
[Yuda]
“Halo, Tuan Yuda ... Telah terjadi sesuatu.” Begitu yang didengar Yuda pertama kalinya saat dia menjawab telepon dari Raka.
“T-tuan Agam menunjukkan gejala yang sama seperti dua tahun yang lalu. Tes darahnya juga positif. D-dokter sudah memeriksanya tiga kali. S-sekarang saya terpaksa melakukan prosedur yang diperintahkan Tuan Agam.”
That fu*king procedure! Dari awal aku sudah nggak setuju dengan prosedur itu!
Yuda yang saat itu berada di Dubai untuk urusan pekerjaan hanya bisa bergantung pada Raka untuk menjaga Agam saat ini, meskipun dia sendiri membenci cara Agam itu.
“Terus beri kabar,” perintahnya setelah dia mendengar penjelasan sisanya dari Raka.
Begitu panggilan itu berakhir, Yuda menghubungi orang lain lagi. “Aku mau laporan gerak-gerik Widia beberapa hari terakhir ini. Paling utama 2 hari terakhir ini. Periksa semuanya! CCTV rumah Agam, kantor, bahkan mobil. Aku mau laporan lengkap dalam waktu 24 jam!”
Yuda lah yang menyediakan orang-orang keamanan di sekitar Agam. Tentu saja, karena dia adalah pemilik perusahaan penyedia jasa keamanan terbaik di Indonesia. Jadi, sangatlah jelas, dia bisa memarahi orang-orangnya yang bekerja tidak becus karena luput mengawasi Widia.
Agam adalah teman baiknya sejak mereka masih kecil. Dulu rumahnya bersebelahan dengan rumah utama keluarga Wirasurya. Rumah ayah Yuda lebih tepatnya. Kalau sekarang, Yuda memilih tinggal di tempat lain.
Hampir seluruh hidupnya adalah bersama Agam. Jadi, dia tahu hampir segala hal yang terjadi dalam hidup Agam, termasuk tentang Widia, Sara, dan kecelakaan itu.
Dua tahun lalu, sebelum Agam menggila karena kebutaan dan ketuliannya, Yuda sudah memegang bukti-bukti keterlibatan Widia dalam kecelakaan yang menewaskan Tuan Wirasurya dan penyebab kelumpuhan Agam. Penyelidikan yang dia jalani sendiri tanpa sepengetahuan Agam, karena kecurigaannya pada Widia akhir-akhir itu. Tapi malah memberinya petunjuk yang lain.
Dia akan memberikannya semua hasil penyelidikannya itu pada Agam, tapi kabar tentang Agam yang sedang tidak sadarkan diri karena demam tinggi menghalanginya untuk melakukan itu. Yuda menunggu.
Yuda terus menunggu hingga Agam benar-benar tenang dan mau menerima panggilan teleponnya. Entah berapa lama Yuda menunggu, yang penting pada akhirnya, Agam mau mendengarkannya.
Tujuannya jelas, dia ingin mewanti-wanti Agam agar berhati-hati dengan ibu tirinya itu. Tapi yang terjadi malah sebaliknya.
Agam menjadi menutup dirinya sendiri, menjauhkan dirinya dari orang-orang baru, dan semakin curiga pada siapa saja yang ada di dekatnya.
Yuda juga tidak luput dari kecurigaannya pada awalnya. Tapi memang dasar Yuda adalah orang yang keras kepala – melebihi ketebalan kepala Agam – , Agam akhirnya menerima begitu saja tanpa banyak komplain lagi.
Agam menjadi semakin parah saat dia tahu dari dokter yang menanganinya di luar negeri kalau kebutaan dan ketuliannya karena sebab yang lain.
__ADS_1
Yuda juga tidak dapat berbuat apa-apa lagi selain tetap menjadi sekutunya dan menuruti semua keinginannya yang kadang-kadang konyol.
Tuhan seperti sedang menunjukkan jalannya untuk Agam, saat asisten Agam yang penurut itu tiba-tiba saja mengeluarkan ide gila tapi tidak jelek itu. “Menikah saja, Tuan!”
Yuda tahu Raka sedang menyelamatkan pekerjaannya waktu itu. Ide yang keluar dari mulutnya juga hanya untuk membuktikan pada tuannya itu kalau dia sudah bekerja dengan keras. Tapi menikah? Jelas itu adalah ide gila.
Bayangkan saja, Agam yang paranoid terhadap segala hal tiba-tiba disuruh nikah. Mau kah? Tapi kalau mau, itu juga bukan ide yang buruk. Menarik ...
Ashara. Ya, gadis itu sempurna. Tidak buruk. Setidaknya aman untuk Agam. Pekerjaan dapat, istri juga dapat. Perfect!
Tapi, semakin hari, laporan yang dia terima justru semakin mengagetkannya. Dan dia melihatnya sendiri saat mereka bertemu kantor NFC. Agam bisa menerima gadis itu. Gadis yang dipanggil Sara itu. Luar biasa ...
Jika hati sudah bicara, Agam mau bilang apa. Ya, kan? Dan itu berarti Agam hanya butuh disemangati. Cepat atau lambat, kontrak bisa menjadi permanen. Itu bagus!
