Cinta Itu (Tidak) Buta

Cinta Itu (Tidak) Buta
Part 54 : Takut Kehilangan


__ADS_3

[Sara]


Pantesan beberapa hari terakhir ini sikap Mas Agam sangat aneh.


#


Sara sedang menyiapkan memasak untuk makan malam, tiba-tiba Agam memeluknya dari belakang. Dia terus menciumi tengkuk Sara hingga ke lekukan leher. Rasa geli tentu saja menyelimutinya.


Tapi, jika ini dibiarkan bukan cuma rasa geli yang akan dirasakan Sara.


“Mas, iih ... Lagi masak, Mas.”


Agam kemudian bersandar di bahu Sara. “Kamu masih cinta kan sama aku?”


Pertanyaan yang sontak mengundang tawa Sara. Bukan bermaksud untuk merendahkan pertanyaan Agam, tapi ini sungguh di luar kebiasaannya bertanya seperti itu.


Setelah Sara mematikan kompornya, dia berbalik menghadap Agam.


“Ya cinta lah, Mas. Masa nggak ...,” katanya dengan senyum yang lebar, meski keningnya berkerut keheranan.


Sara kemudian mengangkat tangannya, meraba kening Agam. “Mas nggak apa-apa, kan? Nggak demam, kok. Mas kenapa?”


Dalam hitungan detik, Agam sudah mellummmat habis bibir Sara. Yang selanjutnya jangan ditanya lagi apa yang terjadi.


Tapi, itu baru awal. Cerita yang berbeda lagi di waktu yang berbeda.


“Sara ...”


“Hmm?”


Mereka sedang mengobrol sebelum tidur – seperti biasa – ketika tiba-tiba, Agam memanggilnya seperti akan mengatakan sesuatu yang penting.


“Kenapa, Mas?,” tanya Sara sekali lagi. Tangannya sudah berada di sisi wajah Agam yang terasa sedikit kasar karena sudah mulai tumbuh rambut-rambut tipisnya.


“Kalau ... seandainya ...”


Sara menunggu apa yang akan dikatakan Agam berikutnya. Tanpa menyela satu katapun. Hanya menunggu.

__ADS_1


Raut wajah Agam sendiri pun menunjukkan keraguan, cemas, dan juga rasa khawatir. Ada yang ingin diungkapkan, tapi rasa ragunya itu menghalanginya untuk bersuara. Selalu berhenti di tenggorokannya tanpa bisa keluar dari mulutnya.


“Ada apa, Mas? Seandainya apa?,” tanya Sara mendorong Agam mengatakannya.


Tapi, tetap saja tidak terkatakan.


“Mas sebenarnya mau ngomong apa? Kenapa beberapa hari ini Mas aneh begini?”


Raut wajahnya berubah lagi. Agam terlihat akan mengatakan sesuatu. Sara pun bersiap mendengarkan.


Tangannya kini menyentuh wajah Sara. Ibu jarinya mengusap lembut pipi Sara yang merona karena udara dingin malam itu.


“Sara ...” Agam memanggilnya sekali lagi.


“Iya ... Kenapa, Mas?”


“Aku ... aku sangat mencintaimu.” Agam kemudian mendekap Sara dalam pelukannya, menciumi puncak kepalanya, lalu kembali berkata, “Aku tidak ingin kehilanganmu, Sara.”


Dalam kebingungan, yang dilakukan Sara hanya membalas pelukan Agam, mengusap punggungnya dan menepuknya perlahan. Rasa hati ingin bertanya di lain waktu, tapi selalu urung karena Agam seperti tidak memberinya kesempatan untuk bertanya.


#


Semua terlihat masuk akal sekarang. Ini mungkin juga alasan Agam sering terlihat sedang berbicara dengan Arya dan Yuda di telepon akhir-akhir ini.


......................


Sara sedang berbaring di atas tempat tidur bersama Agam yang sedang mendekapnya dari belakang. Bahkan ketika tiba di rumah, Agam juga belum menunjukkan tanda-tanda akan menjelaskan sesuatu padanya.


