Cinta Itu (Tidak) Buta

Cinta Itu (Tidak) Buta
Part 27-1 : Jangan Dengarkan Mama!


__ADS_3

[Sara]


“Arya! Kamu sudah nggak sayang lagi sama mama, ya?”


Widia mungkin sudah di batas akhir kesabarannya. Berkali-kali dia meminta sang anak untuk pulang tapi tidak satu pun alasan yang dia katakan bisa menggoyahkan hati anaknya itu. Apa lagi yang bisa dia lakukan sekarang selain merajuk seperti saat ini?


“Sayang, sayang. Masak iya nggak sayang, sih? Sayang lah, Ma,” kata Arya dengan lembut seraya memeluk mamanya yang masih terlihat cemberut.


Entah karena Arya yang terlalu mengenali sifat mamanya itu atau memang Arya yang sifatnya terlalu santai. Bahkan di saat Widia yang sudah dalam kondisi yang seperti yang itu, Arya masih bisa menghibur Widia dan bersikap manis di hadapannya. Dan Widia dibuat luluh olehnya.


Dengan Mas Agam, mama tidak pernah seperti itu. Bersikap manja dan merajuk. Mungkin karena sifat Mas Agam yang agak keras.


“Ikut Mama pulang ya, sayang. Please, ya.”


“Oh! Mbak Sara mau kemana?”


Sara baru saja berbalik membelakangi mereka, berniat menghindar agar tidak perlu berlama-lama berada di antara drama ibu dan anak ini. Tapi baru berbalik saja, Arya sudah memergokinya.


“M-mau nyusui anak kucing,” kata Sara gugup. Dia masih kaget karena suara keras Arya yang tiba-tiba memanggilnya, lalu kemudian sudah berdiri di sampingnya.


“Wah! Ikut, Mbak. Ho! Belum dikasih nama, Mbak? Kasih nama dong, Mbak. Apa ya enaknya? Putih, imut tuh, Mbak ...,” dan seterusnya, dan seterusnya, sambil terus mendorong Sara untuk menjauh dari mamanya dan tidak mempedulikan setiap panggilannya.


Jelas sekali dia sedang menghindari Widia.


......................


“Mbak, ini diginiin terus, ya?,” tanya Arya seraya menggendong anak kucing yang baru saja diberi susu. Dia mengikuti arahan Sara untuk menggendong anak kucing itu di atas dadanya hingga bersendawa.


“Iya. Pelan-pelan saja. Nanti pasti keluar (sendawanya),” kata Sara yang sedang sibuk merapikan kandang yang semalam datang tapi belum sempat dirapikan, karena terlalu malam.


Kalau ingat-ingat saat semalam Raka datang dengan semua perlengkapan yang Agam perintahkan, Sara hampir tertawa dibuatnya. Meskipun Raka benar-benar mendapatkannya, tapi dia mendapatkannya dengan penuh perjuangan. Semua karena perintah Agam yang mengatakan, “Nanti malam semua harus siap.”


Membawa dokter hewannya saja sudah sulit, apalagi membeli semuanya sekaligus. Semalam waktu Raka datang saja sudah terlihat begitu pucat kelelahan. Mau tertawa tapi kasihan, mau kasihan tapi sebenarnya semua salah Sara sendiri. Hanya bisa minta maaf dalam hatinya saja.


Tak lama setelah itu, anak kucingnya sudah dimasukkan ke dalam kandang oleh Arya. Lalu duduk di depannya memperhatikan dengan intens, tapi terlihat sangat menghiburnya.


Memperhatikan mood Arya yang sepertinya cukup baik, dengan sangat berhati-hati, Sara bertanya padanya, “Mama masih belum pulang. Nggak mau ngomong sama Mama dulu?”


Arya tidak langsung menjawab. Dia meneruskan memperhatikan anak kucing itu dengan kedua tangannya menyangga kepalanya.


Sesaat setelah itu barulah Arya menghela napasnya. “Mbak nggak suruh aku pulang juga, kan?,” tanyanya seraya menatap Sara memelas.


Sara tertawa jadinya. “Ya bukan begitu. Maksud Mbak cuma kasihan sama Mama. Ditinggal sendirian di dalam.”


“Terus Mbak nggak kasihan gitu sama aku? Dipaksa pulang padahal nggak mau,” rajuk Arya yang lagi-lagi mengundang tawa Sara.


“Ya bukan begitu juga. Mungkin Mama masih kangen. Begitu sampai kamu malah mainnya ke sini. Padahal Mama nungguin,” timpal Sara.


“Oohh ... Jadi intinya Mbak keberatan gitu kalau aku main ke sini.”


Sara tidak bisa membalas lagi ucapan Arya itu. Setiap dia menyampaikan sesuatu hal, Arya malah menanggapinya berbeda. Kesal jadinya.


