Cinta Itu (Tidak) Buta

Cinta Itu (Tidak) Buta
Part 49 : Itu Mas Agam


__ADS_3

[Sara]


Arya tersenyum sebelum mulai menjelaskan lebih panjang lagi dari yang tadi.


“Mama boleh memiliki saham-saham Mas Agam di NFC. Tapi, sebelum meninggal, Papa sudah mengurus hak royalti dan hak paten produksi barang-barang yang diciptakan oleh Mas Agam atas nama Mas Agam sendiri, bukan perusahaan. Termasuk Selene.”


Sedetail itu ...


“Itu artinya hanya Mas Agam dan perusahaan yang mendapatkan ijinnya yang boleh memproduksi hasil cipta Mas Agam. Jadi, Mas Agam bisa membuat perusahaan baru untuk memproduksi itu semua.”


“Perusahaan ... baru ...?”


Arya mengangguk dengan penuh percaya diri. “Sebelum pergi, Mas Agam memerintahkan Raka untuk mengumpulkan semua data-data hasil penelitian, termasuk jurnal-jurnal milik ibu kandung Mas Agam sendiri. Dan Mas Agam pergi membawa itu semua.”


Sara mengeluarkan tawa kecil dari bibirnya. Dia sangat senang mendengar informasi itu.


“Jadi, aku yakin, Mas Agam saat ini sedang bersiap untuk membangun NFC yang baru, atau mungkin NFC yang lain dengan nama baru.”


Arya juga tidak kalah puasnya dengan ceritanya itu. Sepertinya dia juga lega mendengar rencana Agam itu.


“Tapi, Mas Agam bisa ada di negara mana saja. Jadi, kita masih harus menunggunya memanggil Raka untuk menemuinya baru kita bisa mendapatkan informasi di mana Mas Agam saat ini.”


Menunggu?


“Waktunya? Itu yang nggak bisa kita prediksikan kapan. Bisa jadi besok, minggu depan, bulan depan, tahun depan, atau mungkin beberapa tahun lagi.”


“Tapi, itu terlalu lama,” sahut Sara cemas. Jangankan setahun, seminggu saja, itu sudah sangat lama. “Kita nggak bisa membiarkan Mas Agam sendirian selama itu.”


Arya mengulum senyum. Dia juga mengangguk. “Kalau gitu, kita akan minta tolong seseorang. Mas Agam pasti juga tidak memberitahunya. Tapi dia tidak akan diam saja. Dia pasti akan menemukannya.”


“Dia? Siapa?,” tanya Sara dengan hati-hati. Perasaannya sudah tidak nyaman setiap kali Arya menyebut dia, dia, dan dia.


“Dia ini sudah seperti istrinya Mas Agam.”


DEG!


Istri?


“Ah, maaf, Mbak. Bukan maksudku begitu.” Arya langsung merasa bersalah. “Intinya, dia pasti bisa menemukan Mas Agam.”


Tapi, kepala Sara sudah terlanjur penuh dengan kata ‘istri’.


Mas Agam punya istri yang lain? Atau pernah punya istri?


......................


“Info terbaru di Jerman gimana? Dia pernah ke sana sebelumnya.”


“Cari di lokasi yang jarang penduduknya. Dia suka bersembunyi di sana.”


Sara memasuki sebuah ruangan yang cukup luas. Penuh dengan layar komputer di mana-mana. Isi layarnya? Jangan ditanya. Sara juga tidak paham. Yang jelas penuh angka yang terus bergerak naik, bahkan ada yang berkedip.


Mengikuti langkah Arya yang sudah lebih dulu masuk dengan santainya, Sara terus berjalan sembari menganga memandangi ruangan yang terlihat luar biasa di matanya.

__ADS_1


Yuda, orang yang sejak awal tadi Sara masuk, suaranya sudah menggelegar memarahi seseorang melalui alat di telinganya, begitu melihat Arya langsung mengangkat jari telunjuknya sebagai tanda untuk Arya diam.


Tapi begitu melihat Sara yang berdiri di belakang Arya, kening Yuda langsung berkerut. Lalu, melotot tajam pada Arya yang sekarang sedang menyeringai.


