Cinta Itu (Tidak) Buta

Cinta Itu (Tidak) Buta
Part 60-1 : Biar Aku yang Tanggung


__ADS_3

[Sara]


Sara berjalan menyusuri sungai yang sangat jernih airnya. Belum pernah dia melihat air sungai sejernih itu. Dia bahkan bisa melihat dasar sungai yang penuh dengan batu-batuan yang berkilauan.


Indah sekali. Seperti berlian yang menyentuh sinar matahari.


Terlalu indah hingga menarik hatinya untuk mendekat. Sara ingin menyentuhnya.


Perlahan, kakinya menyentuh air sungai sebelum dia benar-benar memasukkan seluruhnya ke dalam. Ketika air sungai sudah mencapai lututnya, Sara membungkukkan tubuhnya untuk mengambil satu batu berkilauan itu.


Tiba-tiba saja, batu yang disentuh Sara berubah menjadi seekor ikan berwarna keemasan. Ikan yang panjangnya hampir menyamai lengan tangan itu berenang mengitari Sara. Sesekali dia seakan sengaja menabrakkan dirinya dengan kaki Sara, lalu menggesekkan tubuhnya, seakan tanpa rasa takut.


Terlalu lama berada di dekatnya, Sara malah bermain dengannya. Memainkan tangannya di dalam air, lalu membiarkan ikan itu mengikutinya. Terus begitu hingga entah berapa lama.


Setelah beberapa saat, ikan itu akhirnya berenang menjauh, dan terus menjauh. Sara merasa kehilangan. Dia mengejarnya.


Tapi entah kemana, ikan itu tidak ada. Mengapa cepat sekali perginya?


Sara menangis. Dia terduduk sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Dia seperti telah kehilangan sesuatu yang amat sangat berharga. Padahal pertemuan mereka hanya sesaat.


Sara kemudian menurunkan kedua tangannya dari wajahnya. Dan pemandangan yang dia lihat sudah tergantikan dengan pemandangan yang berbeda.


Mimpi. Ternyata hanya mimpi.


Sara dikejutkan oleh gerakan lembut pada wajahnya di sekitar mata. Sebuah ibu jari sedang mengusapnya dari sesuatu yang basah. Dia perhatikan tangan itu milik suaminya yang sedang duduk di samping dia berbaring.


“Mas ...,” panggilnya lirih.


Begitu mendengar suaranya, Agam kemudian menciumi tangan Sara yang ternyata sudah dipeganginya sedari tadi. Setelah itu berpindah ke samping wajahnya, dan berdiam di sana.


“Syukurlah ... syukurlah, kamu sudah sadar ...,” kata Agam yang tidak kalah lirih dari Sara.


Sara masih mencoba mengingat kembali apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Mengapa dia berbaring di tempat yang asing, dan dengan suami yang begitu khawatir ada di sampingnya.


Selintas muncul di kepalanya, sebuah gambar dirinya sedang berlari menghalangi Widia dari orang yang akan mencelakainya.


“Mama!”


Agam pun menegakkan tubuhnya menjauh dari Sara.


“Dia ... dia ... dia mau mencelakai mama,” kata Sara dalam napasnya yang berat seakan dia masih berlari mencegah troli itu menabrak Widia.


“Dia siapa, Sara?,” tanya Agam yang masih berusaha memahami cerita Sara yang sepotong-sepotong.


“Dia ...”


“Sara?,” tanya Agam yang khawatir memandangi Sara.


Tiba-tiba saja, di kepalanya sudah menampilkan gambar yang lain. Saat-saat dia berdiri dan memandangi kedua kakinya yang penuh dengan darah.


Sontak Sara terbangun sekaligus dari pembaringannya dan duduk menatap bagian kakinya yang masih tertutupi selimut. Dengan tangannya yang gemetar, Sara meraih selimut itu, kemudian membukanya dengan kasar.


Tidak ada apa-apa. Tidak ada darah seperti yang dia ingat.

