Cinta Itu (Tidak) Buta

Cinta Itu (Tidak) Buta
Part 62-1 : Saling Merindukan


__ADS_3

[Sara]


Rasanya menenangkan.


Itu yang Sara ingat setelah obat penenang yang disuntikkan dokter padanya mulai bekerja. Hatinya masih terasa sakit, tapi kedua matanya terasa begitu nyaman saat dia menutupnya. Dia tak kuasa terbuai dalam lelapnya.


Begitu terbangun dia seakan melupakan apa yang membuatnya menangis tadi. Dia bahkan tidak ingat kalau itu terjadi padanya. Semuanya dilupakan begitu saja saat dia melihat Agam sedang tertidur sambil memegangi tangannya.


Sara menggerakkan sedikit badannya menghadap ke samping, menatap sepenuhnya Agam. Begitu pelan agar Agam tidak terbangun. Tangan kirinya yang bebas bergerak, perlahan menyentuh rambut lembut Agam.


Mas Agam pasti sangat lelah ...


Tiba-tiba saja Agam mulai bergerak. Dia mungkin merasakan gerak tangan Sara yang membelai lembut rambutnya.


“Kamu sudah bangun?,” tanya Agam seraya mengusap kening Sara. “Mau aku ambilkan sesuatu?”


Sara menggelengkan kepalanya.


“Mas sudah makan?,” tanya Sara lirih. Masih tersisa serak-serak suara Sara setelah dia berteriak tadi.


“Sudah tadi. Makan di kantin,” jawab Agam singkat.


Tapi Sara juga ragu kalau Agam berkata jujur.


“Ish, muka kurus gini masih bilang sudah makan,” goda Sara yang masih sempat bercanda meski suaranya sendiri masih terdengar lemas. Tangannya memegangi wajah Agam.


Agam tersenyum. Sekilas terbesit kelegaan. Dia membelai rambut Sara.


“Tadi sudah sama Arya. Beneran. Tanya Arya kalau tidak percaya.”


“Arya pasti belain kakaknya,” timpal Sara lagi.


Agam kali ini tertawa. Dia kemudian mengecup kening Sara.


“Apa dokter bilang aku sudah boleh pulang, Mas?,” tanya Sara.


Agam sedikit terkejut. “Kamu mau pulang?,” tanyanya hati-hati.


Sara menganggukkan kepalanya. “Aku mau di rumah saja. Kalau aku di sini terus Mas nggak mau pulang.”


Agam tertawa lagi. “Tunggu tiga hari lagi, ya.”


“Sehari.”


"Dua, dua, ya ..."


Sara menunjukkan jempolnya.

__ADS_1


Tawa Agam menjadi lebih keras dari yang tadi. “Nanti aku ngomong sama dokternya.”


Sara mengangguk kembali seraya tersenyum pada Agam. Aku hanya butuh istirahat di rumah. Aku kangen rumah.


Dan dokter mengijinkannya.


Sara benar-benar pulang dua hari setelah itu. Kondisinya juga semakin membaik. Itu pun setelah Agam memaksanya makan ini dan itu setelah dokter tidak memberi larangan makan apapun.


Yang mengejutkan adalah kedatangan Ibu pagi harinya. Dan yang dikatakan Ibu setelahnya.


“Nanti Ibu menginap di rumah beberapa hari ndak apa-apa, kan?”


Entah mengapa, Sara malah menitikkan air matanya. Rasanya senang sekali mendengar Ibu mengatakan itu.


“Ibu apaan, sih? Kenapa nggak boleh? Mas Agam juga nggak apa-apa, kok. Iya kan, Mas?,” ujar Sara manja pada sang Ibu. Dia memeluknya erat seraya menghapus air matanya dari balik pelukannya.


Dari balik pelukannya itu juga, Sara melihat sang suami sedang memandangi mereka dengan senyumannya.


......................


Lebih dari setengah bulan Ibu menginap di rumah menemani Sara. Kehadiran Ibu di rumah jelas memberikan satu ketenangan tersendiri bagi Sara.


Bukan berarti melupakan apa yang dikatakan Vian siang itu. Juga bukan berarti dia sudah tidak marah setiap kali dia mengingatnya. Tapi, Sara dapat menjadi lebih tenang setiap amarahnya datang. Dia lebih memilih menghabiskan waktunya bersama Ibu dan sang suami.


Ibu pada akhirnya harus kembali. Meski Sara memintanya untuk tinggal lebih lama, tapi Ibu menolaknya. Ibu beralasan banyak pesanan yang haris dikirim. Padahal sudah ada Mbak Mina yang mengerjakannya.


“Kamu ini.” Ibu menepuk pelan lengan Sara. “Ibu ndak mau ganggu kamu sama suamimu. Ibu di rumah saja. Kamu juga sudah agak jauh lebih baik, kan?”


“Aduh, masih sakit, Bu.” Sara memegangi perutnya seraya meringis kesakitan.


“Sara!” Lagi-lagi, Ibu memukuli Sara. “Lihat tuh, suamimu ketakutan gitu kalau kamu kenapa-kenapa.”


