Cinta Itu (Tidak) Buta

Cinta Itu (Tidak) Buta
Part 40 : Hanya Pertunjukan?


__ADS_3

[Sara]


Tidak banyak yang bisa Sara lakukan selain mengikuti apa yang sedang dimainkan oleh Widia. Meski dalam hati masih merasakan kemarahan atas apa yang terjadi beberapa hari terakhir ini, Sara berusaha sebaik mungkin menyembunyikannya.


Apa Mama tidak merasa apa yang sedang dirasakan oleh orang lain? Setidaknya apa selama ini dia tidak pernah tahu kalau Mas Agam juga tahu apa yang terjadi pada dirinya dan siapa yang membuatnya menjadi seperti itu?


“Mama kesini karena dengar Agam sedang sakit. Sekarang dia di mana? Kerja? Udah mendingan belum?”


Pertanyaan Widia seakan tidak ada habisnya. Semuanya menunjukkan dirinya adalah ibu yang sangat baik.


Apakah mungkin Mama selama ini memainkan peran seperti ini di depan Mas Agam, sehingga Mas Agam dulu mengira dia adalah ibu yang baik bahkan sampai sebelum Mas Agam mengetahui kebenaran itu?


“Mas Agam sedang beristirahat di kamarnya, Ma,” jawab Sara selembut mungkin, menyembunyikan ketidaksukaannya pada ibu mertuanya itu.


“Agam itu dulu jarang sakit. Sekalinya sakit dia manjaaa banget,” celoteh Widia mengenang masa lalu. Sara juga tidak tahu apakah cerita itu benar begitu atau ada yang dibumbui lagi.


“Ini Mama bawain sup ayam makaroni. Agam kalau sakit suka banget makan ini,” lanjut Widia lagi seraya memberikan wadah makanan sup pada Sara.


Sungguh, kalau bukan karena Mas Agam, ingin rasanya aku mengatakan sesuatu saat ini juga.


“Mas Agam tadi sudah makan, Ma. Habis itu minum obat dari dokter. Makanya sekarang dia sudah tidur,” jelas Sara yang masih belum menerima wadah makanan dari Widia itu.


Tapi Widia tidak menyerah begitu saja. Dia serahkan pada Pak Pardi yang selanjutnya sudah dipahami oleh suami Mbok Jami itu apa yang harus dia lakukan.


“Oh gitu, ya. Mama mau lihat Agam sebentar, ya.”


Widia langsung berjalan melewati Sara. Tapi Sara dengan cepat memotong jalan Widia untuk menghalanginya melangkah lebih jauh lagi.


“Mas Agam sedang istirahat, Ma,” kata Sara yang masih saja ramah kepada ibu mertuanya itu.


“Iya, Mama tahu. Mama cuma mau lihat sebentar saja. Nggak usah dibangunin. Cuma lihat aja, kok.”


Bagaimana ini? Kalau sampai Mas Agam masih belum tidur takutnya Mama malah semakin nekat masuk ke kamar. Aku takut Mama akan memicu emosi Mas Agam. Apalagi Mas Agam belum benar-benar pulih.


Tapi Sara tidak punya pilihan lain sekarang. Dia tidak bisa menemukan alasan untuk bisa menolaknya. Meski berat, mau tidak mau, Sara harus membiarkan keinginan Widia itu sambil berharap tidak ada keributan lain setelahnya.


Beruntungnya, Agam sudah tidur.


Sara langsung menghela napas kelegaannya. Seraya melirik Widia yang memperlihatkan raut wajah kekhawatirannya, Sara terus memikirkan banyak pertanyaan. Apakah memang Widia khawatir atau hanya aktingnya saja?


Setelah beberapa saat, Widia mundur menjauh dari pintu kamar, dan Sara menutup pintunya. Saat itulah, Widia mulai mengomeli Sara.


“Kamu ya gitu. Kenapa nggak bilang Mama kalau Agam sakit? Kalau Mama nggak denger dari Pardi mungkin mama selamanya nggak akan tahu.”


Pak Pardi? Bukannya Mama tadi justru tanya ke Pak Pardi, ya?

__ADS_1


“Kamu mungkin adalah istrinya. Tapi Mama adalah orang tuanya. Jadi, jangan jadi egois dan semaunya sendiri.”


Sara memilih untuk mengalah. “Iya, Ma. Maafkan Sara.”


Biar saja. Biar cepat selesai.


“Kenapa Mama marahin Mbak Sara?”


Suara Arya tiba-tiba saja terdengar menyela pembicaraan Widia yang masih akan melanjutkan omelannya. Widia langsung menoleh mencari asal suara itu. Raut wajahnya langsung berubah menjadi begitu bahagia saat mendengarnya.


“Arya? Kok kamu sudah pulang jam segini?,” tanya Widia pada Arya.


Benar juga. Ini masih siang. Tumben Arya sudah pulang.


“Arya memang mau pulang cepat. Arya khawatir sama Mas Agam. Mbak Sara juga baru sembuh sakit,” jelas Arya.


Widia langsung berbalik menatap Sara dengan tatapan keheranan, tapi juga terselip sedikit rasa kesal. Ya, benar. Agak sedikit kesal.