“Ah, nggak tahu, ah. Salah terus jadinya,” gerutu Sara kesal.


Arya malah tertawa begitu Sara menggerutu. Saat Sara melirik ke arahnya, tawa adik iparnya itu semakin menjadi. Sara tidak bisa menahan tawanya. Dia ikut tertawa bersama Arya.


“Mama itu susah ditolak kemauannya,” kata Arya setelah tawanya mereda. “Kalau sudah maunya, itu artinya harus terlaksana. Kalau aku masih tetap di dalam, Mama nggak akan berhenti memaksa. Akhirnya aku yang capek, Mbak.”

__ADS_1


Sara sedikit paham sekarang. Mungkin karena itu juga Mas Agam memintanya untuk mengatasi mamanya itu.


“Jangan khawatir, Mbak. Mama sekarang mungkin sedang gangguin Mbok Jami di dapur,” katanya lagi.


Sara hanya tersenyum kali ini


“Mbak,” panggil Arya membuyarkan lamunan Sara. “Kasih nama Milo, ya? Boleh, ya? Daripada dipanggil anak kucing mulu. Boleh, ya? Boleh, ya?”


Sara sedikit terkejut jadinya. Tidak menyangka saja, ternyata adik Agam bisa semanja ini padanya. Padahal mereka baru bertemu, dan Arya pun lebih tua darinya. Sikap Arya pada Sara seperti orang yang sudah lama saling mengenal.


Apakah memang seperti itu karakter Arya? Setelah dipikir lagi, manjanya Arya dan Mama Widia memang mirip.


Sara tersenyum. Tapi dia juga bukan tidak berniat menamainya. Hanya belum terpikirkan saja.


Meskipun sudah terpikirkan, tapi jika melihat bagaimana Arya memohon, rasanya akan sulit untuk berkata tidak.


Ya Allah, lihat matanya, memelas gitu , gimana bisa nolak?


Sara pun mengangguk. Dan Arya langsung kegirangan. Dia langsung mengambil anak kucing yang sekarang bernama Milo itu dan menggendongnya.


Sara hanya tersenyum memandangi Arya bersama dengan peliharaan barunya.


......................


Sara baru selesai dari garasi samping, tempat Milo si anak kucing tinggal dan akan menyelesaikan pekerjaannya dari Agam, ketika dia mendengar percakapan antara Agam dan Widia di ruang kerja Agam.


“Kamu tahu kan kalau Arya sebentar lagi akan mulai kerja. Arya juga lulusan terbaik di kampusnya. Jadi Mama yakin, dia lebih dari siap untuk menghandle perusahaan. Mama mohon sama kamu, Agam. Percayakan saja NFC ke Arya. Mama yakin Arya bisa mengatasinya. Kamu fokus saja ke kesehatan kamu. Biar Sara yang menemani kamu.”


Itu suara Mama ...


“Mama juga tahu apa yang akan aku katakan. Kenapa Mama masih ngotot mengatakan ini semua?,” timpal Agam yang suaranya masih merendah.


“Aku buta dan tuli? Karena itu aku tidak akan mampu memimpin NFC?” Agam melanjutkan kalimat Widia yang terputus.


Widia terdiam kali ini. Mungkin tidak dapat menemukan kata-kata yang lebih tepat lagi untuk membalas ucapan Agam.


“Orang tuaku membangun NFC sejak mereka masih hidup. Sebelum papa meninggal, tugas meneruskan NFC juga sudah diwariskan untukku . Mama juga tahu itu. Lalu kenapa kalau aku buta dan tuli? Aku masih bisa memimpin NFC.” Agam mungkin sudah mulai kehilangan kesabarannya. Meski nada suaranya tidak meninggi, terasa sekali emosi yang sedang ditahannya.


“Tapi para direksi ingin Arya yang memimpin NFC dan FTC, Agam. Jangan biarkan para direksi kecewa, ya. Kamu akan tetap menghancurkan NFC kalau seperti itu. Biarkan Arya yang memimpin, ya,” bujuk Widya sekali lagi.


Kenapa Mama ngotot sekali?


“Bagaimana kalau aku bisa sembuh?” Agam tiba-tiba menanyakan sesuatu yang cukup mengejutkan. “Kalau aku bisa melihat dan mendengar lagi, kalian akan berhenti memaksaku, kan?”


Mas Agam ...


“K-kamu nggak mungkin bisa sembuh.” Ucapan Widia lebih mengejutkan lagi.


Apa maksud ucapan Mama?


“Mama terdengar yakin sekali? Kenapa Mama bisa begitu yakin?”


“M-maksud Mama, k-kamu sudah bertahun-tahun seperti ini, b-bagaimana kamu bisa sembuh?” Entah mengapa Widia mendadak menjadi begitu gugup.


“Kalau bisa? Apa yang akan Mama lakukan? Apa Mama akan membuatku buta dan tuli lagi?”