Sara menyeringai menatap Agam, lalu berkata, “Maaf, Mas ...”


Agam memang ketakutan tadi. Dia langsung menghela napas lega lalu tersenyum lebar begitu dia tahu yang sebenarnya.


Sara hampir menangis saat mobil yang membawa Ibu sudah hilang dari pandangannya. Bukan rasa sedih. Hanya merasa ada hilang setelah beberapa hari Ibu tinggal bersamanya. Kebiasaan-kebiasaan Ibu setiap pagi – seperti memasak bersama, ngobrol di teras belakang, acara makan bersama, omelannya saat memberikan jamu untuk Sara – kini sudah tidak ada lagi dengan pulangnya Ibu.


Rasanya seperti baru kemarin Ibu tinggal di sini. Sekarang Ibu sudah harus kembali.


Tiba-tiba saja, lengan Agam sudah melingkari pinggang Sara dari belakang. Agam menempelkan bibirnya pada puncak kepala Sara dan tetap bersandar di sana.


Sambil setengah berbisik, Agam berkata, “Kapan-kapan kita ajak Ibu menginap lagi di sini.”


Sara mengangguk. Air matanya yang terlanjur jatuh segera dihapusnya. Sara melepaskan pelukan Agam, lalu berbalik menghadap suaminya itu. Kini giliran Sara yang memeluk Agam.


Sara bisa mencium wangi khas yang biasanya keluar dari tubuh Agam. Rasanya dia bisa betah berlama-lama memeluk Agam. Wangi yang terasa maskulin tapi juga lembut menyapa hidungnya.

__ADS_1


“Makasih ya, Mas,” ucap Sara yang masih bersandar pada dada bidang Agam. “Aku tahu Mas yang minta Ibu menginap di sini.”


“I-ibu bilang begitu?,” tanya Agam yang sudah terdengar gugup.


Sara menggeleng. “Ibu nggak bilang apa-apa. Tapi kalau lihat gugupnya Mas, kayaknya bener, deh.”


Sara menengadahkan kepalanya ke atas menatap Agam seraya tetap memeluknya.


Agam akhirnya tertawa, menghilangkan rasa gugup. Dia membalas pelukan Sara dan mengeratkannya.


“Aku tidak tahu apa yang dikatakan Vian saat itu. Aku juga tidak akan memaksa kamu mengatakannya kalau kamu belum ingin menceritakannya. Aku akan menunggunya. Hanya ini yang bisa aku pikirkan agar kamu tidak terlalu memikirkan kejadian saat itu,” kata Agam.


Sara kembali menyandarkan kepalanya. Dia menganggukkan kepalanya. “Terima kasih, Mas. Terima kasih ...,” ucap Sara lirih. “Ini lebih dari cukup.”


Mereka masih terus berpelukan di teras depan rumah mereka. Seakan tidak peduli satpam dan Pak Pardi masih ada di sana dan terpaksa mengalihkan pandangan mereka ke arah lain. Agam dan Sara tetap begitu untuk beberapa saat.


Tapi kemudian, Sara memikirkan sesuatu sebagai rasa terima kasihnya pada sang suami. Dia merenggangkan pelukannya, lalu berbisik, “Mas ... Kata dokter sudah aman, lho ...”


“Aman?” Agam kebingungan dengan maksud sang istri. “Apa mak ...”


Dan kemudian berubah menjadi ‘oh’ yang panjang. Agam tersenyum malu-malu. Lalu, berubah lagi ...


“Kamu yakin?,” tanya Agam cemas.


Ih, malah nggak percaya ...


“Ya sudahlah, kalau nggak percaya,” gerutu Sara sambil meninggalkan Agam masuk ke dalam rumah.


“S-sara ... B-bukan begitu ...,” panggil Agam mengejar Sara ikut masuk ke dalam.


Tahu Agam mengejarnya, Sara berjalan agak cepat. Dia mengulum senyum karena tahu Agam di belakangnya.


“Sara ... dengar dulu ...”


Sara akhirnya berhenti tepat di depan tangga, membiarkan Agam berhasil menangkapnya. Suaminya itu langsung meraih pinggangnya dan menahannya. Lalu, memberikannya satu ciuman yang cukup panas, yang masih terasa begitu memabukkan bagi Sara.


“Jangan pergi ...,” bisik Agam yang terasa begitu berat terdengar.


Mata mereka sama-sama memancarkan hassrrat yang menggebu karena saling menginginkan. Sudah lama mereka tidak melakukannya. Keduanya sudah saling merindukan.


Agam menggandeng tangan Sara dan membawanya ke atas, ke kamar mereka.


“Agam ...”


Belum setengah jalan mereka, langkah mereka harus terhenti. Dan saat mereka tahu siapa yang datang, niat mereka harus dibatalkan.


“Ava ... Ava ... Vian bawa Ava pergi. Mama nggak tahu mereka ke mana,” kata Widia yang terlihat sangat khawatir dan penuh rasa takut.

__ADS_1


Apa yang akan terjadi kali ini, Ya Allah?


__ADS_2