Cinta Itu (Tidak) Buta

Cinta Itu (Tidak) Buta
Part 43-1 : Tetaplah Bersamaku, Sara


__ADS_3

[Sara]


Dengan suara lirihnya, “Maksud Mas ... setelah kontrak itu selesai?” Suaranya seperti tertahan di tenggorokannya. Ingin dia keluarkan, tapi tidak bisa semua dia lepaskan.


“Hmm ...”


Sara menelan salivanya perlahan. Hatinya terasa begitu berat seketika. Dengan pertanyaannya dan segala kemungkinan yang dia pikirkan mengenai alasan Agam menanyakan itu.


Mungkin dia sedang bersiap?


Mungkin dia ingin cepat-cepat berakhir?


Mungkin kemarahan waktu itu masih melekat?


Dia menarik napasnya perlahan, lalu menghembuskannya. Dia mencoba mengatakannya, sembari terus membayangkan saat hari itu tiba.


“Mungkin aku akan menemani Ibu. Mencari pekerjaan baru, mungkin juga akan bantu Ibu dengan kateringnya. Bawa Ibu jalan-jalan, sudah lama Ibu nggak jalan-jalan. Mungkin juga ... “


Dulu rasanya aku punya banyak hal saat memikirkan apa yang akan aku lakukan setelah kontrak ini berakhir. Sekarang ke mana semua hal-hal itu?


Setitik air mata Sara jatuh perlahan. Di setiap bayangannya tentang apa yang akan terjadi di masa depan saat dia mulai terpisah dari Agam, saat itulah air matanya tak dapat dibendung lagi.


Sara tahu suaranya akan bergetar saat dia mulai menangis. Dia berusaha sebaik mungkin melanjutkan kalimatnya.


“... pindah ke kota lain ...” Yang tidak ada kamu di sana, Mas.


“Mungkin juga ... “ Tidak ada lagi yang bisa dipikirkannya. Sara terdiam. Tapi air matanya masih turun mengalir.


Sembari mengusap air matanya, Sara tertawa. Pura-pura tentu saja. “Nggak tahu juga, Mas. Belum kepikiran mau ngapain.”

__ADS_1


Diam lagi. Agam tidak memberikan tanggapan apapun. Dan Sara juga tidak lagi berbicara. Hening.


“Waktu Raka bilang Mama bawa kamu, aku ketakutan. Aku takut Mama melakukan sesuatu padamu.” Agam akhirnya mulai berbicara.


“Semua hal buruk terlintas begitu saja di kepalaku. Aku takut, Sara.”


Sara mendengarkan setiap kata yang Agam ucapkan, tanpa kata.


Suasana di rumah saat itu pasti sangat panik. Mas Agam pasti marah-marah saat itu.


“Aku mulai panik, bahkan Yuda tidak dapat petunjuk apapun ke mana Mama bawa kamu.”


Dia bahkan memanggil Yuda.


“Sudah lama aku tidak merasakan ketakutan seperti itu sejak aku kehilangan kemampuan melihat dan mendengarku. Tapi sejak aku tidak tahu kamu di mana, sejak itu aku kembali merasa ketakutan. Aku takut kesepian. Aku takut kamu tidak ada, Sara.”


DEG!


“Aku tidak ingin membayangkan apa yang akan terjadi padaku 2 tahun lagi. Aku tidak bisa.”


Napasnya seakan tertahan di tenggorokannya. Dadanya seperti kesulitan berkembang dan mengempis, karena dirinya terlalu lekat menatap Agam hingga lupa untuk bernapas. Dia terus meyakinkan dirinya sendiri kalau apa yang dia dengar tidak salah.


“Katakan padaku apa yang ingin kamu lakukan. Aku akan kabulkan untukmu. Kamu ingin Ibu jalan-jalan? Aku akan pesankan tiket untuk Ibu jalan-jalan. Pergilah bersama Ibu kalau kamu ingin. Kemana saja, terserah kamu. Asalkan aku tahu kamu tetap bersamaku, aku akan kabulkan, Sara.”


