
[Agam]
“Bohong!,” hardik Agam dengan lantang.
Dia sengaja melakukan ini.
“Kamu sengaja membuat semua orang berpikir kamu membawa Sara dalam penerbangan ini. Tapi yang sebenarnya adalah kamu ada di penerbangan lain. Kamu sengaja melakukan ini agar aku hanya mencarimu di penerbangan ini.”
Vian tertawa lagi. Agam pun semakin geram.
“Luar biasa, Agam. Kamu memang pintar,” kata Vian. Meski hanya tawanya saja, Agam terus berpikir Vian sedang mengejeknya.
“Lupakan Future Corp.”
Apa maksudnya?
“Aku ingin Sara ikut denganku.”
“VIAN!”
Suara lantang Agam yang penuh dengan kemarahan semakin mengundang perhatian semua orang yang ada di sana. Orang-orang yang tadinya hanya lewat begitu saja, beberapa di antaranya kini berhenti dan menoleh ke arah Agam.
“Sara istriku! Kamu pikir aku akan membiarkanmu pergi membawanya?!”
“Bukan. Dari awal dia milikku,” bantah Vian yang masih terdengar cukup santai. “Kamu yang merebutnya dariku.”
“VIAN!”
Napas Agam semakin memburu. Emosinya sudah mencapai ubun-ubunnya dan siap untuk meledak. Jika saja Vian ada di hadapannya, sebuah bogem mentah mungkin sudah mampir lagi ke wajah pria itu.
“Sara bilang, dulu aku lebih memilih dendamku. Karena itu aku melepaskannya. Tapi kali ini berbeda. Aku sudah menetapkan pilihanku. Aku memilih Sara. Aku tidak berminat lagi pada kalian. Jadi aku akan membawanya pergi.”
Seenteng itu Vian mengatakannya. Sudah pasti dia tahu semarah apa Agam saat ini.
“Aku akan menemukanmu! Aku akan menghentikanmu membawa Sara!” Saat Agam mengatakannya, suara giginya yang saling beradu hampir terdengar rasanya. Dia sudah terlalu marah. Tapi sebenarnya juga tidak tahu di mana Vian. Ini yang membuatnya semakin marah dan marah saja.
“Jangan lama-lama. Karena pesawatku akan segera berangkat,” ejek Vian lagi. “Jangan khawatir. Aku akan menyampaikan salammu untuknya. Aku akan membuatnya melupakanmu begitu kami meninggalkan negara ini.”
Panggilan itu langsung terputus begitu Vian sudah menyampaikan semua yang ingin dikatakannya. Kemarahan Agam masih membuncah, tapi begitu panggilan itu berakhir hanya membuat Agam semakin tidak berdaya.
“Vian akan membawa Sara pergi,” kata Agam memelas pada Yuda. “Kita harus menghentikan semua penerbangan hari ini, Yud.”
“Apa?! Itu nggak mungkin, Gam!”
__ADS_1
Iya, benar. Itu memang tidak mungkin. Jangankan Yuda, bahkan pemimpin negara ini juga tidak akan bisa menghentikannya tanpa alasan yang jelas.
Tapi, cuma itu yang bisa terpikirkan oleh Agam saat ini. Jika Vian akan membawa Sara pergi, satu-satunya cara mencegah Vian pergi adalah menghentikan semua penerbangan untuk terbang. Hanya itu yang bisa.
“Sara, Yud. Sara! Dia akan bawa pergi Sara!,” desak Agam dalam ketidakberdayaannya.
Yuda juga sama tidak berdayanya. Apalagi setelah dia melihat Agam yang memelas seperti itu.
“Tenang dulu, Gam. Tenangkan dirimu dulu,” bujuk Yuda menenangkan Agam yang saat ini sedang kalut. Kedua tangannya memegangi Agam dan menuntunnya untuk duduk.
“Pikirkan lagi! Ingat-ingat lagi pembicaraan kalian. Vian mungkin pintar, tapi denganmu dia selalu melakukan kesalahan. Cari itu, Gam! Aku tahu kau pasti bisa.”
“Aku akan cari tahu apa yang bisa aku lakukan. Kau, teruslah berpikir!,” lanjut Yuda lagi sebelum pergi menelpon anak buahnya.
Yuda benar. Vian selalu gegabah. Saat Ava membawanya ke rumah, dia langsung menunjukkan wajah aslinya. Dia sudah merubah rencananya begitu terpojok. Kali ini pasti begitu.
Berpikirlah, Gam. Berpikirlah! Cari kesalahan Vian!
Agam terus memaksa kepalanya untuk terus berpikir. Mengingat semua pembicaraannya dengan Vian. Mencari celah yang bisa membuatnya mendapatkan petunjuk.
Bukan tidak memikirkan Sara. Tidak, dia memikirkannya. Tapi dia lebih takut tidak bisa melakukan apa pun untuk membawa Sara pulang.
Benar. Itu dia! Kesalahan Vian!
“Selama ini kita yang selalu berpikir dia naik pesawat. Dia mengejek kita dan membuat kita terus berpikir seperti itu.” Agam mengatakannya dengan semangatnya yang menggebu-gebu.
