Cinta Itu (Tidak) Buta

Cinta Itu (Tidak) Buta
Part 63 : Ini Karma


__ADS_3

[Sara]


Sara terus memperhatikan Agam yang sedang bersiap dengan perasaan cemas. Sara juga masih belum memahami mengapa Agam menjadi begitu panik ketika Widia datang memberitahu bahwa Vian membawa Ava pergi.


Apa yang salah dengan itu? Mereka bertunangan, kan? Ava mencintainya. Atau ada sesuatu yang belum aku ketahui?


Tapi, hanya berdiri tanpa melakukan sesuatu hanya akan membuatnya semakin cemas. Dia berdiri dan mendekati Agam, membantunya memasangkan kancing kemejanya tanpa mengatakan apapun.


Begitu selesai pada kancing teratas dan yang paling akhir, kedua tangan Agam menyentuh wajah Sara, dan menangkupnya. Sesekali ibu jari tangannya mengusap wajah Sara.


“Maafkan aku,” ucap Agam. “Aku belum sempat menceritakan semuanya. Karena aku pikir kamu butuh istirahat beberapa hari terakhir ini.”


Jadi karena itu ...


“Aku janji ...,” lanjut Agam. “... aku akan ceritakan semuanya begitu aku kembali.”


Sara mengangguk pelan.


“Yang penting Mas hati-hati,” kata Sara. Hanya itu yang bisa dia katakan. Yang penting itu dulu. Semua kembali dengan selamat.


“Kalau ... kamu tidak ingin ...“ Ucapan Agam selanjutnya seperti tertahan di dalam mulutnya.


Tapi, Sara memahami maksud Agam. “Jangan khawatir, Mas. Nanti aku temani Mama.”


Agam mengecup keningnya, lalu menyandarkan keningnya pada kening Sara. “Terima kasih, Sara. Terima kasih.”


Setelah semua siap, Agam akhirnya turun bersama Sara. Di bawah, Arya sudah menunggunya. Bersama-sama, mereka pergi ke tempat yang sudah diberitahu Yuda. Tempat yang mereka yakini di sanalah Vian membawa Ava.


Begitu Widia datang memberitahu kondisi Ava, Agam langsung menelpon Arya dan memintanya datang ke rumah. Agam juga meminta Yuda untuk melacak keberadaan Ava saat ini.


Selama lebih dari 2 jam, akhirnya anak buah Yuda menemukan keberadaan Vian dan Ava di satu tempat wisata yang ada di Malang. Yuda sudah berangkat ke sana. Agam dan Arya baru saja menyusul.


Begitu mobil yang dikendarai Arya yang membawanya bersama Agam menghilang dari pandangannya, Sara memandangi Widia yang juga masih berdiri memandangi kedua putranya pergi. Selama kedua matanya masih belum beralih dari arah jalan, tangan Widia masih terus saling meremas satu dengan yang lainnya.


“Kita tunggu di dalam saja ya, Ma,” ajak Sara seraya memeluk dan menuntunnya ke dalam.


Widia hanya tersenyum sekali, baru kemudian mengikuti ajakan Sara untuk masuk.


Sara meninggalkan sang ibu mertua sebentar saja untuk membuatkan secangkir teh hangat untuknya. Begitu kembali, Widia masih dalam posisi yang sama saat Sara meninggalkannya tadi.


Widia menatap kedua tangannya yang terbuka lebar dengan tatapannya yang cemas. Sesekali menutup kedua matanya, lalu menggelengkan kepalanya dengan cepat. Mungkin juga untuk menghilangkan pikiran buruk dari dalam kepalanya. Terakhir, menutup kedua wajahnya dengan kedua tangannya itu.


Sara meletakkan secangkir teh di atas meja, lalu memeluk Widia dengan hangat, sehangat teh yang dia bawa. Masih terbesit di kepalanya kejadian yang pernah menimpanya dulu yang disebabkan oleh ibu mertuanya itu. Tapi rasa kasihannya saat ini jauh lebih kuat daripada dendamnya waktu itu.


“Semua salah Mama, Sara. Semua salah Mama,” tangisnya dalam pelukan Sara.


Dipeluknya terus wanita rapuh yang ada di sampingnya saat ini. Wanita yang dulu begitu angkuhnya ingin menguasai segalanya, kini seakan tak berdaya dengan apa yang sedang terjadi.


“Maafkan Mama, Sara. Maafkan Mama. Ini karma. Ini karma Mama,” raung Widia terus menerus.


Sara semakin tidak memahami maksud perkataan Widia. Tapi tugasnya saat ini bukan mencari tahu ada apa, melainkan menenangkan wanita yang hatinya sedang tidak tenang ini.


Pelan-pelan Sara mengusap punggung Widia, berharap apa yang dia lakukan saat ini bisa sedikit menurunkan rasa tegangnya.


