
[Agam]
Saat Agam terbangun tadi, dia sudah merasakan letih yang sangat hebat di sekujur tubuhnya. Entah karena rasa marahnya semalaman atau karena posisi tidurnya yang terus memeluk kursi rodanya sepanjang malam. Mungkin juga keduanya. Tapi yang jelas, dia memang akan merasa seperti itu setiap kali dirinya mengamuk.
Ya, ini bukan yang pertama kalinya Agam menjadi seperti itu. Setiap dia mengingat masa lalunya, seluruh bagian otaknya seakan kembali ke masa itu, masa di mana dia pertama kalinya merasa tidak berdaya karena kekurangannya. Masa terpuruknya.
Tidak banyak yang bisa dia ingat setelahnya, selain memporakporandakan kamarnya sendiri, dan merangkak mencari tempat persembunyian yang baik untuk menghindar dari semuanya. Begitulah Agam kala kemarahan itu menyerangnya.
Tapi bukan berarti rasa bencinya pada Widia hilang begitu saja. Dia masih membencinya. Bagaimana bisa dia berhenti membencinya jika wanita itu adalah penyebab ini semua?
Saat Agam tengah hanyut dalam pikirannya sendiri, saat itulah dia merasakan sesuatu yang lembut sedang menutupi tubuhnya. Agam berusaha sebaik mungkin agar tidak bergerak sedikitpun.
Apa ini? Selimut? Siapa yang ...
Agam mengingat sesuatu dalam amukannya semalam. Telinganya menangkap sebuah suara. Ya, Agam yakin dia mendengar sesuatu semalam. Itu artinya ada sesuatu di kamarnya. Atau seseorang?
Ya, usahanya 2 tahun untuk mengembalikan semuanya tidak sia-sia, meskipun belum sempurna. Telinga Agam pada akhirnya bisa menangkap suara meskipun hanya berupa suara yang sangat kecil dan tidak jelas, lebih seperti suara berisik pada radio. Tapi itu artinya ada perubahan. Artinya, dia bisa sembuh.
Tidak ada yang tahu. Raka juga tidak. Dia tidak mau membuat orang yang melakukan ini padanya jadi lebih waspada. Lebih baik seperti ini.
Kalau bukan karena kericuhan yang terjadi di NFC, dia mungkin akan tinggal lebih lama di sana, menyempurnakan semuanya. Sial memang orang-orang itu!
Tapi ... Kembali ke semalam. Siapa yang sedang ada di kamar Agam? Dan sekarang sedang meletakkan selimut di atas tubuhnya. Apakah dia semalaman berada di kamarnya? Apa yang sedang dilakukan orang itu?
Perlahan-lahan, Agam meraba sekitar tempatnya duduk untuk mencari alat bantu dengarnya. Semalam dia melepaskannya karena ingin ketenangan. Satu hal yang baik dari sebuah ketulian menurut Agam adalah kesunyian yang dia dengar membuatnya bisa lebih tenang saat dia membutuhkannya.
Ah, ketemu ... Dia letakkan di dudukan kursi rodanya ternyata.
“Akh!”
Sara? Itu Sara?
Agam yakin itu suara Sara. Tapi, apa yang sedang gadis itu lakukan di kamarnya? Bagaimana caranya dia masuk? Siapa yang memberitahu passwordnya? Ya, sudah pasti ada yang memberitahunya. Tapi siapa?
Mbok Jami? Setiap hari dia mengganti password setiap ruangan yang dia beri password. Dan hari ini dia memang memberitahu asisten rumah tangganya itu karena dia minta tolong untuk membersihkan kamarnya. Mungkinkah Mbok Jami? Sepertinya begitu. Karena tidak ada tersangka lainnya lagi.
KLAK!
__ADS_1
Pintu kamarnya tertutup. Berarti gadis itu sudah keluar. Agam menghela napas leganya. Sedari tadi dia sudah terlalu tegang memikirkan Sara yang sedang ada di kamarnya.
Kini, tangan Agam menyentuh selimut yang sedang ada di tubuhnya. Rasanya hangat. Entah bagian mana yang hangat, tubuhnya atau hatinya? Yang jelas, ada rasa aman saat mengingat dia baru saja menghabiskan malamnya bersama Sara.
Ya, aman. Karena tidak terjadi apapun padanya semalam itu. Dia baik-baik saja. Yang tidak baik mungkin Sara sendiri. Karena Agam sedang mempertimbangkan apakah rintihan Sara tadi itu adalah rintihan kesakitan atau bukan? Karena terdengar cukup menyakitkan bagi Agam.
Paginya, ketika Raka datang dan bertanya padanya, barulah pelan-pelan hampir semua pertanyaannya terjawab. Hampir. Tidak semua.