Tapi, tidak ada perempuan di ruangan ini. Yang mana istrinya?


“Agam brrenggsek! Ngilang ke mana dia sekarang?,” umpat Yuda begitu dia melepaskan alat di telinganya.


Arya mendekat ke telinga Sara, lalu berbisik. “Waktu Mas Agam menghilang dua tahun lalu, Yuda yang paling panik cari. Dia nggak berhenti nyari sampai Mas Agam ditemukan. Begitu ketemu, Mas Agam langsung dimarah-marahi.”


Sara tersenyum mendengarnya.


“Mirip, kan?,” tanya Arya.


Sara yang kebingungan sekarang. “Ya?”


“Mirip istri yang kehilangan suaminya.”


Eh?


Sara melongo ke arah Arya, lalu berganti menatap Yuda.


Jadi itu maksudnya ...


“Kalau Yuda adalah perempuan, aku rasa mereka sudah pasti akan menikah.”


Sara tertawa mendengar perumpamaan itu.


Seharusnya tidak heran lagi dengan kedekatan mereka. Mas Agam pernah cerita, kedekatan mereka sejak mereka masih kecil, bahkan sebelum Agam mengenal Widia. Rumah mereka yang berdekatan jadi alasan Yuda setiap hari datang mengunjungi Agam.


Sara kembali menunduk menyembunyikan tawanya. Yuda mungkin melihatnya, dia jadi menegur Sara. “Kenapa tertawa? Dia bilang apa ke kamu?”


Yuda menatap curiga pada Arya. Sedangkan Arya sendiri hanya senyam-senyum tanpa dosa.


Sara sontak terkejut ketika ditegur begitu. Dia berniat menyembunyikannya malah ketahuan. Seketika dia buyarkan senyuman dari wajahnya, lalu menatap tajam Yuda.


Yuda yang tiba-tiba diserang seperti itu refleks memundurkan tubuhnya saking terkejutnya.


“Tapi, aku tetap istri pertamanya yang sah,” sentak Sara seraya mengacungkan jarinya ke hadapan Yuda. Lalu balik badan meninggalkan Yuda dan Arya yang sekarang sedang gelut.


“Ngomong apa kamu ke Sara? Perasaanku sudah nggak enak dari awal kamu datang,” kata Yuda seraya memiting Arya yang sedang menertawakan sahabat kakaknya itu.


Sara meninggalkan dua bocah besar itu karena ingin melanjutkan melihat-lihat semua yang ada di ruangan itu, melihat semua usaha Yuda mencari Agam.


Pandangannya terhenti pada satu papan besar yang menampilkan peta dunia. Ada banyak pin ditancapkan di beberapa tempat yang berbeda. Jerman, Belgia, Singapura, Jepang ....


“Yang diberi pin adalah tempat-tempat yang dulu Agam datangi.” Yuda tiba-tiba saja sudah ada di sebelahnya, memandangi hal yang sama dengan Sara pandangi tadi.


“Sebanyak itu?”


“Dulu Agam mencoba ke sana ke mari mencari orang yang bisa temukan apa penyebab masalahnya. Karena dia punya banyak kenalan, jadi dia datangi semua dan ikuti semua petunjuk yang dia dapatkan. Karena itu dulu dia sering berpindah-pindah bersama Raka,” cerita Yuda tentang Agam.


Sara memandangi peta dunia itu kembali. Memikirkan kembali apa yang akan dilakukan Agam sekarang. Dengan semua yang dia ketahui sekarang, apakah Mas Agam akan tetap berpindah-pindah seperti itu lagi?

__ADS_1


“Jangan khawatir,” kata Yuda seakan tahu apa yang sedang dipikirkan Sara. “Dia bilang hanya pergi untuk memulihkan tubuhnya. Jadi aku yakin dia pergi ke suatu tempat di mana dia bisa tenang melakukannya.”


“Tapi belum ada petunjuk di mana ...,” tebak Sara.


