
[Sara]
Meski harus mengorbankan perasaan, tapi setidaknya cara ini berhasil. Widia tidak lagi mengirimkan apapun ke rumah Agam. Tidak juga datang berkunjung. Tapi, Sara masih berpikir mungkin juga karena kesibukan sang mertua.
Toh dulu juga tidak setiap datang berkunjung, begitu pikirnya.
Tidak datangnya Widia, itu artinya masa tenang di rumah. Tidak ada perdebatan. Tidak ada rasa dongkol di hati karena harus menuruti permintaan aneh si tuan rumah. Tidak juga ada komunikasi yang tidak penting.
Ya, itu artinya baik Agam maupun Sara kembali pada masa-masa saat hari pertama mereka menikah. Sara jadi tidak bisa memutuskan apakah seharusnya dia merasa tenang, senang, atau kecewa?
Dia cukup senang karena dia tidak harus berhadapan terlalu sering dengan Agam di saat dirinya masih merasa marah pada Agam. Tapi entah mengapa rasa kecewa itu juga muncul bersamaan dengan rasa tenang akibat berkurangnya interaksi mereka. Aneh.
“Non, ndak apa-apa? Ketokane kok pucat? (Kelihatannya kok pucat?),” tanya Mbok Jami saat Sara sedang membantu mencucikan piring kotor.
“Oh, mboten nopo-nopo, Mbok. (Oh, tidak apa-apa, Mbok.),” jawab Sara seraya mengeringkan tangannya dengan lap kering. Lalu, menghampiri meja makan untuk mengambil air minum. “Biasa, Mbok. Tamu bulanan.”
Bibir Mbok Jami membentuk bulatan lalu menganggukkan kepalanya berulang-ulang.
Hari pertama haid memang terasa berat bagi Sara setiap bulannya. Dulu kalau sudah begini, terkadang Sara akan minta ijin tidak masuk jika dia sudah tidak bisa menahannya. Tidak setiap bulan juga dia begitu, karena terkadang pula rasa sakitnya tidak terlalu mengganggunya.
Hari ini juga tidak terlalu banyak pekerjaan yang diberikan Agam untuknya. Karena Sara sudah meminta ijin pada Agam untuk menengok Ibu di rumah sakit, karena hari ini adalah jadwal cuci darahnya. Maka, Sara berencana akan beristirahat sepulang dari rumah sakit.
“Ini, Non,” kata Mbok Jami yang tiba-tiba sudah ada di dekatnya dan menyodorkan segelas air dengan potongan jahe yang ditumbuk kasar sedang tenggelam di dasar gelas. “Ada sedikit jahe di lemari tadi. Mbok bikinkan wedang jahe. Biar enakan nanti.”
Rasa haru langsung menyelimuti perasaan Sara. Dia teringat bagaimana Ibu dulu melakukan hal yang sama padanya setiap kali dia terbaring di rumah karena tamu bulanannya itu. Dan sekarang Mbok Jami melakukannya juga untuk Sara. Tiba-tiba saja Sara sudah merindukan Ibu. Kedua mata Sara kini terasa basah dan penuh. Sara mulai menangis.
“Lho, Non. Kok nangis to?”
Sara langsung memeluk Mbok Jami dan membenamkan wajahnya di tubuh wanita bertubuh gemuk itu. Menyembunyikan air matanya yang masih turun karena rasa rindunya.
Padahal sebentar lagi mau ketemu Ibu, tapi ini malah menangis seperti anak kecil saja.
Tapi untunglah, Mbok Jami tidak lagi banyak bertanya setelah tadi terdengar sangat khawatir melihat istri majikannya tiba-tiba menjadi seperti itu. Sebagai gantinya, kini tangan Mbok Jami membelai lembut puncak kepala Sara. Dari atas lalu ke bawah, lalu ke atas, begitu seterusnya, perlahan-lahan. Sara akhirnya bisa merasakan ketenangan karena belaian lembut itu. Air matanya berangsur-angsur berkurang.
Sara kemudian meminum minuman buatan Mbok Jami setelah dia mulai agak tenang. Mbok Jami ikut menemaninya sejenak sebelum akhirnya pergi melanjutkan pekerjaannya. Setelah mencuci gelas bekas minumannya, Sara segera bersiap untuk ke rumah sakit.
