Cinta Itu (Tidak) Buta

Cinta Itu (Tidak) Buta
Part 64-1 : Keberanian Untuk Melepaskan


__ADS_3

[Sara]


Malam yang panjang berlanjut dengan perdebatan yang panjang pula. Agam dengan keputusannya, Arya dan Sara dengan penolakannya.


Widia hanya sekali bicara, lalu kembali diam, dan pasrah menyerahkan semuanya pada Agam.


“Arya dan Sara benar, Agam. Jika kita memberikan NFC dengan mudah seperti ini, kita juga tidak tahu rencana apa lagi yang dimiliki Vian selanjutnya. Bagaimana jika dia tetap mengganggu Ava?,” ujar Widia memberikan argumennya.


“Aku punya rencana. Tapi kita harus mengorbankan NFC untuk bisa menjalankan rencana ini. Ini satu-satunya jalan agar Mama, Ava, dan keluarga ini bisa tenang dari Vian,” timpal Agam yang juga dengan argumennya.


Arya yang paling banyak memberikan bantahannya. Sara hanya mencoba membujuk agar membatalkan niatnya itu. Tapi Agam masih tidak merubah keputusannya.


Bahkan hingga mereka kembali ke kamar untuk beristirahat, bahkan pula ketika keesokkan paginya Sara mencoba lagi untuk membujuk Agam, tetap tidak berhasil.


“Dengarkan aku sebentar saja, ya,” kata Agam meraih kedua tangan Sara saat Agam selesai bersiap di kamar mereka.


Meski hatinya masih merengut, Sara masih mau mendengarkan semua perkataan Agam.


“Kamu masih ingat obrolan kita waktu di Jepang?,” tanya Agam.


Obrolan yang mana?


“Kamu bilang waktu itu, di mana pun aku berada, orang-orang akan mengenalku. Tanpa NFC, mereka masih mengenaliku. NFC tanpa aku tidak akan menjadi apa pun. Tapi di mana pun aku berada, aku selalu membawa NFC bersamaku.”


Ah, yang waktu itu. Obrolan tengah malam kita.


Agam membelai lembut kepala Sara, dan menyandarkannya di sana selama dia berbicara.


“Dulu, aku selalu takut jika berhubungan dengan NFC. Tapi sekarang, berkat kamu, aku punya keberanian untuk melakukan rencana ini,” ucap Agam lirih.


Sara menghela napas panjangnya. Seperti sudah tidak ada lagi kata yang dia punya untuk membujuk Agam.


“Tapi ini Vian, Mas. Terlalu mudah ...” Sara menghela napasnya kembali. Sulit untuk mengatakannya, apalagi membayangkannya.


“Tapi, Mas akan merebutnya kembali, kan?,” tanya Sara kemudian.


Agam tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.


“Kalau pun seandainya aku gagal ...”


“Mas ...” Sara mendengus pelan. Dia tidak suka mendengar perandaian Agam itu. Dia bahkan mengalihkan pandangannya dari suaminya.


“Dengar dulu ...” Kedua tangan Agam menangkap wajah Sara dan membuatnya menghadap sepenuhnya pada dirinya.


Raut wajah Sara menggambarkan kekesalannya. Membayangkan Vian mendapatkan NFC saja sudah membuatnya lebih dari sekedar kesal.


“Kalau pun seandainya aku gagal, aku masih bisa membangunnya lagi, dari nol. Tapi ...”


Agam mengusap lembut wajah Sara, lalu melanjutkan kembali ucapannya, “... kamu masih mau bersamaku, kan?”


“Apa sih, Mas?” Sara menepuk pelan lengan Agam yang menyentuh wajahnya. Lalu berbalik membelakangi Agam. “Apa Mas nggak terlambat nanya itu? Kalau aku nggak mau, dari awal aku nggak ngikut Mas ke Jepang.”


Agam malah tertawa, lalu memeluk Sara dari belakang. Sebuah kecupan manis di tengkuk lehernya membuatnya merasa geli tapi ingin Agam tetap berada di sana.

__ADS_1


Agam kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Sara.


“Setelah semua ini selesai, Mama akan mengembalikan semuanya padaku. Itu jika rencana ini berhasil.”


Sara kembali kesal. Dia berusaha melepaskan dirinya dari Agam.


Tapi Agam menahannya.


“Aku berencana mengakuisisinya, dan membiarkan Arya yang memimpin,” lanjut Agam.


Sara cukup terkejut mendengarnya. Ini sangat jauh dari yang pernah dia bayangkan. Dia kini memegangi dan meremas lengan Agam yang sedang melingkari pinggangnya.


“Selanjutnya terserah Arya bagaimana. Jika Arya ingin aku tetap di sana, maka aku akan bekerja di bawah kepemimpinannya. Tapi, jika tidak, aku mungkin akan seperti dulu menjadi pekerja kontrakan.”


Agam tertawa di akhir kalimatnya.


Pekerja kontrakan yang dimaksud Agam adalah dia bekerja pada perusahaan yang akan mengontraknya. Seperti yang dilakukannya di Jepang kemarin.


“Sedikit demi sedikit, aku akan membangun NFC yang baru,” ucap Agam mengakhiri penjelasannya.


“Mas yakin soal ini?”


“Hmm ...” Agam mengangguk. “4 tahun di Jepang aku menyadari sesuatu. Memisahkan NFC dan FTC hanya akan melemahkan salah satunya. Papa dulu mungkin khawatir aku merasa tersingkirkan setelah mengetahui niat Mama. Karena itu, dia tetap memisahkannya. Tapi, jika salah satu tidak ada, akan timpang seperti yang terjadi sekarang ini.”


