
[Sara]
Sara pandangi bayangan cerminnya dengan perasaan kesal. Dia terus memegangi lehernya yang terlihat jelas dalam tampilan cermin yang ada di wastafel kamar mandi lantai bawah dekat dapur ada sebuah bulatan merah tak beraturan bentuknya di sana.
Bukan satu, bukan dua, tapi tiga. Di kanan dan kiri leher dan bahunya.
Mas Agam!!, rutuknya kesal dalam hati.
Padahal dia sudah wanti-wanti agar jangan meninggalkan jejak yang bisa terlihat di sana.
Tempat lain, tidak masalah. Tapi jangan disitu! Ini gimana nutupinnya?! Mana posisinya di atas banget gini, tangisnya yang masih dalam hati.
Tapi, jika mengingat yang terjadi di antara mereka semalaman jelas bukan sesuatu yang dapat ditolak Sara. Dia begitu menikmatinya hingga rasanya sulit untuk mendorong Agam menjauh dari area terlarangnya. Itu artinya ...
“Salahku juga,” sesalnya. “Harusnya aku lebih kuat menolaknya.”
Bisakah? Pesona Agam semalam jelas bukan sesuatu yang mudah untuk ditolak begitu saja. Daya tarik Mas Agam semalam ... Ya Allah ... terlalu mempesona ...
Sedikit demi sedikit, rasa panas menyelimuti wajahnya, dari bawah lalu naik ke atas. Sara mulai merona.
Terutama ketika dia mengingat ucapan Agam sebelum malam panjang itu dimulai.
“Bisakah kamu berhenti menyebut nama Vian? Aku tidak suka ... mendengarnya.”
Wajah Sara semakin merona dan terasa panasnya.
“Non ...”
Panggilan Mbok Jami mengagetkan Sara hingga membuatnya hampir melompat dan berseru dalam hatinya, Astaghfirullahaladzim!
“Sarapan sudah siap. Mau sarapan dulu, Non?”
Sara mengelus dadanya perlahan, meredakan detakan jantungnya yang kencang karena rasa kagetnya itu.
“O-oh iya, Mbok. Terima kasih. S-saya panggilkan Mas Agam bentar, ya,” jawab Sara gugup.
Sara segera naik ke atas menjemput sang suami sebelum Mbok Jami bertanya lebih lanjut lagi, terutama ketika melihat wajah pucatnya karena reaksi kagetnya tadi.
Agam ternyata sudah hampir siap. Dia sedang mengancingkan kemejanya. Begitu Sara menutup pintunya, dia menghampiri Agam dan membantu mengancingkan sisanya. Agam tersenyum.
“Ish ...,” desis Sara menahan malunya. Dia tidak berani menatap Agam langsung. Hanya memandanginya dari ujung matanya.
Agam mencoba peruntungannya ternyata. Dia memajukan tubuhnya mendekati Sara untuk menciumnya.
Sara memundurkan tubuhnya. Tidak bisa. Kalau ini dilanjutkan bisa bahaya.
“Mas, iih ... Mau siap-siap sarapan. Bentar lagi yang lainnya mau datang,” omel Sara yang tersipu dengan gerakan tiba-tiba dari Agam tadi, tapi disadarkan kenyataan bahwa mereka punya jadwal yang harus dijalankan.
“Tidak usah sarapan juga tidak apa-apa.” Agam masih mencoba lagi.
Sara mengunci mulut Agam dengan kedua tangannya.
__ADS_1
“Mas!” Sara memelototinya. Tapi senyum tersipu masih terkulum di wajahnya.
Agam malah tertawa. Lalu, menciumi tangan Sara yang menutupi bibirnya.
Agam kemudian meraih tangan Sara dengan kedua tangannya, dan menggenggamnya lembut.
“Waktu kemarin aku melihat Vian di rumah Ibu, aku memang marah. Aku tidak suka melihatnya di sana. Aku juga tidak mengerti apa maksudnya,” kata Agam menjelaskan semuanya.
“Tapi ...” Tangan kanan Agam kini mengambil sedikit rambut panjang Sara yang tergerai di depan bahunya, lalu menggantungnya di balik telinga Sara. “... aku percaya kamu, Sara. Aku yakin, kamu tidak akan melakukan sesuatu yang akan membuatku berhenti mempercayaimu.”
Rasa haru seketika menggelayuti perasaan Sara yang saat ini sedang berbunga-bunga hingga mendorong bunga-bunga itu terus bermekaran dan meluapkan rasa cintanya. Dia kemudian memeluk tubuh tegap dan tinggi suaminya itu. Dan menyandarkan kepalanya di dada Agam.
“Terima kasih, Mas,” kata Sara. “Terima kasih, Mas sudah mempercayaiku.”
Agam membalas pelukan Sara dan menciumi puncak kepalanya, membiarkannya cukup lama di sana.
“Pantesan kemarin waktu aku tanya, Mas diem aja” kata Sara yang masih memeluk Agam. “Di restoran ya gitu. Aku sampai khawatir.”
Agam menciuminya lagi, lalu melepaskan pelukannya. “Aku jawab, kok.”
Agam mengalihkan pandangannya ke arah lain.
“Iih, nggak kok.”
“Jawab.”
“Nggak.”
“Jawab.”
Lagi-lagi, Agam curang. Bibir Sara kembali dilahapnya habis-habisan, mengakhiri dengan paksa kata-kata Sara yang akan diucapkannya.