“Sakit? Terus yang jagain Agam siapa?”


“Ya Arya sama Yuda.”


“Kenapa jadi kamu yang jagain Agam? Kan ada istrinya.”


Widia berbalik lagi menatap Sara. “Kamu ya gitu. Banyak istirahat, dong. Jangan malah jadi ikutan sakit. Agam itu suami kamu. Tanggung jawab kamu. Kenapa jadi Arya yang jagain Agam? Kamu dong istrinya.”


Arya yang hampir mau menyela ucapan Widia saja langsung ditanggapi Sara dengan gelengan kepala yang tidak terlalu keras hanya agar Arya saja yang dapat melihatnya.


Please jangan, Arya. Jangan ada keributan. Mas Agam baru sembuh sakit.


“Iya, Ma. Maafkan Sara.”


“Sudah! Cukup! Daripada Mama salahin Mbak Sara terus mending Arya antar Mama pulang.” Arya berusaha menuruti keinginan mamanya itu, meski terlihat sekali rasa kesalnya.


“Ya ngapain? Mama kesini kan sama supir. Kecuali kamu mau sekalian pulang, Mama mau ikut kamu.”


Widia malah lebih santai dari Arya. Sementara Arya sendiri terus menghela napasnya seraya memandangi langit-langit rumah. Dia benar-benar kesal.


“Oh iya. Mama ada bawain sup ayam makaroni, kesukaan kamu sama Agam. Mama masak buat Agam. Tapi Mama tahu kamu pasti juga suka, jadi Mama bawa banyak. Jadi, kamu ikut makan, ya.”


Kali ini Arya mendengarkan Widia. Mungkin juga Arya berpikir begitu lebih baik daripada mamanya itu masih terus di depan kamar Agam. Tapi biar bagaimanapun juga, cara itu lebih baik.


Meski demikian, pada akhirnya, Arya juga yang mengantarkan mamanya itu pulang. Terutama ketika Widia bilang mau menunggu Agam sampai bangun.


“Daripada Mama di sini terus, aku antar Mama pulang dulu ya, Mbak,” bisik Arya saat dia akan berangkat.

__ADS_1


Sara hanya mengangguk seraya tertawa kecil karena takut kedengaran Widia.


......................


“Tadi Mama kesini, Mas,” cerita Sara dalam isyaratnya saat selesai membantu Agam bersiap untuk turun ke teras. “Tapi Mas lagi tidur.”


Agam tidak menjawab. Tapi dia masih mau mendengarkan. Karena tidak ada penolakan darinya.


“Mama bawakan sup ayam makaroni. Katanya kesukaan Mas dan Arya,” lanjut Sara bercerita. “Mau aku siapkan untuk makan malam?”


Agam langsung menarik tangannya dari Sara. Dia mulai menggerutu, “Kamu kan tahu jawabannya. Kenapa malah nawarin masakannya Mama?”


Sara mengambil kembali tangan Agam, dan berisyarat, “Dengar dulu, Mas. Tadi Mama juga nawarin ke Arya. Dan Arya juga ikut makan. Jadi aku yakin, Mama nggak mungkin naruh yang aneh-aneh di dalamnya. Mama benar-benar masak untuk Mas.”


Agam diam untuk beberapa saat. Keningnya berkerut. Lalu berkata, “Aku maunya sup buatan kamu.”


Sara menghela napasnya. “Ya sudah kalau gitu.”


Setidaknya, setelah malam itu, Agam menjadi lebih percaya pada Sara. Dia tidak keberatan setiap kali Sara menawarkan membuatkan sesuatu untuknya. Satu hal yang Sara syukuri.


......................


Keesokkan paginya, Widia kembali datang. Tapi kali ini, Widia terlihat begitu panik.


“Ayo, Sara. Ikut Mama, ya.”


Begitu melihat Sara yang sedang berdiri di depan teras, Widia langsung menarik lengan Sara untuk ikut dengannya. Tidak menjelaskan apa maunya, dan tidak memberikan kesempatan pada Sara untuk berpamitan dengan Agam.


“T-tunggu, Ma. Tunggu,” pinta Sara yang langsung menghentikan langkah Widia, tapi tidak melepaskan lengannya. “S-sara harus pamit dulu sama Mas Agam.”


Widia kembali menarik lengan Sara. “Nggak ada waktu, Sara. Mama butuh bantuanmu.”


Bantuan?


“B-bantuan apa, Ma?,” tanya Sara yang masih ditarik paksa oleh Widia.


“Nggak ada waktu untuk jelasinnya, Sara. Kamu ikut Mama.”


Untung saja ada Pak Pardi yang berjaga di depan pagar.


“P-pak, nanti kalau Mas Agam nanya, tolong bilangin saya dibawa Mam ... maksud saya, Nyonya. Dibawa Nyonya, ya. Tolong ya, Pak.”


Hanya manggut-manggut yang dilakukan Pak Pardi.


Tapi begitu mobil sudah berjalan, Sara teringat sesuatu.

__ADS_1


Astaga, ya Allah. Bagaimana Pak Pardi jelasin ke Agam? Alat bantu dengar Agam masih rusak. Pak Pardi nggak bisa bahasa isyarat.


__ADS_2