
[Sara]
Sara memandangi pemandangan yang begitu indah yang hanya bisa dilihat dari atas. Pemandangan kota di malam hari dengan titik-titik kuning di atas pada hitam nan gelap.
Terlalu senang hingga tanpa sadar dia menggenggam cukup erat jari-jemari seseorang yang duduk di sampingnya.
“Maaf, Mas ... Sakit, ya?,” tanyanya memastikan jika dia tidak melukai suaminya.
Tapi sang suami hanya menggeleng. Dia tersenyum, lalu menciumi tangan Sara dengan lembut.
“Bentar lagi kita mendarat. Sabar, ya ...”
Sara malah tertawa jadinya. Dia malu sendiri dengan tingkahnya yang kekanakan. Sebagai gantinya dia kini memeluk lengan Agam, sang suami dan bersandar di sana.
4 tahun sudah Agam berada di Jepang. Dan hari ini, waktunya Agam dan Sara kembali ke negara asalnya, Indonesia.
Sara begitu bersemangat ketika Agam memutuskan untuk kembali. Meski dia sendiri sudah beradaptasi dengan lingkungan di Jepang, tapi kembali ke Indonesia itu beda cerita.
Sara sedang melanjutkan memandangi pemandangan di bawah dari jendela tempatnya duduk seraya tetap memeluk lengan Agam, saat sang suami mencium puncak kepalanya dengan lembut.
Dengan setengah berbisik dan suaranya yang cukup dalam, Agam berkata, “Tadaima (*), sayang ...”
Sara mengeratkan pelukannya tanpa melepaskan pandangannya dari jendela. Dia tersenyum dan berkata, “Okaerinasai (**), anata (***) ...”
......................
“Kamu tunggu sini saja, biar aku yang ambil,” kata Agam seraya mengambil tas koper yang akan diambil Sara dari conveyor, lalu memindahkannya ke troli.
“Bisa kok, Mas. Aku bantu, ya ...” Sara menolak dengan tetap membantu Agam mengangkat kopernya.
Agam malah memegangi bahu Sara, lalu membuatnya bergeser ke belakang troli. “Kamu, tunggu di sini, ya ... Kalau cuma begini, aku masih bisa.”
Terakhir, Agam memainkan hidung Sara dengan punggung jari telunjuknya. Sontak membuat Sara mendesis dan mengeluarkan tawa kecilnya.
4 tahun di Jepang bukan berarti Agam sudah benar-benar pulih. Meskipun tidak mencapai 100% tapi Agam sangat jauh lebih baik jika dibandingkan saat sebelum Agam ke Jepang.
Setelah melewati banyak terapi dan latihan tanpa henti, Agam kini sudah bisa berdiri dan berjalan tanpa alat bantu. Kecelakaan itu memang membuatnya lumpuh, tapi seharusnya bisa dipulihkan jika obat itu tidak masuk ke dalam tubuhnya. Jadi, begitu detoks itu selesai dilakukan, terapi Agam tidak akan terhambat.
Sayangnya, proses itu hanya bisa 85% sempurna. Tidak kedua kaki Agam bisa digunakan untuk melangkah. Konsumsi obbat untuk kedua kalinya menyebabkan kerusakan otot saraf yang lebih parah dari sebelumnya. Sehingga untuk memulihkannya jadi lebih sulit atau bahkan tidak bisa dipulihkan sama sekali.
Hasilnya, Agam bisa berjalan, meski agak pincang, karena kaki kanannya yang tidak bisa ditekuk saat melangkah. Tapi, pergelangan kaki kanannya bekerja dengan baik saat melangkah.
Beda lagi dengan kedua mata Agam.
Meski sudah bisa melihat, tapi objek yang dilihat Agam tidak bisa dilihat dengan jelas. Semua terlihat seperti melihat gambar yang kabur.
__ADS_1
Dengan bantuan kacamata yang dibuatkan oleh Prof. Yamamoto, objek gambar bisa dilihat lebih jelas, meskipun masih terlihat blur. Setidaknya dia bisa melihat objek gambar lebih tegas dari sebelumnya.
