
[Raka]
“Menikah saja, Tuan! Karena kalau menikah, Tuan tidak perlu khawatir melawan Nyonya Widia. Istri Tuan kan berhak mengatur Tuan, jadi Nyonya Widia pasti tidak akan bisa melawannya.”
Itu yang Raka katakan pada Agam saat tuannya itu sedang bingung mencari cara menghadapi ibunya begitu kembali ke Indonesia.
Tuan Agam nya itu harus kembali ke Indonesia karena NFC yang sedang kocar-kacir. Tapi di sisi lain, ada ibu tirinya yang dia khawatirkan akan terus mengganggunya, dan takut dia tidak dapat menolaknya. Entah mengapa.
Dan yang paling mengejutkan adalah Agam menyetujui ide ngasalnya itu. Padahal, dia hanya asal sebut karena Agam terus mendesaknya untuk mencarikan ide.
Semakin tidak terkendali saat Yuda yang ada di sampingnya juga ikut mendengarnya.
“Ide bagus itu! Kenapa nggak gadis itu saja? Sapa namanya? Itu loh, anaknya Pak Fajar, yang bisa isyarat itu.”
“Nona Ashara,” kata Raka melengkapi informasi Yuda.
“Nah, iya itu! Kamu butuh dia untuk penelitianmu, dan dia bisa bantu melindungi kamu dari Widia. Win-win solution!,” ucap Yuda dengan santainya menjelaskan.
“Kamu pikir mengajak orang nikah itu mudah? Apalagi ini kan bukan benar-benar menikah,” bantah Agam yang masih setengah hati untuk menyetujuinya.
Yuda malah semakin semangat berpersuasi. “Loh nggak bisa itu. Kamu harus benar-benar menikah untuk meyakinkan Widia. Cincin bisa dibeli, tapi surat nikah yang sah dan resmi, apalagi saksi, itu tidak bisa dipalsukan. Pernikahanmu harus benar-benar terdaftar resmi di KUA baru Widia bisa percaya.”
__ADS_1
Dan masih berlanjut ...
“Kalau soal ... siapa namanya? Aksara? Angsara? Amsara?”
“Nona Ashara.”
“Ah, iya itu! Gampang itu! Aku akan bantu selidiki latar belakangnya. Kita cuma butuh kelemahannya. Semua orang pasti punya satu kelemahan. Selanjutnya kamu tinggal pegang itu. Mau nggak mau, dia pasti mau. Yakin aku!”
Dan begitulah pada akhirnya Sara menjadi istri Agam, meski sebenarnya tuannya itu masih agak berat menyetujuinya. Tapi, tetap saja dilakukannya.
Mungkin memang benar kata orang. Kalau sesuatu yang berhubungan dengan Tuhan dipermainkan, maka hasilnya akan terjadi sebaliknya.
Semakin hari, Raka bisa melihat bagaimana tuannya itu – orang yang tidak pernah memikirkan hal lain selain pekerjaannya – kini semakin terikat dan terlihat rela untuk tetap terikat dengan yang namanya pernikahan.
Bukan, bukan, bukan pernikahannya, tapi seseorang yang dipanggilnya Sara.
Gadis itu yang awalnya bukan siapa-siapa kini jadi alasan setiap senang dan marah tak jelasnya Agam. Dan Agam semakin lama semakin menganggap pernikahan ini nyata. Bahkan 2 tahun perjanjian yang mereka sepakati bersama, Raka juga ragu kalau hal itu akan terjadi.
Kabar buruk? Bukan. Kabar baik malah. Itu artinya ada satu perubahan bagus pada Tuan Agam nya itu. Dan itu menyenangkan. Selain juga Agam kini semakin berkurang marah-marahnya.
Tapi yang dilihatnya sekarang seperti dibangunkan dari mimpi indahnya. Semua tiba-tiba saja berubah. Sangat cepat. Bahkan hati tidak diberi waktu untuk bersiap.
__ADS_1
Begitu dokter yang memeriksa memberitahukan Agam mengalami gejala yang sama seperti 2 tahun yang lalu, Raka sudah mulai berdoa dalam hatinya. Semoga salah ...
Dan ketika dokter memberikannya hasil tes yang menunjukkan semuanya positif, kaki Raka mulai lemas. Terjadi juga ...
“Apa mungkin terjadi kesalahan? Saya yakin semua orang di rumah ini memakannya. Tapi kenapa hanya Tuan Agam?,” tanya Raka mendesak dokter untuk memeriksa ulang.
“Saya sudah tes ulang 3 kali. Hasilnya tetap sama. Kandungannya dalam tubuh Tuan Agam belum bersih benar. Karena itu begitu dimasuki, tubuh Tuan Agam sudah mengenali dan langsung bereaksi. Sementara yang lain, ini baru konsumsi pertama, butuh waktu dan konsumsi ulang agar bereaksi.” Dokter itu menjelaskannya dengan panjang lebar.
Raka semakin tidak bisa mengelak lagi.
Aku yakin tidak mungkin Nyonya. Tapi aku bisa apa? Tuan Agam sudah berpesan.
“Jika terjadi sesuatu, lakukan prosedurnya seperti yang sudah kita bahas,” begitu pesannya saat awal pernikahan mereka. Prosedur runtut jika dokter menyatakan semua cocok dengan kejadian 2 tahun yang lalu.
Maafkan saya, Nyonya ...
Dengan tangan gemetarnya, dia mulai mencari nama dalam ponselnya itu. Nama yang harus dihubunginya untuk mengabari ini.
Dia mungkin sedang di Dubai sekarang. Tapi aku harus mengabarinya.
“Halo, Tuan Yuda ... Telah terjadi sesuatu.”
__ADS_1