Cinta Itu (Tidak) Buta

Cinta Itu (Tidak) Buta
Part 55-2 : Kebohongan Sejak Awal (POV Agam)


__ADS_3

[Agam]


Agam hanya beberapa langkah saja dari rumah Ibu saat dia mendengar suara Sara dan seorang pria sedang mengobrol di teras rumah.


“Kamu takut suamimu atau Ava yang salah paham soal ini?”


Sejak itu, langkahnya langsung terhenti. Dia mendengar hampir semua pembicaraan mereka.


Tapi, bukan tentang apa yang mereka bicarakan yang tidak disukai oleh Agam. Melainkan tentang keberadaan Vian di rumah Ibu Sara. Untuk apa?


Dari rasa tidak suka, lama kelamaan menjadi cemburu. Terutama ketika Vian mulai membicarakan masa lalu mereka.


“... seperti kita dulu ...”


Agam mulai jengah. Dia memutuskan untuk menunjukkan dirinya.


“M-mas Agam ...”


Sara langsung berlari padanya, dan mencium punggung tangannya, seperti biasa.


Memang seperti itulah Sara. Dulu dan sekarang. Tidak pernah berubah. Ada Vian atau pun tidak, Sara tetaplah Sara yang kukenal.


Saat Sara selesai melakukan tugasnya, Agam dengan segera menggenggam tangan Sara tanpa berniat untuk melepaskannya. Dia menggandengnya.


“Ibu di dalam? Aku ketemu Ibu dulu, ya,” katanya.


“Iya ... Aku antar ke dalam.”


Dan begitu saja, Sara sudah tidak mempedulikan Vian sama sekali.


“Mas, aku beneran nggak tahu kalau Mas Vian ke sini. Ibu bilang Mas Vian sering ke sini. Aku juga kaget waktu lihat dia ada di sini.”


Sara terus berusaha menjelaskan tentang apa yang terjadi sepanjang perjalanan mereka menemui Ibu. Sementara Agam hanya diam dan tidak menanggapi apapun. Mood Agam yang dari awal sudah buruk, kini bertambah buruk saja.


Padahal aku tidak bertanya apa-apa. Tapi mengapa yang dia bicarakan dari tadi hanya Vian, Vian, dan Vian?


Semakin kesal saja. Agam kemudian menarik tangannya yang masih menggandeng Sara. Dia membuat Sara mendarat tepat di depan dadanya. Lalu mengunci pinggangnya dengan tangannya yang lain agar tetap menempel padanya.


Sara hanya diam saja saat Agam menatapnya. Meski penglihatan Agam yang tidak sempurna, tapi masih dapat terlihat olehnya sosok Sara yang cantik dalam pandangannya. Agam sudah bisa menggambarkan wajah Sara meski hanya dalam bayangannya saja.


Agam kemudian melepaskan pegangannya pada Sara, lalu beralih menyentuh wajah Sara, dan menciumnya. Hanya sebentar, hanya untuk menyadarkan Sara bahwa suaminya yang saat ini bersamanya. Bukan pria dari masa lalunya itu.


“Kita bicarakan ini di rumah saja, ya.”


Sara mengangguk. Agam pun tersenyum.


“Iiihh .... Tante Sara sama Om Agam ... Kok pacaran disini? Ada anak kecil, tauk?!”


Suara Nisa seakan mengembalikan dunia yang hanya milik mereka berdua kembali ke tempatnya. Seolah-olah menyadarkan mereka kembali bahwa yang lain bukan ngontrak tapi ikut tinggal bersama mereka.


Tapi Agam tidak melepaskan pelukannya yang mengunci Sara tetap bersamanya. Dia hanya tersenyum memandangi gadis kecil yang saat ini sudah berusia 9 tahun. Lalu kembali pada Sara dan mencoba menciuminya lagi.


“Aaaahh ...,” teriak Nisa. Dari ujung matanya, Agam bisa melihat gadis kecil itu menutup matanya dengan kedua tangannya.


“Mas!,” omel Sara.


Agam tertawa.

__ADS_1


“Uttii ... Om Agam sudah datang ...,” teriak Nisa lagi sambil berlari ke belakang memanggil Ibu.


Sara memukuli dadanya, lalu berusaha melepaskan pelukannya, dan merapikan dirinya. Karena dia tahu, Ibu akan datang sebentar lagi.