__ADS_1


Napasnya semakin berat tatkala dia mengingat kalimat terakhir Widia sebelum akhirnya dia tidak sadarkan diri.


#


“Sara, kamu hamil?”


#


Sara pandangi wajah suaminya yang masih khawatir.


“Mas ... Mama bilang ... aku hamil ...”


Raut wajah Agam seketika berubah. Dari khawatir kini berubah menjadi seperti orang yang merasa punya salah.


“Sara ...”


Kedua tangan Agam langsung mengumpulkan tangan-tangan Sara di depannya. Sementara tangan kirinya masih memegangi tangan Sara, tangan kanannya bergerak ke atas menyentuh wajah pucat sang istri. Dengan lembut, ibu jari Agam mengusap lembut air mata yang baru saja meluncur bebas di wajah Sara.


“... dokter bilang ...” Agam kelihatannya sulit untuk mengatakannya.


Seraya menunggu Agam mengatakannya, selintas sebuah ingatan muncul akan mimpi yang baru saja Sara alami.


Sara merasakan kehilangan yang amat sangat besar. Rasa yang sama meskipun dia juga tidak tahu apa yang membuatnya merasa kehilangan.


Pada akhirnya, meski hanya sepatah-patah kata, Agam bisa menyampaikan berita yang seharusnya didengar Sara. Air mata yang sedari tadi turun, kini mengalir bertambah deras dan semakin tumpah-ruah. Agam bahkan menaikkan kedua tangannya untuk menampung semuanya.


Tangis Sara semakin meraung kala rasa bersalahnya muncul. Dia merasa gagal menjaganya. Kalau saja aku tahu dari awal, aku pasti akan menjaganya dengan baik.


“Maaf, Mas. Maaf ... aku nggak bisa menjaganya. Maaf, Mas ... Seharusnya aku menjaganya ...”


Rasanya terlalu sesak. Bahkan terasa sulit untuk bernapas. Rasa kehilangannya seperti sedang menekan dadanya.


Agam sampai harus naik ke atas ranjang dan memeluk Sara. Itu juga tidak dapat menghentikan tangisnya. Sara semakin kencang meraung.


Entah untuk berapa lama Sara menangisinya. Yang jelas, Sara sempat tertidur. Lalu terbangun dengan memandangi wajah sang suami yang sedang berbaring bersamanya.


Dengan latar belakang langit malam dan bulan purnama yang terlihat dari jendela kamar rawatnya, Sara memandangi wajah sendu Agam yang sedang tertidur.


Tanpa disadarinya, air matanya kembali turun. Segera dia menghapusnya.


“Kamu bangun?,” tanya Agam lirih. Suaranya yang serak menandakan betapa lelahnya dia.


Tangannya kini menyentuh wajah Sara, dan mengusapnya dengan ibu jarinya seakan-akan dia tahu Sara baru menangis.


“Kamu mau sesuatu?”


Air matanya kembali turun. Rasa bersalah kembali datang. Tapi tak lupa dia menggelengkan kepalanya.


“Berhentilah menangis,” kata Agam lagi. “Jangan salahkan dirimu terus. Kalau kamu tidak bisa berhenti menyalahkan dirimu, salahkan saja aku. Mungkin tidak akan bisa mengobati rasa sakitmu, tapi itu lebih baik daripada kamu terus menyalahkan dirimu sendiri.”


Sara merangkul seluruh tubuh Agam dalam pelukannya, dan menyembunyikan wajahnya di dada suaminya itu. Dia masih menangis.


“Aku juga sama sepertimu. Kita punya kesedihan yang sama. Tapi, aku tahu rasa sedihmu pasti lebih besar dariku. Karena itu setiap kali kamu menyalahkan dirimu sendiri. Aku tidak bisa berhenti khawatir kamu akan semakin terpuruk karena rasa bersalah itu. Aku takut kamu semakin hancur.”

__ADS_1


Agam kemudian menciumi puncak kepala Sara, dan menyandarkan kepalanya di sana.