......................
“Ibu pulang dulu, ya,” kata Ibu di akhir pertemuan mereka sebelum Ibu masuk ke dalam mobil.
“Itu ayam gorengnya nanti kamu kasihkan ke suamimu. Ingat pesan Ibu. Kamu lepasin dulu dari tulangnya baru kamu potongkan kecil-kecil,” lanjut Ibu lagi seraya menunjukkan sekotak makanan berisi ayam goreng serundeng kelebihan pesanan hari ini. Ibu sengaja membawanya ke rumah sakit untuk dibagikan ke perawat dan dokter, serta Agam.
Bukan kelebihan itu namanya. Tapi memang sengaja dimasak lebih.
Meskipun Sara sudah mengingatkan Ibu untuk mengurangi pesanan semacam ini, Ibu masih saja menerimanya tanpa sepengetahuan Sara. Apalagi sekarang, saat Sara sudah tidak lagi tinggal bersama Ibu. Entah berapa banyak pesanan untuk hari ini?
Minta bantuan Mbak Mina adalah solusi terbaik saat ini. Hanya Mbak Mina yang bisa membantu Ibu memasak setiap kali ada pesanan seperti ini.
“Ingat lho, Sar. Kayak Ayahmu dulu, dikupasin ya,” pesan Ibu sekali lagi.
__ADS_1
“Iya, iya, Bu. Nanti Sara kasihkan ke Mas Agam,” jawab Sara seraya mendorong Ibu untuk masuk ke dalam mobil.
Semasa Ayah masih hidup, Ibu dan Sara memang yang sangat memperhatikan makanan yang dimakan Ayah. Kondisi Ayah yang tidak bisa melihat yang membuat mereka harus ekstra hati-hati agar Ayah tidak tersedak atau menggigit sesuatu yang tidak bisa termakan. Dan sekarang Ibu ingin Sara melakukan itu untuk Agam.
Biar nanti aku berikan untuk Mbok Jami dan yang lainnya saja. Mas Agam nggak mungkin mau memakannya, pikir Sara.
Mobil yang ditumpangi Ibu dan Mbak Mina akhirnya melaju meninggalkan parkiran. Sara masih berdiri sembari memandangi perginya mobil itu. Pandangannya lurus hanya tertuju pada mobil Alphard hitam itu hingga benar-benar hilang dari pandangannya.
Drrt ...
Lamunan Sara buyar begitu saja saat ponselnya berdering.
“Mama?,” panggil Sara lirih saat memandangi layar ponsel yang menampilkan nama panggilan mertuanya itu.
“Halo, Sara? Apa kamu sibuk hari ini? Boleh temani Mama minum kopi?”
Ajakan yang sulit Sara tolak terutama setelah apa yang terjadi kemarin. Sara khawatir ibu mertuanya itu akan mengira hal yang buruk tentangnya. Meski rasanya dia lebih memilih untuk pulang saja, tapi pada akhirnya dia mengiyakan ajakan itu.
“Sebentar lagi Sara ke sana, Ma,” jawab Sara begitu dia sudah mendapatkan lokasi Widia. Dan Sara bisa mendengar suara Widia yang bersemangat begitu Sara menjawabnya.
Tak jauh ternyata dari rumah sakit tempat Sara berada. Hanya butuh waktu 15 menit perjalanan dengan mobil dan Sara dapat melihat dari luar bangunan sebuah cafe 2 lantai, Widia sedang melambaikan tangannya ke arah Sara dari lantai 2.
Sara pun membalas lambaian tangan Widia sebelum akhirnya dia masuk ke dalam.
“Bagaimana kabar Agam? Apa dia baik-baik saja? Tidak ada apa-apa kan sama Agam?” Widia langsung memborbardir Sara dengan banyak pertanyaan begitu dia selesai memesan. Dia bertanya sekaligus seakan-akan dia butuh Sara menjawab semuanya.
“Mas Agam baik-baik saja, Ma. Tidak ada masalah dengan Mas Agam. Mama jangan khawatir,” jawab Sara selembut mungkin menjelaskan pada ibu mertuanya.