“Mas sebenarnya tahu soal ini, kan?” Sara akhirnya memberanikan dirinya untuk membuka topik pembicaraan mereka tentang Vian. “Karena itu Mas selalu bersikap aneh beberapa hari terakhir ini sebelum kita kembali ke Indonesia.”


Agam mengeratkan pelukannya hingga makin mendekatkan Sara dalam pelukannya. Kepalanya bersandar pada tengkuk Sara hingga napasnya terasa hangat menyentuh kulitnya.


“Maafkan aku. Bukan aku tidak mau memberitahumu,” kata Agam. “Aku hanya tidak tahu bagaimana cara mengatakannya sama kamu.”


Sara menghela napasnya perlahan. Ternyata benar ...


“Jangan marah,” pinta Agam yang semakin mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


Sara kemudian memutarkan tubuhnya menghadap Agam. Dilihatnya raut wajah Agam yang sudah sangat menyesalinya.


“Aku nggak marah, Mas,” kata Sara menjelaskan. “Apa ya ... Kaget. Beberapa hari ini sikap Mas aneh banget. Terus ada kejadian ini. Rasanya sekarang baru jelas.”


“Bukannya aku ingin merahasiakannya. Aku ingin mengatakannya. Tapi selalu berakhir bingung dan ragu. Aku ... Aku takut kamu ...” Agam berhenti mengatakannya.


“Mas takut aku masih mencintai Mas Vian?,” tanya Sara mencoba menebak kelanjutan ucapan Agam yang sepertinya akan menggantung begitu saja jika tidak dilanjutkan.


Tapi Agam menggeleng. “Aku takut kamu masih menyimpan rasa marahmu sama dia. Kalau aku bilang ini ke kamu, aku khawatir akan membuka luka lamamu.”


Agam kemudian membelai lembut rambut Sara, dan kembali melanjutkan ucapannya. “Aku tidak mau melihatmu terluka lebih dalam lagi karena dia. Aku takut rasa marahmu itu yang akan membuatmu semakin jauh dariku."


Ya Allah ... Apa yang sudah aku lakukan selama ini hingga Engkau berikan aku suami sebaik ini?


“Terima kasih Mas sudah memikirkan ini,” kata Sara seraya membelai lembut wajah Agam. “Terima kasih juga Mas percaya kalau aku saat ini hanya mencintai Mas.”


“Ketika dia mendadak bilang putus, aku memang masih ingin memperbaikinya. Menanyakan sekali lagi apa yang sebenarnya terjadi, apakah masih bisa diperbaiki atau tidak. Waktu aku menikah dengan Mas, aku berencana untuk menemuinya begitu pernikahan ini selesai. Tapi, mungkin Allah tidak ingin aku begitu. Rencana berubah. Aku jatuh cinta. Dan aku sudah tidak pernah memikirkannya lagi.”


“Aku cuma kaget. Karena tiba-tiba bertemu dalam situasi yang seperti ini. Dan sekarang malah ... jadi tunangannya Ava.”


Sara teringat lagi ucapan Vian dalam percakapan mereka terakhir kalinya.


“Kalau itu Ava ... rasanya nggak salah kalau orang tua Vian tidak merestui kami,” ucap Sara lirih.


“Sara ... ada alasan lain kenapa aku sulit mengatakannya sama kamu.” Agam terlihat begitu serius ketika mengatakannya.


Sara menyimaknya.


“Aku tahu dia karena kamu pernah menceritakannya dulu. Tapi, informasi yang aku dapatkan dari Yuda berbeda jauh dengan ceritamu. Bukan, bukan, bukan aku tidak percaya dengan ceritamu. Tapi, yang aku khawatirkan sekarang justru adalah Ava,” sambung Agam.


Kening Sara kini berkerut heran. Berbeda?


“Yuda bilang, Vian tidak pernah kuliah di Australia. Dan dia yatim piatu.”


DEG!


Lalu, siapa yang aku temui waktu itu?

__ADS_1


__ADS_2