“Jadi, biarkan aku meringankan bebanmu. Semua salahku. Biar aku yang menanggung rasa bersalah itu.”


Sara semakin erat memeluk Agam. Air matanya semakin deras mengalir. Dia menggelengkan kepalanya dengan cepat. Sementara tangan Agam mengusap rambut Sara dan kembali menciuminya.


Ini bukan salah siapa-siapa. Ini hanya salah jodoh yang kurang kuat mengikat tali ikatan kita bersama anak ini. Atau mungkin belum waktunya kita untuk bertemu dengannya.


“Kamu lebih penting, Sara.”


Malam itu, Sara masih menangis di pelukan Agam. Tapi, setelah itu, dia tertidur pulas sekali. Terlalu pulas hingga dia tidak lagi ingat apa yang dia mimpikan semalam.


Ibu datang keesokkan harinya. Agam mengatakan pada Sara ketika dia terbangun kalau dia harus memberitahu Ibu. Karena itu, begitu Agam memberitahunya, Ibu memaksa untuk menengok Sara di rumah sakit.


Begitu Ibu datang, Sara memeluknya erat sekali. Setiap kali Ibu memberikan kata-kata penenangan untuk Sara, air matanya turun setetes demi setetes. Tapi setidaknya, cukup memberikan kekuatan untuknya.


Kedatangan Ibu sangat berarti bagi Sara.


......................


“Kamu yakin tidak apa-apa?,” tanya Agam seraya menatap Sara penuh kekhawatiran.


Sara hampir tertawa karenanya. Padahal dia sudah merasa baik-baik saja. Tapi Agam masih saja tak percaya dan terus merasa khawatir.


“Iya, Mas. Sana pergi. Istirahat, minum teh, makan, apa saja. Mas juga butuh jalan-jalan. Jangan cuma temani aku di sini,” jawab Sara.


Agam masih tak percaya.


Sara tak bisa lagi menyembunyikan tawanya. “Ada Mbok Jami di sini. Jadi aku kan nggak sendirian. Mas juga pasti ada yang mau diobrolin sama Mas Yuda dan Arya.”


Pada akhirnya, Agam pergi. Meski harus dipaksa pergi oleh Yuda dan Arya – atas permintaan Sara.


Merasa bosan hanya tinggal di kamar saja, Sara minta tolong dibawa ke ruang terbuka yang ada di lantai tempat kamar rawat Sara. Dia mendengar dari perawat yang sering ke kamarnya kalau ada ruang terbuka di mana semua orang bisa duduk bersantai dan menikmati udara terbuka di sana. Dan kini, Sara tertarik ke sana.


Mas Agam jalan-jalan, aku juga dong ...


Dengan dibantu Mbok Jami yang mendorong kursi rodanya, Sara dibawa ke tempat itu. Padahal Sara sudah merasa baik-baik saja tanpa kursi roda. Tapi perawat tidak mengijinkannya.


Huft ...


Dan memang sebagus yang dikatakan perawat itu. Seperti taman di atas gedung bertingkat. Tempatnya juga sejuk. Begitu menyentuh udara di taman itu, Sara sudah merasa betah.


“Ya Allah, adem, Non. Tak jupuk sik sweater sik yo. Ngenteni nang kene wae. (Ya Allah, dingin, Non. Saya ambilkan sweaternya dulu ya. Tunggu di sini saja.),” kata Mbok Jami.


“Iya, Mbok ...,” jawab Sara.


Sara memajukan sedikit kursi rodanya ke depan. Menikmati lebih bebas lagi angin sejuk dan teduh karena awan putih yang menggantung di langit biru. Sara begitu menikmatinya.


Dan seketika, suasana sejuk itu berubah.


“Hai, Sar ...”


Sara langsung menoleh ke arah datangnya suara. Terlihat jelas Vian berdiri memandanginya dengan senyum yang sekarang dibenci oleh Sara.

__ADS_1


__ADS_2