
[Arya]
“Mas jangan dengarkan Mama! Pokoknya NFC adalah milik Mas!”
Hanya itu yang bisa Arya katakan saat ini. Dia ingin mengatakan hal lain, tapi yang terlintas di kepalanya saat ini hanya itu.
Yang penting Mas tahu keinginanku. Tak pernah sekalipun aku ingin merebut NFC!
“Arya! Kamu harus dengerin Mama. Yang Mama lakukan ini untuk kamu dan Ava. Arya! Pelanin mobilnya! Mama takut.”
Begitu keluar dari rumah, yang dipikirkan Arya hanya membawa Widia keluar dari rumah kakaknya. Dia tidak ingin mamanya itu semakin membuat Agam banyak pikiran lagi. Supir yang bahkan sudah menunggu sedari tadi ditinggal melongo begitu saja. Tidak tahu harus apa begitu melihat tuannya sedang menarik paksa nyonya majikannya.
Sepanjang perjalanan menuju rumah utama yang diingat Arya dalam kepalanya hanyalah pesan papanya sebelum kecelakaan itu. Pesan penting yang seharusnya tidak boleh diganggu gugat oleh siapapun bahkan oleh mamanya sendiri.
#
“Papa akan mengurus surat wasiat untuk kamu, kakakmu, dan juga adikmu,” kata Wirasurya suatu hari.
Arya yang saat berumur 18 tahun, melihat papanya yang begitu serius malah menanggapinya dengan candaan. “Papa ini ngomong apa sih. Papa masih sehat gitu kok sudah ngomongin wasiat.”
“Arya, dengarkan Papa baik-baik,” kata Wirasurya lagi, tidak menanggapi ketidakseriusan anaknya.
Arya pun tahu, papanya itu sedang ingin mengatakan hal yang sangat serius.
“Biarkan NFC menjadi milik kakakmu. Kelak kamu yang akan mengurus FTC. Kakakmu itu tidak pandai berbicara dengan banyak orang. Biarkan itu menjadi tugas kamu di FTC. Bantulah kakakmu untuk pendistribusiannya. Kelak FTC juga akan berkembang melebihi NFC, itu semua tergantung bagaimana kamu yang akan membangunnya.”
Arya masih mendengarkan dengan baik-baik. Dia patri kuat-kuat pesan papanya itu dalam batin dan ingatannya.
“NFC dan FTC harus saling bekerja sama. Kakakmu akan memikirkan idenya bersama NFC, dan kamu akan mendistribusikannya bersama FTC. NFC dan FTC harus selalu saling bekerja sama, sama seperti kalian yang selalu akur sebagai saudara dan keluarga.”
“Iya, Pa.”
__ADS_1
“Soal Ava,” lanjutnya lagi. “Papa akan serahkan pada kalian sebagai kakak-kakak Ava. Buatlah sebuah perusahaan atau apapun itu yang sesuai dengan minat dan bakat Ava. Jangan paksakan dia untuk berada dalam NFC atau FTC jika dia tidak berminat.”
Arya menjawab dengan tegas, “Baik, Pa. Arya akan ingat itu. Papa jangan khawatir.”
#
Mungkin Papa tahu hal seperti ini akan terjadi. Mungkin Papa tahu kalau Mama akan seperti ini. Papa tahu Mama juga mengincar NFC.
“Arya, dengerin Mama. Kamu boleh benci sama Mama, tapi Mama melakukan untuk kalian anak-anak Mama,” teriak Widia saat Arya membawanya ke ruang kerja begitu tiba di rumah utama. Dengan tidak mempedulikan semua orang, dia melewati banyak pelayan yang memandangi dirinya dan sang mama yang ditarik paksa olehnya.
“Anak-anak Mama yang mana? Mas Agam bukan anak Mama juga?,” timpal Arya yang sontak membuat Widia menunduk. “Arya nggak nyangka Mama akan bilang begitu.”
Widia segera mengejar Arya yang baru saja berbalik membelakanginya. Dia memeluk lengan putranya itu dan memohon pada putranya agar mau melihatnya.
“Tidak, Arya. Tidak! Jangan benci Mama. Mama sayang sama kalian semua. Tapi, tapi ... Mama takut Agam bersikap tidak adil karena kalian bukan adik-adik kandungnya.”
“Apa?! Mama sadar kan Mama baru bilang apa?,” pekik Arya. Kedua matanya terbelalak lebar seakan tak percaya dengan apa yang didengarnya.
Apa yang Mama pikirkan selama ini? Kenapa Mama berpikir seperti itu?
“Arya, Arya, dengerin Mama. Dengerin Mama baik-baik.” Widia meraih wajah Arya agar mau bertatapan dengannya. Pandangan mata Widia berubah menjadi lembut saat Arya menatapnya. “Semua orang pasti berubah jika sudah dipengaruhi harta, Nak. Begitu juga Mas Agam mu. Karena itu dia tidak mau memberikan NFC sama kamu. Karena dia tahu FTC bukan apa-apa jika dibandingkan dengan NFC. Kamu harus merebut NFC, Arya. Hanya kamu yang bisa memimpin NFC dan FTC.”