Dan ternyata benar.


Agam pun memberikan salamnya pada Ibu begitu melihatnya.


“Apa kabar, Bu?,” katanya.


“Alhamdulilah baik, Nak Agam,” jawab Ibu setelah melepaskan pelukan hangatnya saat menyambut kedatangannya. “Nak Agam gimana? Kelihatannya lebih baik dari yang terakhir kali Ibu video call sama Sara. 2 bulan lalu kalau ndak salah, ya?”


“Iya, Bu. Alhamdulillah semakin baik.”


“Syukurlah ...”


“Oh iya Sara ...,” lanjut Ibu lagi yang kali ini ditujukan untuk Sara. “Tolong kamu bantu Mina di belakang. Rawonnya kamu cicipi dulu. Kalau kurang asin, kami tambahin garamnya. Nanti kalau sudah, kamu taruh di meja makan. Kita makan sama-sama setelah ini.”


“Iya, Bu ...”


Dan pergilah Sara ke belakang meninggalkan Agam dan Ibu yang masih melanjutkan mengobrol.


Tapi obrolan mereka terpaksa berhenti tatkala Vian tiba-tiba masuk dan kembali menimbulkan rasa kesal di hati Agam.


“Saya pamit pulang dulu, Bu ...,” kata Vian yang langsung maju mendekati Ibu dan mencium punggung tangan Ibu.


“I-iya, Nak Vian. Terima kasih sudah datang.” Ibu terdengar cukup gugup. Mungkin merasa tidak enak dengan Agam, karena sesekali Ibu menoleh ke arah Agam. Tapi keramahtamahannya pada Vian tetap dijaga.


“Sara ada di belakang. Lagi bantu Mina. N-nisa ... To ...”


“Tidak perlu, Bu,” kata Agam pada Ibu.


Lalu beralih pada Vian. “Nanti aku sampaikan kalau kamu sudah pulang.”


Vian hanya berdiri. Tanpa tanggapan apa pun. Tapi, tak lama kemudian, dia berkata, “Baiklah kalau begitu. Saya pulang dulu, Bu, Mas ...”


“Biar saya saja, Bu.” Agam langsung berdiri dari duduknya ketika melihat Ibu akan beranjak.


Lebih baik aku yang mengantarkannya.


Hingga pagar depan, tidak ada satu pun dari mereka yang mulai berbicara. Agam diam, Vian pun demikian. Aura dingin mengelilingi mereka saat berjalan bersama. Seperti rival yang sedang berbicara dengan batin mereka.


“Apa Ava tahu kamu ke sini?” Agam akhirnya yang pertama kali membuka pembicaraan kala mereka tiba di depan.


Vian terdiam sesaat. Memberikan Agam sebuah kesimpulan. “Aku rasa Ava tidak tahu.”


Agam terus menatap pria yang ada di hadapannya saat ini. Meski penglihatannya masih kabur, dia terus menatapnya seperti seekor elang yang sedang menanti mangsanya bergerak. Hanya untuk memperlihatkan pada pria yang pernah menjadi masa lalu Sara itu bahwa dirinya saat ini sedang mengatakan sesuatu yang sangat serius.


“Sara benar. Berhenti datang ke mari sebelum ada kesalahpahaman yang sulit diperbaiki di kemudian hari. Ava adalah adikku, dan Sara adalah istriku. Jadi aku harap kamu mendengarkan kata calon kakak iparmu.”


Agam langsung berbalik dan masuk ke dalam rumah tanpa menunggu Vian menjawabnya.


Dia bukan pria bodoh. Dia pasti paham maksudku.


Tapi, entah mengapa, Agam tetap tidak tenang. Perasaan tidak senangnya saat pertama kali mendengar pembicaraan Vian dan Sara di depan, rasanya masih melekat sampai sekarang.


Bahkan ketika jalan-jalan ke mall bersama anak-anak dan Ibu, Agam lebih banyak diam sembari memperhatikan anak-anak bermain dan bersenang-senang. Padahal, dia sendiri yang mengusulkan acara jalan-jalan itu.

__ADS_1


“Mas marah?,” tanya Sara ketika mereka berada di kamar sepulangnya dari makan malam di luar bersama Ibu dan anak-anak.


