Cinta Itu (Tidak) Buta

Cinta Itu (Tidak) Buta
Part 57-1 : Hancur Karena Keegoisan


__ADS_3

[Sara]


Sara langsung menoleh ke arah suara itu berasal. Ada Arya yang sedang berdiri di dekat pintu dengan raut wajah marahnya. Kedua matanya melotot menatap Ava yang masih berdiri dengan mencondongkan tubuhnya mendekati Sara.


“Telepon Al sana! Tanya, jam berapa kira-kira dia sampai di sini?,” titah Arya dengan nadanya yang tinggi.


Ya, Mas Vian juga akan datang hari ini.


Ava pergi tanpa membantah sedikit pun. Dia juga tidak terlihat kesal meski Arya membentaknya.


“Maafkan Ava, Mbak. Dia kalau ngomong memang nggak pernah difilter,” kata Arya yang kini menunjukkan penyesalannya untuk menggantikan Ava.


“Ava terlalu dimanja sama kita, terutama Mas Agam. Makanya jadi kayak gitu,” sambung Arya lagi.


Tentu saja. Dia tuan putri yang sesungguhnya di keluarga Wirasurya.


Sara tersenyum, lalu menggelengkan kepalanya. “Nggak apa-apa.”


Hening. Suasana menjadi canggung di antara mereka. Pada akhirnya, Arya hanya diam memperhatikan setiap gerak Sara yang riwa-riwi di dalam dapur mempersiapkan sajian untuk mereka yang akan datang. Sementara Sara, dia sedikit canggung tanpa tahu harus berbuat apa selain fokus pada apa yang sedang dia kerjakan saat ini.


“Maaf, Mbak. Mama terpaksa harus ke sini hari ini,” kata Arya tiba-tiba. Mungkin juga mencoba mencairkan suasana.


Ah, iya. Ini ide Arya. Agar semua orang berkumpul di rumah ini.


“Nggak apa-apa, Arya,” jawab Sara. “Aku tahu kamu melakukan ini supaya aku dan Mas Agam nggak perlu ke rumah utama.”


Pandangan mata Sara perlahan menurun. Ingatannya beralih saat dia datang ke sana dan berakhir dengan mimpi buruk yang panjang.


“Tapi suatu saat nanti, aku masih berharap Mas Agam dan Mbak Sara pulang ke sana. Itu rumah kalian juga.”


Sara pandangi adik iparnya dengan senyumnya. Ya, suatu saat nanti ...


“Menurutmu apa hari ini akan berjalan dengan baik?,” tanya Sara kemudian.


“Jangan khawatir, Mbak. Kita hanya akan bicara. Tujuan Mama hanya persetujuan Mas Agam,” terang Arya.


“Yang aku takutkan, kalau Mama nggak dapat yang Mama inginkan, Mama akan melakukan hal yang sama seperti yang Mama lakukan ke aku.”

__ADS_1


“Kalau itu terjadi lagi ...,” timpal Arya. Suaranya hampir menggeram seperti orang yang sedang menahan rasa marahnya. “... Berarti Mama memutuskan untuk kehilangan semua anak laki-lakinya.”


Sara menatap Arya, lalu menurunkan pandangannya kembali. Apakah harus seperti itu? Sebuah keluarga hancur karena sebuah keegoisan.


......................


“Sara, kemarilah ...” Agam menepuk pelan dudukan sofa di sampingnya, mengundang Sara untuk duduk di sampingnya, ketika semua yang ditunggu sudah siap di ruang tengah.


Sara baru selesai meletakkan makanan kecil dan minuman di atas meja. Dia sudah beranjak pergi. Tapi Agam malah memanggilnya.


“Disini saja,” ucap Agam lirih, ketika Sara sudah duduk di sampingnya.


Sara dapat melihat tatapan tidak suka dari Widia dan Ava. Dia merasa tidak enak. Karena itu, dia mengambil tangan Agam dan berisyarat di atasnya.


“Mas, aku ke atas saja. Kalian ada hal penting yang harus dibahas. Aku kan cuma orang luar.”


Agam melakukan hal yang sama untuk menjawabnya, “Kata siapa kamu orang luar? Kamu istriku. Itu berarti kamu anggota keluarga Wirasurya juga.”


Sara hendak mencoba lagi, tapi Agam lebih cepat. Tangan Sara langsung digenggamnya dan dibiarkan tetap dalam genggaman tangannya.


“Karena Arya tidak mau mengurus NFC, jadi Mama akan memberikan saham yang Mama miliki di NFC pada Ava,” kata Widia membuka pembicaraan mereka. “Itu artinya Ava yang akan menggantikan Mama di NFC.”


4 tahun sudah berlalu. Tapi rasa sakit hati Sara masih terasa di dadanya jika mengingat bagaimana Agam melepaskan NFC untuk ditukar dengan kebebasan dirinya. Semua hal dilakukan untuk memojokkan Agam sedemikian rupanya. Terlalu jahat ...


Tanpa disadarinya tangan Sara menggenggam Agam begitu kuat. Genggamannya menjadi kendur ketika tangan Agam yang lainnya menyelimuti punggung tangan Sara dan mengusapnya perlahan. Emosi Sara menurun sedikit demi sedikit.


“Mama sudah konsultasi dengan pengacara kita. Pemindahan kepemilikan saham baru bisa sah kalau kalian menyetujuinya. Seperti yang tertulis dalam surat wasiat, dan surat kuasa yang dibuat oleh almarhum papa kalian. Jadi, Mama kesini meminta kalian menyetujuinya,” lanjut Widia.


