adik iparnya. Agam yang memegangi lengan Sara menahannya untuk mengatakan sesuatu.
“Boleh ... minta tolong?,” tanya Agam yang terkesan ragu dan takut.
“A-ada apa, Mas?” Sara jadi gugup ketika sang suami berkata seperti itu.
“Nanti Yuda akan datang menunjukkan rekaman itu, dan ... mungkin juga laporan lainnya. Aku takut ... Ava tidak kuat menerima begitu banyak hal hari ini.”
“Mas mau aku menemani Ava?,” tanya Sara menebak akhir dari pembicaraan mereka.
Agam mengangguk. “Aku bisa mengerti kalau kamu keberatan karena ucapan Ava akhir-akhir ini. Arya juga sudah cerita banyak saat aku tidak ada. Tapi, bisakah kamu memaafkannya kali ini?”
Sara menghela napasnya. Dia menggenggam tangan Agam. “Mas, aku bisa ngerti kenapa Ava begitu. Dia nggak tahu apa-apa, dan tidak ada orang yang bisa memberitahunya dengan benar. Aku sudah melupakannya, Mas.”
Agam kini memeluk Sara, mengecup puncak kepalanya, terakhir menyandarkan kepalanya di sana.
“Terima kasih, Sara. Terima kasih kamu ada di sini.”
Sara mengusap lembut punggung Agam, dan berkata, “Mama akan baik-baik saja, Mas. Kita akan hadapi ini sama-sama.”
Agam mengangguk pelan.
__ADS_1
Sara tahu, seberapa banyaknya hal yang diterima Agam dari Widia yang sudah sangat menyakiti hatinya, tapi jauh di lubuk hati terdalamnya, Agam masih menghormatinya. Semarah apa pun Agam pada sang Mama, jika terjadi sesuatu, sang anak tiri ini selalu siap memasang badannya untuk melindungi semuanya, termasuk adik-adiknya.
Agam tidak pernah meninggalkan keluarga ini. Rasa marahnya adalah hal yang wajar. Tapi ada saat di mana dia akan kembali, saat mereka membutuhkannya.
Itu yang aku sering bilang pada diriku sendiri. Kamu itu terlalu baik, Mas. Jika bukan karena kamu, aku mungkin tidak akan sanggup melakukan semua yang Mas lakukan.
Aku tahu Mas belum melupakan masa-masa itu, tapi mengesampingkannya. Kalau sudah begitu, bagaimana bisa aku menolak permintaan Mas? Aku akan selalu berada di pihakmu, Mas.
“Mas ...,” panggil Sara seraya menepuk pelan lengan Agam yang memeluknya. Cukup lama Agam memeluk dirinya dan belum menunjukkan tanda-tanda akan dilepaskan. Karena itu Sara memanggilnya.
“Bentar. Butuh dicharge sebentar.”
Sara tertawa. Dia peluk suaminya itu lebih erat.
“Mama! Ini Ava, Ma!”
Suara Ava menggema hingga ke tempat mereka berdiri. Mereka terpaksa melepaskan pelukan mereka dan menghampiri Ava yang ternyata sedang berjalan cepat mengiringi tempat tidur Widia yang sudah dibawa keluar dari ruang PACU.
Itu artinya, mereka akan membawanya ke ruang rawat.
Alhamdulilah ... Terima kasih, ya Allah ...
Dengan tas belanja di tangannya yang berisi makanan dan minuman, Sara ikut berjalan bersama Ava mengiringi gerak jalan perawat yang mendorong tempat tidur Widia. Sementara Agam dan Arya mengikuti dari belakang.
Selama perjalanan itu, mata Sara sesekali melihat ke arah Widia yang masih menutup kedua matanya. Seperti yang dikatakan Ava tadi, ada banyak luka di wajah Widia, mulai dari luka lecet hingga luka lebam. Rambutnya mungkin terpaksa harus dicukur karena operasi yang harus dilakukan di area kepala, hingga saat ini harus dibalut dengan perban dan kain kasa.
Widia tampak tak berdaya. Wajahnya tak lagi sama seperti saat terakhir kali Sara melihatnya. Padahal, saat dia sehat, dia adalah wanita yang sangat anggun dan cantik.
Begitu Widia selesai ditempatkan di tempat yang benar di dalam kamar rawatnya, perawat keluar dan digantikan oleh dokter yang menangani Widia.
“Kondisinya sudah stabil, tapi masih perlu mendapatkan pemantauan hingga pasien sadar kembali. Setelah pasien sadar dan pulih sekitar 60%, kita akan melakukan pemeriksaan kembali.”
Begitu dokter pergi, Ava yang selalu berada di samping Widia dan terus memegangi tangan sang Mama. Arya sesekali mendatangi Ava, memegangi kedua sisi bahu adiknya seperti sedang memberinya sebuah kekuatan. Bergantian dengan Agam yang melakukan hal yang sama.
Entah jam berapa Yuda akhirnya datang, seperti yang sudah dikatakan Agam. Sara yang sedang tertidur di atas pangkuan Agam dibangunkan oleh sang suami.
Saat Agam dan Arya keluar, Sara menemukan Ava yang ternyata masih berada di samping Widia. Hanya saja kali ini, Ava tertidur sembari memegangi tangan sang Mama.
Sara mencari selimut di tas yang tadi dikirimkan Mbok Jami – atas permintaan Sara, lalu perlahan-lahan menyelimuti Ava.