Rupanya, Sara merasakan ada yang salah dengan diamnya Agam. Dan memang itu kelebihan Sara yang Agam sukai.


“Apa Mas marah karena Mas Vian ke rumah?,” tanyanya lagi.


Vian lagi. Kenapa setiap kali Sara menyebut nama Vian darahku seakan mendidih? Aku tidak suka mendengar nama itu keluar dari mulut Sara.


“Maaf, Mas. Aku benar-benar nggak tahu kalau Mas Vi ...”


Agam langsung menghentikan ucapan Sara dan membungkamnya dengan bibirnya, melummaatnya dalam-dalam seakan ingin menyeedot habis semua kata yang ingin dikatakan Sara.


Ketika dia melepaskannya, napas Sara sudah terdengar cukup berat. Sara sudah terengah-engah.


Agam tahu itu kelemahan Sara. Setiap kali Agam menciumnya dengan sangat intens, Sara seakan larut seperti gula yang menyatu dengan air. Seolah-olah, hanya Agam yang bisa membuatnya seperti itu. Hanya untuk Agam, Sara terlunglai dalam pelukannya, tapi masih mengharapkan lebih darinya.


“Bisakah kamu berhenti menyebut nama Vian? Aku tidak suka ... mendengarnya.”


Tidak beda dengan Agam. Begitu melihat Sara yang bertekuk lutut di hadapannya, gaiiraahnya mulai menaik, hassratnya semakin menggebu, dan dia semakin menginginkan Sara. Dia ingin melaahap habis semua yang ada pada Sara. Karena dia tahu, Sara hanya miliknya. Semua yang ada pada Sara adalah miliknya. Seutuhnya.


Yang terjadi selanjutnya sangat jelas tergambar dari kedua wajah mereka yang sama-sama saling menginginkan satu dan yang lainnya. Seperti seekor serigala yang kelaparan, Agam langsung melahaap habis domba kecil yang sudah jatuh ke dalam pelukannya dan tak ingin dilepaskan begitu cepat.


Dan itu yang terjadi pada malam ini.


Entah karena rasa cemburunya atau karena rasa cintanya yang begitu besar, rasa puas Agam seakan tidak terasa cukup dan selalu meminta lebih, lebih, dan lebih. Dan entah tenaga dari mana, yang jelas malam ini tidak akan mungkin diselesaikan dengan cepat.


......................


Berat rasanya kedua mata Agam untuk dibuka. Dia bisa merasakan rasa lelah yang hebat di sekujur tubuhnya. Tapi, ada sesuatu yang menggerakkan tangannya saat ini.


“Jam berapa sekarang?,” tanya Agam semakin mengeratkan pelukannya pada Sara yang dia ketahui akan beranjak dari tempat tidur.


“Jam 4, Mas. Waktunya sholat shubuh,” jawab Sara yang terdengar lelah.


Sudah pasti Sara kecapekan. Semalam jauh di luar kebiasaan mereka selama ini. Agam menyebutnya malam yang luar biasa.


“Mas sholat juga, ya ...”


Semenjak di Jepang, Agam jadi tahu kebiasaan Sara setiap pagi. Sejak itu, Sara selalu mengajaknya sholat. Yang akhirnya jadi kebiasaan baru Agam hingga saat ini.


Tapi, kali ini beda ceritanya. Rasa lelahnya seperti menarik tubuhnya dengan keras melekat pada tempat tidur.


“Setengah jam lagi, ya,” pintanya memelas seraya lebih erat lagi memeluk Sara hingga dia bisa menciumi leher jenjang Sara yang penuh dengan aroma kesayangannya. Citrus-musk-vanilla.


Sara malah memukuli lengannya. “Iih ... Kita masih harus mandi besar dulu.”


Mandi besar? Ah iya, semalaman kita ...


Dan hanya begitu saja, energinya seperti kembali penuh. Agam langsung melonjak naik. Dengan masih memeluk Sara, dia berkata, “Kamu capek?”


Sara memukulinya lagi. “Mas, iih ... Se-ma-la-man!”


Agam terkekeh. Lalu, “Sekali lagi, ya. 5 menit.”


“Haaa? Mas, Mas, ... hmmp ...”


Terlambat ... mulut Sara kembali dibekap dengan bibirnya hingga tak lagi bisa memanggil namanya.

__ADS_1


__ADS_2