Berharap boleh. Tapi Tuhan selalu punya cara untuk menggoyahkan hasilnya. Seperti saat ini. Mau bagaimana lagi, pada dasarnya teman baiknya itu hanyalah pria tua yang bodoh – kayak dia bukan pria tua juga –. Dia pintar dalam hal lain, tapi bodoh setengah mati kalau soal hati. Ini yang membuat Yuda geram.
Begitu dia tiba di Indonesia, bukan rumahnya sendiri yang dia kunjungi, tapi rumah Agam. Juga bukan putri kesayangannya yang sudah dia rindukan selama beberapa hari terakhir ini yang dia temui saat ini, tapi malah Agam yang menurut laporan Raka saat ini sedang mengamuk di kamarnya.
Ketika tiba di lantai atas, hal pertama yang dilihatnya adalah Arya yang sedang membopong Sara yang pingsan. Arya melihatnya, tapi dia tidak punya waktu untuk bersalam-salaman saat ini. Yuda tidak berhenti melangkah menuju kamar Agam.
Dilihatnya Agam tengah duduk bersandar pada nakas, diantara barang-barang tak berbentuk yang berserakan di atas lantai. Yuda sudah tidak kaget lagi dengan pemandangan yang dilihatnya saat ini. Agam pernah mengamuk juga saat di luar negeri.
Raka yang ngos-ngosan tiba-tiba muncul dan berdiri di pintu kamar Agam. Mungkin dia baru dari kamar sebelah, tempat Arya membawa Sara.
“Tuan Yuda ...”
Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Yuda sudah mendorong Raka keluar kamar. Meski Raka memanggilnya berkali-kali, Yuda tidak menghiraukannya. Dia langsung menutup pintunya.
Sekarang kembali pada Agam. Yuda langsung membuka telapak tangan Agam, dan berkata dalam isyaratnya.
“Semoga kau tahu apa yang sedang kau lakukan saat ini, Agam! Dan aku harap kau tidak menyesalinya.”
Agam merebut paksa tangannya sendiri, lalu menjawab ucapan Yuda itu. “Aku sudah menyesalinya karena mengikuti saran kalian untuk menikahi Sara.”
__ADS_1
Yuda kembali menarik tangan Agam. Kali ini digenggamnya cukup keras saat dia berisyarat, memberi Agam petunjuk bahwa dirinya saat ini sedang marah.
“Kau menyalahkan Sara atas semua ini? Kau tahu benar siapa pelakunya!”
“Mama menggunakan dia untuk mendekati aku, itu sama artinya dia sudah bekerja sama dengannya.” Suara Agam terdengar makin lantang.
“Kalau dia mau membunuhmu, lebih mudah melakukannya saat kau sedang tidur!”
Agam terdiam. Tangan yang sedang dipegang Yuda mengepal dengan keras. Yuda tahu, Agam memahami kata-katanya.
Yuda ingin kembali berisyarat, tapi Agam tidak mau membuka telapak tangannya. Yuda tidak kehilangan akalnya. Dipeganginya kedua lengan Agam, lalu dia berisyarat dan membuat Agam mengikuti gerak tangannya.
“Sudah aku bilang. Jangan biarkan hatimu ikut buta seperti kedua matamu, Agam! Kau tahu, kau itu melindungi dirimu sendiri tapi dengan menyakiti orang lain dengan sikap pengecutmu itu!”
Agam menarik paksa kedua tangannya. Dia menutupi kedua telinganya seakan-akan dia baru saja mendengar Yuda berteriak di telinganya. “Diam kau, Yuda! Diam!!”
Lagi, Yuda menarik tangan Agam. Dia mencoba membuka telapak tangan Agam. Bagus! Dia masih mau mendengar!
“Baca isyarat ini baik-baik, Agam! Karena perintahmu, Raka melarang Sara masuk ke kamar ini selama kau tidak sadarkan diri. Demi orang seperti kau, gadis itu menunggu di depan sana. Tidak makan, tidak minum. Kau tahu apa yang terjadi padanya sekarang? Dia ada di kamar sebelah. Dokter sedang memeriksanya. Berharap saja dia tidak mati, Gam. Dan kau tidak akan pernah menyesali semua yang sudah kamu lakukan.”
Terakhir, Yuda menghempaskan begitu saja tangan Agam. Lalu keluar dari kamar Agam itu. Membiarkan Agam yang terus berteriak pada Yuda untuk keluar.
Yuda tidak peduli. Dia memang sudah mau keluar dari sana.
Aku butuh udara segar.
Sebatang rookok langsung dinyalakan begitu dia tiba di teras depan. Rookok pertamanya yang dia hiisap sejak Tania lahir. Dia selalu membawanya dalam saku celana, tapi tak pernah sekalipun dia nyalakan. Dan sekarang, Agam adalah orang yang membuat dia melepas rekornya sendiri.
Sial!
Setelah hiissapan kesekian, Arya datang dari dalam dan langsung mencengkeram pakaian Yuda.
“Aku yakin kamu pasti tahu semuanya. Karena itu kamu ada disini.”
__ADS_1