“Hmm ...,” jawab Yuda menganggukkan kepalanya. “Tempat terakhir yang dikunjungi Agam dulu sebelum kembali ke Indonesia adalah Jepang. Dia bilang ada kemajuan saat dia melakukan pengobatan di sana. Tapi, semua sudah mencari informasi di sana, tetap tidak ada. Rumah sakit tempat dulu dia tinggal juga tidak ada. Beberapa orang juga sudah cek ke sana. Tapi dia tidak ada.”


Di mana kamu sebenarnya, Mas?


Sementara Yuda dan Arya sibuk mencari petunjuk lain, Sara mencoba mengingat-ingat semua percakapan mereka selama ini sembari memandangi peta besar itu.


#


“Di Jepang, musim seminya adalah yang terbaik. Bunga sakura mulai bermekaran. Dulu aku pernah ke sana beberapa kali untuk urusan pekerjaan,” celoteh Agam di salah satu obrolan mereka sebelum tidur.


“Suatu saat aku akan mengajakmu ke sana. Aku yakin kamu pasti suka.”


#


Jepang ...


Sara mencari sosok Yuda di antara banyak pria yang menjadi karyawan Yuda di dalam ruangan itu. Dilihatnya pria itu sedang berbicara dengan Arya seraya menunjuk layar komputer di depannya.


“Mas Yuda ...,” panggil Sara yang mencoba bersuara cukup keras. Yuda langsung mengalihkan pandangannya menatap Sara cukup intens.


Dengan menunjuk sebuah kepulauan yang miring melintang dikelilingi latar belakang berwarna biru, Sara berkata, “Kenapa nggak coba cek di Jepang lagi?”


Yuda mengernyitkan keningnya. Dia meninggalkan Arya dan berjalan menghampiri Sara. Pandangannya terus berganti, Sara lalu ke peta, lalu ke Sara lagi.


“Kenapa?,” tanya Yuda. “Kita sudah cek semua rumah sakit dan pusat rehabilitasi di sana. Tapi tidak ada.”


“Mungkin bukan rumah sakit.”


Kening Yuda bertambah kerutannya.


“Mas Yuda sendiri bilang, Mas Agam kali ini pergi untuk memulihkan semuanya. Dia sudah tahu semua penyebabnya, jadi dia tidak butuh rumah sakit lagi untuk itu.”


Kali ini, kedua alis mata Yuda terangkat ke atas. Arya yang sedari tadi ada di belakang Yuda, kini maju mendekati Yuda dan merangkul bahunya, ikut mendengarkan bersama Yuda.


“Mas Agam kali ini pergi tanpa rasa takut karena NFC akan hilang. Jadi, dia hanya butuh tempat untuk bisa tenang. Tempat ... yang mungkin ada danau ... atau padang rumput ... atau ... bunga sakura.”


PLAK!


Arya baru saja memukuli bahu Yuda. Mendapatkan serangan tiba-tiba seperti itu Yuda langsung memelototi Arya. “Kakak iparku memang yang terhebat! Kamu mengakuinya juga, kan? Haha ...”


Saat Arya masih tertawa, Yuda langsung bergerak memberi perintah ini dan itu melalui alat yang dipasangnya lagi ke telinganya. Sementara orang-orang yang ada di sana menjadi lebih riuh daripada tadi.


Sara berbalik kembali menatap peta besar di hadapannya. Kali ini tatapannya terkunci pada pulau kecil panjang yang ada di tengah bagian kanan. Pandangannya nanar dan penuh harap. Semoga kamu benar-benar ada di sana, Mas.


......................


Sara sedang diperlihatkan sebuah gambar dalam layar besar. Pemandangan sebuah danau dengan pohon besar nan rindang. Seorang pria berkursi roda sedang duduk di bawah naungannya menghadap danau yang ada di depannya.


Jarak yang sangat jauh membuat sosok pria berkursi roda itu terlihat begitu kecil. Seseorang melebarkan besar gambar dan menfokuskannya pada pria itu.

__ADS_1


Semakin dekat, dan terus mendekat.


Meski terlihat agak kabur, Sara tetap tersenyum memandanginya. “Itu Mas Agam ...”


__ADS_2