Saat Sara mulai kehabisan napasnya, tangan Agam mulai menjarah ke mana-mana. Dengan sekuat tenaganya, Sara mengembalikan kesadarannya sebelum semuanya kembali terlambat.
“Mas! Aku baru mandi, ih,” seru Sara.
Agam menyeringai. “Nanti kita mandi lagi sama-sama.”
Lagi. Kejadian semalam terulang lagi. Badan pegal serasa hilang begitu Agam meluummat habis bibir Sara.
Ciuman Mas Agam memang membahayakan.
......................
Hari ini, Ava dan Arya akan datang ke rumah, bersama Widia. Mereka akan membicarakan mengenai rencana Ava ke depannya.
Seperti yang ditulis dalam surat wasiat, segala kebutuhan untuk Ava sudah disiapkan. Tapi, harus diputuskan oleh Agam dan Arya. Seperti permintaan sang Ayah, Ava akan dijaga dan dilindungi dengan baik oleh kedua kakaknya.
Saat Ava dan Arya datang, Agam dan Sara sedang sarapan di ruang makan. Arya datang dengan segala keceriaannya, sedangkan Ava masih dengan tatapan tidak sukanya pada Sara.
Tapi Sara memilih untuk tidak menghiraukannya dan tetap bersikap ramah pada adik iparnya itu.
__ADS_1
Ketika Arya dan Agam pergi ke ruang kerja Agam, Sara sedang membantu Mbok Jami di dapur dengan segala kesibukannya. Pada saat itulah, Sara tahu sikap ketidaksukaan Ava pada dirinya itu nyata dan bukan hanya perasaannya saja. Sara juga jadi tahu alasannya.
Sara sedang mengobrol dengan Mbok Jami begitu Ava memasuki dapur. Suasana menjadi hening seketika. Mbok Jami tiba-tiba saja diminta keluar oleh Ava dengan gerakan kepalanya. Sara sempat melihatnya.
Setelah Mbok Jami keluar, Ava mulai mendekati Sara selangkah demi selangkah.
“Jadi, kamu adalah mantannya Al?”
Sara menghentikan gerak tangannya yang sedang mencuci apel di wastafel. Air yang keluar dari kran terus mengucur turun membasahi tangannya.
“Kamu mengira aku tidak tahu?” Ava tertawa sinis. “Aku tahu. Semuanya.”
Sara yang masih memandangi buah apel yang dipeganginya, kini kembali menyelesaikan pekerjaannya.
Terus kenapa?
“Saat Vian memutuskan kamu, aku ada di balik laptopnya. Aku mendengarkan semuanya.”
Sara berhenti bekerja lagi. Tapi kali ini dia menghela napasnya sekali lalu membawa buah-buah apel yang baru dicucinya ke tempat lain. Dia bergerak menjauhi Ava.
“Aku dengar rengekan kamu. Aku dengar kemarahan kamu. Aku dengar semuanya.”
Lagi, Ava tertawa sinis. Kali ini diakhiri dengan dengusannya. “Tidak tahu malu, ya.”
Kening Sara berkerut. Dia langsung menatap Ava yang masih berdiri di tempatnya dengan melipat kedua tangan di depan dadanya.
“Al sudah cerita. Kamu adalah pacar temannya yang sudah meninggal. Kamu jatuh cinta pada Al tapi dia tidak mau. Al menganggap kamu pacar sahabatnya. Tapi kamu terus berusaha untuk mendapatkan Al. Bahkan sampai bilang kamu sakit dan mau mati. Ha! Omong kosong! Sekarang kamu sehat dan menggoda kakakku?!”
Dia membicarakan tentang aku, kan? Itu benar aku?
“Al berulang kali minta putus, tapi kamu malah mengancam akan bunuh diri. Kalau Al tidak ingat janjinya pada temannya, dia sudah pasti akan membiarkan kamu mati!”
Drama macam apa ini?
“Kalau aku tidak menemukan foto Al dan kamu yang dia sembunyikan, aku mungkin tidak akan pernah tahu cerita ini. Dan kamu selamanya akan merongrong Al.”
Sara bingung. Tapi juga marah. Pada akhirnya dia menyadarinya. “Apa itu yang diceritakan Mas Vian padamu?”
“Mas Vian? Kamu sudah menikah dengan kakakku, tapi kamu masih memanggilnya Mas Vian? Kamu tahu? Aku bahkan memilih memanggil dia dengan panggilan lain karena tidak mau memanggilnya dengan panggilan yang sama denganmu.” Ava kini memelototinya.
“Jadi, cara ini juga yang kamu pakai untuk menggoda kakakku? Sakit apa sekarang? Leukimia lagi?”
Leukimia? Jadi Mas Vian bilang aku leukimia?
Ava kini berjalan mendekati Sara yang sedang memelototinya sejak Ava menuduhnya juga berbohong pada Agam. Hingga jarak mereka hanya selangkah, Ava berhenti dan menatapnya tajam.
“Aku tahu kamu yang meracuni mamaku 4 tahun yang lalu,” kata Ava setengah berbisik.
Jadi aku juga seseorang yang juga berusaha membunuh orang lain sekarang?
“Aku tidak akan memaafkan kamu karena sudah melukai mamaku. Dan sekarang kamu juga menggoda kakakku? Jangan senang dulu.”
__ADS_1
Ava memajukan tubuhnya lebih dekat dengan Sara. Dan kembali berkata, “Sampai kapan pun aku tidak akan menyetujui pernikahan kalian. Aku akan mencari cara agar kakakku menceraikan kamu.”
“Ava!”