“Apa Nyonya Sara jatuh kemarin?,” tanya Raka pada Agam selepas mereka sarapan bersama.
“Jatuh?” Agam lebih heran lagi dengan pertanyaan Raka.
“Ada plester di kening sebelah kiri. Bibirnya sedikit lecet. Belum lagi, memar kebiruan di sekitar pipi kanan. Ya, meskipun ditutupi bedak masih terlihat samar,” celoteh Raka menjelaskan kondisi Sara.
Memar di pipi ... Itu mungkin tamparannya yang tidak sengaja kemarin. Tapi, kening? Kalau diplester berarti terluka, kan? Untuk apa orang pasang plester di kening? Bukan mode fashion.
Apakah itu benar-benar Sara yang dia dengar semalam? Kalau benar, itu artinya ... Agam melukainya semalam. Lagi. Dua kali.
Rasa bersalah Agam semakin bertumpuk. Dia tahu dia telah melakukan kesalahan kemarin. Tapi belum juga minta maaf, dan sekarang lagi?
Agam memainkan jari jemarinya, tanda dia sedang tidak tenang.
“Saya tidak tahu yang di kening. Tertutup plester. Tapi lebamnya cukup besar juga.”
Lalu kemudian, Raka kembali bertanya. Menyelidiki sesuatu.
“Apa kemarin terjadi sesuatu, Tuan?”
Agam masih mempertahankan sikap tenangnya. “Tidak tahu. Suruh Pak Pardi belikan salep luka di apotek dekat sini. Kamu yang kasihkan ke Sara. Jangan banyak tanya.”
Ya, begitu lebih baik.
Tapi ternyata tidak. Agam masih belum tenang.
“SIMULASI GAGAL,” begitu pesan notifikasi yang terdengar olehnya saat di bekerja di ruang kerjanya. Entah sudah berapa kali dia melakukan kesalahan. Masih saja tetap salah.
Agam memijat pelan kepalanya, meredakan sakit kepalanya yang sedari tadi tidak juga surut. Ditambah lagi dengan semua ujicobanya yang selalu gagal, hari ini adalah hari yang buruk.
__ADS_1
“Masukkan prompt C-512, ulangi sekali lagi,” katanya memberi perintah pada sistem komputer miliknya yang memang didesain untuk menerima perintah suara.
Dan beberapa menit kemudian, “TEKANAN 30%. KECEPATAN 45%. KETAHANAN 20%. SIMULASI GAGAL.”
BRAK!
Agam memukuli meja kerjanya. Dia sudah di batas akhir kesabarannya. Dengan melemparkan dirinya ke belakang hingga mengenai sandaran kursi rodanya, Agam menghela napas panjangnya. Matanya terpejam. Mengingat kembali suara kesakitan yang Sara serukan tadi pagi.
Pasti sangat sakit ...
Dan rasa bersalah Agam kembali lagi. Atau mungkin memang tidak pernah pergi. Mungkin itulah yang menjadi alasan kegagalannya sedari tadi. Ketidak-fokusannya.
Pada saat itulah, Agam berpikir untuk menemui gadis itu.
“Maaf ... Karena sudah ... melukaimu ...,” begitu kalimat pertama yang Agam ungkapkan begitu keberaniannya sudah terkumpul. Sampai-sampai keringat dingin membasahi telapak tangannya.
“Aku ... bukan sengaja ... menamparmu,” lanjut Agam lagi. “Aku ... juga ... semalam ...”
“S-semalam? A-ada apa d-dengan semalam?.” Suara Sara terdengar lirih. Tapi Agam tahu, gadis itu sedang gugup.
Mungkin dia mengira aku tidak mengetahuinya.
“Aku akan panggilkan dokter untuk ...”
“Ah, tidak, tidak. T-tidak perlu. Raka tadi sudah memberikan obat olesnya. I-itu sudah cukup,” seru Sara berkali-kali mengatakan ‘tidak’.
Berarti memang benar terjadi ...
“Lain kali, jangan mendekat saat aku sedang tidak stabil. Aku ... Aku bisa melukaimu lagi.”
Sara terdiam. Cukup lama dia tidak menjawab. Masalahnya, kini giliran Agam yang gugup.
Apakah dia sedang menatapku dengan penuh kebencian? Apa yang sedang gadis itu lakukan? Atau yang sedang dia pikirkan?
“S-sara?,” panggil Agam.
“Ah, maaf, maaf. Iya, aku mendengarnya. Akan kulakukan,” jawab Sara.
__ADS_1
Memang itu maunya, Sara tidak mendekatinya. Tapi entah mengapa, hatinya baru saja merasakan sedikit kekecewaan.
Mungkinkah dia berharap Sara menjawab sebaliknya? Mungkinkah dia berharap Sara bisa membuatnya merasa aman?