Cinta Itu (Tidak) Buta

Cinta Itu (Tidak) Buta
Part 11-1 : Petarung yang Roboh


__ADS_3

[Sara]


14.45


“Kompres pakai ini, Non. Biar ndak bengkak,” kata Mbok Jami seraya menyodorkan es batu yang dibungkus dalam selembar kain lap bersih. Sara menerimanya dan langsung menempelkannya pada sisi kiri wajahnya.


“Akh ...”


Nyeri. Sara hampir menangis karenanya. Rasa sakitnya terasa sampai pelipis matanya, seakan-akan bola matanya akan keluar karena rasa sakitnya itu. Pandangannya kini terasa buram. Sara memijat pelan bagian glabela nya.


Mas Agam ...


Saat dia menyebut nama Agam dalam hatinya, saat itu dia mengingat wajah terakhir Agam sebelum pergi. Wajah panik dan penuh rasa takut. Agam yang terlihat sangat marah tadinya sangat kontras dengan apa yang dia lihat di akhir tadi. Sara tahu Agam tidak sengaja melakukannya.


Tapi, kenapa harus pergi? Sara bahkan tidak mengatakan apapun tadi. Apa dia mengira Sara akan marah?


Marah? Entahlah. Kesal iya, tapi marah? Mungkin sedikit. Dia kesal karena pria itu pergi begitu saja tanpa mengucapkan maaf. Meskipun tidak sengaja, Agam seharusnya minta maaf.


“Cuma ada ini di kotak obat, Non.”


Mbok Jami sekarang meletakkan beberapa obat nyeri dan sakit kepala di hadapannya. Sara memandanginya cukup lama dengan tatapan kosong. Yang ada di kepalanya saat ini hanya bayangan wajah panik Agam. Kenapa jadi selalu terbayang saat itu?


Dengan cepat, Sara menggelengkan kepalanya, membuyarkan isi kepalanya yang sudah mulai ngaco (mungkin) karena pukulan Agam. Lalu memasang senyum terbaiknya saat berbicara dengan Mbok Jami.


“Makasih ya, Mbok. Nanti saya minum setelah ini.”


Sara masih berada di dapur untuk beberapa saat. Dia ingin minum obat anti nyeri itu, tapi lama-kelamaan sakit di kepalanya berangsur berkurang. Dia bahkan sudah kuat membantu Mbok Jami membereskan pecahan piring yang berserakan meski selalu dilarang oleh Mbok Jami. Padahal itu adalah cara Sara menenangkan hatinya yang masih saja memikirkan apa yang baru saja terjadi di ruang makan.


Setelah selesai membantu Mbok Jami, Sara naik ke kamarnya untuk bersih-bersih. Sakit di kepalanya sudah hilang sepenuhnya, meski nyeri di wajahnya masih berbekas, terutama saat disentuh. Tapi kekacauan di hatinya dan juga isi di kepalanya masih belum juga reda. Mungkin masih syok dengan kejadian tadi.


Mandi, lalu bersiap sholat maghrib mungkin akan bisa mengurangi sedikit.


Dan itulah yang akan Sara lakukan setelah ini.


---


19.17


Mandi lalu sholat memang obat yang terbaik. Setidaknya hatinya kini terasa lebih tenang daripada tadi. Sara pada akhirnya bisa menarik napasnya dalam-dalam, lalu membuangnya perlahan. Pikirannya kini menjadi lebih teratur.


Dilihatnya bayangan dirinya dalam cermin. Dia memajukan tubuhnya agar bisa lebih dekat lagi, mengecek wajahnya dan memastikan jika tidak ada bekas lebam di sana.


Kecil, tapi tidak terlalu kentara. Masih bisa ditutupi dengan bedak.


Kalau sampai Ibu lihat bisa bahaya ...


Begitu dia selesai bersiap, Sara pun turun untuk ke ruang makan.


Sara baru saja memasuki ruang makan dan mendapati Mbok Jami sedang mempersiapkan makan malam di atas meja. Tapi, Sara tidak melihat Agam di sana.


Saat tadi dia turun, dia juga tidak melihat Agam di teras belakang. Dan sekarang, di ruang makan juga tidak. Lalu, dimana dia?


“Mas Agam belum turun, Mbok?”


Melihat ini sangatlah tidak biasanya dari kebiasaan Agam. Pria itu biasanya duduk di teras belakang setiap sore. Lalu, Mbok Jami akan membawanya ke ruang makan begitu makan malam siap. Tapi, ini ...


“Den Agam masih di atas, Non. Tadi jam setengah lima, tak ketoki kamare, arep dijak nang teras, ndak ono sing nyaut. Iki durung dicek maneh. (Tadi jam setengah lima, saya ketok kamarnya, mau saya ajak ke teras, tidak ada yang nyahut. Ini belum saya cek lagi.)”


