
[Agam]
“Wah ... Luar biasa! Akhirnya aku bisa melihat Agam dalam pakaian pengantin. Nggak sia-sia aku bawa desainer dari Indonesia.”
Yuda sedari tadi sudah berisik mengomentari Agam dengan pakaian pengantinnya. Agam risih mendengarnya.
“Berisik! Untuk apa bawa beginian?,” hardik Agam.
“Tentu sangat penting. Meskipun ini pernikahan ulang, kamu nggak kasihan Sara cuma pakai kaos dan celana jeans? Momen, Agam! Momen! Momen itu penting!”
Agam tidak bisa mendebatnya. Dia benar. Aku juga ingin Sara bahagia di hari ini.
Tapi kan ...
“Stop! Jangan bilang Sara saja yang penting,” potong Yuda sebelum Agam sempat mengatakannya. “Sara nikahnya sama kau, Agam. Kau mau orang-orang ngira dia sama aku? Aku sudah pakai kemeja mahal hari ini.”
Agam menggeram kesal. Tapi, Yuda benar ... lagi.
Tak lama kemudian, Arya datang bersama Raka dan segala keberisikannya.
“Mas Agam ... ini ... ini ...”
“Tuan ... daripada yang waktu itu, Tuan terlihat lebih ... gagah ...”
“Kalian! Hentikan! Kalian mirip ibu-ibu yang nikahin anak perempuannya.” Yuda memarahi adik Agam dan (masih) asisten Agam itu.
Sejak Sara memutuskan untuk bersamanya, sejak itu Agam mengingat semua hal yang pernah terjadi pada mereka. Saat mereka pertama bertemu, saat-saat bagaimana Agam memperlakukannya dengan buruk, dan saat-saat dia menyakitinya. Semuanya.
Sejak itu dia menyesalinya.
#
“Segala sesuatu terjadi karena Tuhan menginginkannya. Mungkin Tuhan ingin kita melewati hal semacam ini untuk bisa bersama. Kalau seandainya kita tidak melewati ini bisa jadi cerita kita akan berbeda,” begitu kata Sara.
“Jadi lebih baik mungkin,” timpal Agam. “Kita bertemu dalam situasi yang baik. Aku pasti bertemu kamu untuk project. Setidaknya itu lebih baik.”
“Tapi mungkin kita nggak akan pernah jatuh cinta. Kita hanya akan berbicara masalah pekerjaan. Aku nggak akan bisa memahami Mas lebih baik selain masalah pekerjaan,” kata Sara.
“Mungkin Tuhan menganggap cara ini lebih cepat.”
#
Dan ... bisa jadi itu benar. Dulu dia tidak pernah sedekat ini dengan perempuan mana pun. Tapi sekarang, Agam bahkan berani mencium seorang gadis. Sungguh ini bukan Agam.
Tapi ... jika waktu tidak bisa diulang, bisa kita perbaiki, kan?
Dan untuk itulah Agam melakukan lamaran itu, juga pernikahan ulang ini.
Sesuatu yang masih bisa aku lakukan untuk Sara. Memberikannya satu kenangan yang indah tentang kami berdua. Sesuatu yang dulu aku lakukan dengan salah, aku bisa memperbaikinya untuk Sara.
“Sudah siap?,” tanya Yuda membuyarkan lamunan Agam.
“Mereka bilang pengantin wanitanya juga sudah siap,” kata Raka memberi informasi.
Begitu Agam mengangguk, Arya ikut mengatakan sesuatu, “Kalau gitu, aku akan video call dulu dengan Ibu.”
Yuda akhirnya yang mengantarkan Agam ke tempat yang sudah mereka atur.
__ADS_1
Beberapa orang dari rumah rehabilitasi ikut membantu menghias tempatnya. Karena mereka yang lebih dulu tahu. Mereka juga yang memberi saran untuk melamar Sara di tempat itu. Tempat yang paling bagus katanya.
Yuda dan Arya diberitahu setelah Agam melamar Sara. Mereka begitu bersemangat, karena dulu Agam melakukannya tanpa mereka. Agam yang tidak menginginkan mereka hadir sebenarnya.
Akhirnya, mereka hadir membawa segala rencana untuk Agam, salah satunya busana pengantin untuk Agam dan Sara.