“Semua ini bohong?,” tanya Yuda.
“Terlalu mudah rasanya jika dia memberikan petunjuk segamblang itu. Dia menunggu Sara sendirian lalu membawanya pergi. Dan sekarang dia memberitahu semudah itu?” Agam bertanya balik pada Yuda.
“Lalu, menurutmu di mana dia sekarang?”
“Dia sengaja membuat kita berpikir mereka akan pergi dari bandara ini. Dia berharap kita hanya mencari di sini. Dia tidak ada di sini, Yud. Aku yakin dia ada di bandara lain. Atau ...”
“Atau apa?”
“Bukan pesawat. Bisa jadi mobil atau kapal, atau ...”
“Atau apa, Gam?,” tanya Yuda yang sudah mulai gemas melihat Agam yang tiba-tiba sudah seperti robot kehabisan baterai.
Tapi diamnya Agam karena dia semakin memahami jalan pikiran Vian.
“Vian tahu kita bisa memantau daftar penumpang. Darat, Yud! Dia pasti melakukan perjalanan darat!”
__ADS_1
Sekarang, raut wajah Yuda yang berubah cerah. Tawanya langsung menggelegar. “Aku tahu kau pintar, Gam! Haha!”
Yuda mencium kening Agam sekali, lalu pergi menelpon anak buahnya kembali seakan dia tahu apa yang harus dilakukannya.
Tidak seperti biasanya, Agam tidak marah ketika Yuda melakukannya kali ini. Hanya Sara yang dia pikirkan saat ini. Temukan Vian, lalu bawa pulang Sara. Itu saja!
Petunjuk dari Agam akhirnya menuntun mereka pada petunjuk baru. Yuda memerintahkan tim nya untuk mengecek ulang semua CCTV yang ada di rumah sakit. Dan akhirnya didapat nomer plat kendaraan mobil yang membawa Sara. Selanjutnya, mereka melacak ke mana perginya mobil itu.
Dari pelacakan didapat bahwa mobil itu ternyata sudah memasuki Tol Ngawi. Entah ke mana tujuannya. Yang jelas Yuda sudah menyiapkan rencana di setiap pintu keluarnya. Sementara Yuda dan Agam langsung meluncur ke sana sembari menunggu kabar selanjutnya.
Satu jam setelah perjalanan, petunjuk baru sudah Yuda dapatkan. Tim yang menyusuri Tol Ngawi akhirnya bisa menyusul mobil itu. Dan beruntungnya, mereka sempat mengetahui bahwa penumpang di dalam mobil sudah dipindahkan ke mobil lain.
Dari sanalah akhirnya diketahui, Sara memang berada di mobil itu dalam keadaan tidak sadar. Karena Vian terlihat sedang memapahnya.
Pada akhirnya, mobil itulah yang mereka buntuti saat ini.
Yuda pun segera melajukan mobil untuk menyusulnya.
Mobil yang membawa Sara hampir memasuki Kota Solo ketika tim Yuda akhirnya mampu menghentikan mobil itu. Vian diamankan oleh mereka hingga Yuda dan Agam tiba.
Yuda langsung berlari menuju Vian yang sedang dipegangi oleh anak buah Yuda. Vian terus berontak tapi kedua tangannya tak mampu melawan mereka yang sedang mencengkeram kedua tangannya. Yuda mengambil kesempatan ini dengan memberikannya sebuah bogem mentah tepat di wajahnya. Darah pun mengucur dari hidungnya.
“Brengsek!,” teriak Vian yang langsung bangkit ingin membalas Yuda. Tapi kurang cepat hingga kedua tangannya kembali dikunci oleh anak buah Yuda.
“Lepas!”
Agam mengabaikan Yuda dan Vian. Dia langsung berlari menuju mobil putih yang menepi di pinggir jalan.
“Minggir!,” teriak Vian berusaha melepaskan dirinya dari orang suruhan Yuda. “Jangan sentuh dia!”
Tapi Agam mengabaikannya. Dia hanya terfokus pada Sara yang sedang tidak sadarkan diri di bangku belakang.
“Sara ... Sara ...,” panggil Agam terus-menerus. Tapi Sara tetap tidak bangun.
Agam memegangi bagian leher Sara dengan dua jarinya, memastikan detak jantung Sara masih normal dan terasa.
Syukurlah ... Mungkin Vian memberinya sesuatu agar dia tetap tidur.
“Bawa Sara pergi dari sini. Biar si brengsek ini aku yang urus,” kata Yuda setengah berteriak pada Agam.
Jarak mereka yang cukup jauh hingga Agam bisa dengan bebas membawa Sara pergi dengan dibantu oleh orang suruhan Yuda. Orang inilah yang akhirnya membawa mobil Yuda dan mengantarkan Agam kembali ke Surabaya.
Agam duduk di bangku belakang bersama Sara yang terbaring di atas pangkuannya dan dalam pelukannya. Dia memeluk erat tubuh Sara seraya menciumi puncak kepalanya, meyakini dirinya bahwa benar itu adalah Sara yang saat ini dia peluk.
__ADS_1
Syukurlah, syukurlah ... Kita pulang, Sara. Kita pulang.