Lagi. Mama mengatakannya lagi. Bukan Mas Agam yang terpengaruh harta. Tapi Mama.
“Jadi selama ini Mama meremehkan FTC? Mama menganggap Arya nggak akan mampu membangun FTC? Mas Agam bahkan mengirimkan Arya ke sekolah terbaik hanya agar Arya bisa memimpin FTC. Dan sekarang mama yang melahirkan Arya sedang meragukan anaknya? Mama tahu kan apa yang sedang Mama katakan?”
Sedikit demi sedikit, Arya dapat melihat apa yang sedang Widia pikirkan. Mungkin juga yang selama ini sudah menjadi akar kuat dalam kepala mamanya itu.
Sulit dipercaya Mama bisa berpikiran seperti itu. Mama bahkan terlihat sangat menyayangi Mas Agam.
“Arya, kamu harus tahu. Ada alasan Mas mu itu mengirimkan kamu ke luar negeri. Dia pasti punya rencana. Kamu jangan buta, Arya. Kamu tinggal di sini saja, ya. Jangan di sana. Kamu kalau di sana pasti akan terus merasa kasihan sama Agam. Kamu jadi nggak bisa membedakan mana yang benar mana yang salah.” Widia masih belum menyerah juga.
__ADS_1
“Cukup, Ma. Cukup. Arya kecewa sama Mama. Sudah cukup Arya dengar omong kosong Mama hari ini. Mama yang sudah dibutakan harta. Bukan Mas Agam,” ujar Arya lemah. Dia menundukkan kepalanya sangat dalam, seakan-akan malu dengan semua yang dikatakan mamanya.
Widia masih terus mengoceh tentang hal yang sama, berusaha menghalangi Arya yang akan pergi. Meski Arya tidak menggubrisnya, Widia tidak berhenti membujuknya.
“Tunggu, Arya. Pikirkan adikmu, Ava. Dia tidak dapat apa-apa dari Papa. Dia paling kasihan, Arya. Umurnya masih muda. Apa yang akan di ...”
Belum juga selesai Widia berbicara, Arya langsung memotongnya, “Mama dengar sendiri kan saat surat wasiat itu dibacakan? Papa sudah menyiapkannya untuk Ava. Semua terserah keinginan Ava. Apapun yang Ava inginkan, Mas Agam sudah siap melaksanakannya, Ma! Cukup, Ma. Sudah cukup!”
Arya sudah tidak tahan lagi. Dia percepat langkah kakinya untuk segera keluar dari sana.
Tapi baru dia menyentuh gagang pintu ruangan itu, Widia kembali berkata, “Papamu ... dari dulu dia hanya menyayangi Agam. Karena Agam adalah anak dari wanita itu. Papamu menganggap hanya Agam adalah anaknya.”
Arya menggenggam gagang pintu itu keras-keras tanpa berniat menggerakkannya. Dia ingin berteriak, tapi sudah terlalu lelah dengan sifat keras kepala mamanya itu. Hanya bisa menahan semuanya di dalam dada dan berharap Widia bisa menyadari semuanya.
“Mama salah. Papa menyayangi kami semua secara adil. Apa Mama tahu? Papa sudah merancang FTC untuk menjadi pemimpin semua anak perusahaan Future Group. Dan siapa yang Papa tugaskan untuk menangani itu semua? Arya. Anak yang Mama bilang tidak dianggap oleh Papa.”
Arya menghela napasnya. “Arya tidak tahu dari mana semua pemikiran Mama tentang Mas Agam dan Papa. Tapi Arya sudah sangat kecewa hari ini. Apapun yang akan Mama katakan, Mama harus tahu, Arya tidak akan memaafkan Mama kalau Mama sampai menyakiti Mas Agam.”
BAM!
Pintu besar yang terbuat dari kayu tebal itu dibanting dengan sangat keras oleh Arya begitu keluar dari sana. Dia terus berjalan melewati banyak pasang mata pelayan yang terus mengunci dirinya hingga benar-benar hilang dari pandangan mereka.
Dan begitu dia masuk ke dalam mobilnya, Arya terus memukuli setir mobilnya dengan keras dan berulang-ulang. Teriakan kemarahan juga ikut menyertai.
“ARGH!!”
Jadi selama ini, Mama terus memojokkan Mas Agam. Ini yang selama ini Mama pikirkan tentang Mas Agam. Tidak, cukup sudah. Mama tidak boleh melakukan ini lagi.
Dengan kemarahan yang masih melekat di dadanya, Arya mengambil ponsel yang ada di sakunya. Dia tekan satu nomor asing yang tidak tersimpan di ponselnya tapi cukup sering dia hubungi.
Begitu tersambung, tanpa sapaan akrab ataupun basa-basi, Arya berkata, “Aku butuh bantuanmu. Selidiki beberapa hal untukku. Aku butuh segera jawabannya.”
__ADS_1