Sara memahami maksud Agam. Yang dimaksud Agam adalah saat Widia memimpin NFC.


Sara kemudian merenggangkan lingkaran tangan Agam. Lalu berbalik kembali menghadap Agam, dan membiarkan tangan suaminya itu tetap memeluknya. Sementara tangan Sara menyentuh wajah Agam.


“Kalau itu Arya, aku setuju selama Mas ikhlas melakukannya. Aku akan ikut semua yang Mas putuskan.”


Begitu puas Agam melepaskannya, lalu berbisik, “Kita lanjutkan begitu aku kembali.”


Dalam hassrrat yang hampir meninggi, Sara tidak dapat menahan tawanya. “Tanggung jawab!,” gerutunya pura-pura kesal.


Agam tertawa, lalu mengecup lembut pipi Sara. “Siap, Nyonya. Nanti malam pasti jadi!”


Ish ... Lama-lama jadi mirip Arya, deh. Ah iya lupa, mereka saudara.


Untuk menjalankan rencana Agam itu, Widia sudah pulang dari tadi pagi ke rumah utama untuk menyiapkan semua pengalihan kepemilikan saham. Sedangkan Agam akan langsung menemui pengacara. Setelah itu mereka akan bertemu di sana.


Sementara Arya masih menunggu Ava yang dari semalam belum juga sadar dari tidurnya. Dia menunggu tugasnya dilaksanakan sembari bermain dengan Milo di teras belakang.


Sara sedang membawa senampan sarapan untuk Ava. Dia buatkan sup yang katanya bisa meredakan rasa sakit di kepala akibat pengar (*).


Tok, tok ...


Tidak ada jawaban. Sara mengetuk kembali.


“Ava, ini aku Sara. Aku bawakan sup untuk kamu.”


Tok, tok ...


Tetap tidak ada jawaban. Mungkin belum bangun.

__ADS_1


“Ava, aku masuk, ya ...”


Sara buka pintu kamar Ava pelan-pelan. Dia sempat mengintip sebentar sebelum benar-benar masuk.


Ternyata benar masih tidur.


Jadilah Sara berniat hanya meletakkannya di atas meja lalu pergi.


Tapi Sara hampir mencapai pintu, Ava sudah terbangun.


“Enngg ...” Ava mengucek matanya saat dia melihat Sara yang masih terpaku di depan pintu. “Ngapain kamu di sini?”


Ava mungkin sudah menyadari bahwa dia bukan berada di rumahnya. Matanya dikucek berkali-kali, lalu menyisir tiap sudut ruangan di kamar itu. Sesekali dia pegangi kepalanya pertanda rasa sakit akibat minuman yang dia minum semalam.


“Ini di mana?”


Sara berbalik sepenuhnya menghadap Ava, dan berkata, “Ini rumah Mas Agam. Kamu semalam mabuk. Arya dan Mas Agam yang bawa kamu pulang.”


“Apa?!” Ava langsung terbangun, meski masih memegangi kepalanya. Dia beranjak dari tempat tidur dan mencoba berjalan meski sempoyongan. “Al dimana?”


Sara kebingungan. Dia tidak tahu harus menjawab apa. “Itu ... itu ...”


Ava semakin tidak sabaran. Dia mencari teleponnya yang ada di dalam tas. Dikeluarkannya semua isi dalam tas tangannya saking sudah tidak sabarannya dia.


Panggilan pertama dari Ava, dia sudah berdecak kesal. Dia mencoba lagi dengan panggilan kedua. Sepertinya tidak terhubung, karena begitu cepat Ava memutuskan panggilannya.


“Ke mana sih dia?,” gerutu Ava yang sekarang menarik-narik rambutnya seraya meringis kesakitan karena sakit kepalanya itu.


“Aku sudah bikinkan sup penghilang pengar. Minum dulu biar enakan,” kata Sara menawarkan sup yang tadi dia letakkan di atas meja.


“Dan biarkan kamu raaaccunin aku seperti kamu raaaccunin Mama?”


Sara menelan salivanya seakan sedang menelan rasa pahit yang dia rasakan akibat tuduhan Ava. Dia ingin marah, tapi kembali ingat, Ava adalah korban dari semua kesalahpahaman yang terjadi. Sara menahannya dengan sebaik-baiknya.


Tiba-tiba saja, Ava mendorongnya ke samping hanya karena dia ingin keluar dari kamar itu yang mana kebetulan Sara masih berdiri di depan pintu dan menghalangi jalannya.


Sara tetap diam meski tubuhnya hampir menabrak lemari. Tapi langkah Ava terhenti, karena kini Arya sedang berdiri di hadapannya.


“Mau ke mana kamu?”


“Mas, Al kemana? Aku kenapa ada di sini?,” tanya Ava balik.


Tapi, Arya tidak menggubrisnya. Dia malah berbicara dengan Sara.


“Biar saya bicara dulu dengan Ava, Mbak.”


Sara mengangguk pelan. Lalu pergi meninggalkan mereka berdua.


Ava harus melewati pembicaraan yang panjang dengan Arya kali ini.


......................


Author’s Note :

__ADS_1


(*) Pengar adalah berasa agak pening (setelah bangun dari tidur yang tidak nyenyak, habis mabuk, dan sebagainya)


Sumber : www.kbbi.web.id


__ADS_2