Arya sempat cerita tadi, kalau Agam dan Arya tidak menyetujuinya, maka pemindahan kepemilikan saham tidak bisa dilanjutkan. Karena posisi presiden direkturnya akan kosong jadinya. Kalau dipaksakan, pada akhirnya hanya akan membawa kericuhan di dewan direksi.


“Mama tahu Agam saat ini sudah tidak lagi mengurusi NFC.” Nada bicara Widia tiba-tiba menjadi rendah, tidak seperti tadi. “Tapi Agam masih kakaknya Ava. Jadi tolong pikirkan yang terbaik untuk Ava.”


Pada akhirnya, tetap Mas Agam yang harus dia temui. Apa tidak ada rasa bersalah sedikit pun di hatinya saat meminta ini pada anak yang pernah dia lukai hatinya?


“Apa kamu paham tentang hal-hal di NFC dan FTC?,” tanya Agam pada Ava yang duduk di sebelah Widia. “Kamu tahu sendiri kan, NFC dan FTC adalah satu. Kamu harus memahami keduanya. Aku khawatir kamu kesulitan nantinya. Karena selama ini kamu kan hanya belajar tentang fashion.”


“Bukan aku yang mengurusnya nanti. Al yang akan menggantikan aku menghandle semua urusan NFC,” jawab Ava dengan santainya seakan-akan NFC hanyalah sebuah perusahaan biasa seperti perusahaan lainnya.

__ADS_1


“Nggak bisa! Papa ingin kamu mengurus perusahaan kamu sendiri. Perusahaan yang kamu minati. Bukan dititipkan,” sanggah Arya dengan lantang.


“Al akan jadi suamiku. Apa bedanya? Aku akan mengurus brand fashionku, Al akan mengurus NFC. Semuanya juga untuk aku pada akhirnya. Sama saja, kan?,” kata Ava yang juga tidak mau kalah.


“Beda, Ava! Papa ingin Mas Agam dan aku mendukung minat kamu. Bukan minat orang lain,” bantah Arya lagi seraya memelototi Vian yang ada di samping Ava.


“Mas Arya! Jangan salahkan dia! Ini ideku!” Ava semakin tidak terima karena Arya memojokkan tunangannya. “Aku lihat Mama kewalahan mengurus NFC sejak ditinggal Mas Agam. Jadi aku menawarkan Al untuk membantu Mama. Apa aku salah?”


Vian mengusap punggung Ava untuk menenangkannya.


“Mama sendiri yang minta NFC dari Mas Agam. Bukankah itu artinya Mama sudah tahu bagaimana cara mengurusnya?,” timpal Arya seakan sedang menyindir Widia.


Semenjak NFC diambil alih Widia, tidak banyak yang bisa dilakukan NFC, terutama ketika para peneliti hanya meneruskan project-project lama. Mereka yang dulu selalu memojokkan Agam karena dianggap tidak bisa memberikan terobosan baru, NFC yang sekarang juga tidak ada bedanya. Peluncuran produk-produk baru mereka juga hanya membawa NFC ke dalam posisi yang stagnan. Tidak naik, juga tidak turun. Bahkan beberapa mengatakan ada kecenderungan menurun.


“Cukup, Arya!” Suara bentakan Widia terdengar menggema di ruang tengah. Cukup keras berarti jika sampai begitu.


Widia kemudian mengadu pada Ava. “Kamu lihat sendiri, kan? Semua orang menyalahkan Mama.”


Menyalahkan? Apa yang sebenarnya diceritakan Mama pada Ava?


Hanya sepersekian detik setelah Widia mengatakannya, dan Ava langsung menoleh memandangi Sara dengan tatapan matanya yang tajam.


Sontak Sara terkejut dan tegang sekaligus. Dia menelan salivanya dengan keras.


Sepertinya aku adalah tersangkanya.


“Sudah cukup, kalian berdua,” kata Agam melerai semuanya dari keributan lebih lanjut. Tidak ada kemarahan dalam kata-katanya. Hanya meminta mereka untuk berhenti.


“Urusan NFC sudah bukan urusanku. Aku serahkan semuanya pada Arya. Kalau Arya setuju, aku juga setuju. Kalau Arya tidak setuju, aku juga tidak setuju,” lanjut Agam.


“Saranku, biarkan Vian bekerja di FTC untuk sementara waktu. Kalau dia bisa menunjukkan kemampuannya pada Arya, aku yakin Arya akan menyetujuinya.”


Solusi yang bagus sebenarnya. Tapi sepertinya, Widia dan Ava tidak menyukainya.


“Untuk saat ini, kita fokus saja pada brand fashionmu dulu,” sambung Agam. “Buatlah proposalmu. Titipkan pada Raka kalau kamu tidak sempat ke mari. Aku dan Arya akan membicarakannya. Begitu siap, kita sama-sama pikirkan rencana selanjutnya.”


Widia dan Ava terlihat belum bisa menerima keputusan Agam. Tapi tidak ada yang bisa mereka lakukan. Terlepas dari semua masalah yang menyebabkan Agam tersingkir, mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, Widia harus mengakui Agam lah kepala keluarga Wirasurya sekarang.

__ADS_1


Tapi, mempercayakan perusahaan pada Mas Vian? Semenjak aku tahu cerita yang dibuat Mas Vian pada Ava tentang aku, sejak itu aku tidak mempercayainya. Dia bukan Mas Vian yang aku kenal.


__ADS_2