Misalnya, ketika melihat wajah Sara. Dengan kacamatanya, dia bisa melihat postur dan bentuk tubuh Sara, tapi tidak bisa melihat dengan jelas wajah dan detil pada penampilan Sara.
Dengan beberapa kali latihan, Agam akhirnya bisa mengenali beberapa bagian wajah meski dalam keadaan kabur.
Begitu juga untuk membaca tulisan dengan huruf yang berukuran besar. Meski tidak begitu jelas, asal ukuran hurufnya besar masih bisa terbaca oleh Agam.
Tapi setidaknya, telinga Agam dapat bekerja dengan baik tanpa alat bantu dengar. Meskipun harus ditetesi obat dari Prof. Yamamoto setiap kali bunyi dengingnya muncul.
“Mas Agam! Mbak Sara!” Suara Arya sudah jadi pusat perhatian semua orang yang sedang menunggu di lobby begitu Agam dan Sara keluar dari terminal kedatangan.
Sara yang begitu melihat Arya sedang melambai ke arahnya dan Agam langsung membalas lambaian tangannya.
Tak lama kemudian, dari belakang Arya muncul sosok gadis cantik bertubuh langsing nan tinggi. Aura kecantikan dan kepercayaan dirinya mengingatkannya pada seseorang yang sudah lama tidak disebut namanya.
“Arya bilang hari ini dia mau jemput sama Ava,” kata Agam yang ada di sampingnya sedang mendorong troli – sedikit memaksa seperti yang tadi dilakukan.
Ya, itu Denava Wirasurya, adik bungsu Agam dan Arya. Ava ...
Ava kuliah fashion di Amerika Serikat 6 tahun yang lalu. Sejak 2 tahun yang lalu dia sudah menyelesaikan pendidikannya. Tapi baru setahun dia kembali ke Indonesia bersama tunangannya.
“Mas Agam ...”
Begitu jarak mereka sudah dekat, Ava langsung berlari mendekati Agam dan memeluknya. Sangat erat. Tentu saja mereka sudah lama tidak bertemu. 6 tahun.
“Baik, Tuan,” jawab pria itu sembari mengambil alih troli yang sudah pindah tangan ke Arya begitu Ava memeluk Agam.
“Mas, aku seneng banget waktu denger kabar Mas sudah bisa lihat dan jalan lagi,” kata Ava yang masih terus memeluk Agam.
“Maaf, ya. Aku tidak ada waktu kamu wisuda,” kata Agam.
Ava menggelengkan kepalanya, dan berkata, “Yang penting Mas sehat.”
Agam melepaskan pelukannya. “Kok tingginya masih sama?,” goda Agam seraya mengacak rambut Ava.
Ava langsung memegangi tangan Agam, lalu merapikan kembali rambut bergelombangnya yang tergerai indah, “Mas Agam! Ini lama ngurusnya, jangan diberantakin.”
Sara tertawa melihat kedekatan mereka. Terasa sekali Agam sangat menyayangi adik kecilnya itu.
Saat Ava menoleh, saat itulah Ava tak sengaja bertatapan dengan Sara. Raut wajah Ava langsung berubah tidak ramah.
“Sara, kan?,” tanya Ava. Nada bicaranya jelas menunjukkan ketidaksukaannya.
“Ava!,” seru Arya dengan suara pelannya, tapi terasa sekali dia sedang memarahi Ava. “Yang sopan! Mbak Sara istrinya Mas Agam.”
__ADS_1
Ava malah memelototi Arya, “Apa sih, Mas? Orang lebih tua cuma beberapa bulan saja.”
Arya akan memarahinya lagi, tapi ketika kedua mata Sara bertemu dengan Arya, Sara langsung menggeleng, melarang Arya untuk melanjutkan.
Hanya panggilan, bukan hal besar. Daripada ribut di hari pertama kepulangan Mas Agam.