“Biar saya yang panggil, Mbok,” sahut Sara memutuskan untuk menawarkan dirinya.


Mungkinkah masih marah karena tadi siang?


Letak kamar Agam dan Sara ada di lantai atas. Begitu menaiki tangga, lalu berbelok ke kiri, pintu pertama yang dilihat, itulah kamar Sara. Jika masuk lebih dalam lagi, maka kamar Agam dan ruang kerjanya yang ada di sana.


Selama ini, setiap kali naik ke lantai atas, perjalanan Sara hanya sampai kamarnya sendiri. Belum pernah dia menyusuri lantai atas hingga ke kamar Agam. Dan ini adalah untuk yang pertama kalinya semenjak dia tinggal di rumah Agam.


Tok, tok, tok ...


“Mas ...,” panggil Sara perlahan.


Hening. Tidak ada jawaban. Benar kata Mbok Jami.

__ADS_1


Sara mencobanya sekali lagi. “Mas ... Makan malam sudah siap.”


Masih tetap hening.


Apakah dia di ruang kerjanya?


Sara memperhatikan pintu yang berada sekitar 30 meter dari pintu kamar Agam. Itu pintu ruang kerja komputer. Tapi, tidak ada yang tahu apakah Agam ada di sana atau tidak jika tidak ada yang mengintipnya ke dalam.


Haruskah aku melihatnya?


Perlahan Sara melangkahkan kakinya ke pintu itu. Tapi baru beberapa langkah, Sara mendengar suara rintihan dari kamar Agam.


“Ugh ... Eng ...”


Sara kurang yakin. Dia dekatkan telinganya ke dinding pintu kamar.


DUG! DUG!


Apa itu? Apa itu suara barang jatuh?


Tok, tok, tok ...


“Mas, Mas Agam ...”


Rintihan itu bukan rintihan biasa. Terdengar aneh dan menyesakkan dada. Sara mulai khawatir.


Sara mengetuk pintu kamar Agam dengan keras dan cepat. Berulang kali juga Sara memanggil Agam. Tapi, tidak ada balasan dari dalam sana.


KLAK, KLAK!


Gagang pintu kamar Agam juga berkali-kali digerakkan dengan kasar dan cepat. Didorongnya dengan keras sambil berharap pintu itu akan terbuka. Tapi percuma. Pintu itu memiliki pengaman sandi, seperti kata Raka.


Raka pernah bilang, pintu kamar Agam dilengkapi pengaman sandi yang hanya Agam yang tahu passwordnya. Ini semua gara-gara rasa takutnya yang berlebihan pada semua orang, khawatir akan ada orang yang masuk ke dalam.


Sara kembali memanggil Agam. “Mas, Mas Agam. Mas nggak apa-apa?”


Bagaimana bisa tidak apa-apa, Sara? Suaranya jelas terdengar dia sedang menahan rasa sakit.


Tok, tok, tok ...


Agam tetap tidak menjawab apapun.


Apa mungkin alat bantu dengarnya dilepas?


Sara kini menjadi panik. Kalau sudah begitu, memanggil berulang-ulang juga percuma. Sara kembali memandang tak berdaya pada pengaman yang melekat di pintu kamar Agam.


“Mbok Jami!”


Sara segera berlari ke lantai bawah begitu dia mengingat kata-kata Raka.


#


“Mbok Jami akan diberi tahu password kamar Tuan kalau ada tugas untuk bersih-bersih.”


#


Semoga Mbok Jami tahu ...


Hanya itu harapan Sara. Dia berharap hari ini Agam menugaskan Mbok Jami untuk membersihkan kamarnya. Semoga begitu ...


“Lho, Den Agam ndak kasih tahu Non Sara?,” tanya Mbok Jami begitu Sara menanyakannya.


Benar juga. Mbok Jami hampir tidak pernah ke atas kalau bukan atas perintah Agam. Sedangkan Sara, dia membersihkan kamarnya sendiri. Kalaupun Mbok Jami ke atas, baik itu Agam atau pun Sara, keduanya sudah punya aktifitasnya masing-masing. Jadi, Mbok Jami hampir tidak tahu kalau kamar mereka terpisah.


Otak di kepala Sara dipaksa bekerja untuk mencari alasan yang tepat untuk itu.


“Anu, Mbok. Saya tadi coba masukkan, tapi kok salah terus, ya. Saya mungkin salah pencetnya. Apa diganti, ya?,” kilah Sara.


Dan dengan mudah, Sara mendapatkannya. Segera dia berlari kembali lagi ke atas.


Dengan napas yang tersengal-sengal, Sara memasukkan password yang baru saja diterimanya.

__ADS_1


Tit, tit, tit .... KLAK!


Benar!