Apa dia sedang mengungkapkan perasaannya? Aku nggak salah, kan?


“Bagaimana kalau Ibu pindah ke rumah? Biar Ibu tinggal di sini. Kamu ingin menemaninya, kan? Kita akan bujuk Ibu untuk berhenti bekerja. Kita akan hidup bertiga bersama Ibu kalau memang itu yang kamu inginkan.”


Sara akhirnya mengeluarkan napasnya yang sedari tadi tertahan. Air matanya semakin deras turun bahkan tidak dapat lagi ditahannya.

__ADS_1


Bukan, bukan air mata kesedihan. Sara terlalu terharu untuk bisa mengungkapkannya. Karena itu, hanya air mata yang bisa dia hasilkan. Ungkapan hatinya yang sedang berbunga-bunga saat ini.


Lihatlah dia. Keluarganya bilang dia tidak pandai bicara. Tapi, dengarkan dia sekarang. Dia sedang mengatakan banyak kalimat romantis untuk diriku.


“Jangan pindah ke kota lain. Jangan. Aku mohon. Tetaplah di sini. Bahkan ketika 2 tahun masa kontrak itu habis, tetaplah di sisiku, Sara.”


Kini, Agam menangis. Dia memohon sambil menitikkan air matanya. Tangan kanannya menutupi setengah wajahnya dan menunduk. Bahunya bergetar hebat menahan tangisnya itu.


Hati Sara semakin tidak kuasa melihat apa yang ada di hadapannya saat ini.


“Jangan pernah kembali pada pria itu. Aku akan melupakan kalau kamu masih mencintainya. Asalkan kamu tidak mengatakannya, dan tetap bersamaku, aku tidak akan pernah ingat kalau kamu masih menunggunya. Aku akan melupakannya, Sara.”


Yuda benar. Dia memang bodoh soal perasaan. Bagaimana bisa dia memohon pada seseorang yang dia ketahui sedang mencintai orang lain untuk tetap bersamanya? Dia terlalu keras kepala hingga menjadikannya seperti ini. Dan aku mencintainya. Aku mencintai kebodohannya itu.


Sara beringsut mendekati Agam, menyentuh tangan yang menutupinya untuk menjauhi wajahnya. Lalu, dengan lembut mengusap air matanya.


“Pria yang Mas maksud, dia adalah masa laluku. Aku sudah lama tidak memikirkannya. Yang aku pikirkan selama ini hanya Mas.”


Agam mungkin juga tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Perlahan, Agam mengangkat wajahnya, memegangi tangan Sara yang masih menyentuhnya.


“Aku juga ... tidak ingin 2 tahun itu berakhir, Mas.”


Sara mengatur napasnya ketika isak tangisnya semakin membuatnya kesulitan untuk bernapas.


“Aku berharap ... Mas mengijinkan aku ... tetap bersama Mas.”


Entah bisikan dari mana, Sara tiba-tiba memiliki keberanian untuk menyentuh wajah Agam dengan kedua tangannya. Lebih dekat lagi dia dekatkan wajahnya hingga menyatukan kedua bibir mereka. Sara menutup kedua matanya.


Asin, manis, semua bercampur menjadi satu. Asin karena air mata mereka. Manis karena rasa ciuman mereka yang terasa hingga ke dalam dada. Ya, manis menggelitik.

__ADS_1


Dan entah bagaimana ceritanya, yang jelas tahu-tahu Sara sudah merasakan sesuatu menahan tengkuk lehernya, membuatnya semakin tidak bisa melepaskan rekatan bibirnya yang saat ini semakin dalam direbut oleh Agam. Jantung Sara dibuat berdebar sangat kencang.


Tidak salah memang Sara membawa Agam ke taman siang itu. Ide yang tidak terlalu buruk hingga membuat mereka saling mengungkapkan apa yang tengah mereka rasakan. Sama sekali bukan ide yang buruk.


__ADS_2