Lebih dari satu jam Widia menangis tanpa henti, menangisi semua hal yang pernah dia lakukan. Berulang-ulang dia meminta maaf pada Sara. Bahkan berlutut di hadapan sang menantu.


Sara semakin kebingungan dibuatnya. Bukan karena ketidaktahuannya, tapi karena rasa canggungnya pada apa yang dilakukan Widia.


Biar bagaimanapun juga, dia tetap adalah mertuaku.


Meski demikian, Sara masih terus mencoba membawanya ke kamar atas. Membujuknya agar mau beristirahat di atas.


“Sara janji akan bangunkan Mama kalau Mas Agam sudah memberi kabar,” bujuk Sara. “Mama istirahat dulu di atas, ya.”

__ADS_1


Dengan dibantu Mbok Jami, Sara menuntun Widia ke kamar atas, dan menemaninya sebentar sampai akhirnya Widia benar-benar tertidur. Barulah setelah itu, Sara keluar dan menunggu di bawah.


Siang berganti sore, sore berganti malam. Kabar dari Agam ataupun Arya belum juga datang. Sara semakin cemas.


Sesekali dia duduk di teras belakang, menggantikan Agam melakukan kebiasaan setiap sorenya di sana. Memandangi padang rumput nan hijau sembari memandangi matahari yang semakin lama semakin turun hingga meninggalkan jejak jingga di langit.


Semoga semuanya baik-baik saja.


Saat Widia bangun selewat jam makan malam, Agam dan Arya juga masih belum datang. Widia pun semakin cemas dan khawatir. Sara jadi punya tugas baru sekarang, membujuk Widia untuk makan.


Setidaknya bisa mengalihkan kecemasannya sejenak.


Selesai makan malam, Sara masih terus menemani Widia di ruang tamu. Saling memeluk seakan saling menguatkan. Kedua mertua-menantu itu menunggu orang-orang yang sama, dengan perasaan yang sama.


“Dulu waktu Ava umur 10 tahun, kejadiannya juga seperti ini,” cerita Widia di sela-sela penantian mereka.


“Saat itu kita sedang liburan di salah satu villa kita di daerah pegunungan. Ava anaknya memang nggak bisa diam, selalu lari sana-sini. Arya yang selalu memarahi Ava, karena khawatir dia hilang. Sedangkan Agam, dia hanya mengingatkan Ava agar jangan main terlalu jauh. Tapi kadang matanya tidak bisa lepas dari Ava.”


“Satu waktu, Agam dan Arya sibuk menyiapkan acara BBQ di teras. Aku dan papa mereka sibuk di dalam villa. Ava tidak ada yang memantau. Tahu-tahu sudah tidak ada di teras. Padahal tadinya masih lari-lari di sana.”


“Semua panik. Hari sudah malam. Akhirnya minta tolong warga sekitar untuk masuk ke dalam hutan cari Ava. Agam yang saat itu yang paling berani berangkat sendirian tanpa menunggu Arya dan warga sekitar.”


Widia mulai menghapus air matanya yang baru saja jatuh.


“Saat Arya dan semua warga kembali tanpa Ava, Agam tiba-tiba sudah menggendong Ava. Tanpa senter, tanpa alat apapun, dia bisa menemukan Ava yang katanya jatuh terpeleset. Untungnya Ava tidak sampai masuk jurang.”


Sara memeluk Widia dengan erat. Tangis Widia yang pecah terdengar begitu memilukan.


Kejadian yang sama, perasaan mencekam yang juga sama. Seakan sedang diingatkan kembali bahwa tidak ada yang berubah dari keluarga ini sejak dulu.


Baru lewat pukul sepuluh malam yang mereka tunggu akhirnya tiba.


“Bukakan kamar atas, Pak. Buruan.”


"B-baik, Den ..."


Sara segera beranjak dari tempat duduknya dan langsung berlari menuju pintu. Widia pun juga demikian.


Astaghfirullahaladzim ...


Betapa kagetnya Sara melihat Arya sedang membawa Ava dalam gendongannya. Ada apa ini? Ava kenapa?


Otak di kepala Sara langsung berputar cepat. Tidak dibiarkan dia terus termangu menghalangi jalan Arya.


Sementara Widia terus berteriak memanggil Ava, Sara langsung berlari mengikuti Pak Pardi menuju kamar atas. Begitu kamar atas dibuka, Sara bergerak membukakan bed cover agar Arya bisa langsung merebahkan Ava di atasnya.


Sara mencoba membukakan kancing atas kemeja Ava agar Ava bisa lega bernapas – karena dia mengira Ava pingsan. Tapi baru saja menyentuhnya, tangan Ava sudah menepiskan tangan Sara.


“Minggir! Mau apa kamu?” Kedua mata Ava masih terpejam. Tapi tangannya bisa tepat mengenai tangan Sara.


Suaranya. Mengapa suaranya seperti itu? Jangann-jangan dia ...