Tidak terdengar lagi suara Widia. Ruangan itu juga mendadak menjadi hening. Apa yang sedang terjadi?

__ADS_1


Sara maju selangkah demi selangkah mendekati ruang kerja Agam. Tepat selangkah lagi dia akan tiba di depan ruangan itu, suara Widia mulai terdengar lagi.


“Agam, Mama tahu kamu ingin sekali bisa melihat lagi, tapi jangan sampai khayalanmu itu malah membuat kamu lupa kenyataan. Tidak semua hal bisa berjalan sesuai keinginan kita, Agam. Jangan biarkan NFC hancur karena kamu seperti ini.”


BRAK!


“Khayalan atau bukan, aku tetap tidak akan menyerahkan NFC!,” bentak Agam setelah bunyi gebrakan meja yang didengar Sara.


Sara tidak tahu apa maksud Widia berkata seperti itu. Apakah perlu mengatakan seperti itu hanya agar Agam menuruti kemauannya? Dan mengapa pula Widia harus begitu ngotot dengan keinginannya itu?


Perdebatan ini tidak akan pernah berakhir.


Sara akhirnya memberanikan dirinya untuk masuk ke ruang kerja Agam. Saat itu juga, Sara dapat melihat Widia sudah bersiap untuk melanjutkan perdebatan mereka.


“Ma ...,” panggil Sara. Widia yang sedang berdiri menghadap Agam yang ada di balik meja kerjanya langsung berbalik menatap Sara.


“M-maaf, Ma ... Sara mau bawa Mas Agam ke kamar. Sebentar lagi Mas Agam harus minum obat, setelah itu dia akan istirahat sebentar,” kata Sara beralasan.


Kakinya terus bergerak melangkah mendekati Agam di tengah pandangan mata Widia yang tidak berhenti menatapnya. Perhatian Sara hanya terfokus pada Agam tanpa mempedulikan Widia.


“Sara, tolong bujuk suamimu itu agar dia mau mendengarkan Mama. Minta dia untuk melepaskan NFC.”


Sara dapat melihat Agam mengepalkan tangannya dengan keras, menyembunyikannya di balik meja kerjanya. Pasti sakit menahan semuanya sendirian.


Sara ingin bisa meringankan rasa sakit Agam itu, tapi dia sendiri tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Meski Widia tidak berhenti mengoceh saat ini, tapi yang Sara perhatikan saat ini hanyalah Agam yang ada di hadapannya.


Pelan-pelan, Sara menjulurkan tangannya, lalu dengan lembut menyentuh kepalan tangannya itu dan menggenggamnya. Dan perlahan dapat Sara rasakan tegang di tangan Agam semakin lama semakin berkurang.


“Sara! Kamu dengar Mama, kan?”


Belum sempat Sara mengatakannya, suara keras lain terdengar dalam ruangan itu.


“Mama, cukup!”


Widia jelas terlihat sangat pucat melihat Arya yang sedang berdiri di depan pintu. Widia pasti tidak ingin Arya tahu soal ini.


“Ayo, Mama pulang saja” Arya terus menarik mamanya itu keluar dari sana.


“A-arya ... T-tunggu ...”


“Nggak. Ayo, Mama pulang sekarang.”


Tidak peduli lagi dengan yang dikatakan Widia, Arya terus mendorongnya keluar. Dan sebelum dia menyusul Widia yang sudah tidak ada lagi di ruangan itu, Arya berbalik lalu mengatakan sesuatu.


“Mas jangan dengarkan Mama! Pokoknya NFC adalah milik Mas! Aku pergi dulu, nanti aku balik. Aku antar Mama pulang.” Dan kemudian pergi.


Agam tidak mengatakan apapun. Arya sendiri juga sepertinya tidak berharap Agam menanggapi apapun. Dia tetap pergi tanpa menunggu Agam menjawab.


Tepat di saat itu, pandangan Sara beralih dari Arya ke Agam. Dilihat tangannya masih menggenggam tangan Agam. Sara langsung tersadar, dia baru saja melakukan kesalahan.


“M-maaf, Mas. Bukan maksudku ...,” kata Sara gugup seraya menarik tangannya dengan cepat.


“Aku mau istirahat sebentar di kamar. Kamu pergilah selesaikan pekerjaanmu,” kata Agam dan kursi rodanya sudah langsung bergerak menjauh dari Sara.


Sara memandangi perginya Agam dengan perasaan gundah. Entah mengapa, dia ingin sekali bisa menemani pria itu. Ingatannya pada malam itu membuatnya khawatir jika Agam menjadi semarah waktu itu.


Semoga saja tidak ...

__ADS_1


Tapi di sisi lain, meski tidak sepenuhnya, di hari itu, Sara akhirnya bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi antara Agam dan Widia, sang ibu tiri.


__ADS_2