Agam kemudian menggandeng tangan Sara, lalu mengajaknya pergi. “Kita ngobrol di mobil saja, ya.”
“Tunggu ...” Ava menghentikan langkah mereka. “Masih ada satu lagi. Al, tunanganku. Dia ikut jemput Mas. Kemana, sih? Tadi katanya cuma ke toilet. Lama banget.”
Ava mulai mencari sosok tunangannya yang dipanggil Al itu. Kepalanya terus ditolehkan ke kanan, lalu ke kiri, ke kanan lagi, dan begitu seterusnya. Lehernya dipanjangkan ke atas agar dia bisa melihat lebih jauh lagi dari tempatnya berdiri. Tapi sepertinya sosok yang dicari belum terlihat.
Tak lama kemudian, Ava mulai berseru, “Al! Sini!”
Kepala Sara turut berputar mengikuti arah yang dipandangi Ava. Dia penasaran ikut mencari sosok yang dipanggil Ava. Pandangannya terus mencari hingga dilihatnya sosok pria yang sedang berjalan melewati banyak orang.
Deg!
Bukan ... Itu bukan ... Mas Vian, kan?
Kedua mata Sara terbelalak lebar seakan-akan sedang mencoba meyakinkan dirinya bahwa yang dilihatnya tidak salah. Pria yang sedang berjalan ke arahnya itu adalah Mas Vian, pria yang telah memutuskannya tiba-tiba 4 tahun yang lalu.
Semua penyangkalannya tidak dapat dielakkan lagi begitu sosok Vian bergerak semakin mendekat dan terus mendekat. Tingginya, postur tubuhnya, gerak-geriknya saat berjalan, semuanya menggambarkan dengan jelas pria itu. Meski 4 tahun berlalu, tapi Sara masih mengingatnya.
“Ini Al, tunanganku, Mas.” Ava memperkenalkan pria yang dikenal Sara sebagai Vian dengan nama Al.
Namanya Alvian Chakrabuana. Tentu saja dia dipanggil Al.
Vian menyodorkan tangannya pada Agam, dan Agam menyambutnya.
Tapi, begitu tangannya berhenti di hadapan Sara, Sara hanya terpaku memandangi Vian yang tersenyum padanya seakan tidak mengenalnya.
Mau berharap apa, Sara? Lebih baik kalian tidak saling mengenal.
Sara baru menggerakkan tangannya untuk menyambut jabat tangan Vian. Tiba-tiba saja terhenti, karena Agam tiba-tiba merangkul pundaknya dan berkata, “Dia Sara, istriku.”
Sara kini menoleh menatap Agam. Meski Agam tidak membalas tatapannya, tapi Sara terus memandanginya. Dia bisa merasakan yang sedang dipikirkan Agam.
Mas Agam tahu sesuatu ...
......................
Author's Note :
(*) TADAIMA (ただいま) adalah bentuk singkat dari kalimat yang berarti “saat ini saya baru saja pulang ke rumah". Secara umum, ini adalah ungkapan yang digunakan ketika telah pulang. (Sumber : https://www.nhk.or.jp/lesson/indonesian/questions/0019.html\#:~:text\=TADAIMA%20adalah%20bentuk%20singkat%20dari,yang%20digunakan%20ketika%20telah%20pulang.)
__ADS_1
(**) OKAERI (おかえり) atau OKAERINASAI (お帰りなさい) adalah jawaban untuk ungkapan Tadaima, yang artinya "selamat datang kembali” atau “selamat pulang”.
(***) ANATA (あなた) : seorang istri akan menggunakan panggilan ini kepada sang suami sebagai bentuk kasih sayang. Selain itu, panggilan anata pun memiliki makna lembut dan lazim digunakan oleh mereka pasangan suami istri. Anata sendiri memiliki terjemahan ‘kamu’ dalam bahasa Indonesia. (Sumber : https://jepang-indonesia.co.id/panggilan-sayang-bahasa-jepang/)