Seorang perawat asal Indonesia yang selalu membantu Agam selama di sana mendatangkan temannya yang dulu bekerja sebagai penghulu untuk membantu proses akadnya.
“Sah?”
“Sah!”
Akad yang singkat, tapi rasanya sama seperti saat pertama kali Agam melakukannya. Menegangkan. Tapi yang ini lebih lebih menegangkan dari waktu itu.
Dia hampir melakukan kesalahan tapi beruntung bisa dia perbaiki.
Ternyata memang sulit menghafalkan kalimat akadnya.
......................
“Rumahnya nyaman ya, Mas,” kata Sara saat melihat-lihat rumah pemberian Prof. Yamamoto. Pinjaman lebih tepatnya.
Prof. Yamamoto meminjamkannya untuk Agam dan Sara, agar mereka bisa tenang tinggal jauh dari padatnya pasien lain yang datang berobat.
Rumahnya kecil, tapi sudah cukup luas untuk mereka berdua. Lengkap dengan dapur, ruang tamu, dan kamar tidur. Bahkan ada taman kecil yang masih penuh dengan bermacam-macam bunga.
Rumah yang letaknya jauh di belakang ini masih satu area dengan rumah rehabilitasi. Rumah ini juga yang menjadi tempat istri Prof. Yamamoto beristirahat. Ya, rumah ini yang menjadi awal berdirinya Aozora Fukkou Hausu.
“Prof. Yamamoto pasti sangat mencintai istrinya,” ucap Sara lirih di sela-sela waktu melihat-lihat rumah itu. “Taman bunganya masih terawat. Tidak ada satupun yang layu. Foto-foto istrinya juga masih terpajang di tempatnya. Padahal Prof. Yamamoto lebih sering tidur di Aozora.”
Memang benar ... Sebesar itu rasa cinta Prof. Yamamoto terhadap istrinya.
Tiba-tiba saja, Agam sudah merasakan lembutnya genggaman tangan Sara menyentuh tangannya. Tidak ada kata yang terucap. Hanya memeganginya saja. Dan yang Agam lakukan adalah melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Sara.
Rumah itu terasa sangat tenang. Hanya ada suara angin dan serangga kecil yang menghiasi suasana pedesaan. Tapi bersama Sara, ketenangan semacam ini rasanya berbeda. Agam merasakannya kini berbeda dengan dulu.
Dulu ketenangan yang terasa lebih banyak dikuasai oleh rasa sepinya. Dan karena Sara, kini tidak lagi.
......................
“Bahkan tenangnya beda dengan yang di Aozora,” bisik Sara cekikikan ketika mereka sudah berbaring di atas futon (*) mereka.
Agam yang sedang memeluknya merasakan getaran tubuh Sara. Dia malah tersenyum. “Apanya yang beda?”
“Apa, ya?” Sara terdiam sejenak, lalu berkata, “Kalau di Aozora lebih ke sepi aja. Tapi kalau di sini, rasanya tenang gitu. Sampai ke sini.” Sara menunjuk bagian dada Agam.
“Kamu suka?,” tanya Agam.
Sara mengangguk dengan semangatnya.
Dia senang sekali. Syukurlah ...
Untuk beberapa saat, mereka akhirnya terdiam menikmati keheningan yang mereka rasakan di rumah itu. Serangga kecil seperti biasa melakukan tugasnya. Bunyi bambu dari sishi odoshi (**) yang ada di taman justru tidak merusak ketenangan mereka, malah menjadi penyejuk suasana rumah itu.
“Sara ...,” panggil Agam tiba-tiba. “Kamu sudah tidur?”
“Belum ... Kenapa, Mas?”
__ADS_1
“Kamu masih ingat bintang permintaan yang dulu pernah kamu berikan?”
Sara mengangguk.
“Bagaimana cara memakainya?”
Sara kemudian memegangi tangan Agam, lalu meletakkan telapak tangannya di dada. “Tinggal Mas sebutkan saja apa keinginannya.”
Dulu aku selalu skeptis dengan hal-hal seperti ini. Tapi untuk sekarang, jika ini bisa membuatku mendapatkan keinginanku, maka aku tidak keberatan untuk melakukannya.