Sara mengira Ava masih tertidur. Karena ketika dia menyelimutinya, Ava masih menunjukkan tanda-tanda kepulasan. Dia cukup kaget juga saat baru dua langkah berjalan meninggalkan Ava, adik iparnya itu mulai bersuara.
“Di mana Mas Agam sama Mas Arya?,” tanya Ava dalam suaranya yang serak.
“Itu ... ada Mas Yuda di depan. Mereka sedang ngobrol,” jawab Sara apa adanya. Dia hanya tidak mengatakan hal lain selain itu.
Untungnya, Ava tidak penasaran apa yang mereka obrolkan. Dia hanya mengangguk, lalu kembali pada sang Mama.
“Makan dulu, ya. Belum makan dari tadi siang, kan?,” kata Sara menawarkan sekotak nasi yang tadi juga dibawakan oleh Mbok Jami. “Ini, Nasi Hainan, tadi diantarin Mbok Jami. Katanya kesukaan kamu. Mbok Jami sama supir tadi mampir di restoran langganan.”
Ava menerimanya dengan kepalanya yang tertunduk.
Sara tidak tahu mengapa Ava terus menundukkan kepalanya. Bahkan ketika dia menawarkan sebotol air, Ava masih melakukan hal yang sama. Dia tidak mau banyak berpikir, dan membiarkan Ava tetap di dekat Widia.
__ADS_1
“Maaf ...”
Sara langsung menatap Ava yang masih menunduk. Kali ini, dia mendengar ada isakan tangis.
“Ava?”
Itu suara tangisan, kan? Aku nggak salah dengar, kan?
“Aku sudah melakukan kesalahan,” kata Ava lagi yang masih terisak. “Maaf ...”
Sara mendekati Ava kembali. Dia berdiri di sampingnya seraya terus mengusap punggung adik iparnya itu.
“Nggak apa-apa, Ava,” kata Sara. “Kita lupakan saja itu, ya ...”
Ava semakin kencang menangis. Kepalanya kini disandarkan pada Sara saat tangan Sara mulai membelai rambutnya. Meski berulang-ulang Sara mengatakan ‘tidak apa-apa’, Ava masih terus menangis.
Arya mungkin mendengar suara tangisan Ava. Dia membuka sedikit pintu kamar, lalu melongok dari balik pintu. Agam menyusul kemudian. Tapi, tidak ada yang mereka lakukan selain itu. Mereka membiarkan Ava tetap bersama Sara tanpa menyelanya.
......................
Hari berganti, tapi situasi masih sama. Widia sudah sadar, tapi sesekali kembali tertidur karena pengaruh obat yang masih melemahkannya. Tapi begitu lebih baik, karena ketika dia bangun dan menyadari kondisinya yang sekarang, Widia menangis.
Dalam waktu kurang dari 24 jam semenjak dipindahkan ke kamar rawat, Widia baru terbangun dua kali. Yang baru disadari oleh Widia adalah kemampuannya melihat. Sempat histeris sekali, lalu ditenangkan oleh ketiga anaknya. Widia kembali dalam tidurnya yang panjang ketika energinya habis oleh pengaruh obat.
Ava tidak lagi menangis, meski sebenarnya dia sendiri juga tidak tega melihat sang Mama yang menangis. Arya dan Agam menjadi anak lelaki Widia yang pemberani dan melupakan semua yang terjadi. Bersama Ava, mereka ikut menguatkan Widia dengan berada di sampingnya.
Sementara Sara, dia menjadi tim pendukung di belakang mereka, membantu menyediakan semua keperluan mereka selama mereka belum ingin pulang ke rumah.
Seperti saat ini, Sara baru saja memasuki lobby rumah sakit setelah dari mengambil makanan dan keperluan lainnya yang dikirimkan oleh Mbok Jami dan supir. Dia tersenyum lebar melihat semua permintaannya berhasil dibawakan Mbok Jami pagi itu.
Ava kemarin makannya cukup lahap. Dia juga habiskan. Semoga nasi ayam jamur bikinan Mbok Jami kali ini juga masih mengundang selera makan Ava.
Ava masih sedih melihat kondisi Mama. Dia sampai nggak mau pulang. Arya dan Mas Agam juga akhirnya tetap tinggal di rumah sakit. Ya, semoga ini bisa meringankan semuanya.
Senyum Sara terus terkulum membayangkan mereka yang akan menyambutnya dengan barang bawaannya. Arya yang biasanya paling semangat, sementara Ava mungkin masih malu-malu – mirip sekali dengan Agam dulu waktu masih jaim-jaimnya –, jadi biasanya dia hanya mengintip dari belakang kakaknya.
Jarak Sara masih jauh dari lift, tapi dia melihat pintu lift terbuka, dan sedikit yang akan naik. Sara mulai berlari agar dia bisa sempat naik.
Tapi, langkahnya terhenti saat 2 orang pria yang tidak dia kenali berdiri di depannya. Wajah garangnya sangat kontras dengan pakaian kemeja dan jas yang mereka kenakan. Sara memandang keduanya dengan tatapan curiga.
Sara sudah mundur selangkah agar bisa pergi ke arah lain, tapi salah satu pria memberikan ponselnya. Sara tidak paham maksudnya. Dia hanya mengerutkan keningnya saat memandangi pria itu.
“Bos mau ngomong.”
Bos siapa?
Tidak punya pilihan lain lagi, Sara mengambil ponsel itu dan mendengarkannya.
“Coba tebak aku ada di mana?”
“Ndak usah, Nak Vian. Biar dibantu Mina saja.”
Ibu!
__ADS_1