Sara mulai merasa bersalah mengingat hal yang terjadi kemarin, terutama ketika Widia menarik kedua tangan Sara yang bersandar di atas meja, lalu menggenggamnya lembut dengan kedua tangannya.
“Sejujurnya, Mama juga merasa Agam itu beruntung bisa bertemu kamu dan akhirnya menikah. Mama mengerti tentang apa yang kamu katakan kemarin. Memang sudah seharusnya begitu. Kalau Mama yang ada di posisi kamu, Mama pasti akan melakukan hal yang sama.”
Perasaan bersalah Sara semakin ditumpuk tinggi hingga dia merasa malu untuk menatap Widia. Kepalanya tertunduk cukup dalam.
“Maafkan Sara, Ma ...,” ucapnya lirih.
Widia semakin mengeratkan genggaman tangannya. “Jangan merasa bersalah, Sara. Kamu memang harus melakukannya. Apalagi Mama lihat, Agam juga sangat mempercayai kamu untuk mengurusnya. Meski sebenarnya Mama cemburu melihatnya, karena tiba-tiba anak Mama sudah tidak membutuhkan Mama lagi. Tapi, Mama bisa tenang kalau itu kamu, Sara.”
Widia kemudian melepaskan tangan Sara dari genggamannya, dan bersandar pada kursi tempatnya duduk. Dia memandangi jalanan dengan lalu lalang kendaraan bermotor yang bisa dilihatnya dari tempat duduknya.
“Yang Mama khawatirkan sekarang ini adalah masalah perusahaan. Posisi Agam di perusahaan benar-benar rentan sekali. Beberapa orang datang ke Mama mengatakan mereka khawatir dengan kondisi Agam ini dapat membahayakan perusahaan.”
Sara memandangi Widia lekat-lekat, mendengarkan semua hal yang akan disampaikannya, dan memahami setiap katanya untuk melihat alur pembicaraan mereka.
“Agam beruntung bisa bertahan hingga hari ini karena dia cerdas. Agam memang cerdas dari dulu. Tapi sampai berapa lama Agam bisa bertahan? Dia memang cerdas, tapi kalau mata dan telinganya pada akhirnya menjadi penghalang itu ... NFC bisa hancur.”
Sara terdiam. Dia masih menunggu Widia menyelesaikan perkataannya.
“Mereka bilang, Agam sekarang sedang fokus pada proyek-proyek kecil. Mama rasa mereka benar, NFC butuh sesuatu yang besar untuk bisa bertahan. Masalahnya sekarang apakah Agam masih mampu?”
__ADS_1
Raut wajah Widia yang sedari tadi begitu serius saat mengatakannya, kini mendadak menjadi begitu relaks.
“Ah, maaf ya ... Mama jadi ngelantur,” kata Widia sebelum menyeruput kopi dari cangkir yang ada di hadapannya. “Tapi sedikit banyaknya kamu harus tahu tentang NFC. Biar bagaimanapun ini adalah perusahaan keluarga Wirasurya. Dan Sara sudah menjadi bagian dari keluarga ini.”
Dulu waktu di meeting room itu, Sara tidak dapat mengatakan apapun, tapi sekarang, dia ingin mengatakannya.
“Tapi, menurut Sara ... Mas Agam masih punya kemampuan untuk memimpin NFC,” kata Sara yang memandang lurus ke arah Widia.
“Semua project yang dikerjakan Mas Agam, bagi Sara adalah project yang mempunyai maksud dan tujuan. Besar atau pun kecil, Mas Agam selalu memikirkan manfaatnya lebih dulu. Selene misalnya. Di saat orang-orang hanya memikirkan manfaat individunya, Mas Agam sudah memikirkannya untuk kepentingan orang banyak. Karena itu, Mas menyumbangkannya untuk penelitian medis. Sara ... selalu merasa bangga dengan apa yang dikerjakan Mas Agam.”
Memang benar, tidak ada kata lain yang dapat menggambarkan perasaannya setiap kali Sara memikirkan hal-hal yang dilakukan Agam. Bangga. Sama seperti saat Agam mengajaknya untuk bergabung dalam salah satu project itu.