Perlahan-lahan Sara memasuki kamar Agam, lalu menutup pintunya.


Gelap. Agam mematikan lampu kamarnya. Tapi percuma. Sara tidak dapat menemukan saklarnya.


Lampunya pasti dibuat otomatis juga.


“Mas ...,” panggilnya pelan.


Tidak ada suara. Ke mana dia?


Lama-kelamaan mata Sara mulai terbiasa dalam gelap. Meski sulit, tapi Sara masih bisa melihat beberapa barang dengan samar.


“Mas Agam ...,” panggilnya sekali lagi.


“Aw ...”


Sara tak sengaja menginjak sesuatu. Apapun itu, beruntung sesuatu itu bukan pecahan kaca. Tebal dan bertumpuk. Seperti kotak atau sampul buku yang tebal. Sara menginjak bagian pinggirannya.


“Siapa?! Siapa di sana?!”


Sara kaget bukan main saat Agam tiba-tiba berteriak seperti itu. Belum lagi, Sara belum menemukan di mana Agam bersembunyi.


“Ugh ...”


Suara rintihan itu lagi ...


“Mas ... Ini aku, Sara ...”


Selangkah demi selangkah, Sara maju memasuki kamar Agam lebih dalam lagi. Matanya terus awas dengan keadaan di sekitar. Masih bisa dia lihat tempat tidur yang lumayan berantakan di atasnya. Tapi, tidak ada Agam di atasnya. Sara melangkah maju lagi.


Sara memandangi sebuah rak buku yang terbuat dari kayu. Rak buku partisi yang diletakkan di tengah ruangan. Sepertinya untuk menjadi sekat antar ruang dalam kamar itu. Rak yang memiliki sekitar 12 kompartemen (mungkin juga lebih) itu masing-masing berisi buku-buku dan beberapa penghias ruangan. Tapi, di salah satu kompartemennya, Sara dapat melihat punggung Agam yang sedang membelakanginya.


“Mas Agam ...,” panggil Sara dengan lembut.


Pelan-pelan, Sara menghampiri Agam. Dilihatnya pria itu sedang duduk di lantai dengan bersandar pada rak bukunya. Dia menutupi wajahnya dengan kedua lengannya dan terus menggenggam pegangan kursi roda yang ada di sampingnya sambil menyembunyikan wajahnya itu. Rintihan yang sedari tadi didengarnya terdengar samar karena lengan yang menutupinya.


Dengan berpangku pada kedua lututnya, tangan Sara menyentuh pergelangan tangan Agam perlahan-lahan.


Agam langsung tersentak kaget dengan sentuhan itu.


“SIAPA? PERGI! PERGI!”


Agam mendorong Sara dengan keras hingga membuatnya terjungkal ke belakang.


“Mas ...”


“PERGI!!!”


BUG!


Sebuah buku yang cukup tebal covernya baru saja mengenai kening Sara. Dan sedetik kemudian, dia sudah bisa merasakan sesuatu mengalir dari keningnya itu. Sesuatu yang cair dengan warna merah pekat.


Sara hanya mengusapnya dengan kain bajunya. Lalu mundur ke belakang hingga ke sudut ruangan sambil memandangi Agam yang lagi-lagi menyembunyikan wajahnya dengan kedua lengannya.


Sara tidak bisa terus memaksakan dirinya untuk mendekati Agam. Tapi Sara juga tidak bisa pergi dari tempat itu meninggalkan Agam dalam kondisi yang seperti itu.


Tidak bisa. Dia bisa melukai dirinya sendiri.


Dengan kedua matanya, Sara melihat sosok pria yang selama ini terlihat begitu tegas dan tidak pernah terlihat lemah meski fisiknya tak lagi sempurna, kini pria itu terlihat begitu rapuh. Terlalu rapuh hingga mungkin bisa hancur seketika kala ada seseorang yang meremukkannya.


Mungkin seperti ini yang terjadi 2 tahun yang lalu.


Bahkan di saat keningnya masih mengeluarkan darah, bahkan sudah kedua kalinya Agam melukainya, rasa takut Sara kini tidak ada lagi. Jangankan rasa takut, kekesalannya kini pun hilang tak berbekas. Yang tersisa sekarang hanyalah rasa iba dan kasihan.


Lihatlah, Sara ... Sosok itu kini bagaikan petarung yang roboh karena dihajar oleh lawannya berkali-kali. Bahkan dadanya pun tak sanggup mengembang hanya untuk mengambil napas.


Sara menghela napasnya perlahan, menenangkan hatinya. Tapi, Sara tidak berpindah. Dia terus memandangi Agam dari tempatnya duduk. Sepanjang malam, Sara tetap disitu bersama Agam yang mungkin tak pernah tahu bahwa Sara bersamanya.

__ADS_1


__ADS_2