“Dia lagi mabuk, Mbak,” kata Arya seakan tahu apa yang sedang dipikirkan Sara.


Astaghfirullahaladzim, apa yang terjadi?


Sara memandangi Ava dengan hati-hati. Dia terus memperhatikan apakah Ava akan kembali bereaksi seperti tadi. Begitu dirasa aman, Sara kembali mencoba apa yang dia niat lakukan tadi.


“Sial!,” rutuk Arya berkacak pinggang menatap Ava yang sepertinya sudah terlelap.


Sara merapikan bed cover agar bisa menyelimuti Ava dengan benar. Baru setelah itu, dia mengajak Arya untuk keluar dari kamar itu.


Sementara itu di lantai bawah, Agam dan Widia sudah berkumpul di bawah. Arya segera bergabung bersama mereka ketika dia mencapai lantai bawah.

__ADS_1


Sara masih melanjutkan perjalanannya ke dapur mengambilkan mereka minuman dingin untuk meredakan yang mungkin tidak hanya di sekujur tubuh mereka, tapi juga hati dan pikiran.


“Minum dulu, Mas,” kata Sara seraya menyodorkan segelas minuman untuk Agam.


“Vian membawanya ke hotel di Kota Batu. Ava dibikin mabuk, lalu ditinggal. Dia sengaja melakukan ini. Itu artinya dia mengancam Mama,” cerita Arya yang masih sangat marah, meski sudah minum segelas air dingin.


Sementara itu, Widia terlihat begitu ketakutan.


“Berarti ... dia akan terus mengganggu Ava,” kata Widia dengan suaranya yang gemetar.


“Kita harus melakukan sesuatu, Mas. Kita lapor polisi saja,” kata Arya lagi.


“Kita tidak punya bukti,” jawab Agam singkat, tapi cukup jelas.


Memang tidak ada bukti. Ava dan Vian bertunangan. Perginya mereka ke sana juga atas inisiatif mereka berdua.


“Jadi, kita biarkan Vian terus begitu? Aku akan ngomong sama Ava besok!” Emosi Arya masih juga belum mereda.


“Apa yang akan kamu katakan pada Ava? Bagaimana kamu katakan tanpa mengaitkan Mama di dalamnya?,” tanya Agam.


Arya terdiam.


Tanpa disadarinya, Sara bertanya dalam suaranya yang pelan. “Mengaitkan Mama a ... pa?”


Ketika dia menyadarinya, hampir seluruh pertanyaannya sudah terucap.


Agam menghela napasnya pelan, lalu menjawab pertanyaan Sara. “Vian adalah anak supir truk yang pernah disewa Mama untuk menabrak mobil yang aku tumpangi dulu.”


Astaghfirullahaladzim ...


Widia yang mendengar itu hanya bisa menunduk sangat dalam. Mungkin juga malu. Tapi, akan lebih baik jika itu adalah rasa bersalahnya, begitu pikir Sara.


Agam tiba-tiba saja sudah meraih tangan Sara dan menggenggamnya. Sangat erat seakan ingin mengatakan bahwa dia baik-baik saja.


Tapi, benarkah baik-baik saja? Atau dia terpaksa melakukannya demi melindungi keluarga ini? Demi wanita yang masih saja dia hormati meski pernah melukainya?


Ternyata bukan itu ...


“Maaf, kamu harus tahu seperti ini. Aku ingin mengatakannya dengan cara yang lebih baik,” kata Agam berisyarat dalam telapak tangannya.


Dia mengkhawatirkan aku ...


“Mas, sebaiknya Mas pikirkan perasaan Mas dulu,” jawab Sara berisyarat juga. “Mas berhak untuk marah.”


“Sudah cukup aku marah selama bertahun-tahun. Ini saatnya untuk memperbaiki keadaan. Keselamatan Ava lebih penting.”


Sara ingin menangis, tapi tidak bisa. Air matanya seakan tertahan di dalam.


Suamiku mencoba untuk tegar, kenapa aku malah ingin menangis?, batinnya.


Sebagai gantinya, dia mengenggam tangan Agam erat-erat.


“Katakan saja.” Widia tiba-tiba saja mulai bersuara, meski dalam isakan tangis. “Katakan pada Ava yang sebenarnya. Dia harus tahu agar dia tidak selalu mempercayainya.”


“Tapi tetap tidak akan menghentikan Vian mengganggu Mama dan Ava. Dia bisa melakukan ini sekarang, berarti dia bisa melakukan hal lainnya,” timpal Agam lagi.


“Mas punya rencana apa?,” tanya Arya.


“Kita berikan yang dia mau.”


“Mas mau berikan NFC pada Vian?!”


Sara terhenyak mendengar ucapan Vian. Dia langsung bangkit dari tempat duduknya.

__ADS_1


Arya ternyata juga melakukan hal yang sama.


Mereka kompak mengatakan, “Aku nggak setuju!!!”


__ADS_2