“Mas Agam bukan tipe orang yang menyerah begitu saja dengan keadaan. Meskipun keadaan tidak mendukungnya, Mas selalu mencari cara untuk membalikkan keadaan. Mas tidak pernah mau berhenti begitu saja. Bukankah luar biasa, seseorang yang tidak bisa melihat atau mendengar, tapi masih bisa membuat sesuatu dari tangannya?”
1 menit, 2 menit, 3 menit, hampir 5 menit baik itu Widia atau pun Sara, keduanya tidak berbicara sepatah kata pun. Hanya saling memandang, lalu menunduk menatap gelas yang ada di depan mereka. Kecuali Sara. Dia masih terus menatap ibu mertuanya meski tak lagi memandangi dirinya.
Tapi, tiba-tiba saja, Widia mengangkat wajahnya, tersenyum, lalu bertanya, “Bagaimana perasaanmu setelah menjadi istri Agam? Agam memperlakukan kamu dengan baik, kan? Bilang sama Mama kalau Agam memarahimu. Biar Mama marahin dia.”
Sara cukup terkejut dengan perubahan sikap Widia. Tapi, dia masih menjawab pertanyaan-pertanyaan Widia. Hingga sore, Widia masih terus mengajaknya ngobrol. Bahkan menariknya dan mengajaknya jalan-jalan. Sara, lagi-lagi, tidak punya pilihan lain selain mengikutinya.
Saat Sara tiba di rumah, hari sudah menjelang malam. Pukul 18.15. Sudah terlalu lelah tubuhnya dengan semua aktifitas yang harus dia jalani bersama Widia. Ditambah dengan rasa sakit di bagian perut hingga pinggang, Sara sudah membayangkan tempat tidur begitu dia menginjakkan kakinya di rumah.
Tapi, saat dia memasuki ruang tengah, dilihatnya Agam sedang duduk di atas kursi rodanya seakan sedang menunggu dirinya.
Ah, tidak mungkin ...
“Mas ...,” panggilnya seraya mengambil perlahan tangan Agam untuk menciumi punggung tangannya. Meski dengan perjanjian itu, Sara masih menjalankan kewajibannya sebagai istri. Walau hanya sekedar menciumi punggung tangannya.
Sara sudah berjalan menjauhi Agam untuk menuju kamarnya. Dia baru akan melewati sofa ruang tengah ketika Agam mulai berbicara dengan nadanya yang ketus dan terdengar cukup marah.
“Kamu tidak akan menjelaskan dari mana kamu hingga semalam ini?”
Sara menghentikan langkahnya, lalu berbalik menghadap Agam dengan tatapan herannya.
Kenapa dia harus peduli ke mana Sara pergi?
“Kamu takut cerita, kan? Kamu takut aku tahu kalau kamu ketemu dengan Mama.”
Oh, jadi dia tahu. Mungkin dia bertanya pada supir, lalu memberitahunya.
“Iya, Mama tadi telepon mengajak jalan-jalan dan ngobrol. Aku minta tolong supir untuk antarkan ke tempat pertemuan. Tapi, aku minta dia pulang. Karena aku takut kamu mungkin membutuhkannya,” jelas Sara.
Dia memang melakukan itu. Lalu pulang dengan memesan ojek online. Karena khawatir terlalu malam tiba di rumah dengan kemacetan di sana-sini pada jam pulang kantor seperti itu. Naik motor adalah solusi tercepatnya.
“Oh iya? Apa bukan karena kamu takut supir memberi laporan padaku kalau kalian merencanakan sesuatu di sana. Benar, kan? Kalian pasti sedang merencanakan sesuatu, kan?,” hardik Agam yang hampir berteriak.
Sara mengerutkan dahinya, memandangi Agam yang masih duduk di atas kursi rodanya yang menghadap ke pintu ruang tengah, meskipun Sara ada di bagian sampingnya. Hati Sara mulai meradang dengan semua perkataan Agam.
“Kamu mencurigai aku, Mas?,” tanya Sara dengan nada yang hampir meninggi.
__ADS_1
“Aku tidak hanya mencurigai, aku yakin kalian sudah berencana untuk bersekongkol.”
Sara semakin mendelik menatap Agam. Emosinya kini ikut menaik.