“Mas mau minta apa memangnya?,” tanya Sara.
Agam menggerakkan tangannya untuk menyentuh wajah Sara, mengusap lembut wajahnya dengan ibu jari miliknya.
“Aku ingin bisa melihat lagi. Agar aku bisa melihat wajahmu. Aku sangat ingin melihat wajahmu.”
Sara terdiam.
Apa dia menganggap hal ini lucu? Tapi dia tidak tertawa.
Tiba-tiba saja, Sara mengambil tangan Agam dari wajahnya, membuka telapak tangannya, lalu menuntunnya memegangi wajahnya. Satu-persatu dijelaskan pada Agam.
“Yang ini hidungku,” kata Sara saat menuntun tangan Agam menyentuh hidungnya. “Hidungku agak pesek sih. Kata Ibu mirip Ayah.”
Sara sempat cekikikan sebentar. Lalu memindahkannya ke atas.
“Ini mata. Nggak terlalu sipit, tapi juga nggak terlalu lebar. Yang atas dikit alisnya. Masih asli. Belum pernah dicukur. Takut jelek soalnya. Tapi nggak terlalu lebat sih.”
Terus begitu hingga menyentuh telinganya.
“Nggak ada yang istimewa dari telinga. Cuma ada anting kecil di situ, biar nggak buntu tempat tindih antingnya.” Sara cekikikan lagi.
“Dulu, Ayah sering melakukan ini. Katanya cara ini bisa bikin obati kangen. Ini cara Ayah untuk melihat aku dan Ibu,” katanya lagi tidak berhenti terkekeh.
“Gelinya aja yang kadang nggak nahan.”
Agam ikut tertawa mendengarnya. Bukan karena ceritanya, tapi karena suara tawa Sara. Terdengar lucu di telinganya.
Agam kembali menyandarkan tangannya di wajah Sara. Dengan ibu jarinya dia mengusap lagi wajahnya. Sangat lembut hingga membuatnya tidak ingin berhenti.
Tapi, lama-kelamaan sesuatu yang berbeda mulai terasa dari dalam dadanya. Sesuatu dari dalam perut terasa keluar dan menggelitik sekujur tubuhnya. Agam merasakan sensasi yang membuat napasnya mulai terasa berat. Sensasi yang aneh menggelitik, dan tak kuasa lagi ditahannya.
Agam langsung mendekatkan wajahnya pada Sara. Ibu jarinya sudah memberi tahu di mana letak bibir Sara yang sangat dia rindukan. Dan seiring dengan napasnya yang mulai memburu, Agam mulai melahapnya.
Sangat dalam, sangat intens, dan sangat menuntut. Agam tidak ingin melepaskannya malam ini. Dia puaskan dirinya tidak hanya di bibir tapi hampir di seluruh bagian tubuh Sara yang mampu dia jangkau.
Malam itu, untuk pertama kalinya mereka melakukan sesuatu yang seharusnya mereka lakukan sejak awal mereka menikah. Tidak terlambat pula, dan masih terasa nikmatnya hingga Agam tidak ingin malam berakhir begitu cepat. Peluh, dessahhan, hingga rasa lelah seakan bercampur jadi satu dengan yang namanya kenikmatan. Malam panjang ini masih terlalu dini untuk diakhiri.
......................
Author's Note :
(*) Futon adalah jenis perangkat tidur tradisional Jepang. Futon digelar di atas tatami, di atas tempat tidur, atau kasur. Satu set futon terdiri dari shikibuton sebagai alas tidur dan kakebuton yang lebih lunak sebagai selimut. (Wikipedia)
(**) Sishi-odoshi jenis air mancur yang digunakan di taman Jepang. Terdiri dari tabung bersegmen, biasanya dari bambu, diputar ke satu sisi titik keseimbangannya. Saat diam, ujung yang lebih berat turun dan bersandar pada batu. Tetesan udara ke ujung atas tabung terakumulasi dan akhirnya menggerakkan pusat gravitasi tabung melewati porosnya, menyebabkan tabung berputar dan membuang udara. Ujung yang lebih berat kemudian jatuh kembali ke batu, menimbulkan suara yang tajam, dan siklus tersebut berulang. (Wikipedia)
__ADS_1